Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 31


__ADS_3

" Oh yah kak, bukannya kakak juga mau berterima kasih sama kak Davi? " Hah, Eduar bahkan memanggilnya dengan sebutan itu. Emely berharap ini bukan siasat licik dari pria itu. Tapi apakah harus ia berterima kasih, kepada pria yang menodainya itu.


"Kak. " Eduar kenapa begitu cerewet sih.


"Terima kasih. " Buru - buru Emely mengatakan itu. Bahkan ucapannya terdengar tidak iklas sama sekali.


"Yang iklas nak. " Kali ini ibunya yang menyadari, bahwa anaknya tidak iklas mengucapkannya. Andai ibu dan adiknya tahu, apa yang telah laki - laki itu lakukan padanya, mungkin laki - laki itu tidak akan tersenyum penuh kemenangan seperti saat ini.


"Tidak perlu berterima kasih. Lagian siapa namanya...? " Rasanya Emely ingin menyiramnya dengan sup buatannya. Tapi apa dia memiliki keberanian, tentu saja tidak.


"Emely kak Davi, nama kakak saya Emely. " Kali ini Eduar yang menjawab.


"Tidak perlu berterima kasih nona Emely. Saya tidak merasa nona harus berterima kasih kepada saya. " Ucap Davino dengan tersenyum. Mungkin dia akan menjadi drama king yang luar biasa.


" Kak Emely juga pernah kuliah di kampus milik kak Davi. Jadi kak Emely mau ngucapin terima kasih karena dulu kak Emely pernah menerima beasiswa juga. " Rasanya Emely ingin menyumpal mulut adiknya. kok tumben - tumbennya Eduar itu cerewet seperti sekarang.


Davino yang mendengar penjelasan Eduar, sedikit kaget. Dia bahkan tidak tahu kalau Emely pernah kuliah, dikampus miliknya.


"Lalu kenapa kamu berhenti? " Tanya Davino, menatap Emely yang tidak ingin menatapnya itu.


" Mel, ditanya nak. " Ini juga kenapa ibunya sama seperti Eduar sih.


" Suka aja berhenti. Kuliah melelahkan. " Jawabnya ngarang.


"Lalu kerja tidak melelahkan? " Tanyanya dengan nada tegas. Davino seperti tidak suka dengan jawaban Emely barusan. Eduar dan ibunya bahkan merasa jika Davino marah dengan jawaban Emely.


" Sepertinya pak Davino terlalu terbuai dengan suasana dan terlalu ikut campur dengan urusan pribadi orang " Emely bahkan lupa, seharusnya dia tidak menyingung pria itu.

__ADS_1


"Maaf. " Ucap Davino. Bahkan baru kali ini Davino mengucapkan kata pantangan itu didepan keluarga Emely.


"Kak Emely kenapa sih? Kakak itu seharusnya tidak bersikap seperti itu. Kakak seharusnya berterima kasih, kak Davi yang nolongin kakak waktu kakak dijahati preman. Kak Davi juga yang bawa kakak kerumah sakit. " Emely terkejut mendengar ucapan Eduar barusan. Bukan karena Eduar melawannya dan lebih memilih membela laki - laki itu. Tapi apa benar pria ini yang menolongnya waktu itu? dan apa benar dia yang membawanya kerumah sakit? Berarti waktu itu sebelum kehilangan kesadarannya, pria yang dilihat Emely adalah Davino.


Eduar yang menyadari ucapannya tadi, langsung menutup mulutnya. Namun terlambat, ibunya sudah mendengar apa yang diucapkannya.


"Jadi waktu itu kau bohongin ibu Eduar? Kau bilang kak Emely kerja tapi ternyata kakak kamu masuk rumah sakit dan ibu tidak tahu? " Eduar hanya mengangguk merasa bersalah.


"Ini salah Emely bu, Emely yang menyuruh Eduar untuk tidak memberitahu ibu. Emely hanya takut ibu kenapa - napa. Maafin Emely bu. " Menggenggam tangan ibunya.


