Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 94


__ADS_3

Tidak butuh lama bagi Davino untuk bisa sampai di apartemen pribadinya. Davino turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu mobil sisi satunya lagi. Disaat Davino hendak mengangkat tubuh mungil Emely, Emely seketika menggeliat dan membuka matanya perlahan.


" Kita di mana? " Tanya Emely. Emely belum seutuhnya mengumpulkan kesadaran nya. Davino yang hendak mengangkat nya pun menghentikan gerakan tangannya.


"Kita ada di basemen Apartemen " Ucap Davino sambil menyelipkan beberapa helai rambut Emely ke sisi telinga.


" Aku mau pulang Davi. " Ucapnya sambil tangannya memijat bagian dahinya. Pening dan matanya sedikit mengabur.


" Kamu istirahat di sini Mel, aku akan mengantarmu besok pagi. " Hendak mengajak Emely untuk turun dari dalam mobil, namun Emely menolak.


" Aku mau pulang. " Sudah mulai dengan rengekan.


"Ini sudah sangat malam sayang. Aku benar - benar capek untuk bisa menyetir lagi. " Ini bukan alasan yang di buat - buat oleh Davino, tapi sungguh dia sangat lelah. Seharian ini, dia mencari Emely, sudah berapa tempat dia datangi, belum lagi makan malam keluarga, ke Bar Diamond Star, Sweet Room, ke tempat mantan bodyguard nya dan terakhir Davino harus mengendarai mobilnya ke Apartemen.


"Aku bisa pulang sendiri. " Emely hendak turun dari dalam mobil, secara perlahan dia mensejajarkan kakinya di lantai basemen apartemen.


Di saat Emely hendak melangkah menuju sisi depan Basemen, Davino menyusulnya. Tanpa persetujuan Emely, Davino langsung mengangkat tubuh Emely ala Bridal style, sekuat apapun Emely meronta hal itu tidak membuat Davino melepaskannya.


" Turunkan aku. " Pintanya. Namun Davino tetap berjalan ke arah life. Protesnya Emely karena dia masih ingat kejadian di mana Davino bercumbu dengan Rossa. Davino bahkan belum menjelaskan apa pun padanya.

__ADS_1


" Silent Emely. Kamu bisa membangunkan penghuni yang lain. " Ucap Davino saat mereka sudah berada di depan pintu apartemen, di saat Emely masih meminta nya untuk menurunkannya. Menekan pass key dengan susah payah, ketika pintu apartemen itu terbuka Davino segera masuk ke dalamnya dan dengan hati - hati menurunkan Emely di Sofa yang ada di ruang depan.


" Aku membencimu Davi. " Kalimat itu keluar dari bibir Emely ketika Davino baru saja menurunkannya. Davino tidak menanggapinya. Pria itu memilih berjalan ke arah dapur, mengambil sebotol minuman di dalam lemari pendingin.


"Aku akan mengantarkan mu besok Mel. Jangan membantah lagi. Masih ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu, namun aku memilih untuk tidak membahasnya malam ini. " Davino ingin menanyakan kenapa Emely bisa ada di tempat itu? Kenapa Emely membohonginya? Namun Davino tahu ini bukanlah waktu yang tepat.


"Kita bisa membahasnya malam ini jika kamu mau Davi. " Emely juga ingin menanyakan kenapa Davino membohonginya? Kenapa Davino bisa bersama Rossa dan kenapa mereka bisa bercumbu di depan Bar milik Kak Boy. Emely ingin semuanya jelas saat itu juga. Walaupun sebelumnya Davino telah menjelaskannya pada Emely.


"Aku capek Mel dan aku tidak ingin membahas apa pun malam ini. " Davino menyodorkan botol air ke arah Emely, namun Emely tidak mengambilnya dari tangan Davino. Davino lantas menaruhnya di atas meja tepat di depan Emely. Davino tahu kekasihnya sedang merajuk.


" Kalau tidak ada yang perlu di bahas, kenapa kamu tidak mengantarku pulang saja. " Kali ini Emely mengambil botol minuman yang tadinya di berikan Davino padanya. Meminumnya dengan sedikit kesal. Meletakkannya lagi ketika minuman itu tersisa separuh.


