
Menatap langit kamar dengan mata sayu, ucapan David yang sangat melukai hati, membuat gadis dengan gaun tidur berwarna putih itu, enggan terpejam. Bahkan dia melewatkan makan malamnya. Jangankan mengangkat panggilan telpon, bahkan Emely sama sekali tidak membalas satupun pesan chat dari Davino.
Sementara diujung sana, Davino menjambak rambutnya frustasi. Mengapa tidak, Emely sama sekali tidak membalas chat dan juga tidak mengangkat telpon darinya. Semenjak kepulangan sang ibu dari apartemennya, Davino hanya membersihkan dirinya, kemudian menghubungi Emely yang hingga hampir tengah malam tak kunjung memberinya kabar.
"Please, angkat telpon aku Mel. " Menekan angka 1, Davino mencoba menghubungi Emely lagi. Namun dan lagi - lagi Emely tidak menjawab. Davino membanting benda tipis itu kearah sofa, benda itu memantul dan akhirnya jatuh ke lantai.
***
"Apa aku memang tidak pantas untuk Davi?"
" Apa aku terlalu cepat menerima cintanya Davi? "
"Bagaimana kalau Davi hanya mempermainkan perasaan aku aja?"
Entah mengapa keraguan itu muncul ketika beberapa kalimat yang terlontar dari bibir David tadi saat di Restoran. Hingga kalimat terakhir yang melintas dipikirannya, perlahan kesadaran gadis itu mulai menghilang bersama pejaman matanya. Dia tertidur.
__ADS_1
"Aku nggak bakalan ninggalin kamu Mel. " Suara itu terdengar pelan, namun sangat jelas terdengar ditelinga gadis yang terlelap itu.
Davino yang tidak kunjung mendapat kabar dari Emely, memilih pergi menemui Emely malam itu juga. Seperti biasa laki - laki, dengan mengenakan jaket serba hitam itu, dengan mudah memasuki kamar wanita yang membuatnya frustasi seharian ini.
Namun sesampainya dikamar Emely, wanita itu tengah tertidur, ada kalimat yang terlontar dari bibir wanita itu dalam tidurnya. Dalam ketidaksadarannya Emely mengatakan "Jangan pergi. " Entah apa yang dimimpikan wanita itu.
Davino mengusap lembut pucuk kepala wanita itu. Membelai wajah cantiknya. Jika sudah melihat Emely seperti ini, Davino bisa merasa tenang. Emelynya masih disini, masih untuknya dan masih miliknya. Davino berharap besok dan seterusnya dia bisa selalu melihat wajah wanita itu. wanita yang sudah sepenuhnya mengisi hatinya.
Memilih pergi setelah melihat Emely. Melihat wanita itu terlelap, Davino tidak tega membangunkannya. Walaupun dia ingin sekali menanyakan kenapa Emely tidak memberinya kabar dan tidak pernah menerima telpon darinya.
***
"Apa semalam Davi kesini? " Meraih ponselnya Emely lebih memilih menghubungi pria itu. Semalam Emely hanya butuh waktu untuk sendiri, makanya dia memilih untuk tidak mengangkat telpon dari pria itu.
Degan cepat Davino menggeser tanda hijau yang ada di ponselnya saat mengetahui siapa yang menelponnya sepagi itu.
__ADS_1
"Hai sayang." Sapanya seperti biasa. Seperti tidak ada masalah diantara keduanya. Bagi Davino mereka memang tidak memiliki masalah.
"Kamu datang kesini?" Emely langsung menanyakan itu.
"Iya. Kok kamu tahu. Padahal aku baru mau kasih tahu kamu kalau aku udah ada didepan. " Maksudnya?
Emely langsung membuka pintu jendelanya. Benar saja pria itu sedang berdiri di samping mobilnya, mengangkat satu tangannya melambai kearah Emely yang tersipu saat melihat penampilannya. Dengan cepat Emely menutup jendela kamarnya, agar Davino tidak melihatnya. Davino tersenyum, dia tahu Emelynya sedang malu.
"Kamu kenapa bisa ada disini. " Tanya Emely.
"Aku jemput kamu. Siap -siap sana, nanti kamu terlambat. "
"Kemana?"
"Ya ampun sayang. Kamu lupa kalau hari ini udah mulai kerja."
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak kasih tahu aku dari tadi. " Emely langsung memutuskan sambungan telpon. Berlari masuk kedalam kamar mandi. Davino hanya menggeleng kepala dan memilih menunggu wanita itu didalam mobil.