Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 40


__ADS_3

Semenjak masuk kedalam apartemen Davino, Emely bergeming.


"Kenapa kamu tetap disitu? " Menatap Emely yang masih menjaga jarak darinya.


"Sudah kukatakan aku ingin makan. Cepat buatkan aku makan malam. Aku sangat lapar." Tambah Davino membuat Emely baru menyadari kalau ternyata Davino ingin makan malam, bukan memakannya. Emely mengelus dadanya, lega.


"Bukankah tadi aku sudah memasak lebih untukmu. "


"Sudah habis dimakan sama Alex dan Haizel. " Jawab Davino yang sudah duduk di sofa.


" Kenapa kau tidak makan saja direstoran tadi. Kenapa merusak makan malam orang lain. " Katanya orang kaya, makan malam saja harus mencari Emely sampai restoran.


" Aku sudah bosan makan di restoran. Aku sekarang ingin makan, makanan rumahan." Orang kaya memang begitu yah, Emely bahkan sangat jarang makan direstoran.


"Cepatlah, masakin aku sesuatu. Kalau aku sakit perut lagi karena telat makan, apa kau mau bertanggung jawab? " Emely memutar matanya malas. Ini seperti bekerja lembur saja.


"Aku akan meminta tambahan gaji padanya. "


"Aku akan menambahkan gajimu. Kamu tenang saja. " Apa, laki - laki itu bahkan tahu apa yang Emely pikirkan. Memilih kearah dapur, Emely malas beraduh argumen lagi dengan Davino. Mau bagaimana pun dia tetap bisa membatah ucapan Emely.


"Apa dia itu seorang raja. Dia bisa - bisanya datang ke restoran, hanya untuk membawaku kesini. Untuk apa? Untuk memasak makan malamnya. " Masih mengomel sendiri, Davino tiba - tiba datang. Mengambil air minum seperti biasa. Syukurlah laki - laki itu tidak mendengarkan apa yang Emely katakan sedari tadi. Lihat saja dia masih bersikap biasa saja. Namun kenapa dia berbalik?


"Apa? " Tanya Emely menatap kearah Davino yang menatap kearahnya.


"Tidak apa - apa. Hanya saja kalau memasak sebaiknya mulutmu itu tidak banyak bicara. Makananku bisa kemasukkan sesuatu nantinya. " Setelah mengatakan itu Davino berlalu, dia tersenyum melihat ekspresi Emely yang terlihat kesal padanya.


***


"Kenapa cuma mie instan saja? " Protesnya pada Emely. Karena ingin cepat - cepat pulang dari apartemen pria itu, Emely sengaja membuat makanan siap saji.


"Kan mie instan juga bagian dari makanan rumahan. " Membela diri. " Kalau tidak mau makan yah sudah. " Emely akan meraih kembali baskom yang berisi mie itu, namun Davino menahan baskom itu dan mulai menyantapnya.


" Tadi nggak mau, tapi tetap dimakan. " Lagi - lagi Emely bergumam, namun masih bisa didengar Davino.


" Ya karena aku laparlah, makanya dimakan. " Bisa tidak sih laki - laki itu diam dan hanya jadi pendengar saja.


"Terserahlah. Aku mau pulang sekarang. " Emely berlalu meninggalkan Davino. .


"Biar aku antar. " Emely menatap baskom berisi mie tadi, sudah tandas. Sepertinya lidah laki - laki itu perlu diperiksa. Mie tadi bahkan masih sangat panas.


Kali ini Emely tidak menolak. Karena apa? percuma saja Emely menolak, toh laki - laki itu selalu menggunakan berbagai cara, berbagai alasan agar bisa mengantar Emely.

__ADS_1


"Tumben nggak nolak. " Ucap Davino yang sudah duduk dibalik kemudi.


" Emang kalau aku nolak, kamu nggak akan ngantarin aku? " Menyindir sih Emelynya.


"Nggak. " Ck. Emely ingin sekali memukul kepala laki - laki yang tersenyum tanpa dosa. Padahal setiap kali Emely menolak diantar pulamg, dia selalu ngotot ngantarin. Tapi apa coba sekarang. Bikin kesal kan.


"Jangan tertidur lagi, entar aku repot lagi ngangkat kamu. " Sumpah darah Emely mulai mendidih. Kenapa sih laki - laki itu selalu menguji kesabarannya.


Memilih menatap keluar jendela, berdebat juga tidak ada gunanya. Padahal Davino hanya mengodanya saja. Davino bahkan berharap Emely tertidur lagi di mobilnya seperri waktu itu.


***


Pagi itu Emely terpaksa menundah keberangkatannya ke apartemen Davino. Pasalnya laki - laki itu mengirim pesan kepada Emely untuk Emely datang jam 10 ke salah satu Mall, tepatnya di pusat kota. Katanya sih persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.


"Kamu dimana? " Memilih menghubungi Emely karena gadis itu tidak muncul sedari tadi. "Aku dirumah sakit Medical Hospital, tadi ada kecelakaan. Aku akan... " Belum selesai Emely bicara laki - laki itu sudah memutuskan sambungan telpon.


