Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 50


__ADS_3

Kau adalah kesalahan yang tidak akan kusesali. Davino Swam


Like sebelum membaca yah.


_____________________________


Waktu menunjukkan pukul 02:00 dini hari saat Emely membuka matanya. Dia yakin, dia ada dirumah sakit. Karena gaun yang dipakainya semalam, sudah terganti dengan pakaian pasien rumah sakit. Ada dua orang yang tengah tertidur dalam posisi duduk di sofa bed ruangan dimana dirinya di rawat. Elisa ibunya dan Eduar adiknya. Emely yakin ruangan yang ditempatinya saat ini adalah ruangan VVIP. Karena tidak ada pasien lain diruangan itu. Fasilitas berupa AC, LCD TV, Water dispenser dan juga kamar mandi ada didalam ruangannya.


Seingat Emely semalam ia sedang makan malam bersama Davino di restoran. Beberapa saat setelah makan black forest yang diberikan Davino, tubuhnya mendadak tidak enak. Sakit perut, mual bahkan ia susah untuk bernafas. Emely juga ingat sepanik apa Davino saat itu. Sebelum ia kehilangan kesadarannya didalam mobil, Emely dapat melihat kecemasan diwajah pria tampan itu.


Tapi tunggu, dimana dia?


Syukurlah tasnya semalam diletakan dekat nakas samping ranjangnya. Emely meraihnya, mengambil ponselnya disana. Pantas saja pria itu tidak ada, ini sudah dini hari. Melihat jam didepan layar ponselny. Tidak mungkin Davino menjaganya dirumah sakit.


Apakah dia sedang berharap? Entahlah. Mungkin dia hanya mengantarnya kerumah sakit. Setelah itu pasti dia pulang atau bersenang - senang dengan teman - temannya.


Emely hendak ke kamar mandi, ia ingin membangunkan ibunya, namun wajah lelah ibunya membuat Emely tidak tega membangunkan sang ibu. Ia butuh buang air kecil sekarang. Tapi kepalanya masih terasa pusing. Haruskah Emely membangunkan Eduar untuk menemaninya kedalam kamar mandi?


Emely bangun perlahan dari ranjang, menaruh kakinya dilantai ruangan itu. Dari pada meraih infus digantungannya, Emely memilih mencabut saluran infus dari tangannya. Ia pasti bisa pergi sendiri kekamar mandi. Karena kamar mandi itu tidak jauh dari ranjangnya. Perlahan ia melangkah, karena kepalanya masih terasa pusing. Selain itu ia juga tidak ingin membangunkan kedua orang yang dicintainya itu.


Emely merasa lega karena dia bisa sampai didepan kamar mandi, walaupun sedikit tertatih dan tembok dijadikannya pegangan untuk bisa sampai pintu itu. Tinggal masuk dan buang air kecil. Namun disaat dia hendak masuk, kepalanya semakin pusing. Alhasil ia tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik. Menutup matanya, Emely yakin ia akan jatuh mengahantam tembok kamar mandi atau jatuh membentur lantai.


Tapi tunggu? seseorang telah menariknya dalam pelukannya, sebelum ia jatuh tadi. Emely yakin Eduar yang menolongnya. Karena dari proporsi tubuh yang memeluknya saat ini, tubuh seorang pria. Tercium bau alkohol dari tubuh pria itu, seperti wine. Berarti dia bukan Eduar. Apalagi tinggi tubuh pria itu, diatas Eduar. Ditambah tubuh kekarnya bukan proporsi tubuh adiknya. Membuka matanya perlahan, Emely mendongak kearah pria yang sudah menolongnya.


"Kenapa kamu begitu ceroboh? Kalau aku tidak datang, kepalamu bisa saja membentur lantai atau dinding kamar mandi. " Kalian pasti tahu siapa yang memarahi Emely saat ini.


Syukurlah dia datang tepat waktu, kalau tidak, Emely mungkin butuh waktu beberapa hari lagi dirumah sakit.


" Davi, aku... " Kenapa pria itu lagi yang menolongnya. Apakah semenjak semalam dia tidak pulang? Pakaian yang dikenakannya pun masih sama.


"Bisakah kamu memelankan suaramu, ibu sedang tidur. " Davino bahkan ingin sekali menyentil dahi gadis itu. Bisa - bisanya dia masih memikirkan orang lain, disaat dirinya hampir saja celaka. Bernafas kasar, Davino masih menahan tubuh Emely.

__ADS_1


" Aku hanya ingin... " Emely bahkan malu mengatakannya. Tanpa menunggu apa yang dikatakan Emely, pria itu menuntun Emely kedalam kamar mandi. Tepatnya didepan closed.


"Apa dia tahu, aku akan buang air kecil. "


"Apa lagi? " Tanya pria itu dengan nada ketus.


