
Sehari tidak bertemu Emely membuat Davino benar - benar merindukan gadis itu. Dia memutuskan menemui Emely dirumahnya. Dia akan menggunakan berbagai alasan untuk bisa bertemu Emely.
"Hallo mom..." Disaat tengah bersiap - siap kerumah Emely, ponselnya berdering. Tertera nama mommy dilayar ponselnya.
"Mommy di depan pintu. " Ucap suara lembut diujung telpon.
"Pintu siapa mom? " Tanya Davino yang sudah selesai memasukan kancing terakhir kemeja yang dia pakai.
"Yah ampun nak, pintu siapa lagi kalau bukan pintu apartemen kamu. " Ini kali pertama ibunya datang mengunjungi Davino di apartemennya. Bukan karena ibunya tidak punya waktu atau tidak suka datang ke apartemen anaknya, tapi setiap kali ibunya memberi kabar untuk berkunjung, Davino selalu melarangnya dan dia sendiri yang akan datang mengunjungi sang ibu. Itulah sebabnya Magdalena yang tak lain adalah ibunya memilih tidak menghubunginya terlebih dulu. Kalau ibunya sudah didepan pintu apartemennya, tidak mungkinkan, Davino mengusir sang ibu yang sudah berkunjung ke apartemennya.
Davino langsung keluar dari kamarnya, menghampiri pintu apartemen dan membukanya.
"Mom, kenapa tidak menghubungi Davino dulu... " Ucapannya terhenti ketika melihat seorang gadis dibelakang ibunya. Ingat, Davino tidak suka ada seorang wanita yang masuk kedalam apartemennya. Kecuali Emely.
"Masa mommy dibiarin diluar aja. " Ibunya memasang wajah memelas. Davino terpaksa mengajak sang ibu kedalam apartemen miliknya.
"Ayo Ros, masuk. " Yang datang bersama ibunya adalah Rossa. Gadis yang Davino tahu akan dijodohkan dengannya. Rossa hanya tersenyum mengiyakan ajakan Magdalena. Walaupun Rossa tahu, Davino tidak suka dengan kehadirannya.
"Mom, Davi mau pergi. " Ucap Davino sambil mengikuti ibunya yang tengah melihat setiap sudut apartemen anaknya itu.
"Apartemen kamu rapi dan bersih. " Tidak mengubris apa yang dikatakan Davino. Magdalena masih berkeliling apartemen anaknya itu. Rossa juga ikut menilai apartemen pria yang disukainya itu. Selain tampan, Davino juga suka dengan kebersihan. Itu yang bisa disimpulkan Rossa tentang pria yang masih bersikap dingin padanya itu.
Setelah beberapa saat melihat - lihat, Magdalela memilih duduk di sofa dan tak lupa mengajak Rossa.
"Davi, kamar kamu yang itu kan? Mommy mau lihat. " Menunjuk kearah kamar yang tidak jauh dari ruangan tamu. Kali ini Davino tidak akan membiarkan ibunya mengajak Rossa ke kamarnya. Tempat privasi yang hanya dia saja yang boleh masuk kedalamnya. Kalaupun hanya sang ibu, Davino mungkin akan berpikir mengijinkan. Tapi Rossa? Tidak akan dibiarkannya menginjakan kakinya diruang privasi miliknya. Cukup dia sudah masuk kedalam apartemennya.
" Aku tidak mengijinkannya mom. Ada wanita yang sedang tertidur disana. " Magdalena menatap tidak percaya ucapan anaknya. Magdalena memang pernah mendengar kalau Davino memang suka tidur dengan beberapa wanita. Namun dia tidak menyangka kalau Davino mengatakan hal itu didepan Rossa, yang jelas - jelas akan dijodohkan dengannya.
" Davi, mulailah bersikap dewasa. Kamu tahu kan, kalau kamu dan Rossa telah dijodohkan." Kali ini Magdalena harus menasehati putranya itu. Memberitahu bahwa gadis yang tengah duduk sambil tersenyum malu itu adalah gadis yang akan dijodohkan dengannya. Magdalena berharap, mulai sekarang Davino bisa menjaga ucapannya didepan Rossa.
"Mom, Davi... "
"Oh yah, Ros bukannya kamu akan mengambil pakaian di butik langganan kamu? Sekalian biar diantar sama Davi. " Ibunya cepat - cepat memotong ucapan Davino. Ibunya tahu Davino akan menolak perjodohan itu didepan Rossa.
__ADS_1
"Davi nggak bisa mom. Davi ada janji sama Alex. " Berusaha menolak.
"Kan bisa antar Rossa dulu nak, please demi mommy. " Memijat dahinya, Davino tidak bisa menolak jika ibunya sudah memohon seperti itu.
"Baiklah, terserah mommy saja. " Magdalena tersenyum.
"Mommy ikut kan? " Davino tidak ingin berdua saja dengan Rossa.
"Mommy nebeng sampai depan aja. Mommy sudah minta daddy buat jemput. " Ibunya benar - benar niat sekali buat dekatin Davino sama Rossa. Magdalena berharap dengan menghabiskan waktu bersama Davino lama - lama bisa jatuh hati sama Rossa. Lagi pula pria mana yang bisa menolak pesona model cantik itu.
***
Disaat Sisil pulang dari rumahnya, Emely merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu. Apalagi Sisil pulang dengan wajah sedih. Ah, Emely harus bertemu Sisil, setidaknya ia harus menjelaskan bahwa Eduar tidak pergi berkencan. Biarlah dia akan membuat Sisil berharap lagi, dari pada dia harus melihat sahabatnya itu sedih.
