
Binar bahagia selalu menghiasi wajah tampan, pria yang belum sekalipun memejamkan matanya sejak semalam. Sepulang menemui Emely tadi pagi, Davino
kembali ke apartemen untuk membersihkan tubuhnya sebelum kembali beraktivitas di kantor.
Hanya beberapa dokumen penting yang harus dia selesaikan hari ini. Jadi dia bisa langsung pulang. Sebelumnya dia menghubungi Alex dan Haizel. Berjanji setelah selesai pemotretan, Haizel akan mengunjungi Davino di apartemen pria itu. Begitu juga dengan Alex, selesai jam prakteknya dia berjanji akan menemui Davino di apartemen sesuai permintaan pria itu.
Pukul 4 sore kedua orang itu sampai di apartemen Davino. Menduga - duga, sesuatu yang buruk terjadi pada Davino dan laki - laki itu membutuhkan pertolongan kedua sahabatnya.
" Kau harus menolongku. Ini sangat penting. Ini menyangkut hidup dan matiku. " Begitu kira - kira kalimat Davino waktu menghubungi keduanya. Bahkan keduanya merasa bahwa masalah yang dihadapi Davino saat ini, tidaklah mudah. Karena pria itu sungguh tidak pernah meminta bantuan siapapun untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kecuali masalah yang berkaitan dengan hukum, ia selalu meminta pamannya untuk menyelesaikannya.
Disaat mereka masuk kedalam apartemen, pria itu sedang tiduran santai dikursi sofa. Tersenyum sambil memainkan ponselnya.
"Bukankah dia dalam masalah? Tapi dilihat dari raut wajahnya, sepertinya dia sedang bahagia. " Ucap Alex pada Haizel. Davino belum menyadari kedatangan kedua sahabatnya itu. Ingat, Alex tahu kode pass key apartemen Davino. Jadi tidak butuh Davino untuk membuka pintu apartemennya. Dia dengan mudahnya bisa masuk kedalam apartemen milik sahabatnya itu. Seperti saat ini. Keduanya sudah berada didalam apartemen, namun dari jauh mereka masih menyaksikan tingkah Davino yang bisa dikatakan agak kurang waras.
" Apa masalahnya berat sekali yah Lex, sehingga Davino jadi gila kayak gitu. " Ucap Haizel masih mengamati Davino.
" Mungkin aja. Kita harus sekuat tenaga bantuin dia. " Melangkah menghampiri Davino dan keduanya duduk di sofa panjang berhadapan dengan Davino.
"Kalian sudah pada datang? " Tanyanya, tanpa mengubah posisi tubuhnya.
"Iya. Sudah 5 menit yang lalu. Bahkan kami sudah melihat ketidak warasanmu. " Ucapan Alex, membuat Davino memutar tubuhnya kearah keduanya.
"Emang kelihatan yah? " Tanyanya seperti membenarkan ucapan Alex barusan. Sontak kedua sahabatnya itu saling memandang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Davino terkekeh, melihat ekspresi kedua sahabatnya yang menatap takut - takut padanya. Takut kalau Davino beneran kurang waras.
"Davi kau perlu pengobatan yang seperti apa? Apa perlu kau menemui seorang konselor terlebih dulu. " Antara bingung dan kensal Davino mendengar penuturan Alex barusan.
" Emangnya masalah apa yang kau hadapi Men, sampai kamu jadi kayak gini? " Sejauh ini Davino bisa menyimpulkan bahwa kedua sahabatnya itu sungguh - sungguh menganggap dirinya kurang waras.
"Kalian berdua nuduh aku gila. " Mengambil bantalan sofa dan melempar kearah kedua sahabatnya. Sepertinya yang kurang waras adalah kedua sahabatnya.
" Lalu masalah apa yang kau hadapi Men, siapa tahu kita bisa bantu. " Kali ini Haizel mulai bicara serius.
" Aku hanya mau nanya sama kalian berdua, bagaimana caranya bikin kencan pertama kita tuh, berkesan. " Sontak keduanya melongoh takjub dengan ucapan Davino barusan.
Menyuruh mereka berdua datang ke apartemen karena ada hal yang sangat penting menyangkut hidup dan mati seorang Davino, ternyata hanya ingin menanyakan kencan yang berkesan. Sialan, keduanya mengumpat Davino.
"Apa tidak bisa lewat sambungan telpon saja nanyanya? " Perkataan Alex dibenarkan Haizel.
" Tempat yang paling romantis yah, dikamar hotel. Hadiah yang paling disukai seorang wanita yah, uang. Supaya kencan pertamamu itu berkesan, yah kau puasin dia diatas ranjang. " Satu bantalan sofa kembali melayang diwajah Haizel.
" Kalau wanitamu mungkin seperti itu. Berbeda dengan wanitaku. " Davino berucap sombong.
"Lalu kenapa tanya aku, dasar sialan. " Haizel mengumpat.
" Kau dieleminasi. " Menunjuk kearah Haizel. " Sekarang giliranmu Lex. " Kali ini dia butuh masukan Alex.
__ADS_1
"Apa wanita itu Emely? " Tanya Alex pada Davino.
" Siapa lagi Lex. Cuma dia kan yang bisa bikin aku kayak gini. " Kalau menyangkut membahagiakan Emely, Alex pasti memberi ide yang pastinya membuat wanita itu bahagia.
***
Sebelum menemui Emely ditaman, yang sudah dengan susah payah tadi dibujuknya, harus Davino tundah terlebih dulu karena sang ayah memintanya untuk datang kerumah. Davino tidak menolak. Okelah dia bisa mampir terlebih dulu kerumah orangtuanya sebelum bertemu dengan Emely. Bertemu sang ayah yang memintanya untuk bertemu karena ada hal yang sangat penting untuk disampaikan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Davino lantas masuk kerumah besar itu. Ayah dan ibunya sudah menunggu dirinya diruang keluarga.
"Hai mom...dad." Sapanya yang langsung ikut duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya.
"Apa yang ingin daddy bicarakan? " Davino ingin secepatnya menemui Emely yang mungkin sudah menunggu dirinya. Jadi dia tidak perlu basa - basi terlebih dulu.
" Putuskan hubunganmu dengan gadis itu. " Davino mengerutkan dahinya. Tidak mengerti siapa yang dimaksud sang ayah.
" Gadis bernama Emely itu. " Lanjut sang ayah. Davino terkejut mendengar ucapan ayahnya. Dia bahkan belum memperkenalkan Emely kepada keluarganya. Emely bahkan belum menerimanya sebagai seoarang kekasih.
"Daddy tahu dari mana tentang Emely? " Walaupun bagi seorang Fransisco, mencari identitas seseorang bukanlah hal yang sulit, namun Davino tetap bertanya.
"Rossa kan yang ngomong sama daddy? " Davino yakin, ayahnya tidak pernah menyuruh seseorang untuk mengawasinya. Jadi ayahnya juga belum tahu tentang Emely. Sedangkan Rossa, gadis itu sudah dua kali melihat Davino membela Emely dan bagaimana Davino meninggalkannya hanya untuk Emely.
" Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang tinggalkan gadis itu dan mulailah membina hubungan dengan Rossa. " Semenjak dulu bagi Davino keluarganya nomor satu. Bolehkan untuk kali ini dia membangkang?
__ADS_1
Berdiri dari duduknya, Davino rasa pembicaraan ini sudah selesai.
" Jika daddy sudah selesai bicara, Davi pergi dulu. " Tanpa menunggu jawaban sang ayah, Davino pergi meninggalkan rumah itu.