
Siapa saja yang pernah ada di posisi Emely pasti akan mengalami hal yang sama seperti yang di rasakan Emely saat ini.
"Nervous? " Itu yang di tanyakan Davino pada Emely saat mereka baru saja masuk kedalam rumah mewah itu. Pasalnya saat menyentuh permukaan kulit tangan Emely, Davino bisa merasakan suhu tangan pacarnya itu sangat dingin.
" Rileks Mel. " Emely menarik nafas panjang, menahannya sebentar, kemudian membuangnya perlahan. Emely melakukannya sebanyak dua kali. Sebelum berjalan mengikuti Davino yang selalu tersenyum menatapnya. Pasalnya Emely terlihat menggemaskan saat wanita itu sedang gugup.
" Hai Mom, " Davino menyapa ibunya yang terlihat sedang sibuk menata beberapa hidangan di meja. Di bantu Bi Ani yang sudah tentunya mengenal Emely. Entah apa yang Bi Ani pikirkan melihat Davino datang bersama Emely. Apalagi sikap dan cara Davino memperlakukan Emely sangat berbeda dengan pertama kali saat Bi Ani bertemu Emely di kamar Davino.
"Hai Darling. " Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan dan kiri Davino.
Setelah itu pandangan Magdalena, selaku ibu kandung Davino, beralih ke wanita cantik yang tengah di berdiri di belakang Davino. Seperti bersembunyi di balik punggung kekasihnya.
" Your so pretty. " Kali ini Magdalena, ibu nya Davino langsung memegang kedua tangan Emely. Kagum dengan sosok Emely. Terlihat sederhana namun elegan.
" Makasih Tante. " Ucap Emely seraya tersenyum. Emely bersyukur, karena ibu Davino tidak seperti yang ada di pikirannya. Emely pikir Mommy Davino seperti tokoh antagonis dalam drama komedi yang biasa dia tonton.
"No, bukan Tante. Kamu bisa memanggil Mommy. " Magdalena memperagakan panggilan Mommy dengan menggunakan tangannya. Mengeja kata Mommy.
"Mom, Mommy ! " Emely bahkan terbata menyebutkan satu kata itu. Davino lagi - lagi mengukir senyum di wajah tampannya.
" Yes, Call me Mommy. " Kali ini ibu Davino mengelus pipi Emely.
" Mommy harus memanggilmu... " Bertanya pada Emely. Namun Davino langsung menyebutkan nama kekasihnya itu " Emely. Mommy bisa memanggilnya Emely. "
" Nama yang cantik. " Puji wanita yang masih terlihat cantik di usia nya yang sudah tidak lagi muda.
" Ayo, sepertinya semuanya sudah siap. Ini juga sudah lewat dari jam makan malam. " Mengajak Emely dan Davino untuk duduk di meja makan.
" Apa yang kamu suka Mel? " Tanya Magdalena. Wanita itu ingin membuat suasana lebih hidup. Pasalnya Emely masih terlihat gugup dan sedikit malu.
"Emely, loves reading novels so much. And Emely has a great deal of novel collections. " Yang di tanya Emely, namun yang menjawab lagi - lagi Davino.
"Bagaimana kamu tahu Davi? " Magdalena tidak tahu saja, kalau Davino pria itu sering muncul tiba - tiba di kamar Emely waktu itu. Jadi dia tahu kalau Emely itu suka membaca Novel dan di kamar Emely ada beberapa Novel yang tersusun rapi di rak buku. Bahkan ada Novel yang di beri batas, artinya Emely masih belum menyelesaikan bacaan nya itu.
__ADS_1
" Apa yang tidak aku tahu tentang dia. " Sambil matanya menatap Emely tulus.
"Tapi yang Mommy mau tanyakan tadi, Emely suka makan apa? " Sebelum Davino hendak bersuara lagi, Magdalena mendahuluinya.
"Yang Mommy tanyakan Emely yah Davi, bukan Davi. " Sudah tahu kalau putranya itu akan kembali menjawab.
"Saya bisa makan apa saja Tante, eh maksud Emely Mommy. " Masih belum terbiasa dengan panggilan Mommy.
" Baguslah Darling. " Lega karena menu makan malam yang sudah di siapkan Bi Ani adalah kesukaan Davino semua. Karena mereka belum tahu, makanan apa yang Emely suka.
" Dulu Davi sangat suka kacang almond tapi entah kenapa beberapa bulan terakhir, dia selalu memisahkan kacang almond dari setiap apa yang dia makan. Makanya setiap dia datang ke rumah untuk makan malam, Mommy sudah wanti - wanti menyuruh Bi Ani untuk tidak menambah atau mencampur kacang Almond ke dalam waffle, pancake, desert dan menu lainnya. " Kali ini pandangan Emely mengarah kepada Davino yang menunduk. Sepertinya dia malu dengan ucapan ibunya. Namun apa yang di katakan ibu Davino barusan membuat Emely merasa sangat dicintai oleh pria yang ada di sampingnya saat ini. Seperti tidak percaya Davino bisa mencintainya setulus itu. Emely yang alergi dengan kacang Almond, namun Davino juga menghindari makanan itu.
