Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 51


__ADS_3

Katakan kepada dunia, bahwa semenjak kau mengenal dirinya. Kau telah mengubah cara pandangmu tentang cinta.Davino Swam. Rani_Sara


________________


Pesta yang diselenggarakan di kediaman Ana, benar - benar mewah. Dilihat dari latar belakang sosial keluarganya dan latar belakang sosial sang tunangan, keduanya memang terlahir dari keluarga kaya.


Biasanya Rayhan akan terlihat senang disisi Ana, selama mereka menjalin hubungan di London. Tapi sepertinya Ana bisa merasakan perubahan sikap calon tunangannya itu, semenjak bertemu Emely kemarin di butik.


Para tamu sudah mulai datang setengah jam yang lalu. Kolega, rekan bisnis dan beberapa teman dekat dari kedua orang yang akan bertunangan malam ini.


Sepertinya malam ini, semua tamu pada adu penampilan. Apalagi para kaum hawa, semuanya berpenampilan modis, elegan dan cantik.


Dapat terlihat Sisil datang dengan kedua orangtuanya.


Berjalan kearah sang sahabat yang sudah tampil cantik dengan gaun putihnya.


Sebenarnya Sisil tidak nyaman dengan situasi ini. Dia belum menyangkah kalau hari ini, sahabatnya Ana akan bertunangan dengan Rayhan. Mantan kekasih sahabatnya yang lain.


Rayhan mengendarkan pandangannya, seperti mencari seseorang diantara banyaknya tamu.


"Nyari siapa? " Tanya Ana yang ada disampingnya.


" Nggak. " Menjawab sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian, acara intipun dimulai. Setelah mengenakan cincin sebagai pengikat hubungan keduanya, Rayhan dan Ana resmi bertunangan. Tepuk tangan tamu pun terdengar menggema didalam rumah besar itu.


Sisil sudah mulai bosan karena tidak ada teman yang bisa diajaknya bicara. Orangtuanya sudah bergabung dengan para rekan bisnis ayahnya. Sedangkan Ana dan Rayhan sibuk meladeni para tamu yang hendak memberi mereka ucapan selamat.


"Andai Emely ada disini. " Bergumam sambil memajukan bibir merahnya. Disaat yang bersamaan Sisil melihat Eduar yang baru saja masuk.


"Jangan bilang Emely datang sama Eduar. " Menatap Eduar yang semakin terlihat tampan dengan memakai pakaian formal. Mengalihkan pandangannya, ketika pandangan matanya bertemu dengan mata coklat milik Eduar.


Masih malu campur kesal, Sisil pura - pura tidak melihat Eduar.


Tapi Sisil juga ingin melihat Eduar. Bolehkah dia berbalik? Menatap Eduar sedikit saja, lalu berbalik lagi?


"Jangan. Gimana kalau Eduar masih ada disana dan melihat kemari? " Malaikat sepertinya memperingatinya.


Ah sudahlah, penasaran. Sisil perlahan melihat kearah dimana Eduar berdiri tadi. Nihil. Tidak ada Eduar disana. Matanya masih sibuk mencari, sampai suara seseorang mengagetkannya.


"Cari siapa? " Mengaruk kepalanya yang tidak gatal, Sisil salah tingkah.

__ADS_1


"Nggak nyari siapa - siapa. " Sangkalnya. Sok bersikap jutek.


"Maaf soal kemarin. " Eduar berucap tulus. Walau sebenarnya dia tidak salah.


" Hahaha, jangan diingatin. Aku baik - baik aja sekarang. " Menghibur diri sendiri.


"Oh yah, kamu kesini sama Emely? " Mengalihkan pembicaraan. Sisil masih malu mengingat kejadian kemarin. Karena terbakar cemburu, tanpa malunya dia bisa - bisanya bilang suka sama Eduar. Tapi dia memang sudah lama suka kan?


" Nggak, aku sendiri... Kak Emely... " Belum menyelesaikan ucapannya. Datang Ana sambil menggandeng lengan Rayhan.


" Eh, Eduar. Kirain pada Nggak datang. Kakak kamu mana? " Dengan santainya Ana bertanya, sambil matanya mencari sosok Emely.


"Kak Emely nggak datang. Kak Emely minta Eduar yang datang ngewakilin kak Emely. " Sambil menjawab, Eduar menatap Rayhan penuh tanya.


"Apa kalian? " Menyadari pertanyaan Eduar.


" Apa sebelum kamu kesini, Emely nggak kasih tahu kalau aku tunangan sama Rayhan? " Eduar sudah mendapat jawabannya. Jadi Rayhan tunangan Ana, adalah Rayhannya kak Emely. Begitu Eduar menyimpulkan.


