
Karena seharian mencari pekerjaan baru dan mampir di kampus Eduar, membuat Emely cepat sekali terlelap malam ini. Tidurnya bahkan sangat pulas, sehingga dia tidak menyadari seseorang baru saja masuk kedalam kamarnya. Siapa lagi yang bisa melakukan hal gila itu, kalau bukan seorang Davino.
Karena tidak ingin membangunkan gadis itu,
Davino memilih duduk disalah satu kursi, menatap wajah polos gadis yang sedang terlelap itu.
" Kau jangan salah paham, aku datang kesini hanya memenuhi kata - kata Alex. " Tapi tunggu, bukankah Alex mengatakan jika Davino bertemu gadis itu malam ini, mereka berjodoh. Lalu kenapa Davino datang memenuhi ucapan Alex? Apakah dia berharap bahwa gadis itu harus berjodoh dengannya? Davino bahkan tidak mengerti dengan jalan pikirannya.
"Aku bahkan tidak mengerti, mengapa aku selalu datang mengganggumu. " Gumamnya dengan suara pelan.
"Kau adalah kesalahan yang tidak akan aku sesali. " Sudah berani menyentuh dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Emely.
Cukup lama Davino, menatap Emely yang tertidur. Sampai tiba - tiba Davino kaget sendiri mendengar suara Emely.
" Ayah... ayah dimana? "
"Jangan pergi ayah. "
Emely mengatakan itu dalam keadaan tidur, bisa Davino simpulkan bahwa gadis itu tengah bermimpi tentang ayahnya. Emely memang anak perempuan yang lebih dekat dengan sang ayah dari pada sang ibu. Kalau Eduar dia lebih dekat dengan sang ibu, dibanding dengan sang ayah. Tapi itu dulu jauh sebelum sang ayah pergi meninggalkan mereka.
Bahkan dalam keadaan tidur, gadis itu menangis. Entah mengapa melihat Emely seperti itu, ada sebagian hati Davino yang ikut terluka. Kembali Davino memberanikan diri, menyentuh pipi Emely. Menghapus jejak airmata gadis itu, sambil mengusap lembut pipi gadis itu.
"Ayah jangan tinggalin Emely. " Ucapnya lagi kali ini meraih tangan yang mengelus pipinya dengan lembut. Sewaktu kecil ayahnya memang suka mengelus pipinya hingga Emely tertidur.
Davino merasa Emely memang belum rela ayahnya pergi. Walaupun Davino belum tahu cerita sesungguhnya tentang ayah Emely, namun Davino yakin gadis ini tidak ingin kehilangan ayahnya. Lihat saja tangan Davino bahkan dipegangnya sangat erat. Seperti takut tangan itu akan terlepas dari genggamannya.
Tangan satunya dibiarkan Davino dipegang oleh Emely. Sedangkan tangan satunya lagi, Davino gunakan untuk menghapus keringat diwajah Emely.
"Kenapa aku bisa selembut ini padanya? Ingat Davino, kau bukan tipe cowok dengan tipe kepribadian Sanguinis yang hangat dan selalu mendahulukan perasaan daripada pemikiran. Kau lebih cocok dengan tipe kepribadian Koleris yang tidak sabaran, keras kepala dan mudah marah." Mencoba memperingatkan dirinya sendiri. Namun gagal, Tuhan sepertinya telah mengganti hatinya dengan hati yang baru.
Malam itu bahkan seekor nyamuk pun tidak dibiarkan Davino menyentuh tubuh Emely. Setiap pagi mulai menjelang, laki - laki tampan itu memilih pergi. Syukur tidak ada warga yang melihat aksinya, bisa - bisa dia diarak keliling komplek.
__ADS_1
Emely baru saja bangun dari tidurnya, merasa bahwa ayahnya semalam datang begitu nyata. Emely mengendus tangannya, bau parfum maskulin yang tertinggal ditelapak tangannya. Emely bukan hanya sekali ini pernah mencium aroma parfum ini, sudah beberapa kali. Namun sepertinya Emely lupa siapa pemilik bau itu.
***
Eduar hari ini sudah kembali ke kampus. Sepulang kampus dia akan menemui pemilik kampus yang sudah memberikannya kesempatan untuk bisa kuliah dan sekaligus bisa menerima uang tambahan dari beasiswa kurang mampu yang diberikan tiap semenster itu. Kata petinggi kampus yang tak lain adalah pak Jimmy, orang yang seharusnya mendapat ucapan terima kasih adalah kakak ipar. Eduar bahkan tidak mengerti siapa kakak ipar yang dimaksud dan kenapa pak Jimmy menyebutnya kakak ipar.
Ingin bertemu orang baik yang sudah menolong hidupnya, Eduar sampai meminta pak Jimmy membuat janji temu dengan sang pemilik kampus yang Eduar tahu bernama Davino Swam. Walaupun sebelumnya mereka sempat berkenalan di rumah sakit, tapi waktu itu Davino hanya menyebutkan nama saja, tidak menyebutkan nama keluarganya. Jadi Eduar tidak tahu, kalau pria yang nantinya akan ditemui adalah pria yang sama.
Setelah melangsungkan percakapan lewat via telpon, akhirnya Davino menyetujui permintaan Eduar lewat pak Jimmy. Pak Jimmy bahkan mau saja dimintai tolong Eduar membuat janji, padahal Eduar hanya mahasiswa beasiswa. Ingat pak Jimmy menuruti kemauan Eduar karena ia selalu ingat ucapan Davino. "Dia calon adik ipar saya. Jangan menyusahkannya, saya bisa marah lho. " Itulah mengapa pak Jimmy dengan senang hati, membantu Eduar .
