
Restoran berkelas bintang 5 dengan interior restoran yang super mewah, elegen dan kental dengan suasana eropanya. Lampu gantung chandillier yang bergantung disetiap meja membuat suasana restoran itu sedikit tamaran. Bahkan makanan yang disajikan pelayan saat ini terlihat lezat dan berkualitas tinggi. Emely yakin orang yang datang ke restoran ini akan mengeluarkan budget yang cukup tinggi untuk hanya sekali makan saja.
Tapi tunggu, kenapa restoran ini hanya ada mereka berdua? Emely masih melihat sekeliling restoran, tidak ada satupun tamu restoran yang makan ditempat itu. Emely tidak tahu saja kalau restoran itu, sebelumnya sudah dibooking pria yang sementara menerima telpon diluar lobby restoran tersebut.
"Davi, kenapa kamu tinggalin Rossa sendiri dibutik. " Yang menghubungi Davino ialah ibunya. Rossa ternyata sudah melaporkan perihal Davino yang meninggalkannya.
"Mom, nanti Davi jelaskan. Davi sedang makan malam sekarang. " Andai saja yang menghubunginya bukan ibunya, mungkin Davino akan mengabaikan panggilan telpon itu. Davino bisa saja mengabaikan telpon dari ibunya, tapi Davino yakin ibunya akan terus menghubunginya sampai Davino tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat panggilan telpon ibunya tersebut. Ternyata kebiasaan Davino menurun dari sang ibu. Davino juga kan seperti Magdalena, kalau diabaikan telponnya, dia tidak akan berhenti menelpon hingga yang ditelpon tidak punya pilihan lain selain mengangkat panggilan telpon darinya.
"Kau makan dengan perempuan itu kan? " Rossa ternyata pelapor yang pantas diberi dua jempol. Bahkan semua yang dilihat dan didengarnya tadi di butik, dia laporkan kepada Magdalena.
"Mom, Davi tutup. " Tanpa menunggu persetujuan sang ibu, Davino memutuskan sambungan telpon ibunya, Davino lantas mematikan ponselnya karena Davino tahu kebiasaan sang ibu yang akan menghubunginya lagi. Benar dugaan Davino, diujung sana Magdalena masih berusaha menghubungi Davino.
Davino sudah mulai gelisah dengan gadis yang sudah menunggu didalam restoran. Sudah susah payah dia mengajak Emely makan malam, tidak akan dibiarkannya gadis itu merasa bosan menunggu dan bisa saja pulang meninggalkannya.
Benar saja, disaat Davino kembali kedalam restoran. Emely sudah berdiri dari duduknya. Davino yakin gadis itu berniat pergi dari situ.
"Mau kemana? " Tanya Davino yang mulai duduk dikursi berhadapan dengan Emely.
"Aku pikir kau meninggalkanku disini. Jadi aku juga berniat pergi. " Entah dari mana Emely berfikir Davino akan meninggalkannya. Sedangkan Davino sudah menunggu moment ini. Moment dimana dia bisa makan malam romantis dengan gadis yang dicintainya itu.
"Kalau aku meninggalkanmu, kau tidak akan Bisa pergi dari sini. Karena aku belum membayar makanan ini. " Menggoda Emely yang sudah mulai duduk kembali. Walaupun Emely membawa uang, tapi Emely yakin uangnya tidak akan cukup membayar makanan yang tersaji diatas meja. Jadi dia tidak akan membantah apa yang dikatakan Davino barusan.
" Aku tidak tahu makanan apa yang kamu suka. Makanya aku memesan beberapa menu sebelum kita kesini. " Sepertinya beberapa menu yang tersaji diatas meja, merupakan kolaborasi makanan barat dengan hidangan tradisional. Jika Emely tidak suka makanan barat, Emely pasti suka makanan tradisional. Begitulah kira - kira yang dipikirkan Davino saat dia memilih restoran itu.
Bukannya mereka bisa memesan menu setelah mereka sampai di restoran itu? Mungkin sebagian orang berfikir seperti itu, tapi tidak dengan Davino. Davino tahu untuk setiap pemilihan menu paket set butuh waktu lama untuk menyajikannya. Untuk itulah Davino memesan terlebih dulu, agar ketika dirinya dan Emely sampai, semua menu sudah tersedia seperti saat ini.