Menghubungi Sisil terlebih dulu sebelum dia bersiap menemui sahabatnya itu.
"Hallo Sil, aku kerumah kamu yah. " Ucap Emely ketika panggilan telponnya diangkat sang sahabat.
" Aku masih diluar Mel. " Berarti Sisil setelah pulang dari rumahnya tidak langsung pulang. Begitu Emely menyimpulkan.
***
Butik Queen adalah butik langganan model cantik yang saat ini baru saja turun dari dalam mobil Davino. Ingin sekali Davino meninggalkan perempuan itu. Tapi sebelum ibunya pergi tadi, beliau berpesan untuk menunggu dan mengantar Rossa pulang kerumahnya.
"Aku tunggu dimobil. " Rossa hanya mengiyakan. Davino mengantar dan mau menunggunya saja, dia sudah sangat senang.
Davino menyadarkan punggunya dijok mobilnya. Ingin secepatnya mengantar Rossa pulang dan menemui Emely itu yang terlintas di pikirannya. Andai saja dia tidak menyetujui syarat Emely untuk tidak bekerja pada hari minggu. Begini Davino tidak harus sefrustasi ini. Apa dia harus mengubah persyaratan di kontrak kerja Emely? Tidak, Emely pasti tidak akan suka. Lagi pula Emely juga butuh istirahat.
***
"Aku sudah didepan butik Sil, kamu dimana? " Tanya Emely, ketika dia kembali menghubungi sahabatnya itu.
"Aku didalam Mel, masuklah. " Emely pun masuk kedalam butik itu. Dia mencari sosok sahabatnya dan bukan hanya satu sahabatnya yang ia lihat, tapi kedua sahabatnya. Karena liburan semester, Ana memutuskan untuk menghabiskan waktunya dinegeri sendiri.
__ADS_1
"Ana? " Emely rindu sahabatnya itu. Dia langsung memeluk Ana yang terkejut melihatnya. Sisil ingin memberi kejutan kepada Ana dan juga Emely. Makanya Sisil tidak memberitahu Ana maupun Emely. Disaat Emely tadi menghubunginya.
"Aku rindu. Kenapa kamu tidak memberitahu aku disaat pindah kampus ke London? Kenapa juga kamu tidak mengabariku selama disana. Pulang juga tidak kasih tahu aku. " Emely langsung menunjukkan wajah kesalnya pada Ana.
"Maaf Mel. " Hanya itu yang keluar dari bibir sahabat baiknya itu.
"Oh yah Mel, Ana akan tunangan besok. Makanya kita kesini buat ambil baju yang akan dipakainya besok. " Emely terkejut mendengarnya. Sisil juga saat diminta Ana untuk menemaninya tadi ke butik, merasa terkejut ketika Ana memberitahu dirinya akan bertunangan.
"Kamu mau tunangan sama siapa An? " Tanya Emely yang penasaran.
"Ummm..." Ana seperti tidak bisa menjawab pertanyaan Emely barusan.
"Kamu pasti akan tahu Mel, kata Ana sebentar lagi calon tunangannya akan datang jemput dia. " Sisilia cepat memotong. Dia juga penasaran dengan tunangan sahabatnya itu.
" An..." Suara seorang pria dibelakang Emely yang memanggil sahabatnya itu. Emely bahkan masih hafal suara pria itu. Emely membalikkan tubuhnya, pria yang sudah lama dirindukannya. Emely terkejut, sama halnya dengan Sisilia dan juga pria yang baru masuk itu.
" Ray... " Ucap Emely sambil mendekati Rayhan. Pria yang sudah meninggalkannya. Ana langsung mendekati Rayhan dan melingkarkan tangannya dilengan pria yang masih terkejut itu.
"Oh yah Mel, kau penasarankan dengan calon tunangan aku. Kenalin Mel, ini Rayhan calon tunangan aku. " Bukan hanya Emely yang terkejut tapi Sisilia juga. Ana tahu sendiri kalau Rayhan mantan pacar Emely sahabatnya. Bisa - bisanya Ana berhubungan sama mantan pacar sahabatnya dan mereka juga akan tunangan.
"An, kamu tahu sendirikan kalau kak Ray... " Sisil berucap marah, namun Emely menahannya.
" Sil, mereka sudah putuskan. Jadi Rayhan berhak dong dapat wanita yang lebih baik dari mantan pacarnya. " Jadi menurut Ana, dirinya lebih baik dari Emely. Haruskah Ana mengatakan hal itu didepan mantan pacar calon tunangannya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Kamu benar An. Rayhan memang pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. Aku ucapin selamat yah buat kalian. " Dengan tersenyum Emely menyodorkan tangannya didepan Rayhan dan Ana. Emely tersenyum menutupi kehancuran hatinya.
Ana menyalami tangan Emely. Sementara Rayhan, pria itu memang sudah berusaha melupakan Emely selama ini. Tapi ketika bertemu lagi dengan Emely. Entahlah, Rayhan mulai bingung dengan perasaannya.
Melihat Rayhan yang bergeming, Ana berinisiatif mengambil tangan Rayhan dan menyodorkannya ketangan Emely. Sisil yang melihat itu, merasa kalau Ana sudah sangat keterlaluan.
"Sayang... Maaf yah aku datangnya terlambat. " Semuanya beralih menatap kearah suara pria yang langsung datang merangkul Emely.
____________
__ADS_1
Bagaimana aku mau rajin updatenya, jika kalian juga malas untuk mendukung novel ini.