"Yah udah ibu maafin, tapi janji apapun yang terjadi pada kalian kasih tahu ibu. Setidaknya ibu tidak ingin jadi orangtua yang gagal melindungi kalian. " Ucapan ibunya membuat Emely menatap Davino, bahkan airmatanya jatuh dengan sendirinya. Ibunya akan sangat terluka jika ibunya tahu, kalau ibunya memang sudah gagal melindunginya dari pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Nak Davi, maaf makan malamnya jadi kayak gini suasananya. " Kali ini Ibu Emely merasa bersalah kepada tamu yang diundang putranya itu.


"Tidak apa - apa tante. "


"Oh yah kak, kakak sudah dapat pekerjaan? " Jangan sekarang Eduar, Emely tidak ingin membahas masalah keluarganya didepan pria itu.


"Itu... belum. " Jawab Emely ragu - ragu.


"Kamu sedang mencari pekerjaan? " Kali ini Davino yang bertanya. Lagian Eduar kenapa sih, harus bahas hal ini didepan pria itu. Emely diam tidak perduli dengan pertanyaan Davino padanya. Sampai - sampai harus Eduar yang menjawabnya.


"Iya kak Davi. Udah dua hari ini kak Emely lagi cari kerja. Tapi kayaknya belum dapat juga. " Eduar itu kenapa sih jadi menyebalkan seperti itu dan kenapa juga dia harus menjawab semua pertanyaan laki - laki itu.


"Kebetulan, aku butuh seorang asisten rumah tangga. Buat bantu - bantu di apartemen aku. Karena aku sibuk dari pagi sampai jam 7 malam diperusahaan jadi kamu bisa kerja disaat aku nggak ada dan bisa pulang jika kerjaan kamu sudah selesai. " Tawar Davino, membulatkan mata Emely. Sedangkan kamar Emely dia bisa menerobos masuk, entah dari mana, apalagi ini apartemen miliknya. Tempat dimana Emely... Membayangkannya saja Emely tidak mau.


"Aku tidak tertarik. " Sela Emely.

__ADS_1


"Tapi kak, dicoba aja dulu selagi kakak mencari pekerjaan baru. " Eduar ini adiknya apa bukan sih. Eduar sikap kamu kayak gini, sama aja menjerumuskan kakak perempuanmu.


"Iya nak, coba saja. Kalau nggak beta kamu bisa berhenti. " Ya Tuhan Emely merasa ibu dan adiknya selalu berpihak pada pria itu. Andai dia menolak, alasan apa yang harus Emely katakan kepada ibunya dan Eduar. Secara dua hari ini juga Emely belum mendapatkan pekerjaan.


"Baik bu." Jawaban Emely melebarkan senyum seseorang.


"Oke kau bisa datang besok jam 7 pagi. Sebelum aku ke kantor, aku ingin membicarakan gaji untukmu. " Emely hanya diam saja.


"Bisa minta nomor telpon kamu, biar bisa memudahkan komunikasi. "


"0822456xxxx" Yang jelas ini bukan Emely, tapi Eduar adiknya yang memberikan nomor kakak perempuannya. Sepertinya peri keberuntungan berpihak pada laki - laki berwajah malaikat itu.


"Oke." Ada senyum kemenangan diwajah pria tampan itu.


Setelah makan malam, Davino langsung pamit kepada Eduar, ibu dan terakhir menyodorkan tangannya kepada Emely.


"Sampai bertemu lagi nona. " Ucapnya dengan senyum menyerigai.


Setelah itu dia benar - benar berlalu pergi, meninggalkan kediamanan keluarga Emely. Senyumnya bahkan selalu menghiasi wajahnya. Entah dia bahagia karena apa.


Emely kembali mengendus tangannya. "Wangi ini. " Emely membulatkan matanya, dia sekarang tahu wangi milik siapa itu.


"Jadi semalam dia... "


BERSAMBUNG


________________________

__ADS_1


Dukung terus yah " Perjuangan Emely. "


__ADS_2