Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 96


__ADS_3

Melajukan mobilnya kearah rumah Alex, Haizel yang sebelumnya menghubungi Alex dan menanyakan di mana keberadaan sahabat nya itu, langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Alex .


"Rumah. " Itu yang Alex katakan kepada Haizel. Saat sahabatnya itu menanyakan keberadaannya. Belum juga Alex menanyakan ada apa, Haizel langsung mengakhiri panggilan telepon tersebut. Alex yang saat itu sedang membaca buku di kamarnya, seketika menghentikan bacaan nya, ketika mendengar suara Haizel yang terdengar panik di ujung telpon.


" Kenapa lagi dengan bocah itu? " Alex kemudian turun dari ranjang, keluar kamar dan kemudian menuruni anak tangga, berjalan kearah pintu luar rumahnya. Menunggu Haizel di teras rumah.


Hampir satu jam Alex menunggu Haizel dan akhirnya sahabatnya itu muncul sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada apa denganmu Men? " Tanya Alex saat Haizel sudah duduk berhadapan dengannya.


" Kenapa kamu terlihat panik seperti itu? " Alex bisa melihat kepanikan di raut wajah sahabatnya.


"Kamu harus membantuku Men. " Haizel kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Terbahak-bahak, Alex sungguh tidak bisa menahan tawanya. Kemudian menutup mulutnya ketika sadar jika waktu sudah tengah malam. Semua penghuni rumahnya sedang istirahat sekarang, kecuali dua sekuriti yang berjaga di pos depan rumahnya.


"Tapi tunggu? siapa yang kamu bilang tadi? " Bertanya, kali ini dengan ekspresi serius.


" Arlan " Jawabnya sambil mengeluarkan bungkusan rokok dari kantong celana.


" Arlan kakaknya Renata? " Kali ini Alex terbelalak. Ketika Haizel mengiyakan.


"Jadi Emely bekerja di Restoran milik keluarganya Renata? " Sungguh Alex juga baru tahu. Davino bahkan tidak pernah menceritakan hal itu padanya. Mungkin beberapa hari ini Alex memang sedang sibuk. Jadi belum sempat bertemu dengan Davino.


" Itu lah Men, aku juga baru tahu tadi, pas ketemu Arlan. Arlan ternyata ngajak karyawan Restorannya dia, pas ketemu ternyata salah satu karyawannya itu Emely. " Jelas Haizel.


" Apa Davino tidak tahu kalau Emely bekerja di Restoran milik keluarganya Arlan? " Kalimat itu secara bersamaan di ucapkan Haizel dan Alex.


Haizel berpikir sejenak sambil mengingat kembali kejadian di Sweet Room.


" Waktu Davi datang dia langsung menarik Emely, mengajaknya pergi dari tempat itu. Dan saat Arlan berusaha mempertahankan karyawan nya, yaitu Emely, di situ Davi ngomong sama Arlan kalau Emely itu pacar nya dia. " Kalimat terakhir Haizel peragakan mengikuti gaya cool nya Davino sambil memegang tangan Alex yang di jadikan objek menggantikan Emely.


"Kalau aku lihat dari ekspresi nya Davi, dia sepertinya tidak terkejut kalau Arlan itu bos nya Emely. " Tambah Haizel yang sudah melepaskan tangan Alex.


" Tapi Men, tidak mungkin Davi membiarkan Emely bekerja di Restoran itu, kalau Davi tahu Restoran itu milik keluarganya Arlan. " Alex ingin membantah pernyataan Haizel barusan.


" Dan tidak mungkin juga, seorang Davino tidak menyelidiki terlebih dahulu tentang siapa pemilik Restoran itu, sebelum dia mengijinkan Emely bekerja di sana. "


Kali ini Haizel bisa meyakinkan pada Alex bahwa apa yang dikatakannya itu benar, dan Alex setuju dengan apa yang dikatakan Haizel. Davino, pria itu pasti sudah menyuruh orang kepercayaannya atau dia sendiri, menyelidiki latar belakang Restoran yang akan di lamar Emely waktu itu.


