
Emely menggeliat dari tidurnya, matanya terbuka perlahan. Mengumpulkan kembali kesadarannya, Emely ingat semalam dia tidur diruang tengah rumahnya. Tapi saat ini, dia tengah berbaring di ranjangnya. Siapa yang memindahkannya? Apakah semalam Davino keluar kamar dan memindahkannya? Emely langsung mengambil posisi duduk di ranjang nya, matanya mencari sosok seseorang yang semalam tidur di kamarnya.
kemana dia? Apa dia sudah pergi? Sepertinya tulisan di cermin Emely menjawab pertanyaannya.
"Sayang, aku udah pulang jangan nyariin aku pas bangun tidur yah."
Satu pesan Davino yang ditulisnya menggunakan lipstik Emely di cermin rias milik Emely.
"Siapa juga yang nyariin." Gumam - gumam kecil gadis yang sementara mengucir rambutnya itu. Padahal dia memang sedang mencari pria yang sudah berstatus pacarnya itu.
Keluar kamar Emely berpapasan dengan sang ayah yang ternyata sudah lebih dulu ada di dapur. Sepertinya sang ayah sedang membuat sarapan.
"Selamat pagi putrinya ayah, ayah udah buatin nasi goreng kesukaan kamu." Ucapnya dengan senyum di bibirnya. Meletakan nasi goreng yang dimasaknya diatas meja makan. Emely yang memang sudah sangat terlanjur membenci sang ayah, tidak mengubris. Emely memilih kembali lagi ke kamarnya. Ayahnya yang melihat sikap anaknya, hanya bisa menarik nafas perlahan. Mungkin perlu waktu untuk Emely menerima dan memaafkannya.
***
Dua puluh menit kemudian, Emely keluar dari kamarnya. Sudah rapi dengan baju yang biasa dia pakai jika berpergian.
"Kakak mau kemana ? " Tanya adiknya yang tengah duduk dimeja makan bersama sang ayah.
"Nyari kerjaan." Jawabnya sambil memakai sepatu yang biasa ia pakai berpergian.
" Kakak nggak sarapan dulu? Ayah udah bikin nasi goreng kesukaan kakak. " Sang ayah hanya berharap Eduar bisa membujuk kakak perempuannya itu.
"Kakak nggak suka makanan yang dimasakin orang lain. " Jawabnya yang sudah selesai dengan sepatunya.
Jadi bagi Emely, aku adalah orang lain. Sang ayah terlihat sedih. Sedangkan Eduar adiknya itu, seperti tidak suka dengan ucapan Emely barusan.
"Kak. " Belum juga Eduar menyelesaikan ucapannya, sang ayah menggelengkan kepala, menahan Eduar yang hendak berdiri menghampiri sang kakak.
"Sudah, jangan bertengkar karena ayah." Ucap ayahnya.
" Kakak pergi dulu. " Ucapnya berlalu meninggalkan ayah dan juga adiknya.
__ADS_1
***
"Eduar, apakah kau kenal dengan pria yang dekat dengan kakakmu?" Sang ayah bertanya, sungguh dia sangat penasaran dengan pria yang waktu itu datang bersama Emely. Pria yang terlihat arogan dan sepertinya dari keluarga yang jauh diatas mereka.
"Yang mana ayah?" Eduar sungguh tidak tahu siapa yang dimaksud ayahnya. Pasalnya Eduar belum pernah melihat Davino berpapasan langsung dengan sang ayah.
"Rayhan?" Eduar bertanya balik. Belum juga ayahnya menjawab Eduar kembali berucap. "Kalau Rayhan mereka udah putus ayah."
"Bukan Rayhan, kalau Rayhan ayah kenal dia. " Waktu Emely pacaran dengan Rayhan, Rayhan sudah beberapa kali datang ke rumah Emely, menjemput gadis itu dan mengantarnya pulang, saat pulang kerja.Itulah sebabnya sang ayah mengenal Rayhan.
"Postur tubuhhya tinggi, hidungnya mancung, wajahnya datar, tapi terlihat tampan. " Sejauh ini Eduar sudah bisa menebak.
"Oh itu kak Davino. Dia yang selama ini selalu ada buat keluarga kita." Pantas saja waktu itu dia membela Emely.
"Apakah mereka pacaran?" Eduar belum tahu sejauh apa hubungan keduanya. Davino memang selalu datang menemui kakak perempuannya itu semenjak sang ibu meninggal. Bahkan yang bisa menghibur kakaknya, hanya pria itu. Tapi apa hubungan mereka? Apa mereka dekat karena waktu itu Emely pernah bekerja di apartemen Davino?
