Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 23


__ADS_3

"Tunggu. bagaimana kau tahu nama gadis itu? Apakah kau mengenalnya Davi? " Davino lagi - lagi hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ayolah Davi, mengangkat kedua bahumu tidak akan memuaskan keingintahuanku. " Alex benar - benar dibuat penasaran oleh Davino. Alex tahu semua wanita yang mengenal Davino, adalah wanita yang mungkin pernah tidur dengan Davino.


Tapi apakah gadis yang ditemuinya itu, juga pernah tidur dengan Davino. Apakah dia harus patah hati sebelum waktunya. Tapi tunggu, bukankah semua gadis yang ditidurinya bahkan tidak satupun diingat namanya oleh Davino, namun Emely? Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada rasa penasaran yang menjalar dipikirannya.


"Dari mana Davino mengenal Emely? Aku harus memancingnya. ".Gumamnya.


Mengambil posisi duduk disamping Haizel.


" Haizel apa kau tahu aku bertemu bidadariku itu di... " Alex kembali menceritakan sosok gadis yang ditemuinya, kali ini kepada Haizel. Namun ucapannya menggantung ketika suara seseorang terdengar jelas di telinganya.


"Bidadariku? " Davino merasa terusik dengan sebutan Alex untuk Emely.


Kali ini Alex mengangkat kedua bahunya, membalas Davino tepatnya.


Dia sepertinya menceritakan banyak hal kepada Haizel, tapi Davino tidak tahu apa yang dia ceritakan. Karena kali ini Alex hanya membisikan itu ditelinga Haizel. Namun lagi - lagi Davino tidak perduli. Dia hanya sibuk dengan memutar - mutar gelas yang ada di atas meja.


"Apakah kalian sudah selesai? " Terlihat kesal karena sedari tadi dia diacuhkan oleh kedua sahabatnya itu.


"Ada apa men? " Tanya Haizel mengambil gelas yang disodorkan Davino padanya.


" Pesankan minuman lagi, aku ingin minum sepuasnya malam ini. " Tidak perduli sudah berapa botol wine yang sudah tandas isinya, berjejer rapi di atas meja didepan mereka.


***


Tepatnya dua minggu setelah selesai pengobatan dengan menggunakan terapi radiasi atau radioterapi untuk ibu Emely, hari ini beliau sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


" Oh yah sus sampaikan terima kasih saya kepada dokter Alexander. Karena beliau sudah merawat ibu saya dengan sangat baik. " Ucap Emely kepada perawat yang sedang mengecek kondisi terakhir ibu Elisa sebelum beliau meninggalkan rumah sakit.


"Iya nona, nanti saya sampaikan. " Tersenyum kearah Emely dan ibunya.


***


Sudah dua hari semenjak kepulangan ibu Emely, namun Emely tidak kunjung pergi bekerja di Bar kak Boy. Emely takut jika kejadian dua minggu lalu, terulang padanya. Namun mengingat sebentar lagi uang yang dipinjamnya dari rentenir jatuh tempo dan setidaknya dia harus membayar bunganya dulu. Mau tidak mau dia harus pergi bekerja, Emely tidak ingin menerima gaji buta tanpa ia melakukan pekerjaan. Ia ingat bahkan bulan ini, dia banyak sekali meminta ijin kak Boy. Rasanya dia harus menolak jika kak Boy membayar gajinya full untuk bulan ini.


***


Siang itu Emely meninggalkan ibunya sebentar karena persediaan makanan dirumahnya telah habis. Supermarket terdekat merupakan tujuan gadis cantik yang memakai dress rumahan tersebut.


"Telur sama mie udah." Emely tengah sibuk memeriksa barang belanjaannya sampai tiba - tiba suara seseorang memanggil namanya. Membuat Emely mengangkat kepalanya, mencari dimana sumber suara yang memanggilnya tadi.


"Emely. " Seorang pria yang tengah berdiri disamping mobilnya diparkiran supermarket, mengangkat satu tangannya melambaikan.

__ADS_1


"Dokter Alex..." Emely pun menghampiri pria yang tengah tersenyum kearahnya itu.


" Dokter kenapa bisa ada disini? Apa dokter juga hendak berbelanja? " Tanya Emely yang sudah berdiri dihadapan Alex.


"Kalau diluar rumah sakit, panggil Alex aja. Kan udah dikasih tahu waktu itu. " Protes Alex tidak ingin Emely menyebut profesinya didepan namanya jika berada diluar rumah sakit.


"Maaf dok. Eh maaf Alex. " Alex mengerutkan dahinya, karena Emely sepertinya masih canggung memanggil namanya. Karena mereka memang tidak seakrab itukan? Mungkin Alex nya saja yang ingin mengakrabkan diri dengan Emely.


