
" Jelaskan padaku Emely, kenapa kamu membohongiku? Kenapa wajahmu memerah? " Davino baru saja memperhatikan wajah Emely. Semenjak tadi di Sweet Room, Davino memang tidak terlalu memperhatikan wajah Emely, yang ada di kepalanya, hanya ingin membawa Emely keluar dari tempat itu dan meminta Emely menjelaskan kenapa dia harus membohonginya.
Yang ditanya tetap bungkam, pandangannya tetap lurus ke depan. Dia sedang protes sekarang, namun Davino belum menyadarinya.
" Mel, kenapa wajahmu memerah? " Davino terpaksa menghentikan mobil yang dibawanya. Menghadap Emely, kemudian melihat Emely dengan seksama.
" Aku tidak apa - apa. " Saat tangan Davino hendak menyentuh wajahnya, Emely menepisnya.
"Mel kamu . . . Kamu minum? " Akhirnya Davino menyadarinya.
"Emely lihat aku? " Emely masih saja memandang lurus ke depan. Tidak menghiraukan permintaan Davino padanya.
"Damn it. " Teriak Davino sambil memukul setir mobil berulang kali. Emely tetap tidak merespon ataupun terlihat takut. Di satu sisi Davino belum menyadari atau lebih tepatnya dia lupa akan kesalahan yang dilakukannya di Diamont Star. Karena dia terlalu sibuk mencari Emely. Berusaha menguasai amarahnya, Davino berkali kali menarik nafas kasar, sambil menutup matanya. Sampai dia mendengar, seseorang di sampingnya sedang menangis.
"Mel, sayang... Aku tidak bermaksud membentakmu. " Davino melihat Emely yang terisak dengan pandangan lurus ke depan. Sambil sesekali Davino menghapus jejak air mata di pipi kekasihnya. Mungkin karena sikapnya barusan, membuat Emely takut.
"Kamu jahat Davi, kamu jahat. " Kali ini Emely menatap Davino, sambil tangannya dia ayunkan untuk memukul bagian dada Davino.
__ADS_1
"Kamu pembohong. " Memukul lagi lebih kencang.
Bukankah dia yang berbohong, namun Davino tidak mengatakannya. Dia hanya membiarkan Emely memukulnya.
"Kamu brengsek. " Davino belum menyadari arah ucapan Emely. Tetapi laki - laki itu tetap membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan kemarahan Emely, sambil tangannya berusaha mengusap air mata Emely, namun kali ini Emely menepisnya.
"Jangan sentuh aku. " Bentaknya.
" Kamu bilang kamu di Apartemen karena ada Mommy kamu yang datang. " Memukul lagi dengan sisa kekuatannya. Karena sungguh Emely sudah tidak punya kekuatan lagi.
Davino menarik Emely kedalam pelukannya, walaupun Emely menolaknya dengan susah payah, tetap tidak berhasil. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan pelukan Davino.
" Dasar bodoh. " Davino mengusap punggung kekasihnya perlahan. Ingin menenangkan Emely tepatnya. Setelah merasa tenang, Davino perlahan melepaskan pelukannya.
" Dengarkan aku dan aku minta Mel jangan memotong ucapanku. " Pinta Davino, namun lagi - lagi Emely menepis tangan Davino, saat Davino menyentuh wajahnya.
"Hei, lihat aku. " Dengan kedua tangannya Davino menuntun wajah Emely, agar bisa menatapnya. Dengan mata sayu Emely menatap mata pria yang ada di depannya. Jarak wajah mereka sangat dekat, Davino bahkan bisa merasakan nafas Emely yang hangat.
__ADS_1
" Mel, Kamu melihat aku sama wanita itu? " Mendengar itu, Emely berusaha menepis tangan Davino lagi dan hendak berpaling dari pandangan Davino, namun gagal. Davino menahan wajah Emely, agar tetap menatap matanya, agar Emely tahu tidak ada kebohongan di sana. Dari cara Emely merespon pertanyaannya, sudah pasti Emely melihatnya.
" Tadi Mommy meminta aku untuk makan bersama Daddy. Walaupun aku tahu di sana ada rekan bisnis Daddy dan juga putrinya, aku tetap mengikuti kemauan Mommy. " Davino berusaha menjelaskan sampai dititik apa yang dilihat Emely. Namun hal itu tidak bisa Emely benarkan.
"Mel, percaya padaku. Tidak ada satu pun wanita yang akan menggantikan posisimu di hatiku. Kamu milikku dan aku hanya milikmu. " Davino mengatakannya dengan tulus, namun Emely seperti memutar bola matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Davino barusan. Dia bercumbu dengan Rossa tadi, lantas Emely harus percaya dengan ucapannya, tidak.
" Ikut aku. " Davino memasangkan sabuk pengaman ditubuh kekasihnya itu, setelah itu dia kembali melajukan mobilnya.
Kurang dari 30 menit mereka sampai disebuah bangunan berlantai dua. Emely tidak tahu Davino membawanya kemana dan untuk apa mereka ke tempat itu.
" Ayo turun. " Sudah mengitari mobilnya dan membuka pintu mobil, dimana ada Emely di sana.
"Aku mau pulang, kepalaku pusing. " Tolak Emely.
" Kita akan pulang, selesai dari tempat ini. "
Emely ragu - ragu turun dari dalam mobil, Davino langsung meraih tangannya, menuntunnya kedalam bangunan itu.
__ADS_1