" Kenapa kakak kamu tidak datang? " Ana bertanya lagi.


"Kak Emely sakit. " Jawab Eduar jujur.


" Emely sakit apa? " Kali ini Rayhan yang bertanya. Ana melirik Rayhan, tidak suka.


"Ana, jangan keterlaluan. " Sisil berucap kesal.


"Lho, aku nggak keterlaluan Sil. Kemarin kita baru aja ketemu dan Emely masih terlihat baik - baik aja. " Menjeda ucapannya.


" Dia memang sengaja nggak datang karena dia belum rela Rayhan tunangan sama aku. " Sisil benar - benar tidak menyangkah Ana bisa berkata seperti itu. Kalau pun Emely memang tidak bisa datang karena tidak ingin melihat Rayhan tunangan sama Ana, setidaknya Ana jangan bicara begitu didepan Eduar, adiknya Emely.


"Sepertinya kak Emely salah memilih sahabat. " Eduar mungkin bisa menerima dirinya dihina dan direndahkan. Tapi ia tidak ingin orang lain menghina kakak perempuannya.


" Apa maksud ucapan kamu? " Sepertinya Ana kesal dan tersinggung dengan ucapan Eduar barusan. Tidak menjawab, Eduar tidak ingin membuat keributan.


" Yang kukatakan itu benar. Emely pasti berbohong. Dia tidak datang karena dia tidak suka melihat aku sama Rayhan tunangan. Dia masih cintakan sama Rayhan? " Masih tidak percaya kalau Emely beneran sakit.


"Ana. " Suara tegas Rayhan.


" Kamu membentakku Ray? " Menatap kearah Rayhan.


"Gara - gara mantan pacar kamu itu? Ray, kamu belum sadar juga, Emely itu udah tidur sama cowok lain. Dia udah nggak pantas buat kamu. " Yah ampun, Ana semenjak pindah ke London, sudah berubah 180 derajat.

__ADS_1


"Ana." Sisil membentak. Menghentikan ucapan Ana, yang sudah mulai keterlaluan.


"Kamu bilang apa tadi? " Sudah hilang kesopanan Rayhan, pada sahabat kakaknya itu.


" Kak Emely udah tidur dengan seorang pria? " Ana sadar akan ucapannya tadi. Kali ini, dia memilih diam.


" Kau pikir kakakku serendah itu? "


"Eduar... " Sisil meraih tangan Eduar. Berusaha membujuk dan membawa Eduar keluar. Sisil tidak ingin Eduar tahu yang sebenarnya.


" Jaga ucapan kamu. Kak Emely walaupun dirumah sakit, dia tetap nyuruh aku buat datang ke pesta pertunangan kalian. Kamu pikir dia berbohong? Silakan kamu datang sendiri ke rumah sakit. Jika kamu belum percaya. Dia bahkan menitipkan ucapan selamat untuk kalian. " Keributan itu akan berlanjut jika Sisil tidak berhasil menyeret Eduar keluar.


"Kamu keterlaluan. " Rayhan meninggalkan Ana.


Sementara itu, Sisil sudah berhasil mengajak Eduar ke halaman.


" Emely beneran sakit? " Kali ini Sisil yang bertanya.


"Kamu juga berpikir, aku berbohong. " Sepertinya Sisil baru kali ini, melihat Eduar marah. Tapi kok, kalau marah Eduar tambah ganteng dan terlihat dewasa yah. Sisil makin suka.


Mengibaskan tangannya, Sisil tertawa gugup.


"Aku nggak ada maksud, bilang Emely bohong atau kamu bohong. Aku hanya memastikan aja. " Berusaha menjelaskan.


" Kan waktu kemarin, aku kerumah kamu dan Emely masih baik - baik aja. Bahkan dia nyusul aku ke butik. " Kan kalau sakit, pasti udah ada gejalanya kan? Tapi seingat Sisil, sahabatnya itu masih baik - baik saja.


Menarik nafas kasar, Eduar menarik tangan Sisil.


"Kita mau kemana? " Bertanya sambil terus mengikuti langkah panjang Eduar yang menariknya.


"Rumah sakit. " Disaat yang bersamaan Taxi muncul, entah dari mana.


B E R S A M B U N G


__________


Part kali ini nggak ketemu Davino sama Emely dulu yah.


Kan ceritanya di part ini masih seputaran pertunangan Ana sama Rayhan.


Sabar aja, Davino pasti muncul di part selanjutnya.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.


__ADS_2