" Aku hanya lewat saja dan tidak sengaja lihat kamu. Jadi sekalian aku samperin. Masa lihat teman, aku main pergi saja. " Ucap Alex santai, namun tidak dengan Emely yang masih merasa canggung.


Sejak kapan mereka jadi teman? Dan dimana sikapnya yang kalem dengan wajah seriusnya saat di rumah sakit.


"Mel..." Astaga Emely melamun dan kenapa dokter tampan yang ada didepannya saat ini, dengan santainya memanggil namanya dengan sangat akrab seperti itu, membuat Emely salah tingkah saja.


"Gimana keadaan ibu kamu? " Tanya Alex ketika Emely sudah tersenyum padanya, memaksa tersenyum tepatnya.


"Baik. Oh yah makasih sudah merawat dan...." Lagi - lagi Alex memotong ucapan Emely. Dia memang jauh lebih cerewet yah, jika berada diluar rumah sakit.


"Berterima kasihlah dengan tulus Mel. " Ucap Alex santai, membuat Emely lagi - lagi salah tingkah. Dia benar - benar tulus mengucapkan terima kasih tapi kenapa Alex mengatakan seperti itu, sama saja Alex menuduhnya berterima kasih tidak tulus.


"Kalau kau ingin berterima kasih dengan tulus, makan malam lah denganku. " Emely nampak bingung dengan permintaan Alex. Kemarin mengajaknya minum kopi sekarang mengajak makan malam.


"Maaf saya tidak bisa. " Emely sudah belajar dari kesalahannya. Dia tidak ingin dijebak atau dimanfaatkan lagi. Bisa saja laki - laki didepannya ini, menaruh obat tidur atau serbuk apa saja yang membuat dia kehilangan kesadarannya dan nantinya dia harus berakhir ditempat pelelangan atau hotel. Kali ini tidak bisa, dia harus waspada pada semua orang. Apalagi orang yang baru dikenalnya.


Alex menyadari jika Emely berusaha menghindar atau lebih tepatnya berfikir buruk tentang dirinya.


Emely langsung mengangkat tangannya, melambaikan. " Bukan seperti itu Alex, hanya saja saya... "


"Kamu kenapa? Takut aku jahatin kamu. " Kenapa sih ucapan Alex mengena kayak gini. Membuat Emely tidak enak hati. Kalau niat Alex memang baik, akan membuat Emely benar - benar tidak enak hati.


"Kamu benar - benar tidak tulus berterima kasih Mel. " Oh Tuhan, laki - laki ini benar - benar cerewet. Akhirnya Emely mengangguk dari pada urusannya makin panjang. Lagian ibunya sendiri di rumah, ia harus segera pulang.


"Aku tidak mengerti Mel, kamu mengangguk untuk apa. "


"Iya aku akan makan malam dengan kamu. " Bukannya senang, Alex malah menatap Emely dengan serius. "Kamu yakin Mel? " Ya Tuhan menyebalkan kan, bukannya tadi dia yang meminta Emely makan malam dengannya dan dia juga yang mengucapkan kata - kata yang membuat Emely akhirnya menyetujui makan malam bersamanya. Tapi apa sekarang? dia bertanya seperti itu.


"Aku yakin. Kalau kamu yang tidak yakin, ya sudah. Tidak usah kalau begitu. " Habis sudah kesabaran Emely.


"Aku hanya bercanda Mel, ok jam tujuh aku jemput. " Berfikir "Tunggu - tunggu, aku jemput dimana yah Mel? "


"Diujung jalan itu. " Menunjuk jalan yang tidak jauh dari rumahnya. "Baiklah nona, aku akan menjemputmu tepat waktu. " Setelah mengatakan itu Alex langsung pergi begitu saja. Emely lebih memilih cepat - cepat pulang kerumahnya.


***

__ADS_1


Sebelumnya Emely meminta ijin kak Boy untuk masuk sedikit terlambat malam ini. Emely akan makan malam dengan Alex setelah itu dia bisa meminta pria itu mengantarnya ke tempat kerja.


Disinilah Emely sekarang, kediaman keluarga Hardian, setelah tadi Alex benar - benar menjemputnya tepat waktu. Jantung Emely berdegup kencang, bukan karena takut atau tidak enak duduk semeja dengan orang tua Alex. Tapi dia takut kepada laki - laki yang ada didepannya saat ini.