" Kalau kamu tidak suka dengan menu yang ada di restoran ini, kita bisa mencari restoran lain. " Segampang itu kah orang kaya menghamburkan uang hanya untuk makanan. Emely bahkan bisa memakan nasi dengan sambal saja.
"Aku suka, ini pasti lezat. " Emely kemudian mengambil spring chiken dan beberapa menu lainnya, menaruh sekalian dalam piringnya,kemudian mulai memakannya. Disaat suasana hatinya sedang buruk, biasanya Emely memang melampiaskannya pada makanan. Sedangkan Davino menatap kagum gadis yang terlihat menikmati makan malamnya dengan lahap. Tidak seperti gadis lain yang menjaga image dengan makan sedikit didepan pasangannya, Emely bahkan menghabiskan makanan yang diambilnya.
Pasangannya? Bolehkah Davino berharap seperti itu?
" Tidak ada ruginya mengajakmu makan malam. " Davino mengatakannya dengan tersenyum.
Terserahlah jika kau menyindirku.
"Kau tidak makan? " Emely menatap kearah Davino yang hanya melihatnya.
" Makan kok. " Davino hanya mengambil black forest.
" ahh. " Davino menyodorkan black forest tadi ke depan mulut Emely.
__ADS_1
Emely bergeming sambil menatapnya.
" Ini enak. Aku tidak menaruh racun didalamnya. " Davino masih berusaha menyuapi gadis itu. Emely kemudian membuka mulutnya, menerima suapan black forest dari tangan pria itu. Davino benar - benar bahagia, bahkan dengan hal kecil barusan.
Setelah beberapa saat Emely mulai merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Sakit perut, terasa mual dan dia bahkan kesulitan bernafas.
Davino bahkan bisa melihat raut wajah Emely yang sedang menahan sakit.
"Davi, aku tidak bisa bernafas. " Ucap Emely, sambil memegang dada dan lehernya.
"Mel, kamu tidak bercanda kan? " Davino terlihat panik dan mulai mendekati Emely.
"Da...vi... " Bahkan jantungnya berpacu dengan cepat. Emely meraih tangan Davino dan merem*snya. Davino yakin Emely tidak sedang bercanda, karena tangan gadis itu sudah sangat dingin.
"Ya Tuhan Mel, apa yang terjadi. " Pelayan restauran ikut panik melihat Emely.
Jika terjadi sesuatu dengan gadis itu, maka restauran mereka mungkin akan dituntut.
Davino membopong tubuh Emely, sedangkan pelayan itu ikut membantuh membukakan pintu mobil Davino.
"Kau yang menyajikan makanan tadi, kau harus ikut. " Pelayan itupun ikut mobil Davino. Walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia berusaha bertanggung jawab.
Davino melajukan mobilnya, membela jalananan yang memang macet disetiap saat. Apalagi mengingat hari ini, hari minggu.
"Mel, kumohon bertahanlah. " Davino sesekali menghapus keringat dingin yang membasahi wajah Emely. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Emely, Davino mungkin bisa membunuh semua pelayan sekaligus chef yang ada di restauran itu.
"Davi, aku..." Suaranya bahkan sudah terdengar serak. Belum menyelesaikan ucapannya, Emely tiba - tiba menutup matanya, dia kehilangan kesadarannya. Dalam hidupnya baru kali ini Davino rasanya sepanik dan setakut ini.
"Ya Tuhan Mel..." Menambah laju mobilnya, Davino ingin secepatnya sampai dirumah sakit.
Mengambil ponselnya dan menyerahkannya pada pelayan yang ada dikursi penumpang belakang.
"Hubungi kontak nama Alex. " Dengan gemetar pelayan pria itu, menghidupkan dan mencari kontak yang bernama Alex. Setelah tersambung pelayan itu meletakkan ponsel itu didekat telinga Davino.
"Hai bro. " Sapaan akrab Alex terdengar diujung telpon. Syukurlah Alex sedang tidak ada pasien saat itu.
