Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 60


__ADS_3

Mengajak Emely keruang tengah, Davino mendudukan gadis itu di sofa.


"Kamu kenapa sih pake gigit bibir kamu? " Ucapnya, sambil menyentuh bibir Emely yang terluka.


" Kalau aku tidak melakukan itu, maka kamu tidak akan berhenti menciumku dengan kasar. " Davino sadar, seberapa kasarnya dia mencium Emely tadi.


"Aku hanya berusaha menghapus noda dibibirmu. " Emely mengerutkan dahinya, menatap pria yang juga menatapnya. Emely sungguh tidak mengerti ucapan Davino barusan.


" Sudah jangan dipikirkan. Aku akan mengambil obat untuk mengobati lukamu. " Berlalu meninggalkan Emely yang belum mengerti dengan ucapannya.


***


Mulai mengobati bibir Emely dengan obat merah. Sesekali Emely meringis, disaat Davino menekan bibirnya dengan kapas yang dibasahi dengan obat merah.


"Sakit? " Davino bertanya sambil sesekali meniup bibir gadis itu.


"Sakitlah. Masih nanya. " Memajukan bibirnya, Davino tersenyum melihat tingkah Emely yang mulai jaim didepannya.


" Salah siapa? " Davino menggodanya.


"Kamu. " Jawab Emely, membuat pria itu menggelengkan kepalanya.


"Lho kok aku. Yang gigit sampe berdarah kan kamu. " Davino protes. Sambil tetap meniup bibir gadis itu.

__ADS_1


" Pokoknya salah kamu. " Davino mengalah. Okelah semua ini memang kesalahannya.


"Yah udah, aku yang salah. " Emely tidak percaya, Davino mengalah. Bahkan laki - laki itu dengan sabar mengobatinya. Membuat Emely tersentuh saja. Bergerak gugup Emely menjauhkan wajahnya dari wajah Davino yang terlalu dekat dangan wajahnya.


" Sudah nggak sakit lagi. " Berkata seperti itu, agar Davino tidak lagi meniup luka dibibirnya. Sungguh posisi mereka saat ini sangat dekat bahkan terlalu dekat. Emely bahkan bisa mendengar suara detak jantung Davino yang seirama berdetak dengan detak jantungnya.


"Oh, baiklah. " Davino juga merasakan hal yang sama dengan Emely. Jika posisi mereka terus seperti ini, bisa - bisa dia tidak bisa mengendalikan bibirnya untuk mengecup bibir gadis yang Davino yakin ingin menghindari tatapannya saat ini. Meletakan obat merah dalam kotak dan menaruhnya pada tempat semula. Setelah itu Davino kembali duduk disamping gadis itu.


Sekarang dia ingat satu hal, mengapa pria yang dihajarnya itu bisa tahu kalau Emely ada ditaman itu. Okelah Davino tahu, itu tempat umum. Tapi sangatlah kebetulan kalau pria itu ada disana. Apa mereka janjian? Sungguh Davino tidak ingin berpikir kalau itu benar. Emely disana, hanya untuk menemui dirinya. Davino berusaha meyakinkan dirinya hal itu.


"Mel, selama denganku bisakah kamu tidak mendekati pria lain." Bolehkan dia meminta Emely hal itu. Walaupun Emely belum membalas cintanya, tapi gadis itukan sudah menerima cintanya. Jadi Davino punya hak dong untuk melarang Emely dekat dengan pria lain, selama dia membuktikan cintanya pada gadis itu.


" Bagaimana denganmu? Kau selalu tidur dengan banyak wanita. Jika kau bisa tetap dekat dengan wanita lain, aku juga bisa tetap dekat dengan pria lain. " Emely menjawab tanpa berpikir. Setahunya Davino memang pria seperti itu. Iya dulu memang dia seperti itu, tapi semenjak dia meniduri gadis yang ada didepannya ini, seolah tubuhnya menolak semua wanita.


" Lalu wanita itu? " Yang dimaksud Emely adalah Rossa.


"Wanita? " Davino bertanya karena dia tidak mengerti wanita mana yang ditanyakan Emely.


Emely berdecak " Emang ada berapa banyak wanita yang kamu kenal? " Emely memandang malas pria itu.


" Banyak. " Jawabnya tanpa berfikir. Emely yang mendengarnya mulai meragukan ucapan Davino tadi. Ucapan bahwa pria itu tidak pernah menyentuh wanita lain semenjak mengenal dirinya.


Davino kemudian tersenyum, mengangkat tangannya kearah wajah Emely, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh diwajah gadis itu.

__ADS_1


" Namun dari semua wanita yang aku kenal, kok aku hanya bisa ingat nama dan wajah ini. " Membingkai wajah Emely dengan jemarinya.


"Gombal. "Ucapan Emely membuat Davino terkekeh. Dia bahkan dulu merasa mual mendengar ucapan manis Haizel saat merayu wanita. Tapi sekarang dia bahkan sudah lebih hebat dari Haizel dalam merangkai kata - kata manis pada seorang wanita. Membela dirinya, Davino yakin kalau Haizel mengatakan kata manis pada semua wanita hanya karena ingin merayu dan menggoda wanita itu. Sedangkan kata - kata yang keluar dari bibirnya, jujur dari hatinya yang paling dalam.


" Aku tuh nggak gombal yah Mel, ini tuh jujur dari hati aku. Aku tuh sangking ingatnya sama kamu, aku masih ingat kalau kamu punya tahi lalat di da... " Emely membungkam mulut Davino dengan tangannya.


"Kamu tuh yah, issh... " Emely melepaskan bekapan tangannya, mulai berdiri dari duduknya. Sungguh dia sangat malu.


" Aku mau pulang aja. " Sudah mengambil sling bag miliknya, beranjak dari sana.


"Kamu malu yah Mel. " Bisakah Davino tidak menanyainya seperti itu.


"Tau ah. " Merajuk sambil berjalan kearah pintu apartemen. Davino bahagia bisa melihat raut wajah merona dari gadis itu. Sungguh Emely terlihat lebih menggemaskan jika merajuk seperti itu. Selama ini Davino tidak pernah melihat Emely seperti itu. Meraih tangan Emely, menggandengnya. Davino akan mengantar gadis itu pulang.


***


" Kau tahu anak perempuanmu itu, aku dengar dari teman arisanku kalau mereka melihat dia menjual diri ditempat pelelangan wanita, beberapa waktu lalu. " Wanita itu memutar balikan fakta. Dia ingin ayah Emely segera menceraikan istrinya dan menikahinya. Dia tidak ingin selamanya menjadi simpanan.


"Itu tidak benar, mereka pasti salah lihat. Emely itu anak yang baik. " Walaupun sudah meninggalkan Emely dan keluarganya, namun ayahnya yakin Emely bukan gadis seperti itu.


" Mereka tidak salah lihat. Alasan anakmu itu jual diri karena untuk biaya pengobatan istrimu. " Ayah Emely mulai termakan omongan wanita itu. Karena didengarnya terakhir kali, Elisa istrinya sudah mendapatkan pengobatan dengan biaya yang cukup mahal. Bisa jadi uang untuk membayar pengobatan istrinya itu, hasil dari Emely menjual dirinya.


Mengepalkan tangannya, pria itu berencana menemui Elisa, istrinya. Sekalian dia akan segera mengurus perceraiannya dengan ibu Emely.

__ADS_1


__ADS_2