Apa lagi? Apa dia tidak sadar bahwa dia masih berdiri menghadap Emely.


"Bagaimana aku bisa melakukannya jika kamu masih berdiri disini. " Jawab Emely tak kalah ketus.


" Aku akan menunggumu disini. " Emely menelan salivanya gugup. Apa yang dia bilang tadi? menunggunya disini?


" Bagaimana jika kamu jatuh lagi? " Tambahnya melihat Emely yang seolah butuh penjelasannya.


" Apa kamu gila? kamu bukan suami aku. " Emely berdehem gugup. Kalau tahu kejadiannya seperti ini, tadi seharusnya dia membangunkan ibunya.


" Aku sekarang memang bukan suamimu, jika kau mau, aku bisa jadi suamimu. " Gampang sekali dia mengatakan hal - hal tidak masuk akal seperti itu. Emely masih memiliki banyak waktu untuk berdebat dengannya. Tapi masalahnya Emely tidak bisa menahannya, Emely butuh membuangnya sekarang


Davino mengikuti keinginan gadis itu. Berdiri dekat pintu, membelakangi Emely. Davino tersenyum, emang bagian tubuh mana yang bisa disembunyikan Emely darinya.


"Sudah? "


" Sabar ihh. " Jawab Emely kesal. Dia seperti anak kecil yang ditunggui ibunya saja


Davino tertawa kecil. Baru semalam dia merasa cemas, sekarang dia bisa menggoda gadis itu lagi.


"Mau kubantuh? " Dapat Davino dengar Emely mengumpatnya sambil menggerutu. Bukannya marah, dia malah tersenyum senang. Dia bahkan tidak mengenali dirinya yang sekarang. Cinta itu ternyata bisa mengubah seseorang.


***


Kondisi Emely sudah mulai membaik. Dia diijinkan pulang besok.

__ADS_1


Berarti Emely malam ini tidak bisa menghadiri pesta pertunangan Rayhan dan Ana sahabatnya. Bolehkan Emely bersyukur dengan musibah yang menimpahnya?


Davino sudah pulang tadi pagi karena harus ke kantor. Alex juga beberapa kali datang keruangannya.


Eduar juga sudah pergi bekerja dan saat ini dia hanya ditemani sang ibu.


Disaat ibunya menyuapi makanan, Ponsel miliknya berdering. Menggeleng kepada sang ibu yang menyuapinya lagi. Emely lantas mengangkat panggilan telpon dari sahabatnya itu.


"Yah Sil. " Sisilia yang menelpon dirinya.


"Mel, nanti malam kau akan datang ke pestanya Ana? " Untuk kejadian yang dialami Emely semalam, Emely belum mengabari sahabatnya itu. Jadi Sisilia tidak tahu, jika Emely saat ini ada dirumah sakit. Sisilia berharap sahabatnya itu, tidak akan datang. Walaupun Ana juga adalah sahabat mereka. Tapi Sisilia tahu bagaimana perasaan Emely pada Rayhan. Tapi tunggu dulu, bukankah Emely sudah punya calon suami juga? Sisilia bahkan masih ingat namanya Davino Swam.


"Aku nggak bisa kayaknya Sil. "


"Baguslah. " Emely mengerutkan dahinya, mendengar jawaban spontan dari Sisilia. Sisilia bahkan tidak menanyakan alasan kenapa Emely tidak bisa hadir diacara pertunangan Ana dan Rayhan.


" Kalau begitu aku tutup yah Mel. Sepertinya pesanan aku udah datang. " Tanpa menunggu persetujuan Emely, Sisilia memutuskan sambungan telpon darinya.


Disaat meletakkan kembali ponselnya di nakas, satu notifikasi pesan masuk di ponselnya.


"Bagaimana keadaanmu? " Tanpa Membalasnya Emely kembali meletakan ponselnya.


Kalau saja tidak meeting dengan klien dan juga ayahnya, Davino mungkin sudah menghubungi gadis itu. Bisa - bisanya dia mengabaikan pesannya.


***


"Eduar, bisakah kau datang menggantikan kak Emely? " Seolah bertanya dengan mengangkat kedua keningnya, Emely lupa memberitahu Eduar perihal undangan lisan dari sahabatnya Ana.


"Hari ini Ana akan tunangan dengan Rayhan. Kamu bisa kan datang kesana menggantikan kakak? " Rayhan? Eduar menduga - duga siapa Rayhan yang dimaksud kakaknya akan bertunangan dengan Ana. Ah, sudahlah setahu Eduar, Rayhan pacar kakaknya sudah pindah kuliah di London? Jadi mungkin saja Ana akan tunangan dengan Rayhan yang lain.


Eduar pun setuju menggantikan kakaknya itu. Lagi pula Ana juga tidak akan keberatan karena Ana juga sudah kenal Eduar selama ini.

__ADS_1


__ADS_2