Eduar menuju kafe, dimana pemilik kampus meminta bertemu disana. Eduar yang datang duluan, diantar pelayan kafe ke meja yang sudah direservasi duluan oleh seseorang yang ditunggunya.
"Eh Davino kan? " Eduar melihat seorang pria yang berjalan kearahnya. Dia masih belum sadar bahwa pria yang memakai setelan jas itu adalah pemilik kampus yang akan dia temui. Eduar pikir mereka hanya kebetulan bertemu sampai akhirnya dia sadar.
"Tunggu dulu apakah kau Davino Swam? " Tanyanya ragu - ragu.
"Sepertinya dugaanmu benar. " Ya Tuhan Eduar bahkan sangat malu. Apakah tadi dia bersikap tidak sopan? Eduar benar - benar tidak menyangkah seorang pemilik kampus ternama masih sangat muda, jauh dari bayangannya. Eduar pikir pemilik kampus yang terkenal bernama Davino Swam itu, pria paruh baya dengan tubuh tambun dan memakai kaca mata seperti pak Jimmy.
" Santai saja. Panggil aku sesukamu, tapi jangan pak, bapak atau ayah. " Dia bahkan ingat semalam kakak dari pria yang ada didepannya ini menganggap dia adalah ayah.
"Call your name directly? I don't think it's polite. " Merasa tidak enak kalau memanggil nama saja.
"Relax, oke. " Baiklah kali ini Eduar tidak akan membantah. Namun dia masih enggan memanggil pria itu dengan sebutan namanya saja.
" Baiklah kalau kau masih bingung memanggil aku dengan sebutan apa, mulai sekarang kau bisa memanggil aku dengan kak Davi. Karena usia kamu dibawah aku. " Ucap Davino tersenyum dan usulannya diangguki Eduar.
"Oh yah kak Davi aku kesini mau ngucapin..." Belum selesai dengan ucapannya, Davino sudah memotongnya. Karena dia tahu Eduar akan berterima kasih padanya soal beasiswa itu.
" Gimana kalau kau mengundang kak Davi makan malam dirumahmu, yah hitung - hitung sebagai ucapan terima kasih. Kamu mau kan mengundang kak Davi? " Seperti memaksa sih kedengarannya. Eduar menolak tidak enak hati, mengundang juga tidak enak hati, mengingat keluarganya tidak bisa menyediakan makanan layak dikomsumsi oleh Davino yang latar belakang sosialnya jauh diatas Eduar dan keluarganya.
"Aku bisa makan apa saja. Asal itu makan malam dirumahmu. " Tambah Davino, seperti bisa membaca isi pikiran Eduar.
__ADS_1
***
Malampun tiba, Eduar yang pulang kampus sedari tadi menceritakan tentang pemilik kampus yang diundangnya makan malam sebagai ucapan terima kasih. Emely yang juga ingin berterima kasih secara langsung kepada orang yang dulunya juga sempat memberikan beasiswa padanya, langsung bersemangat menyiapkan masakan terbaiknya untuk sang pemilik kampus. Andai Emely tahu bahwa Davinolah orangnya, mungkin Emely akan memilih mengunci diri didalam kamar.
Sebagian masakan sudah terhidang diatas meja, ibunya turut membantu walau hanya menyiapkan bumbu untuk masakan anaknya.
Satu baskom besar sup, Emely taruh diatas meja. Lengkap sudah masakannya.
"Kak Emely mandi saja, biar Eduar yang mengurus sisanya. Nggak enak kan, kalau kakak bau dan tamu yang Eduar undang nggak jadi makan. " Ucap Eduar menggoda kakak perempuannya. Emely pun menuruti ucapan adiknya itu. Ia berlalu meninggalkan dapur, menuju kamar mandi disamping kamarnya.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk membersihkan tubuhnya. Disaat Emely sedang berganti baju, tamu adiknya sepertinya sudah datang. Terdengar dari suara mesin mobilnya yang baru memasuki halaman rumah milik Emely.
"Kak Davi ayo masuk kak. " Ajak Eduar langsung ke meja makan sederhana milik keluarganya.
"Maaf yah kak Davi, rumah aku kayak gini. " Ucap Eduar tidak enak.
" Siapa wanita itu? " Melihat kearah ibu Elisa yang juga sudah duduk dimeja makan.
"Ibu, ini kak Davi. Yang Eduar ceritain. " Sepertinya Davino sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi. Sekarang Davino yakin, bukan wanita ini yang ada di foto yang didapatnya dari pemilik pelelangan wanita. Satu yang bisa Davino simpulkan, Wanita yang menjual Emely bukanlah ibunya.
"Selamat malam tante, nama saya Davino. " Mendekati ibunya Emely, menyodorkan tangannya dan uluran tangannya dibalas ibu Emely dengan tersenyum.
Mata Davino melirik kesana kemari, seperti mencari seseorang. Sampai seseorang yang dicarinya muncul dengan rambut yang sedikit basah.
"Eduar apakah tamunya udah datang dek? " Emely yang tidak memperhatikan meja makan, karena sibuk merapikan rambutnya begitu terkejut ketika pandangannya bertemu dengan pria yang tersenyum tanpa dosa kearahnya.
"Kenapa laki - laki brengsek itu ada dirumah ini? Jangan bilang dia... " Bergumam dalam hati. Emely bahkan masih mematung ditempatnya.
"Kak tamunya udah disini, masa kakak nggak liat. " Ucap Eduar.
"Ayo nak kesini. Kita mulai makan malamnya. " Kali ini suara ibunya memanggilnya. mau tidak mau, Emely melangkah ke meja makan. Tempat duduk mereka bahkan berhadapan. Emely disamping ibunya sedangkan disisi meja lainnya Eduar dan Davino.
__ADS_1