
Sesampainya di parkiran apartemen, Emely masih bergeming. Davino sudah turun lebih dulu. Berjalan kearah pintu yang ada disisi Emely.
"Turun. " Ucapnya pelan namun terdengar tegas. Emely masih bergeming, memilih tidak menatap Davino. Pandangannya lurus ke depan.
"Kamu mau aku gendong. " Ucap Davino yang membuat Emely langsung turun sambil menggerutu. Haizel ikut turun, baru saja dia melangkahkan kakinya menyusul keduanya. Davino sudah menghentikan langkahnya, membalikan badan menatap Haizel.
"Kamu mau kemana? " Tanya Davino pada sahabatnya itu.
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Haizel berpikir sejenak. Benar juga, dia mau kemana? Tidak mungkinkan dia ikut masuk ke apartemen Davino. Sedangkan sahabatnya itu masih terlihat marah. Bisa - bisa dia jadi objek amukannya.
"Kalau begitu, aku balik yah. " Emely yang ada dibelakang Davino hanya menggeleng. Seperti meminta Haizel untuk tidak meninggalkan mereka. Haizel hanya bisa tersenyum nyengir. "Aku duluan yah Mel. " Hanya menggunakan bahasa bibirnya, Haizel berucap maaf pada Emely.
Haizel meninggalkan bassment apartemen. Dia berharap Davino tidak melakukan hal yang membuat Emely tambah membencinya.
***
Didepan pintu apartemen yang sudah terbuka, Emely lagi - lagi bergeming. Emely takut, ditambah Davino sama sekali tidak merubah ekspresi wajahnya semenjak didepan hotel tadi. Masih dengan rahang yang mengeras, ditambah ekspresi wajah datarnya.
"Masuk. " Ucap Davino yang menyadari bahwa Emely tidak mengikutinya masuk kedalam apartemen.
__ADS_1
Bisakah Emely membantahnya untuk kali ini. Emely mencoba bertahan dan masih bergeming. Kali ini Davino tidak menggunakan kalimat untuk mengajak wanita itu masuk kedalam apartemennya. Melainkan dirinya menghampiri Emely, meraih tangan wanita itu, membawanya masuk kedalam apartemennya. Jantung Emely berpacu dengan cepat, bahkan Davino bisa merasakan jemari gadis itu bergetar.
"Davi, aku minta maaf. Tadi aku tidak serius dengan ucapanku. " Sadar kalau ucapannya tadi memang memancing kemarahan pria itu. Seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. Davino kali ini bungkam, dia masih menarik tangan Emely.
Jantung Emely tambah berpacu ketika Davino membawanya, kearah pintu kamar laki - laki itu. Benar saja Davino membawanya ke kamarnya. Menghempaskan tubuh wanita itu keatas ranjang. Davino mulai membuka pakaian atasnya, membuat Emely semakin takut.
"Davi, kamu mau apa? " Tanyanya dengan bibir bergetar. Davino masih bungkam, dia naik keatas tubuh wanita itu. "Davino apa yang kau lakukan. " Emely kali ini berucap tegas, dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Aku sedang meminta balasan, atas uang yang akan aku berikan untukmu. Bukankah kamu menganggap aku seperti itu? " Benarkan pria itu marah karena ucapan Emely tadi.
"Davi, aku minta maaf. Aku salah. " Davino masih menopang tubuhnya dengan kakinya, namun bibirnya mulai mencium sekitar perpotongan leher wanita itu.
"Aku salah Davi, aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. " Ucapnya kali ini dengan isakan. Davino menghentikan ciumannya, memindahkan tubuhnya di samping tubuh wanita itu. Meraih tubuh mungil Emely, memeluknya.
"Apa aku menyakitimu? " Tanyanya, walau dia sendiri sudah tahu jawabannya. Emely hanya mengangguk terisak di dada bidang Davino.
" Aku hanya memberimu sedikit pelajaran. " Mengusap punggung wanita itu. "Berhentilah berfikir bahwa aku akan meminta balasan, jika aku memberimu sesuatu." Ucapnya lagi.
"Aku tidak akan melakukan hal itu jika kamu tidak menginginkannya. " Tambah Davino, kali ini mengecup kening wanita itu lembut.
__ADS_1
"Kecuali kamu mengijinkan dan menginginkannya. " Davino bersumpah akan mengendalikan nafsunya . Walaupun dia harus berperang dengan tubuhnya, yang selalu menginginkan Emely.
"Kamu sudah tidak marah lagi? "Tanya Emely.
"Sedikit. " Davino menghapus sisa air mata yang membekas di pipi wanitanya
"Tapi aku masih melarang kamu kerja di hotel Mel. " Davino sudah mulai bangun dari ranjang, mengulurkan tangannya, meraih tangan Emely. Mengajak wanita itu, keluar kamar. Sebelumnya, dia mengambil lagi pakaiannya, dan memakainya.
"Aku tidak melarangmu bekerja Mel, tapi tolong jangan di hotel. " Emely menatapnya, seolah meminta alasan kenapa Davino melarangnya bekerja di hotel. Emely memilih tidak bertanya, karena dia takut salah bertanya atau menjawab.
"Aku tidak ingin, kamu melayani para tamu hotel yang sebagian besar berjenis kelamin yang sama denganku. " Emely sudah mendapat jawabannya.
"Membersihkan kamar hotel yang dipakai mereka tidur, melayani mereka disaat mereka minta makan malam. Belum juga ada tamu hotel yang kegenitan. Kalau pria itu sampai memegang tangan kamu gimana? " Sudah berpikir, pelajaran apa yang akan diberikannya untuk pria yang akan berniat kurang ngajar pada Emelynya.
"Belum lagi, aku akan memiliki waktu terbatas denganmu. " Perkataan Davino ada benarnya juga. Bagaimana kalau memang ada pria yang berusaha melecehkannya, sama halnya waktu itu di BAR milik kak Boy.
"Tapi aku butuh kerjaan Davi. " Emely harus membayar uang yang dipinjamkannya dari Ana dan Sisilia. Uang yang dipinjamnya untuk pengobatan sang ibu.
"Cari ditempat lain saja yah. Aku bantu nyariin. " Akhirnya Emely mengiyakan.
__ADS_1
Akhirnya hari itu Davino menemani Emely mencari pekerjaan.