
Emely baru muncul di balik pintu Restoran, namun Ele sudah menariknya. Mata karyawan lain juga tertuju padanya. Mungkin sedang menyelidiki dirinya. Sebelum Emely datang pun mereka sudah bergosip tentang kejadian semalam. Mereka bahkan belum percaya bahwa Emely karyawan baru itu adalah kekasih Davino, pengusaha muda yang sudah populer di kalangan mereka, Siapa yang tidak mengenal pria itu, wajahnya selalu wara Wiri di Majalah bisnis maupun media sosial.
Membawa Emely ke salah satu kursi yang sudah di siapkan teman - teman sekerjanya. Emely merasa dirinya seperti terdakwa yang akan di interogasi.
" Ada apa sih El ? " Tanya Emely yang tidak mengerti.
" Mel, apakah benar Tuan Davino itu pacar kamu? " Tanya Ele.
"Iya Emely, apa benar itu? " Di susul karyawan yang lain.
" Tidak, eh dia hanya teman dekat aku aja. " Emely lupa kalau semalam Davino telah mengklaim kalau Emely itu adalah kekasihnya. Di depan Arlan dan juga karyawan yang lain.
" Tu kan benar, kita salah dengar. " Salah satu karyawan senior angkat suara.
"Iya benar, mungkin aja kita salah dengar. " Susul karyawan yang lain.
" Tapi aku dengar sendiri, kalau semalam Tuan Davino mengatakan kepada Pak Arlan " Mencoba mempraktekkan gaya bicara Davino " Dia memang karyawan mu di tempat ia bekerja, tapi dia itu kekasihku. Duh keren banget. " Ucap karyawan yang lain, sambil memeluk tubuhnya gemes.
"Apa iya semalam Davi mengatakan itu. " Batin Emely.
" Mel, kalau benar Tuan Davino itu pacarmu, kamu keren banget. " Ele menambah kan.
" Tapi kan Tuan Davino tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seorang wanita. Terakhir aku dengar ada seorang wanita sampai stress karena di tinggal Tuan Davino. "
__ADS_1
Kalimat terakhir di ucapkan dengan cara berbisik. Takut - takut ada yang mendengar percakapan mereka.
" Benarkah? " Tanya Ele.
" Iya. Sepertinya gosip itu benar, aku pernah mendengarnya dari sepupu ku yang waktu itu satu kampus dengan Davino dan gadis itu. " Karyawan lain menambahkan.
" Benarkah itu? Siapa gadis itu? Apa Davi memang seburuk itu?" Emely berbicara dalam hati. Walaupun tidak di pungkiri kalau Davino yang dia kenal dulu, memang se brengsek itu. Emely bahkan pernah menamai Davino dengan sebutan Devil. Iblis yang dahulu ingin di jauhinya. Laki - laki yang merampas kesuciannya, hanya karena masalah sepele.
" Kenapa pagi - pagi kalian sudah bergosip, apakah pekerjaan kalian sudah selesai? " Wajah mereka seketika menjadi pias ketika melihat Arlan dan juga manager Restoran yang sudah berdiri menatap mereka.
Arlan sudah rapi dengan setelan Kemeja berwarna soft dipadukan dengan celana jeans hitam dan juga kacamata hitamnya. Asisten yang bernama Leon itu, baru saja datang dengan membawa koper milik Arlan karena memang pagi itu Arlan akan kembali ke Italia.
Para karyawan itu kemudian berdiri dari duduknya, berbaris rapi menghadap sang manager dan juga Arlan selaku yang punya Restoran itu.
Setelah beberapa saat Arlan akhirnya pergi dari Restoran, Manager Restoran juga ikut mengantar sampai lobby Restoran.
Sementara karyawan Restoran setelah bubar tadi mereka tidak lagi bergosip, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing - masing.
"Selamat datang. " Petugas pintu Restoran mempersilakan masuk seorang pria yang tadi pagi menjadi topik gosip mereka. Siapa lagi bukan Davino.
" Mel, meja no 8 minta di layani. " Ele dan karyawan lain yang melihat Davino langsung membuat rencana agar Emely yang melayani meja di mana ada Davino di sana. Mereka ingin memastikan lagi hubungan Emely dan Davino.
" Maaf permisi, mau pesan apa pak? " Emely tidak memperhatikan kalau yang duduk di meja no 8 adalah Davino. Saat hendak mencatat dan mendengar suara Davino Emely langsung menatap sang pemilik suara.
__ADS_1
" Hati kamu, boleh? " Davino tersenyum mengatakannya.
" Maaf pak, sepertinya menu yang bapak sebutkan tidak ada di daftar menu Restoran kami. " Berusaha profesional dengan pekerjaannya.
" Hari ini kami menyediakan. . . " Emely menyebutkan beberapa menu makanan yang ada di daftar menu hari ini.
" Kalau begitu, saya mau pesan posh pie nya 1, seporsi puding Frozen Haute Chocolate dan Jus jeruk. " Emely langsung mencatat apa yang di pesan oleh Davino.
"Dan saya harap anda secepatnya datang mengantar pesanan saya dan secepatnya juga membaca pesan saya. " Sejak semalam Davino mengirimi pesan, namun tidak satu pun dari pesan nya itu di balas Emely. Jangankan di balas, Emely bahkan belum membaca pesan dari Davino.
Mendengar itu Emely langsung menyerahkan pesanan Davino pada Ele, kemudian dia meminta izin kepada Ele untuk ke ruang ganti. Emely mengambil ponselnya dalam tas yang ada di loker miliknya.
" Aku tidak mengijinkan mu bekerja. " Dari beberapa pesan, Emely hanya fokus pada satu kalimat itu. Kembali meletakkan ponselnya dalam tas dan kemudian menaruh kembali tas di dalam loker, Emely lantas hendak keluar dari ruang ganti, namun tiba - tiba Davino masuk menyusul nya di sana.
" Kenapa kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan. " Maksud Davino kenapa Emely masih datang bekerja di Restoran itu. Bukan kah dia sudah wanti - wanti mengirim pesan sejak semalam kalau dia sudah tidak mengijinkan Emely bekerja di Restoran itu.
" Aku baru melihat pesan mu Davi. Soal itu kita bahas nanti. "
"Mel, kamu mabuk semalam bersama Bos dan karyawan Restoran ini. Kamu pikir aku masih mengijinkan kamu untuk bekerja di sini. "
" Davi please kita bahas itu nanti, aku sekarang sedang bekerja. " Emely berusaha menjelaskan kepada Davino posisinya saat ini.
" Ok, sepulang bekerja aku akan jemput kamu Mel. " Akhirnya Emely mengiyakan dari pada pria itu membuat masalah di Restoran itu.
__ADS_1