
Mendengar ungkapan rindu dari seseorang yang dicintainya, membuat malam seorang Davino Swam berbeda dari sebelumnya. Pria dewasa yang mulai memberikan sepenuh hatinya untuk seorang gadis. Gadis yang bahkan tidak pernah terlintas dipikirannya sebelumnya. Gadis yang pernah sangat - sangat disakitinya. Gadis yang kini bahkan membuat matanya sulit terpenjam, hanya karena gadis itu mengatakan rindu padanya. Bolehkah dia menyimpulkan bahwa ini adalah awal yang baik, untuk berharap gadis itu menerima cintanya?
Waktu sudah menunjukan pukul 03 : 05 dini hari. Disaat orang lain sedang mengarungi mimpi indah, namun tidak dengan Davino. Baginya tanpa tidurpun dia sudah bermimpi. Bermimpi gadis yang biasa mengatakan kalimat benci, berubah menjadi kalimat rindu padanya. Andai Davino merekamnya tadi, mungkin saat ini sudah berapa kali ia mengulang ucapan Emely itu.
" Ternyata cinta bisa membuat aku yang waras ini, menjadi kurang waras. " Senyum - senyum sendiri sambil menerawang kelangit - langit kamar. Seolah menonton video Emely yang saat itu tengah malu - malu mengatakan rindu padanya.
" AKU CINTA PADAMU. " Berteriak sesuka hatinya. Berdoa saja, agar penghuni apartemen lain tidak datang menggedor pintu apartemennya. Karena terganggu dengan teriakan pria yang seolah berputar hanya dengan dunianya sendiri itu.
" Aku harap suaraku mampu menembus ruang dan waktu dan mampu mencapai telingamu Emely. "
"AKU MERINDUKANMU. " Berteriak kembali. Bodoh amatlah, jika ada penghuni apartemen lain yang merasa terganggu. Untuk saat ini, dunianya hanyalah Emely. Oh gadis itu, apa dia juga memikirkan dan merindukan dirinya? Seharusnya Davino melihat sendiri, emely bahkan sedang tertidur pulas saat ini. Berbeda dengan dirinya yang tidak bisa tidur hanya karena kata rindu. Kalau Emely bilang cinta, bisa - bisa Davino tidak akan tidur selama seminggu.
Berharap pagi cepat menyingsing karena sungguh dia sangat rindu gadis itu. Semalam saat Emely mengatakan rindu padanya, gadis itu sudah tidak bisa diajak bicara. Dia hanya menunduk malu. Bahkan kalimat terakhir yang Davino dengar dari bibir gadis itu hanya kalimat mengantar dirinya pulang. Saat sampai dirumah pun Emely langsung masuk kedalam rumah tanpa berkata apa pun padanya.
"Aku akan mengajaknya kencan besok. " Merencanakan sesuatu yang belum pernah dilakukannya.
" Aku harus bertanya pada Haizel dan Alex. Bagaimana caranya supaya kencan dengan pasangan itu bisa berkesan. " Bolehkan dia menganggap Emely sebagai pasangannya? Davino akan berjuang untuk itu.
***
Emely menggeliat dan membuka perlahan matanya. Ponselnya yang tidak di silent, deringnya seperti alarm suara ibunya disaat membangunkannya waktu sekolah dulu. Siapa yang menghubunginya sepagi ini? Emely meraih ponselnya, tertera nama pria yang semalam membuat wajahnya merona.
" Hhhmm. " Jawabnya malas.
"Keluarlah, aku ada didepan rumahmu. " Emely membuka matanya lebar - lebar. Ini baru jam 05 pagi. Untuk apa pria itu ada didepan rumahnya sepagi ini.
" Ngapain? Aku masih ngantuk. " Tolaknya. Sungguh dia masih malu bertemu Davino.
"Apa aku aja yang masuk ke kamarmu? Kamu bisa tidur, aku bisa membopongmu kedalam mobil. " Emely langsung bangun dari ranjangnya. Pria itu pasti akan melakukannya, jika Emely mengabaikannya.
" Iya, tunggu sebentar. " Menuruti saja maunya. Emely memutuskan sambungan telpon. Berjalan malas kearah kamar mandi, mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Setelahnya, dia hanya menyisir rambutnya. Bodoh amatlah, Davino melihatnya memakai baju tidur dengan wajah polosnya. Toh, pria itu sering melihatnya seperti itu.
Davino tersenyum saat melihat gadis itu keluar rumah. Davino yakin Emely benar - benar masih mengantuk.
"Ada apa? Kenapa kamu kesini? " Bertanya namun hanya sekali - kali menatap Davino, lalu menatap kearah lain. Berusaha menghindari tatapan Davino padanya.
__ADS_1
" Melihatmu. " Emely membulatkan matanya. Hanya karena itu, Davino datang kerumahnya sepagi ini. Bahkan mengganggu tidurnya. Tidak bisakah dia datang siang hari atau sampai matahari muncul tanpa malu - malu seperti dirinya.
