
Ah sial. Alex mencoba menghubungi Haizel. Ingin memberi tahu bahwa mungkin saja Emely akan menyusul Davino kesana.
Tapi apa Emely berani menginjakan kakinya ditempat itu. Terakhir kalinya Emely ke tempat itu karena adiknya.
"Angkat Haizel. " Sayangnya Haizel yang saat ini menemani Davino di Sweet Room, tidak kunjung mengangkat panggilan telpon dari Alex.
***
" Kamu kenapa Davi? " Tanya Haizel pada sahabatnya yang tengah memainkan botol Wisky. Sudah ada dua botol Wisky yang tandas isinya.
Sudah hampir sejam mereka ditempat itu, namun Baru beberapa kalimat yang keluar dari bibir sahabatnya itu. Pertama sapaan hai, saat Haizel datang; kedua kenapa Alex tidak ikut dan terakhir hanya kata ih saat tahu kenapa Alex tidak ikut. Sisanya pria itu diam, minum, bermain dengan gelas dan sekarang botol Wisky. Bisa Haizel simpulkan bahwa Davino sedang memiliki masalah.
__ADS_1
" Aku ... " Terpotong ucapnnya. Karena ada Bella dan juga dua orang gadis mendekati keduanya. Kali ini Bella memilih duduk disamping Haizel. Ingat Bella? gadis yang pernah menghabiskan malam dengan Haizel. Sementara dua gadis lainnya duduk disebelah kanan dan kiri Davino.
"Aku nggak butuh perempuan Haizel. " Ucapnya yang tidak suka dengan kehadiran dua wanita itu.
"Kau tahu kan aku... " Apa dia benar - benar sudah memiliki kekasih? Namun dimana kekasihnya itu. Dia pasti sibuk dengan bos barunya. Begitulah yang terlintas dipikiran Davino.
"Santai Bro, mereka hanya menemani kita minum saja. Setelahnya itu tergantung kamu bro. Tapi sebaiknya jangan mencari masalah. " Jangan mengajak mereka tidur bersama. Mungkin begitu kalimat sebenarnya yang ingin Haizel ucapkan.
Menguatkan hatinya, Emely masuk ketempat itu. Tujuannya hanya satu mencari Davino, mengajaknya pulang dan bicara dari hati ke hati. Tapi apa yang dia lihat, Davino bersama dengan dua gadis. Ditambah gadis satunya, seperti sedang membelai dada bidang Davino yang terbalut dengan kemeja hitamnya. Lalu apa itu, Davino malah menahan tangan gadis itu. Emely memilih pergi. Saat bersamaan, Alex yang sedari tadi tidak bisa menghubungi kedua sahabatnya itu memilih datang langsung memperingatkan Davino bahwa Emely akan datang ke tempat itu. Namun sayang, Emely yang lebih dulu sampai disana.
"Emely. " Alex mencoba menahan Emely yang berlari keluar. Suara Alex sangat jelas terdengar ditelinga Davino. Bukan karena suara Alex yang familiar ditelinganya. Tapi nama yang Alex panggil dan sosok gadis yang baru saja melewati pintu ruangan dimana saat ini dirinya berada. Walaupun dia mabuk berat sekalipun namun Davino yakin gadis tadi itu adalah gadis yang meruntuhkan dinding hatinya, gadis yang mengubah prinsip dan pendiriannya.
__ADS_1
Gadis yang semenjak kemarin membuatnya gelisah. Gadis yang memiliki tempat istimewa dihatinya.
Emely? Sial...
Davino menghempaskan gadis tadi, sungguh kepalanya sedikit pening. Namun tidak bisa menahan langkahnya untuk mengejar Emely.
"Tahan dia Lex. " Teriaknya yang yakin posisi Emely lebih dekat dengan Alex. Namun Alex hanya mengangkat tangannya. Membiarkan Emely pergi. Sesekali dia harus membiarkan sahabatnya itu berjuang.
"Sialan lu men. " Ucap Davino, melewati Alex yang sedang tertawa kecil. Menertawakan kebodohan sahabatnya itu.
Sepertinya akan menyenangkan baginya membayangkan sekarang Davino lagi - lagi terlihat bodoh karena seorang wanita.
__ADS_1
"Selamat berjuang. " Teriak Alex, disusul tatapan kesal Davino.