"Jadi kamu tetap mau pulang Mel? " Tanya Davino yang gantian mengambil air itu dan kali ini meminumnya hingga tandas. Berharap minuman dingin yang baru saja melewati kerongkongannya bisa menghilangkan dahaga sekaligus rasa panas yang mulai naik ke atas kepalanya. Sungguh pria itu juga sebenarnya menahan kesal, kesal dan marah kenapa Emely bisa ada di Sweet room bersama Arlan.


"Ya sudah, aku akan mengantarmu pulang. " Menghembuskan nafas kasar, Davino mengambil kunci mobil yang baru saja diletakan di atas nakas. Memilih mengalah Davino lantas menuju pintu apartemen.


***


Hening,,,

__ADS_1


Ditambah jalanan yang tidak seramai tadi, membuat suasana didalam mobil semakin mencekam. Davino fokus pada jalanan yang ada di depannya, Emely memilih diam menatap lurus ke depan. Tinggal belokan terakhir sebelum sampai di rumah Emely, namun kedua insan itu memilih tenggelam dengan pikiran masing - masing.


Davino memikirkan kenapa Emely bisa bersama Arlan, sampai gadis yang di cintainya itu juga ikut - ikutan minum bersama Arlan dan beberapa orang yang Davino lihat tadi. Sementara Emely, tidak bisa menghilangkan bayangan Davino dan Rossa yang tadi berciuman di Bar.


"Kenapa kamu bisa . . . " Kalimat ini baru saja keluar dari mulut keduanya. Sehingga keduanya memilih tidak melanjutkan apa yang ingin mereka tanyakan.


"Kamu duluan Mel, " Davino memilih memberikan kesempatan kepada Emely untuk bicara. Davino berharap Emely bisa menjelaskan apa yang membuat Emely sampai membohonginya. Karena sungguh saat ini hati Davino sedang tidak baik - baik saja. Davino hanya berusaha mengendalikan dirinya, agar jangan sampai tindakan dan tutur katanya menyakiti Emely.


" Kenapa kamu bisa bersama gadis itu? " Bukan penjelasan yang Davino dengar, melainkan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Davino meyakinkan dugaannya, kalau Emely melihat dia bersama Rossa dan soal ciuman itu sudah pasti Emely juga melihatnya.


"Apakah kamu juga melihat aku dan Rossa. . . ? " Kali ini Davino tidak melanjutkan kalimatnya. Davino hanya berusaha menjaga perasaan Emely walau dia sendiri tahu, bagaimana perasaan Emely melihat dia mencium Rossa. Menyesal mungkin itu yang Davino rasakan saat ini.


" Jika kamu ingin bersama wanita itu, kenapa kamu masih mendekatiku Davi. " Kali ini Emely menatap Davino yang ada di sampingnya. Ada getaran di suara Emely. Wanita itu sedang menahan tangis.


" Jangan - jangan selama ini kamu cuma pura - pura baik sama aku. Pura - pura perduli dan pura - pura . . . " Kalimat Emely menggantung. Davino tahu apa yang akan Emely ucapkan selanjutnya. Davino seketika menghentikan mobilnya. Syukurlah mereka sudah ada di kompleks dekat rumah Emely yang memang di jam seperti itu, sudah jarang ada kendaraan mondar mandir di jalanan.


" Kamu ngomong apa sih Mel, kok ngelantur. " Kali ini Davino menatap Emely, menatap tidak suka. Bukan tidak suka pada Emely, tapi kepada kalimat yang baru saja di lontarkan Emely padanya.


" Aku tidak pernah pura - pura soal perasaan aku ke kamu, Mel. Tanpa aku bicara pun kamu sudah tahu kalau aku perduli, aku sayang dan aku juga cinta sama kamu. " Davino mengatakannya dengan tulus, bahkan sorot matanya membenarkan apa yang di katakan ya barusan.

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu bisa sama Rossa, Davi?" Memilih memukul lengan Davino, Emely sudah tidak mampu menahan air matanya.


" Kenapa kamu bisa bercumbu dengan wanita itu? Aku melihat semuanya. Aku sakit hati, aku . . . " Davino mengubah posisi tubuhnya, menarik tubuh Emely yang bergetar kearah pelukannya, memeluk Emely sambil berkali - kali mengatakan maaf.


__ADS_2