"Lex, tolong persiapkan brangkar rumah sakit sekarang. Aku dalam perjalanan membawa Emely kesana. " Ucapnya dengan panik tanpa basa - basi seperti biasanya. Alex yakin sedang terjadi sesuatu yang buruk pada Emely karena dari suaranya Davino terdengar panik.
"Emely kenapa? " Tanya Alex yang juga sudah mulai panik. Ingat Alex juga pernah menaruh hati pada Emely.
"Aku tidak tahu Lex. Nanti aku jelasin kejadiannya dan juga sediakan dokter terbaik untuk menangani Emely. " Setelah mengatakan itu Davino memutuskan sambungan telpon.
__ADS_1
***
Setelah beberapa saat mobil Davino sudah sampai di rumah sakit. Alex dan beberapa perawat dan juga beberapa dokter sudah menunggu kedatangan Davino dan Emely.
Keluar dari dalam mobil, Davino berlari kearah pintu satunya, mengangkat tubuh Emely dan meletakkannya keatas brangkar rumah sakit.
Kecepatan dorongan brangkar rumah sakit, secepat itu jantungnya berpacu. Davino bahkan ingin ikut masuk kedalam ruang UGD dimana Emely dibawa.
Menjambak rambutnya frustasi, Davino ingin memukul seseorang sekarang dan pelayan tadi menjadi sasaran kemarahannya. Satu pukulan dari Davino menjatuhkan pelayan itu. Alex yang baru saja keluar ruangan langsung memisahkan Davino dari pria itu.
"Apa yang kau lakukan? " Alex berusaha menahan tubuh Davino.
"Jika kau seperti ini, maka Emely tidak akan tertolong. " Jika sudah marah seperti ini Alex tahu, Davino tidak bisa dikendalikan. Dengan mengatakan hal itu, Alex yakin bisa membuat sahabatnya itu menahan emosinya.
"Kau pergilah, obati dulu lukamu dan kembalilah. " Seakan Davino tidak rela jika pelayan itu pergi begitu saja dari hadapannya.
"Kenapa kau menyuruhnya pergi Lex. Dia yang menyajikan makan malam untuk aku dan Emely. Bisa jadi dia yang menaruh racun dimakanan itu. " Ternyata mereka sedang makan malam di restauran rupanya. Sejauh ini Alex tahu apa yang menyebabkan Emely seperti itu.
"Dia tidak salah Davi. Emely alergi dengan kacang almond. Itu yang menyebabkan Emely sesak nafas. " Mendengar penjelasan Alex, Davino semakin merasa bersalah. Kacang Almond itu pasti ada didalam black forest yang dia suapi pada Emely.
"Aku yang salah Lex. Aku bahkan tidak tahu hal sepenting itu. " Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini. Davino tidak tahu Emely alergi kacang almond. Sedangkan Emely tidak tahu jika dalam black forest yang dia makan, ada campuran kacang almond didalamnya.
***
" Bagaimana keadaannya? " Davino bertanya kepada dokter yang baru saja keluar dari ruangan dimana Emely dibawa tadi.
" Kami telah memberikan suntikan untuk membantu mengurangi reaksi alergi yang terjadi pada tubuh pasien. Syukurlah pasien segera dibawa kerumah sakit, sehingga pasien tidak mengalami reaksi anafilaksis yang mungkin akan mengancam jiwanya. " Penjelasan dokter itu membuat tubuh Davino melemah. Kalau dia terlambat membawa Emely mungkin Emely tidak akan tertolong? Begitukan arti ucapan dokter itu?
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang? Apa aku bisa menemuinya? " Walaupun dilarang Davino pasti akan tetap masuk memastikan sendiri kondisi Emely.
" Walaupun belum sadar, namun kondisi pasien sudah mulai stabil. Sebentar lagi perawat akan memindahkannya keruang inap. Kau bisa menemuinya disana. " Davino bernafas lega.
Mungkin mulai hari ini, dia akan mencatat semua yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan gadis itu.
B E R S A M B U N G
__________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Tolong beri rate juga.
__ADS_1
Maafin aja yah, jika bagian penjelasan dokternya ada yang salah. hahaha