
Sebelum pergi sore nanti, Davino terlebih dulu menghubungi Emely. Mengabarkan bahwa dia ingin bertemu gadis itu.
"Mel bisakah kau datang ke apartemenku sekarang? " Davino menghubungi Emely saat dirinya masih di kantor.
" Emang kamu nggak pergi kerja? " Tanya gadis itu diujung telpon.
"Aku kerja Mel. Ini juga masih dikantor. " Bersiap - siap pulang karena dua jam kedepan dia dan asistennya harus pergi ke bandara.
Menghela nafas pelan Emely lantas bertanya lagi. " Kalau kamu masih dikantor, kenapa nyuruh aku ke apartemen. "
Davino tersenyum, sambil mulai menghidupkan mesin mobilnya. " Cie sampe segitunya pengen berdua denganku di apartemen." Davino menggoda gadis itu.
"Iss nggak yah. " Davino tersenyum puas, membayangkan wajah Emely yang sedang menggerutu kesal, seperti biasa saat dia menggodanya.
" Lalu kenapa ngomong kayak tadi. "
__ADS_1
"Yah kan, kamu nyuruh aku ke apartemen trus kamunya di kantor. Lah, aku mau ngapain disana sendirian. Aku tuh bukan lagi asisten rumah tangga kamu yah. " Emely bahkan bisa mendengar pria itu terkikil geli diujung sana.
" Oh iya, aku kok bisa lupa. Aku pikir masih asisten rumah tangga aku. Makanya aku nyuruh kamu ke apartemen untuk nyiapin barang - barang aku. " Masih berniat menggoda Emely.
"Nyiapin barang kamu? Emang kamu mau kemana? " Belum mendapat jawaban Davino, Emely bertanya lagi. "Kamu mau pindah kerumah orangtua kamu? "
" Iya. Kamu ikut yah. " Davino tahu saat ini Emely sedang mengerutkan dahinya.
" Ngapain aku ikut? "
"Kamu tuh yah, udah punya calon dari orangtua kamu, masih juga pengen bawa perempuan lain buat dikenalin sama orangtua kamu. Kamu ingin aku diusir sebelum menginjakan kaki dirumah kamu? " Davino tercekat seketika. Apa yang dikatakan Emely barusan tidak terpikirkan oleh pria itu. Walaupun dari pembicaraan mereka sedari tadi hanya bercanda, namun ucapan Emely terakhir kali, membuat Davino menerawang kesaat dimana ayahnya menyuruh Davino memutuskan hubungannya dengan Emely.
Bagaimana kalau yang dikatakan Emely tadi semuanya bahkal terjadi? Dia akan diusir sebelum sampai didepan pintu. Mengingat ayahnya sudah memilih Rossa sebagai calon menantu mereka. Lalu bagaimana Emely tahu, jika Davino telah dijodohkan?
"Kok diam. " Davino tidak tahu harus berkata apa. Satu hal yang pasti, sebelum hal itu terjadi Davino akan meyakinkan kedua orangtuanya bahwa Emely adalah gadis yang baik dan hanya Emelylah yang boleh jadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
"Mel, aku tunggu di apartemen yah. Sebentar lagi aku mau nyampe. Bantuin aku beresin barang. Aku mau ke Bali nanti sore." Menutup panggilan telponnya, tanpa menunggu jawaban dari Emely. Sungguh Davino jadi kepikiran perkataan Emely tadi.
***
Emely akhirnya datang ke apartemen pria itu. Membantu menyiapkan barang - barang yang dibutuhkan Davino selama disana. Padahal biasanya dia juga bisa melakukannya sendiri. Tho yang dia bahwa hanya empat lembar baju kerja dan empat pasang baju santai.
"Davi, peralatan mandi kamu, aku taruh di dibagian depan koper yah. " Davino yang kalah itu sedang mandi hanya bisa berteriak mengiyakan.
"Semuanya sudah beres. Aku bisa pulang kan? " Mendengar kata pulang dari wanita itu membuat Davino kalang kabut. Enak aja mau pulang, tanpa mengantarnya dulu ke bandara.
Membuka pintu kamar mandi, mengeluarkan sebagian tubuhnya yang bahkan kepalanya masih dipenuhi busa shampo. Emely terkikil melihat Davino yang menutup sebelah matanya karena perih. Ditambah penampilan laki - laki itu.
" Mel, kamu itu nggak punya perasaan banget yah. Pacar mau pergi kamu malah nggak ngantarin ke Bandara. " Emang mereka sudah resmi pacaran apa? Bodoh amat bagi seorang Davino. Selama Emely sudah menerima cintanya, itu artinya Emely sudah menerima dirinya sebagai seorang kekasih.
Memutar bola matanya malas, Davino mulai kambuh lagi. Masih ingin bicara, namun Davino sudah tidak bisa menahannya. Matanya butuh air bersih sekarang. Rembesan shampo yang mengenai matanya sungguh membuat matanya perih. Memilih mengunci pintu kamar mandi lagi, Davino harus segera menyelesaikan ritual mandinya. Sebelum Emely benar - benar pulang tanpa menunggunya.
__ADS_1
Keluar dengan melingkarkan handuk dipinggangnya, Davino hanya mendapati koper yang sudah lengkap dengan keperluannya, ada disamping ranjangnya. Gadis itu, apa dia benar - benar sudah pergi? Memilih memakai pakaiannya dengan cepat, Davino bisa mampir sebentar dirumah Emely sebelum pergi ke bandara.