Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 84


__ADS_3

Davino sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan pagi tadi, Davino tidak menjemputnya.


Walaupun pekerjaannya bisa dikerjakan dengan baik, namun hatinya gelisah.


Davino memang tidak mengatakan kalau dia marah, namun Emely merasa pria itu sedang mendiaminya sekarang.


Apa Davino menganggap dirinya telah berbohong? Emely akan menanyakan hal itu pada Davino, nanti setelah dia pulang bekerja. sekalian Emely akan menjelaskan pada Davino bahwa dirinya juga tidak tahu kalau Arlan, pria muda itu yang akan menggantikan ayahnya untuk mengelola Restoran tempat Emely bekerja. Karena Emely yakin, diamnya Davino semenjak tahu kalau Arlan akan jadi bos Emely.


***


Waktu berlalu dengan cepat. Emely bergegas mengganti seragam Restoran dengan pakaian yang dikenakannya dari rumah. Hari ini juga dia harus berbicara dengan Davino.


"El, aku duluan ya... " Pamitnya pada Ele. Sesama karyawan yang sudah Emely anggap seperti temannya sendiri.


"Mel, kamu nggak ikut? " Tanya Ele, menghentikan langkah gadis yang mengenakan bawahan jeans hitam itu.


"Kemana? " Tanyanya dengan dahi mengkerut. Emely memang tidak mendapat informasi apapun hari ini.

__ADS_1


"Karaokean. Pak Arlan yang ngajak seluruh karyawan. Pak Arlan yang traktir Mel. Katanya besok dia bakal balik ke Itali. " Mungkin bagi karyawan lain, ini kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan bos mereka. Namun tidak bagi Emely, ada hal penting yang harus dia selesaikan malam ini juga.


"Aku nggak ikut, ya Ele. " Memutar otaknya, Emely mencari alasan yang tepat untuk menolak ajakan itu.


"Aku udah janjian sama kakak aku, mau nemenin dia ke hhmm.... dokter. " Muda - mudahan Ele tidak banyak bertanya, bisa ketahuan kalau dirinya berbohong. Walaupun Ele merasa kalau ini terlalu malam untuk pergi ke dokter, tapi Ele percaya saja. Walaupun sebentar lagi pukul setengah 10 malam.


"Ele, aku duluan ya. " Ele mengangguk mengiyakan. Emely cepat - cepat pergi dari situ, segera gadis itu keluar Restoran dan mencari taxi.


Apartemen Davino adalah tujuannya. Selama dalam perjalanan Emely mencoba menghubungi pria itu, namun sambungannya selalu sibuk dan menit berikutnya nomor pria itu tidak bisa dihubungi.


Tidak butuh waktu lama untuk Taxi yang mengantar Emely sampai di bassment Apartemen Davino.


Dengan ramah sang supir yang setua ayahnya itu, mengiyakan permintaan Emely untuk menunggu di Bassment Apartemen.


Emely menaiki lift sambil berharap Davino ada di Apartemen. Sesampainya di unit apartemen pria itu, Emely menekan bel beberapa kali. Nihil tidak ada yang membukakannya pintu. Emely ragu - ragu menekan beberapa kombinasi angka sebagai password untuk membuka apartemen itu.


Syukur Davino tidak mengganti password pintu apartemennya. Emely masuk perlahan, mencari keberadaan pria itu.

__ADS_1


"Davi... " Panggilnya berulang. Namun tidak ada sahutan dari pria itu. Tempat terakhir yang bisa saja seorang Davino ada di sana, kamar miliknya. Emely mengetuk pintu kamar pria itu sambil memanggil kembali nama pacarnya itu. Lagi - lagi tidak ada sahutan terdengar. Emely perlahan membuka pintu kamar itu, kosong. Sepertinya pemilik apartemen ini benar - benar tidak ada ditempat.


***


Dimana Emely harus mencari Davino. Emely buntu. Dia belum banyak tahu tentang Davino. Satu - satunya yang Emely tahu, Davino dekat dengan Haizel dan Alex. Mengambil ponselnya Emely menghubungi Alex.


"Hai Bidadari. " Emely yakin Alex ada di rumah sakit. Karena Emely masih bisa mendengar suara Sirine ambulans.


"Dokter Alex, apa Davino ada bersama dokter? "Tanya Emely langsung. Memang itu kan, tujuan Emely menghubungi Alex. Menanyakan keberadaan Davino.


" Aku pikir kamu nyariin aku, tapi ternyata... " Awal kalimatnya Alex terdengar sedih, namun setelahnya pria itu terkekeh pelan.


" Kalau aku kasih tahu, kamu harus penuhi satu permintaan aku. " Kenapa sih Alex nggak langsung jawab aja. Kenapa harus meminta sesuatu dari Emely. Kalau Emely tidak bisa mewujudkan permintaannya, apa Alex benar - benar tidak akan memberitahu keberadaan Davino? Mengiyakan saja, walaupun Emely tidak tahu apa yang diinginkan pria itu.


" Baiklah, cepat katakan dimana Davi. " Diujung sana, Alex pasti tersenyum penuh kemenangan. Satu permintaannya akan dipenuhi oleh Emely.


Apa aku meminta Emely meninggalkan Davi dan memilih aku? Alex tidak sejahat itu. Dia tidak akan meminta hal itu. Selama sahabatnya bahagia, dia akan ikut bahagia. Ah, nanti saja permintaannya. Dia harus memberitahu Emely dulu, dimana Davino berada, pasti gadis itu tengah mencari Davino. Davino pasti tidak bisa dihubungi, karena tadi saat Davino menghubunginya, baterai ponsel Davino habis.

__ADS_1


"Davino ada di Sweet Room. "


__ADS_2