"Dia pasti marah aku terlambat. " Emely kembali memasukkan ponselnya dalam tas. Dalam perjalanan ke Mall tadi, sempat terjadi kecelakaan. Ada seorang wanita yang krserempet mobil, disaat kejadian Emely tidak jauh dari korban. Jadi Emely membantu wanita itu dan membawanya kerumah sakit.


Emely sedang menunggu keluarga wanita itu, biar dia bisa segera pergi menemui Davino.


"Emely. " Teriak seorang laki - laki yang Emely sangat hafal siapa pemilik suara itu. Davino berlari kecil menghampiri Emely. Nafasnya bahkan tersengal.


"Kamu tidak apa - apa? " Tanyanya sambil mengamati seluruh bagian tubuh Emely. "Mana yang luka? " Mengecek bagian tubuh Emely, melihat dari ujung kepala hingga kaki gadis itu. Dia terlihat sangat kuatir.


"Kamu tidak apa - apa kan? " Menatap Emely lagi. Davino mengira Emely yang kecelakaan. Makanya dia kuatir seperti ini.


"Aku ti...tidak apa - apa. " Jawab Emely gugup.


" Tadi kamu bilang kecelakaan. "


"Bukan aku, aku hanya membawa korbannya kerumah sakit. " Davino menarik nafas lega. Tapi kenapa dia terlihat sangat kuatir, Emely bahkan bisa melihat itu.


"Syukurlah kalau begitu." Setelah mengatakan itu, keluarga wanita itu juga sudah datang. Jadi Davino langsung mengajak Emely ke Mall dimana mereka janjian bertemu tadi. Janjian? Entahlah.


***


"Kita mau beli apa dulu? " Tanya Davino pada Emely, setelah keduanya memasuki pusat perbelanjaan di Mall itu.


"Kenapa tanya aku. " Bukankah Davino yang akan belanja kebutuhan makanan yang ada di apartemennya? Jadi dia yang lebih tahu.


"Kan kamu yang masak. " Jawab Davino melihat kearah Emely yang ada disampingnya.

__ADS_1


"Kalau gitu, makanan kesukaan kamu apa? Biar bisa beli bahan - bahannya. " Emely balik bertanya. Dengan tahu apa yang disukai Davino, akan lebih mudah mencari bahan apa saja yang dibutuhkan untuk memasak.


"Aku suka makanan apa saja. Asal kamu yang masak. " Emely memutar matanya malas. Bisa - bisanya Davino menggombalinya. Padahal yang diucapkan Davino barusan, benar adanya. Dimasak mie instan tetap dia makan.


" Ayo. " Menarik tangan Emely kearah stand bahan makanan. Mereka terlihat bahkan seperti pasangan yang sedang berbelanja kebutuhan bulanan mereka. Kadang Emely meminta pendapat Davino saat membeli daging. Kadang Davino memasukkan bahan makanan yang tidak dibutuhkan dalam keranjang. Emely yang terpaksa mengembalikkannya lagi.


"Aku ke toilet sebentar. " Ketika mereka hendak mengantar barang belanjaan ke mobil, tiba - tiba perut Emely terasa sakit.


"Baiklah. Cepatlah kembali, aku akan kembali ke kantor setelah mengantarmu ke apartemen. " Emely mengangguk dan Davino memilih menunggu didalam mobil.


Sudah hampir dua puluh menit Emely bahkan belum kembali. Davino memilih menghubungi Emely.


"Kamu dimana? " Tanya Davino.


"Aku masih di toilet. "


"Kenapa lama sekali? Kau baik - baik saja kan? "


"Aku tidak baik sepertinya. "


"Emely, kamu kenapa? " Mulai panik sendiri.


"Aku bisa minta tolong? " Tanya Emely dan Davino mengiyakan.


***


" Mel. " Mengetuk pintu toilet wanita. Bahkan Davino harus mengendap ngendap masuk kesini.


"Aku disini. " Berteriak dari bilik toilet ketiga


"Apa kau sudah membawa yang aku butuhkan? " Tanya Emely.


"Iya. Aku membawanya. Aku tidak tahu mana yang sering kau pakai. Kata pegawai tokoh itu yang bersayap yang bagus. " Emely ingin sekali tertawa. Bagaimana seorang Davino, memilih pembalut wanita.


" Mana? " Emely mengeluarkan sedikit tangannya meraih kantong plastik yang dibawa Davino.


"Sumpah yah Mel, kamu itu bikin aku malu. Semua gadis - gadis bahkan menatapku. Ada yang bilang aku begitu mencintai istriku, sampai mau membeli itu untuk istriku. " Emely tersenyum didalam toilet, membayangkan ucapan Davino tadi. Bagaimana tangannya mengambil benda itu dan bagaimana mata orang - orang melihatnya. Emely bahkan ingin tertawa.


"Awas yah kalau kamu nggak mau jadi istriku. " Ucapnya nyeleneh menurut Emely. Disaat bersamaan Emely sudah keluar dari dalam toilet.


"Aku sudah selesai. Ayo kita pergi. " Melangkah keluar dari dalam toilet.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2