
Maaf kami sudah berusaha semampu kami. Namun Tuhan berkendak lain.
Kalimat yang membuat tangisan Emely pecah. Emely tahu, apa maksud kalimat yang dokter itu katakan.
Eduar ikut menangis, tapi dia jauh lebih tegar dari Emely. Berlari kedalam ruangan dimana ibunya dirawat, dengan gemetar Emely membuka kain yang menutupi keseluruhan tubuh ibunya.
"Bu... ibu. " Panggil gadis itu sambil memeluk jasad ibunya.
"Bu, ibu hanya bercanda kan? " Mengusup punggung tangan ibunya yang sudah dingin.
"Jangan bercanda seperti ini bu, Emely takut. " Eduar ikut masuk keruangan itu. Mendekat keranjang dimana ibunya terbaring. Kali ini Eduar tidak bisa menahan isak tangisnya. laki - laki itu menangis terisak, sambil membelai wajah pucat sang ibu.
"Bu, jangan tinggalkan Eduar bu. Eduar sama kak Emely hanya punya ibu. " Ucap Eduar lirih, dengan aimata yang mengalir deras dipipinya. Kenangan tentang ibunya menghampiri, seolah baru kemarin saat ibunya hampir setiap hari menunggunya digerbang sekolah. Bahkan dia sempat mengajak ibunya berdansa semalam, walau hanya suara musik dari ponselnya. Eduar masih ingat jelas, ibunya tertawa bahagia ketika tanpa sengaja kakinya menginjak kaki milik Eduar.
"Bu, berhentilah bercanda. Bangun bu, kita makan malam sama - sama. " Emely mencoba mengguncang tubuh ibunya, berharap ibunya hanya tertidur lelap.
Melihat ibunya yang tak kunjung bereaksi, Emely menghamburkan tubuhnya memeluk ibunya lagi.
__ADS_1
***
Kenapa sih kamu nggak ngabarin aku Mel? Davino nampak gelisah. Pasalnya semenjak tadi sore, Emely tidak mengangkat telpon darinya. Pesan yang Davino kirim hanya berstatus terkirim namun belum dibaca oleh gadis itu.
Memilih menghubungi orang suruhannya. Orang yang selalu mengawasi Emely dari jauh. "Hallo bos. " Dengan cepat orang yang ditelponnya menjawab.
"Hallo, posisi Emely saat ini dimana? " Tanyanya langsung pada intinya.
"Bos kecil dirumah sakit bos. " Jawaban itu sontak membuat wajah Davino terlihat panik.
"Emely kenapa? Apa yang terjadi dengannya? " Tanyanya yang sudah mulai keluar kamar hotel. Mengetuk pintu kamar disamping kamarnya. " Ron, bersiap - siaplah, kita pulang sekarang. " Sebenarnya Davino berencana kembali besok siang. Karena paginya dia diminta menghadiri pelelangan barang - barang antik untuk kegiatan amal. Namun mendengar Emely dirumah sakit, membuat pria itu memutuskan untuk pulang saat itu juga.
"Bos kecil tidak apa - apa. Hanya saja... " Menggantungkan kalimatnya.
"Hanya saja apa? " Davino sepertinya tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi ini menyakut Emely, gadis yang dicintainya itu.
"Hanya saja, ibunya meninggal bos. " Davino terkejut. Sungguh dia mematung dan tidak bisa berkata apa - apa lagi. Davino tahu perjuangan Emely selama ini. Perjuangan mencari uang untuk dan demi mengobati dan melihat ibunya sembuh. Tapi apa sekarang? Apakah nasib tidak mengasihaninya.
__ADS_1
Davino terduduk diranjangnya, sampai dia sadar saat pria diujung telpon memanggilnya.
"Bagaimana Emely sekarang? " Tanya Davino. Suaranya sudah terdengar lirih. Memikirkan bagaimana sedihnya gadis itu. Apalagi Davino tahu, Emely hanya memiliki ibunya dan Eduar.
"Bos kecil tadi sempat pingsan. " Davino mengusap wajahnya kasar.
" Yah sudah, aku tutup telponnya. " Setelah selesai menghubungi orang suruhannya tadi. Davino langsung membereskan semua barang - barangnya. Setelah selesai, dia langsung keluar kamar, sambil menarik koper miliknya. Rony sang asisten sudah menunggunya didepan kamarnya. Jadi mereka langsung ke bandara.
Di Bandara, Davino mengumpat sambil menendang apa saja yang ada didepannya. Rony berusaha menenangkannya. Pasalnya cuaca tiba - tiba memburuk. Langit sepertinya sedang menangis sendu. Jangankan jet pribadi, pesawat dengan ukuran besarpun dilarang terbang. Genangan air hujan cukup merendam landasan pacu. Petir dan kilat bersahutan dengan bunyi rintik hujan yang semakin deras.
" Kenapa hal ini terjadi? " Teriaknya kesal.
"Kenapa harus ada perjalanan keluar kota segala. " Sesalnya. Davino menjambak rambutnya frustasi. Sedangkan Rony yang tidak tahu akar masalahnya, hanya bisa pasrah ketika bosnya itu kadang membentaknya. Bahkan baru kali ini Rony melihat Davino sefrustasi ini. Namun Rony tidak tahu apa yang menjadi pemicu pria itu terlihat panik dan kuatir. Rony pikir terjadi sesuatu yang buruk dengan keluarga Davino. Sehingga Davino terlihat kuatir dan ingin segera kembali.
Mel, yang kuat sayang.
***
__ADS_1
Keberangkatan Davino akhirnya tertunda. Dari semalam dia menunggu di Bandara. Akhirnya pagi itu, dia bisa sedikit bernafas lega. Karena bandara sudah bisa beroperasi seperti biasanya dan sudah tidak ada larangan untuk terbang. Davino ingin segera sampai dan bertemu Emely. Ingin menghibur dan memberi dukungan untuk gadis itu. Walaupun dia tahu, seberapa terpurukya Emely saat ini.
Bagi seorang anak, ibu adalah segala - galanya. Ibu bisa menjaga dan merawat sepuluh orang anak sekaligus. Namun sepuluh orang anak tidak bisa mengurus satu orang ibu saja. Itulah sebabnya mulailah menghargai dan menjaga ibu kita. Kalaupun kita belum bisa membahagiakannya, setidaknya jangan sakiti hatinya.