
Setelah kepergian Davino, Emely sejenak duduk di sofa. mencoba menguasai tubuhnya yang masih gemetar. Sesekali ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Setelah beberapa saat Emely pun mulai mengerjakan pekerjaannya. Pekerjaan seperti yang dia lakukan di rumah.
Emely duduk sebentar, sambil menyadarkan punggungnya di sandaran sofa. Pekerjaan di apartemen Davino juga tidak cukup banyak. Karena Bi Ani mungkin datang sesekali, membuat apartemen pria itu masih terlihat bersih dan rapi.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, Emely yang hendak bersiap - siap meninggalkan apartemen, begitu terkejut ketika pintu apartemen terbuka. Lebih terkejut lagi melihat siapa yang datang ke apartemen itu. Sama halnya dengan orang yang baru datang itu, dia tak kalah terkejut dari Emely.
"Mel. "
"Dokter Alex? " Ya, yang datang adalah Alex. Ingat Alex bisa datang kapan saja ke apartemen Davino, karena dia tahu pass key apartemen milik sahabatnya itu.
"Kamu kok bisa ada di apartemen Davino? " Tanya Alex yang sudah melangkah masuk, mendekati Emely.
"Aku... aku kerja disini. " Jawaban Emely membulatkan mata Alex. Dia bahkan sebulan ini tidak menemukan Emely tapi sahabatnya itu tidak pernah memberitahu kalau Emely bekerja padanya. Bisa jadi waktu itu Davino tahu nama Emely karena memang Emely sudah bekerja padanya, jauh sebelum Alex mengenal Emely. Mungkin itu yang bisa disimpulkan Alex saat ini.
"Pekerjaanku sudah selesai. Aku permisi dulu. " Pamit Emely. Toh Emely tahu Alex memang sahabat Davino, karena waktu itu tante Alea pernah mengundang Davino makan malam bersama di rumah Alex. Jadi tidak apa - apa jika Emely meninggalkan Alex di apartemen Davino.
"Mel, tunggu. " Ucapan Alex menghentikan langkah Emely.
"Biar aku antar. " Ucap Alex kemudian.
"Tidak apa - apa, aku bisa naik angkot. " Tolak Emely. Karena dia ingat Davino pernah menghukumnya karena Emely dekat dengan Alex. Walaupun pada dasarnya Alex lah yang mendekati Emely.
"Jangan mendekati sahabatku. Jadi jauhi sahabatku sebelum aku bertindak lebih kejam padamu. Alex terlalu sempurna untukmu. "
Emely tidak ingin Davino melakukan hal yang lebih kejam lagi, jika Davino tahu Emely masih dekat dengan Alex.
Alex tidak bisa berbuat apa - apa karena Emely memang terlihat sangat menolak untuk diantar pulang. Jadi terpaksa Alex membiarkan Emely pulang sendiri.
***
__ADS_1
"Aku di apartemen. Kau hutang penjelasan padaku. " Satu pesan dari Alex membuat Davino harus meninggalkan pekerjaannya. Dengan kecepatan tinggi dia mengendarai mobilnya, menuju apartemen miliknya. Entah apa yang dia takutkan. Padahal biasanya Alex juga selalu datang ke apartemennya. Namun ini berbeda, ada Emely di apartemennya. Apalagi Davino ingat, Alex pernah mengatakan dia menyukai Emely dan jatuh cinta padanya. Lalu apa masalahnya jika Alex suka dan jatuh cinta pada Emely, bukankah Emely belum terikat dalam sebuah hubungan? Davino tidak perduli dengan sesuatu yang mengusik pikirannya. Yang utama adalah secepatnya sampai ke apartemen.
" Kau cari siapa? " Alex melihat Davino yang baru saja datang, seperti mencari seseorang di apartemen itu. Bahkan Davino tergesa - gesa masuk kedalam apartemennya.
"Jika kau mencari Emely, dia sudah pergi beberapa menit yang lalu. " Jadi Alex sempat bertemu Emely? Lalu apa yang mereka lakukan di apartemennya.
"Davi, kamu tahukan aku mencari Emely selama ini? Kenapa kau tidak pernah bilang kalau Emely kerja padamu? " Alex bahkan sedikit kesal mengatakannya.
"Lagian kenapa kau bisa sebodoh itu, bukankah ibu Emely pernah dirawat di rumah sakit milik keluargamu? Kenapa kamu tidak mencari alamat rumahnya didata pasien yang ada di rumah sakit." Apa yang dikatakan Davino benar, kenapa Alex tidak berpikir sampai disitu.