Entahlah Eduar belum bisa menyimpulkan hubungan kakaknya dengan pria itu.
"Eduar nggak tahu ayah. Emang kenapa?" Eduar balik bertanya.
"Ayah, jangan kuatir. Sepertinya mereka hanya berteman." Walaupun Eduar sebenarnya yakin ada hubungan khusus antara kedua orang itu.
***
" Lagi apa?" Belum mendapat balasan. Davino yang hanya tidur - tiduran di ranjang, kembali mengetikan pesan dan mengirimnya.
"Balas Mel."
"Kebiasaan."
"Aku nyamperin kamu sekarang." Kalimat telak yang membuat Emely terpaksa membalas pesan pria yang sudah mulai bangun dari ranjangnya itu.
"Aku lagi di hotel." Dengan cepat Emely membalas pesan itu. Pasalnya dia merasa tidak enak dengan pria yang ada didepannya saat ini.
__ADS_1
"HOTEL? " Emely belum membalas pesannya, Emely masih serius mendengar pria itu bicara tentang gaji yang akan diterimanya. Pria yang seumuran Davino itu menghentikan ucapannya, ketika ponsel Emely berdering. Emely dengan cepat menggeser gambar berwarna merah.
"****." Dapat Emely pastikan pria diujung sana tengah memakinya. Davino memilih menghubungi Haizel.
"Kamu jemput aku sekarang." Ucapnya tanpa basa basi.
"Aku sibuk, ada pemotretan beberapa model pakaian dalam hari ini." Kalau soal ini, Haizel tidak bisa meninggalkannya.
"Aku bakal hancurin tempatmu jika kamu tidak datang sekarang." Ucapnya setengah mengancam.
"Kamu pakai mobil aku aja, aku suruh orang buat ngantarin ke apartemen kamu." Haizel menawarkan.
"Nggak. Kamu sendiri yang harus datang buat jemput aku. Aku butuh seseorang buat nahan aku melakukan sesuatu yang nantinya akan aku sesali." Dengan jawaban malas campur kesal Haizel mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
***
"Kita mau kemana sih men?" Haizel bertanya. Sudah lima menit yang lalu mereka meninggalkan apartemen Davino. Bahkan sesampainya dia dikawasan apartemen Davino, pria itu sudah wanti - wanti menunggunya di bassment apartemen.
"Ke hotel." Haizel mengernyitkan dahinya. Apakah sepagi ini Davino akan bercinta dengan seorang wanita? Apakah dia sudah mencampakkan Emely karena dia sadar dia tidak bisa hidup tanpa uang dan kekuasaan? Tapi jika Davino sudah meninggalkan Emely, itu berarti Davino sudah mendapatkan kembali mobilnya. Tapi kenapa dia masih minta dijemput?
" Emely di hotel." Ucap Davino, karena dia tahu apa yang tengah dipikirkan Haizel. Jadi dia ke hotel menemui Emely? Sejauh itu Haizel berasumsi.
"Kalian janjian di hotel mana? " Tanya Haizel.
"Kita nggak janjian, dia lagi di hotel sekarang. Aku nggak tahu apa yang dia lakukan di hotel. Aku..." Davino terlihat resah, dia belum bisa menerima kenyataan kalau sampai Emely bertemu seorang pria di hotel.
" Akhirnya seorang Casanova sepertimu bisa juga takut diselingkuhi." Bukannya menenangkan Davino, Haizel malah mengejek sahabatnya itu.
" Aku cinta sama dia men. Aku takut kehilangan dia." Biasanya Davino akan memarahi atau mengumpat sahabatnya itu.Tapi kali ini, dia terlihat benar - benar jatuh cinta. Haizel jadi tidak tega pada sahabatnya itu.
"Sabar men. Mungkin aja Emely sedang menemui teman - temannya di hotel. Atau dia ikut reuni bareng teman seangkatannya waktu sekolah dulu. Biasa gitu men. "Kali ini Haizel berusaha menenangkan sahabatnya itu. Sesekali Haizel bisa melihat, Davino mengepalkan tangannya.
"Kamu harus nahan Emosi, bicara baik - baik kalau memang nantinya kamu liat sesuatu yang tidak seharusnya. " Lagi - lagi Haizel mengingatkan.
__ADS_1
"Kamu harus ingatin aku kalau aku udah pake kekerasan." Satu hal yang tidak bisa Davino kendalikan yaitu emosinya.
Haizel hanya bisa mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Walaupun Haizel sendiri belum pernah bisa mengendalikan Davino saat pria itu sedang tersulut emosi. Apalagi sekarang menyangkut wanita yang dicintainya.