
Malam sudah tergantikan pagi. Davino membuka matanya perlahan. Tubuhnya sudah lebih baik dari kemarin. Beranjak dari ranjang karena dia sangat haus. Berjalan keluar kamar, namun Davino terhenti didepan cermin kamarnya. Sadar kalau pakaian yang ia kenakan saat ini berbeda dengan pakaian yang dipakainya kemarin sore.
Davino semalam tidak sadar kalau Emely datang dan menggantikan pakaiannya.
"Siapa yang mengganti pakaianku? " Berusaha mengingat potongan kejadian semalam, namun gagal. Terakhir yang ia ingat, Emely pamit pulang. Davino berjalan kearah keranjang pakaian kotor disamping kamar mandi dan baju yang dipakainya semalam, ada disana. Davino yakin, ada yang datang ke apartemennya dan mengganti pakaiannya.
Sementara yang tahu angka sandi pintu apartemennya hanya tiga orang. Alex, David dan Emely.
"Apakah Emely menghubungi Alex semalam? " Masih menduga - duga. Davino keluar dari pintu kamarnya, dia butuh air dingin sekarang.
Langkahnya terhenti, ketika melihat sosok gadis yang meringkuk di sofa ruang tengah apartemennya.
"Kenapa dia bisa ada disini? Apakah semalam dia kembali? " Lupa sudah dengan tujuan awalnya. Duduk disofa satunya, menatap Emely yang sedang terlelap. Bahkan dia bisa beruntung beberapa hari ini, bisa melihat gadis itu setiap pagi.
Sudah hampir setengah jam Davino duduk memperhatikan Emely yang tertidur.
Dimenit berikutnya, Emely menggeliat dan mulai membuka matanya sambil sesekali menutup mulutnya dengan tangan, saat ia menguap. Tidak sadar kalau ada seseorang yang tengah menatapnya sedari tadi.
"Apakah tidurmu nyenyak? " Emely terkejut. Bahkan ia langsung mengambil posisi duduk di sofa itu.
" Kamu kok bisa ada disini? "
"Apa semalam kamu tidak pulang? "
" Apa kamu yang mengganti pakaianku? " Bisakah Davino menanyainya satu persatu.
" Aku pulang, namun aku kembali lagi dan aku juga yang sudah mengganti pakaianmu. " Memelankan suaranya dikalimat terakhir.
" Lagi pula kenapa sih kamu tidak menghubungi Alex atau keluarga kamu? " Kalimatnya terdengar tegas. Apakah dia sedang marah sekarang?
__ADS_1
"Aku nggak mau terlihat lemah didepan mereka. " waow. Ingin rasanya Emely memberikan penghargaan dengan kategori pria sok kuat.
" Mereka itu sahabat dan juga keluarga kamu. Mereka tidak akan menertawakan kamu disaat kamu sakit ataupun lemah. " Emely kesal sendiri, mendengar alasan Davino.
" Kamu itu yah, gengsian banget. Kalau sakit katakan sakit. Kalau lelah, katakan lelah. Jangan tanggung sendiri dan jangan pendam sendiri. " Ah, ibunya bahkan tidak pernah memarahinya seperti ini. Tapi kok Davino suka yah, Emely marah - marah seperti ini.
"Kalau aku suka, apakah aku harus bilang suka? " Kali ini Davino yang angkat suara.
"Yah, kamu harus bilang dong. Apa yang kamu rasakan kamu harus kasih tahu. Biar keluarga kamu itu tahu. " Menjawab tanpa berfikir kemana arah pembicaraan Davino.
"Aku suka sama kamu. " Berhenti mengoceh, ketika mendengar ucapan Davino barusan.
"I miss you, when I can't sleep (Aku merindukanmu saat aku tidak bisa tidur.) "
"I got these feelings but you didn't realize that. (Aku punya perasaan ini namun kamu tidak menyadarinya.) " Emely masih bergeming.
"I hate that I love you. Don't want to, but I can't put no body else above you. ( Aku benci bahwa aku mencintaimu. Tak ingin tapi aku tak dapat mencintai yang lain selain kamu. )" Emely menatap Davino tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.
"It hurts me every time I see you. (Menyakitkan tiap kali aku melihatmu.) Davino sadar sedalam apa Emely membencinya. Jadi selama ini gadis itu menderita setiap kali bertemu dengan dirinya? Begitu Davino menyimpulkan perkataan Emely barusan.
"Mel, pulanglah. Ibumu pasti kuatir. Karena dari semalam kamu belum pulang. Kamu lupakan aja yang aku katakan tadi. " Setelah mengatakan itu, Davino berlalu meninggalkan Emely. Davino bahkan tidak jadi kedapur untuk mengambil air. Dia memilih masuk lagi kedalam kamarnya.
***
Emely sudah tiduran dikamarnya. Tidak perlu menjelaskan lebih kepada ibunya, karena semalam dia sudah menghubungi sang ibu untuk meminta ijin menginap di rumah Sisilia. Padahal dia menginap di apartemen Davino.
Emely masih memikirkan setiap ucapan yang Davino katakan tadi pagi. Emely bahkan masih ingat jelas raut wajah Davino, ketika Emely mengatakan bahwa menyakitkan setiap kali melihat Davino.
Lamunannya buyar, ketika nada dering pesan terdengar. Mengambil ponsel yang ia letakan dimeja riasnya. Satu pesan dari Davino.
__ADS_1
Mel... Gajimu udah aku transfer. Mulai besok tidak usah datang bekerja lagi. Karena aku sudah memutuskan untuk kembali kerumah orangtuaku.
Emely meletakan kembali ponselnya. Dia juga berencana berhenti. Namun sudah keduluan Davino.
***
Sudah hampir seminggu, Emely tidak pernah bertemu dengan Davino. Bahkan pria itu sudah tidak pernah lagi mengganggunya dengan telpon tak penting, seperti biasanya. Dia juga sudah tidak pernah mengirim pesan, walau hanya sekedar basa - basi seperti sebelumnya.
Emely kembali meraih ponselnya, mencari sosial media Davino, dari akun sosial media miliknya.
Mengetik nama Davino Swam dipencarian dan ia menemukannya. Entah mengapa ia ingin tahu, apa yang dilakukan pria itu saat ini. Apakah dia benar - benar sudah kembali kerumah orangtuanya?
" But I'm still missing you. (Tapi aku masih merindukanmu.) " postingan pria itu, tiga hari yang lalu. Dan postingan terakhir, semalam, sebuah foto yang isinya jejeran botol minuman.
"Aku juga merindukanmu. " Bergumam sambil meletakkan lagi ponselnya.
___________
Menurut kalian mengapa Davino memberhentikan Emely dari pekerjaannya?
Dan apakah Davino memang pulang kerumah orangtuanya dan bersedia menikahi Rossa?
Dukung terus Emely sama Davino.
Terutama Davinonya, biar Emely bisa menyadari ketulusan Davino.
Oh yah untuk bahasa daerahnya, hahaha
Sengaja aku taruh sekalian translitex yah. Soalx ada yg koment wktu lalu, kalau mau nulis katanya kalau bahasa indo bahasa indo aja, jangan dicampur2 bahasa asing. Pusing soalnya dia bacanya. Sedangkan disini Davinonya keturunan Italy, jadi wajarlah dia pake bahasa daerah dikit2. Hahaha
__ADS_1
Kalau banyak, aku juga kagak ngerti. Kalau ada typo abaikan dulu yah. Nanti aku perbaiki lagi kalau kagak malas.