"Lex, ada yang ingin aku katakan padamu." Davino terlihat serius, sedangkan Alex menunggu apa yang akan dikatakan Davino padanya.
" Setelah aku mengatakan hal ini, kuharap kau dapat berfikir dua kali untuk menyukai Emely. " Jadi yang akan dibicarakan Davino tentang Emely? Sepertinya memang ada sesuatu antara Davino dan gadis itu.
"Kau ingat gadis yang pernah aku tiduri secara paksa? " Alex mengangguk. Dia masih ingat gadis yang membuat Davino kesal seharian, sampai - sampai Davino datang ke rumah sakit menemuinya waktu itu.
"Dia Emely Lex. " Alex bahkan menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Kau bohong kan, Davi? " Davino menggeleng.
" Gadis itu memang Emely Lex. Bukan hanya sekali aku melakukannya Lex tapi lebih. " Davino berujar lirih.
"Kau brengsek Davi. " Seketika Alex mendekati Davino dan melayangkan satu pukulan di wajah Davino.
"Kau bisa pukul aku sepuasnya. Aku memang brengsek. " Alex kembali memukul sahabatnya itu. Darah segar bahkan terlihat keluar dari ujung bibir Davino.
" Kau bisa mempermainkan gadis lain. Jangan Emely. " Kembali Alex memukul Davino. Namun ini bukan karakter Davino, Davino adalah seseorang yang akan memukul habis lawannya, tapi saat ini Davino bahkan tidak melawan dan tidak memukul balik. Mungkin karena yang memukulnya adalah Alex sahabatnya atau karena dia merasa pukulan itu wajar dia terima, karena perlakuannya terhadap Emely.
"Aku tidak akan mempermainkannya Alex. I love her Alex. I love her. " Alex seketika menghentikan pukulannya.
__ADS_1
" Do you love her? " Tanya Alex menatap mata Davino.
"Yes, I do love her. " Ucap Davino penuh keyakinan. Davino sangat yakin bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis itu. Walau selama ini, dia mencoba mengingkarinya.
"If you love her, don't ever let her go. " Ucap Alex mulai duduk di sofa.
" Aku tidak akan membiarkannya pergi Lex. Will never, I promise. " Ucap Davino penuh keyakinan.
"How about you? " bukankah kau juga mencintainya? " Tanya Davino sambil memegang ujung bibirnya yang berdarah.
" Aku akan mengalah kali ini. Karena sepertinya, sahabatku ini benar - benar mencintai gadis itu. Lagi pula masih banyak gadis di luar sana yang masih mengantri untuk jadi pasanganku. Tapi kamu, jarang - jarang bahkan tidak pernah jatuh cinta sebesar ini pada seorang wanita. Aku ikhlas Davi. Jika kau menyakiti Emely, maka aku akan sangat gencar merebutnya darimu. " Ucap Alex sambil memberi tisu untuk sahabatnya itu. Davino pun mengambilnya, menghapus darah yang masih sesekali keluar dari bibirnya.
" Tapi aku takut Alex. Kelihatannya dia sangat membenci aku. Bukan kelihatan tapi dia memang membenciku. " Alex tergelak, baru kali ini seorang Davino merasa takut. Bukan takut pada musuh - musuhnya, atau saingan bisnisnya tapi takut karena dibenci seorang gadis.
"Kenapa kamu malah tertawa." Gerutu Davino melempar bantalan sofa kearah sahabatnya.
"Sorry. Kalau begitu buat she loves you don't hate you. Masa seorang Casanova sepertimu tidak bisa menaklukan gadis itu? " Lagi - lagi Alex tertawa melihat ketidakberdayaan seorang Davino.
Davino Swam
Aku sendiri yang menulis air mata dimatanya, aku sendiri juga yang harus menghapus air matanya.
B E R S A M B U N G
___________________
Hai buat yang bilang up kilat, maaf banget nggak bisa kayaknya. Buat nulis sama baca itu beda sayang - sayang. Bedanya dimana? Kalau kalian baca hanya butuh waktu 1 sampai beberapa menit, buat nulis dan ngarang butuh waktu berjam - jam. Jadi sabar saja yah. Lagi pula kan tiap hari juga update untuk Novel ini, terlambatnya paling dua hari. Untuk Novel yang satunya "ATSM" agak telat updatenya. Karena tinggal beberapa bab lagi.
Buat yang selalu vote diposisi pertama sampai seterusnya terima kasih banyak.
__ADS_1
Eny, Kim Hyun, Viona dan lainnya makasih buaannnyakk.
Jangan lupa tinggalkan jejak