"Tante sengaja mengundang kamu Davi makan malam disini, soalnya sudah lama kamu tidak pernah datang kesini. Mendengar Alex ingin makan malam di rumah, membuat tante langsung menghubungi kamu. " Ini ucapan tante Alea, ibunya Alex.


"Iya tante terima kasih telah mengundang saya. " Ternyata dia bisa bersikap sangat manis pada orang tua Alex. Mungkin itu yang ada dipikiran Emely saat ini. Walaupun dia menunduk, dia bisa melihat kelembutan dari suara Davino pada tante Alea.


"Kalau kamu Emely, terima kasih sudah datang memenuhi undangan Alex. " Kali ini Emely mengangkat wajahnya, melihat kearah tante Alea yang mengajaknya bicara.


"Seharusnya Emely yang berterima kasih tante. Emely bisa makan enak malam ini, gratis lagi. " Ucap Emely tersenyum kearah tante Alea, senyumnya kembali memudar ketika matanya tidak sengaja bertatapan dengan pria yang ingin sekali dihindarinya itu. Jika dari awal dia tahu Alex dan keluarganya mengenal pria itu, Emely akan menolak mentah - mentah tawaran Alex. Walaupun Alex akan memandangnya seperti kacang lupa pada kulitnya, biarlah. Toh dia juga membayar biaya administrasi untuk pengobatan ibunya. Jadi sudah sewajarnya jika Alex melakukan perannya sebagai seorang dokter.


"Oh yah, gimana keadaan ibu kamu Mel? Maaf sebelumnya, kata Alex ibumu kena kanker darah? " Pertanyaan tante Alea membuat Davino kaget sekaligus dia mungkin akan menyumpahi ibu Emely kalau penyakitnya itu pantas karena perbuatannya yang menjual anak gadisnya ditempat pelelangan wanita.


"Sudah berangsur baik tante. Terima kasih atas perhatiannya. "


" Baguslah kalau begitu. Tante doakan ibu kamu bisa sepenuhnya sembuh yah Mel. " Satu yang Emely tahu saat ini, ibu Alex sangat baik. Walaupun dia cerewet tapi dia seperti Alex, cepat mengakrabkan diri.


"Memang sudah berapa lama ibu kamu sakit? " Emely ragu - ragu menjawab. Bukan karena dia lupa kapan ibunya mulai sakit. Tapi lebih kepada sih penanya yang tak lain adalah Davino. Emely memilih tidak menjawab, sampai suara tante Alea juga menanyakan hal yang sama pada Emely.


"Iya Mel, sudah berapa lama ibu kamu sakit? " Sementara Alex sudah merasa bahwa Emely mulai tidak nyaman dengan pertanyaan mengenai seputaran penyakit ibunya.


"Sudahlah mam, kita lagi makan malam kan? Nggak enak loh sama Emely nya. "


"Maaf yah Mel. Tante jadi nggak enak sama kamu. " Mendengar ucapan Alex barusan membuat tante Alea merasa tidak enak kepada gadis yang selalu tersenyum namun sesekali menunduk itu.


" Tidak apa - apa tante, Emely senang kho ada yang perhatian sama ibu selain Emely dan Eduar. "


"Eduar siapa Mel? " Astaga bukannya tadi Alex sudah mengingatkan ibunya bahwa mereka sedang makan malam bukan mengintrogasi Emely.


"Adik saya tante. " Emely tetap menjawab.


"Ayah kamu? " Alex bahkan frustasi sendiri. Ini belum lamaran kan, kalau kayak gini Emely akan nolak lebih dulu. Kenapa ibunya punya kebiasaan seperti dirinya sih, selalu bertanya mendetail kayak gitu, kayak kereta api nggak putus - putus dari tadi.


Setelah mendengar pertanyaan tentang ayah dari tante Alea, Emely langsung bungkam. Dia harus menjawab apa? Dimana ayahnya sekarang dia juga tidak tahu.


"Mel kita makan di restoran aja yah. " Alex sudah meletakkan alat makannya.


"Iya - iya mami nggak akan ngomong lagi. Sekarang kita makan yah. Ayo semuanya ambil lauknya. " Tante Alea tahu, kalau Alex hendak mengajak Emely makan diluar karena sedari tadi ibunya itu banyak bertanya pada Emely. Padahal dipikir - pikir mereka baru saja bertemu. Setelah itu mereka makan malam dalam diam.


__________________


Ah pada pelit like, koment apalagi vote...

__ADS_1


padahal aku ngga pelit buat nulis lho. hahaha


Saya berharap kalian suka dengan karya saya. Jika masih banyak kekurangan, itu karena saya baru belajar menulis. Tidak apa - apa kalau ada kritikan dan masukan. okay....


__ADS_2