"Berarti benar yang kamu katakan Men, Davi tahu kalau Arlan adalah bos nya Emely. " Keduanya mangut setuju.


" Tapi kenapa Davino tetap mengijinkan Emely bekerja di sana? " Kali ini Alex bertanya kuatir.


"Itu dia Men, aku juga nggak tahu. " Bukan hanya Haizel yang tidak tahu alasan Davino tetap membiarkan Emely bekerja di Restoran milik keluarga Arlan, Alex pun demikian, dia juga tidak tahu dan tidak habis pikir kenapa Davino bisa se ceroboh itu.

__ADS_1


Kedua pria itu tenggelam dengan pikiran masing-masing. Mereka diam beberapa saat, sampai suara dering ponsel milik Haizel berbunyi.


"Hallo. " Kata pertama yang Haizel ucapkan saat pria itu mengangkat telponnya.


Hening.


Tidak ada suara balasan Hallo di ujung telpon.


"Hallo. " Lagi - lagi Haizel mencoba mencari jawaban di sana.


Hening.


Tidak ada sahutan yang terdengar di ujung sana.


"Bangs*t. Kamu siapa sih? " Saat Haizel mengatakan itu, sambungan telpon tiba - tiba terputus.


"Siapa? " Tanya Alex penasaran.


" Kalau aku tahu, aku nggak bakal tanya dia siapa? " Sudah hampir seminggu ini no yang tanpa nama itu sering menghubungi Haizel di atas jam 12 malam dan seperti biasa tidak pernah bicara. Sepertinya dia hanya orang iseng yang tidak memiliki pekerjaan.


" Ya udah, aku cabut Men. " Pamitnya pada Alex. Ketika tadi melihat jam di layar ponselnya.


Alex mengiyakan dan mengantar Haizel sampai mobilnya. Sebelum meninggalkan Alex, mereka adu TOS seperti kebiasaan mereka saat hendak berpisah. hati - hati di jalan selalu mereka ucapkan saat salah satu dari mereka akan pergi.


Sebelum mobil Haizel menghilang dari pandangannya, Alex belum meninggalkan tempatnya tadi. Barulah ia masuk kedalam rumah, ketika mobil Haizel sudah tidak terlihat lagi.


" Untuk menghindari Davino, aku akan ke luar negeri selama sebulan. " Gumamnya dalam hati. Menurutnya cara itu selalu berhasil. Saat dia kembali Davino akan lupa semuanya.


***


Dari jalan depan sampai pintu rumah Emely, dibawah lampu remang - remang dan cahaya bulan sabit, kedua insan itu sedang bergandengan tangan. Sepertinya sekarang, mereka sudah dalam suasana hati yang baik. Davino tidak lagi menggoda Emely dengan kata cemburu. Emely juga tidak keberatan saat tadi Davino berinisiatif menautkan jemari tangan mereka.


" Aku bisa ikut menginap di sini? " Ucap Davino saat keduanya sudah berada tepat di depan pintu rumah Emely.


" Nggak boleh. " Davino sudah tahu jawabannya.


"Ya udah sayang, kamu masuk dan istirahat. " Davino tidak memaksakan kehendaknya, Walau sebenarnya dia tidak ingin jauh lagi dengan Emely. Davino ingin secepatnya menikahi Emely, agar tidak ada lagi jarak diantara keduanya. Davino akan berjuang untuk itu.


Saat ingin mencium Emely, Emely tiba - tiba menghindar.


"Kenapa?" Tanya Davino yang tidak mengerti mengapa Emely menghindari ciumannya. Emely memilih diam dan tidak menjawab. Diamnya Emely mengingatkan Davino tentang peristiwa di Bar Diamont Star. Soal ciuman itu.


"Aku kan sudah minta maaf sayang ? " Mencoba membela diri.


" Iya aku tahu, tapi apakah dengan kata maaf kamu bisa menghapus bekas lipstick milik wanita itu di bibir kamu? " Ternyata masih cemburu.

