Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 46


__ADS_3

Menyadarkan punggungnya di jok mobil, sambil menutup matanya. Davino sungguh sudah mulai bosan menunggu Rossa yang tidak kunjung keluar dari dalam butik. Membuka matanya dan turun dari dalam mobil, Davino tiba - tiba melihat sosok gadis yang Davino yakin adalah Emely. Memastikan sendiri, Davino kemudian masuk kedalam butik yang mungkin ada Rossa juga disana.


Itu benar - benar Emely. Tapi tunggu dulu, kenapa Emely mendekati pria itu? Pria itu bukannya pria yang dipeluk Emely waktu itu didepan rumah sakit? Davino masih ingat, Emely berlari memeluk pria itu. Mungkinkah dia pacar Emely? Davino menghentikan langkahnya. Dia tidak ingin melihat Emely bersama pria lain, sekalipun dia memang pacarnya Emely. Tapi tunggu, kenapa gadis itu melingkarkan tangannya dilengan pria itu? Davino sungguh penasaran apa yang sedang terjadi.


" Sil, mereka sudah putuskan. Jadi Rayhan berhak dong dapat wanita yang lebih baik dari mantan pacarnya. " Sejauh ini Davino dapat menyimpulkan bahwa hubungan Emely dan pria itu telah berakhir dan sekarang pria itu menjalin hubungan dengan gadis yang terlihat memamerkan hubungan keduanya didepan Emely. Haruskah Davino senang? Tapi sejauh dia mengenal Emely, Davino tahu ada kesedihan dibalik senyum gadis itu, membuat hatinya tidak tega.


"Kamu benar An. Rayhan memang pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. Aku ucapin selamat yah buat kalian. " Davino tambah sakit mendengar kalimat Emely barusan. Davino tahu, gadis itu berusaha berbesar hati.


"Pria itu yang tidak pantas mendapatkan Emely dan aku akan menunjukkan pada wanita itu, kalau Emely juga berhak mendapat pria yang lebih baik dari mantan pacarnya itu. " Gumam Davino yang mulai berjalan kearah Emely.


Tanpa basa - basi Davino langsung merangkul Emely. Membuat semua mata langsung menatap pria yang Sisilia tahu adalah pemilik kampus dimana dirinya menggali ilmu. Emely bahkan terkejut dengan kehadiran Davino yang tiba - tiba. Tambah terkejut lagi ketika pria itu merangkulnya dan apa yang dia katakan barusan? "Sayang, maaf aku datang terlambat. " Satu kalimat yang membuat Sisilia menutup mulutnya, satu kalimat yang membuat Rayhan mengepalkan tangannya dan satu kalimat yang membuat Ana menatap tidak percaya pria yang tersenyum manis kepada Emely.


"Mel... " Ini suara Sisilia. Dia butuh penjelasan secepatnya. Karena dia sungguh sangat terkejut.

__ADS_1


Menyadari rasa penasaran dari Sisilia, Davino berinisiatif menyodorkan tangannya.


"Hai, saya Davino. Calon suami Emely. " Bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya Emely dengan pengakuan Davino barusan. Sama halnya dengan Sisilia dan Ana. Sedangkan Rayhan, dia tidak akan percaya semudah itu. Rayhan tahu Emely bukan gadis yang cepat jatuh cinta pada seorang pria. Rayhan saja butuh setahun buat jadi pacarnya Emely. Jadi tidak mungkin dalam waktu beberapa bulan, dirinya meninggalkan Emely, gadis itu sudah jatuh cinta dengan pria lain.


"Kamu pemilik kampus XX kan? " Sepertinya Sisilia lebih mengenal Davino ketimbang Ana dan Rayhan yang juga pernah kuliah di kampus yang sama dengannya. Ana tambah terkejut, tidak menyangkah Emely bisa kenal dan punya hubungan dengan pria yang terkenal sebagai pengusaha muda yang sukses di bidang properti itu.


" Apa saya terkenal di kalangan mahasiswa? " Tanya Davino dengan tersenyum manis selayaknya orang yang sedang jatuh cinta. Sedangkan Emely, dia membiarkan sandiwara yang Davino mainkan. Lagi pula apa yang bisa dia lakukan, dia memang butuh seseorang untuk menyelamatkan hatinya yang terluka saat ini.


"Sepertinya mereka akan patah hati, jika tahu aku sudah punya kekasih. Iya kan sayang? " Menatap Emely dan semakin mengeratkan rangkulannya pada Emely yang juga berusaha membalas senyuman pada pria yang menatapnya itu.


" Oh yah, kami duluan yah. " Menatap ketiga orang yang ada didepannya. "Sayang, kita ke apartemen aku dulu atau langsung pulang? " Kali ini menatap Emely. Davino bahkan berakting sangat baik.


"Hmm, pulang aja. " Jawab Emely ragu - ragu.

__ADS_1


" Sesuai permintaanmu tuan putri. " Setelah itu, Davino dan Emely pamitan pada Sisil, Ana dan Rayhan. Sisil bahkan belum percaya jika sahabatnya itu bisa menjalin hubungan dengan pria terkenal itu. Sedangkan Ana, okelah walau dia tidak menyangkah Emely mendapatkan pria yang lebih segalanya dari Rayhan, setidaknya Emely tidak akan merebut Rayhan darinya. Pria yang sudah disukainya semenjak dia menginjakkan kakinya dikampus. Berbeda dengan Rayhan yang tidak suka melihat pria tadi merangkul Emely.


"Davi...? " Disaat Davino dan Emely hendak keluar butik, Rossa yang sudah dari tadi melihat bagaimana Davino mengumbarkan hubungannya dengan Emely berusaha menghentikan Davino yang baru saja akan keluar dari pintu butik.


"Kamu bisa naik taxi kan? Aku mau mengantarkan dia. " Meraih tangan Emely Davino berlalu meninggalkan Rossa yang mematung ditempatnya. Davino sudah sangat keterlaluan memperlakukannya. Namun semua bukan salah Davino kan? Davino bahkan telah menolaknya secara terang - terangan. Dianya saja yang masih berharap kalau Davino akan bertekuk lutut padanya.


"Aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu, semua pasti karenanya. " Rossa merem*s jemarinya, menahan amarah yang sudah memenuhi kepalanya.


Emely melepaskan tangannya ketika dia merasa kalau sandiwara yang dibuat Davino telah berakhir.


"Kau tidak perlu mengantarku, aku akan pulang sendiri. " Ucap Emely disaat mendekati mobil Davino.


"Aku akan mengantarmu. " Tidak ada gunanya berdebat dengan Davino, kata - katanya sudah menjadi titah yang harus ditaati. Emely langsung naik ke mobil pria itu, Davino tersenyum senang karena gadis itu sudah tidak membantah.

__ADS_1


__ADS_2