Emely menggenggam tangan Davino yang berada di atas meja.
" Terima kasih. " Ucapnya pelan, namun penuh ketulusan.
Davino kali ini mengangkat wajahnya menatap Emely.
"hm. " Sang Mommy berdehem, membuat keduanya menatap sang Mommy.
" Memang benar ya kata pepatah kalau dua orang sudah jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Sisanya ngontrak mungkin. " Ketiganya tersenyum bersamaan. Magdalena baru sadar ternyata putra sulungnya itu benar - benar telah jatuh cinta pada Emely. Caranya berbicara dengan Emely, memperlakukan Emely semuanya terlihat berbeda dengan caranya memperlakukan Rossa dan wanita yang pernah dekat atau mendekatinya.
****
" Terima kasih sudah datang memenuhi undangan makan malam Mommy, Mel. " Mereka bertiga saat ini sudah ada di depan pintu. Tadi setelah makan malam, mereka santai sebentar sambil berbicara hal - hal ringan di ruang tamu, sebelum akhirnya Magdalena sadar bahwa sebentar lagi suaminya akan pulang. Sama seperti Davino, bagi Magdalena ini belum saatnya memperkenalkan Emely pada Fransisco suaminya. Magdalena akan perlahan mengatakan pada Fransisco tentang Emely.
"Sama - sama Mommy, terima kasih sudah mengundang Emely makan malam. " Keduanya saling memegang tangan. Magdalena yakin Emely adalah gadis yang baik. Dia bisa menjadi menantu yang baik, yang akan mengurus nya di masa tua nanti.
"Mom, kalau begitu kami pamit dulu. Kasihan Emely baru pulang kerja, langsung Davi ajak ke sini. "
" Ok sayang. Kalian berdua hati - hati. Jangan ngebut ngebut Davi. " Menasehati putranya.
Sebagai tanda perpisahan, Magdalena mencium pipi kiri dan kanan Emely. Sambil berpesan untuk Emely menjaga Davino putranya.
__ADS_1
Akhirnya Davino dan Emely meninggal kan kediaman keluarga Swam dan di jalan depan mobil mereka berpapasan dengan mobil Fransisco sang ayah yang baru saja kembali bermain golf ditemani David putra bungsu nya.
***
Waktu menunjukan pukul 11 malam saat Emely dan Davino sampai di rumah Emely. Tadi mereka mampir sebentar di salah satu swalayan, Emely membeli beberapa keperluannya. Davino juga membeli boneka untuk kekasih nya itu. Davino juga membeli Hoodie dan sepatu olahraga yang samaan dengan Emely. Dia mengatakan kepada Emely untuk memakainya jika mereka lari pagi bersama. Emely menyetujuinya, tapi Emely sendiri yang memilih warna Hoodie keduanya. Bukan hitam seperti keinginan Davino, tapi warna merah muda yang menjadi pilihan Emely. Akan sangat lucu melihat seorang Davino mengenakan Hoodie berwarna merah muda tersebut. Milik Emely di depannya ada gambar seorang pria sedang memberikan seikat bunga dan milik Davino di depannya ada gambar seorang gadis yang sedang mengangkat tangannya membuat pola berbentuk hati.
Saat hendak turun dari dalam mobil, Davino menahan pergelangan tangan Emely. Ingin mencium wanita itu, namun dia sadar ini baru hari kedua setelah kejadian itu. Emely tidak akan memperbolehkannya.
"Ada apa? " Tanya Emely pada kekasihnya itu.
" Tidak apa - apa. Aku hanya ingin mengatakan terima kasih untuk malam ini. " Ucap Davino sambil menyingkirkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Emely.
"Aku turun ya!! " Davino mengiyakan.
Saat hendak memutar tubuhnya untuk turun, Emely kembali menatap pria yang selalu ada untuknya itu.
" Bisakah aku mencium mu? " Davino tidak percaya dengan ucapan Emely barusan.
"Dengan senang hati Mel. " Davino langsung memiringkan kepalanya mencium bibir Emely, hal yang ingin sekali di lakukannya bersama Emely. Emely akhirnya bisa mengimbangi ciuman Davino, yang awalnya dari kecupan - kecupan kecil di bibirnya, kemudian Davino memperdalam ciuman mereka. Dengan lembut dia melakukannya. Menahan tengkuk Emely Davino tidak ingin segera mengakhiri semua ini. Sudah semenjak kemarin dia merindukan momen seperti ini, namun karena kesepakatannya dengan Emely membuat Davino lebih menghormati keputusan yang mereka sepakati bersama. Namun ketika Emely yang meminta, Davino dengan senang hati melakukannya.
Mereka tersenyum bersama saat bibir mereka baru saja terlepas. Dahi mereka masih menyatu, hembusan nafas yang memburu bisa dirasakan keduanya.
"Terima kasih. " Ucap Davino.
"Terima kasih juga untuk semuanya Davi. " Emely membalas ucapan Davino.
Davino kembali mencium Emely, namun kali ini di atas kening wanita itu.
"Aku mencintaimu Mel. "
"Aku juga mencintaimu Davi. "
-------- Bersambung -------
__ADS_1