__ADS_1


" Emang nempel sayang? " Lihatlah, Davino bahkan terlihat bodoh saat mencoba menghapus lipstick yang pada dasarnya tidak ada di bibirnya. Emely hanya memutar bola matanya malas.


" Tiga Minggu. " Emely akhirnya angkat suara.


"Tiga Minggu untuk? " Tanya Davino yang tidak mengerti apa yang dimaksud Emely. Pria itu bahkan masih sibuk dengan bibirnya.


"Menghilangkan bekas bibir wanita itu di bibirmu. " Sepertinya Emely memang mabuk, lihat saja, dia bahkan mampu bicara frontal di depan Davino.


Kali ini Davino mengerti apa arti dari kalimat yang Emely ucapkan. Raut wajahnya berubah, tidak setuju dengan apa yang dikatakan Emely barusan.


Itu artinya dalam waktu tiga Minggu, dia tidak bisa mencium Emely.


" No, Mel. Please. " Menatap Emely tegas.


"Itu hukuman yang tidak setimpal Mel. Kamu bisa mencari cara lain untuk menghukum ku. Olahraga ekstrim mungkin. " Tawar Davino.


" Tiga Bulan. " Tambah Emely. Emely senang melihat ketidak berdayaan kekasihnya.


" Ok, Deal Mel. " Langsung mengambil tangan Emely menjabatnya. Emely pikir Deal untuk tiga bulan.


" Tiga hari. " Ucap Davino kemudian. Emely yang ingin protes, namun lagi - lagi Davino angkat suara.


" Sudah Deal Mel dan kita sudah sepakat. " Sepakat saat keduanya sudah berjabat tangan tadi, itu maksud Davino. Saat Emely hendak protes, pintu rumah tiba - tiba terbuka.


"Kamu baru pulang Nak? " Yang pasti ini bukan Eduar melainkan ayahnya.


" Iya. " Emely tetap menjawab walaupun suasana hati dan raut wajahnya tiba - tiba berubah.


" Davi, aku masuk dulu. " Ucapnya kemudian.


"Baiklah, istirahat lah yang cukup. " Davino mengatakannya dengan tersenyum. Setelah mendengar itu, Emely hanya mengangguk dan kemudian masuk kedalam rumah.


Saat Davino hendak pergi meninggalkan rumah Emely, Davino di kejutkan dengan pertanyaan ayah Emely yang memang masih belum masuk kedalam rumah.


"Apakah kalian berdua punya hubungan khusus? " Walaupun Davino yakin, ayah Emely pasti sudah tahu bahwa meraka memang sedang menjalin hubungan, sejak Davino mengantar Emely menemui ayahnya waktu itu.


"Apakah kamu benar - benar mencintai putriku? "


Bersambung


Udah dulu yah


Jangan lupa tinggalkan Jejak


_____________________________________________

__ADS_1


Tambahan : Awalnya memang Davino tidak menyelidiki Restoran di mana Emely bekerja. Laki - laki itu, ingin membiarkan Emely bebas bekerja di mana pun wanitanya itu suka dan merasa nyaman dengan pekerjaannya. Namun saat pertama kali Davino menjemput Emely, Davino sempat melihat pria yang berbicara dengan Emely di halaman parkir Restoran dan Davino yakin itu Arlan. Itulah sebabnya Davino menyelidiki semuanya, termasuk karyawan dan sampai pemilik Restoran. Waktu itu Davino tidak memberi Emely kabar, bukan karena Davino marah kepada Emely, melainkan Davino sedang sibuk mencari tahu tentang semuanya itu. Saat ingin menemui Emely, Davino mampir sebentar di Sweet Room dan akhirnya Emely yang waktu itu merasa Davino marah kepadanya lantas mencari Davino sampai di Sweet Room dan terjadilah kejar mengejar waktu itu. Intinya memang Davino sudah tahu kalau Restoran itu milik keluarga Arlan, hanya saja Davino tidak ingin mematahkan semangat dan kebahagiaan Emely. Gadis itu begitu bahagia saat tahu dirinya diterima bekerja di Restoran itu. Itulah sebabnya untuk sementara Davino membiarkannya.


.


__ADS_2