" Kamu bilangkan, kemarin merindukanku. Aku hanya datang untuk mengobati rindumu itu. " Bisakah Davino tidak mengingatkan Emely akan hal itu. Tapi disini sebenarnya pria itu yang sangat merindukan Emely. Davino menahan senyum diujung bibirnya, melihat wajah merona campur kesal milik gadis yang ada didepannya saat ini.
"Lalu...? " Kali ini Emely menatap Davino.
"Lalu untuk apa kamu masih disini? " Ucap Emely kemudian. Davino mengerutkan dahinya tidak mengerti.
" Lalu untuk apa kamu masih disini. Rinduku sudah terobati. Kamu sudah datang dan aku sudah melihatmu. Sekarang pulanglah. " Emely mengusirnya.
" Mel, kamu serius ngusir aku? " Tanyanya dengan wajah memelas.
" Iya. Kan kamu yang bilang kalau kamu hanya datang untuk mengobati rinduku. Sekarang rinduku sudah terobati. Jadi untuk apa kamu masih berlama - lama disini. Pulang sana." Kalau saja Haizel atau Alex melihat dia seperti ini, pasti kedua sahabatnya itu sudah tertawa sampai kencing dicelana. Melihat ketidak berdayaan seorang Davino yang tidak pernah diusir oleh seorang gadis selama hidupnya, yang selalu mengusir gadis yang mengejarnya. Lalu sekarang diusir seorang gadis. Apakah ini karma baginya?
"Mel, yakin nih aku pulang. " Sudah mulai membuka pintu mobilnya.
"Yakin. Bahkan sangat yakin. " Emely berucap sambil melipat tangannya didada.
"Mel, aku pergi nih. " Bilang pergi, namun hanya kaki satunya yang baru masuk dalam mobilnya.
Davino akhirnya menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan Emely. Emely mulai berbalik kearah rumahnya ketika mobil Davino sudah pergi. Namun belum sampai dipintu rumah, dia bisa mendengar suara mesin mobil yang berhenti dijalan tempat mobil Davino tadi.
Emely berusaha mengabaikannya. Mungkin saja mobil lain. Namun saat tangannya memegang handle pintu, hendak masuk kedalam rumahnya. Seseorang telah memeluknya dari belakang.
"Aku datang karena aku merindukanmu. " Emely ingin berbalik, menatap pria yang memeluknya saat ini. Namun pria itu menahan posisi tubunhya. "Tetaplah seperti ini. Lima menit saja Mel, tetaplah seperti ini. " Ucapnya dengan penuh ketulusan.
***
"Mel, kamu sudah bangun? " Oh tidak, itu suara ibunya. Emely bergerak gugup sambil melepaskan pelukan pria itu. Namun pria itu, bahkan tidak terusik dengan suara ibu Emely. Biarlah ibu Emely tahu bahwa dia mencintai anak gadisnya.
"Davi, ibu. " Ucap Emely takut - takut.
" Memang kenapa? " Apa yang Davino katakan tadi? Emang kenapa? Astaga pria itu, jantung Emely saja ingin copot karena mendengar suara ibunya. Bagaimana jika ibunya melihat anak perempuannya dipeluk seorang pria dipagi hari, didepan rumahnya. Bisa - bisa sepanjang hari ibunya akan mengomel padanya.
"Biar aja ibumu tahu. Supaya sekalian ibumu menikahkan kita. " Emely tidak habis pikir dengan jalan pikiran Davino. Emely saja belum yakin kalau Davino benar - benar mencintainya.
__ADS_1
"Kamu itu yah, suka asal kalau ngomong. Lepasin, cepatan pergi. Nanti keburu dilihat ibu. " Sekuat tenaga Emely membuka tangan Davino yang melingkar diperutnya. Namun pria itu bergeming.
" Aku akan melepaskanmu. Tapi dengan satu syarat. " Menggunakan kesempatan. Davino yakin disaat situasi seperti ini, Emely tidak memiliki pilihan lain selain mengabulkan syaratnya.
"Kamu itu yah, cari kesempatan dalam kesempitan. " Gerutu Emely.
"Biarin. " Sungguh Davino seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Tapi dia memang baru jatuh cinta kan?
"Yah sudah, cepat katakan apa syaratnya. " Emely yakin saat ini ibunya sedang masuk kamarnya yang memang tidak dia kunci tadi dan mencarinya.
" Aku akan melepaskanmu jika kau menciumku. "
"Apa? " Emely terkejut dengan syarat yang diberikan Davino padanya.
"Apa kau gila? " Ucapnya kesal. Dalam situasi seperti ini Davino malah minta dicium.
" Emang. Aku tergila - gila padamu. Makanya kau harus bertanggung jawab untuk itu. " Jawabnya santai dan memutarkan tubuh Emely menghadapnya tanpa melepaskan rangkulan tangannya
" Dipipi tapi. " Emely menawar. Padahal Davino hanya menyurunya mencium. Tidak menentukan dia harus mencium dimana. Syukurlah pria itu langsung mengangguk.
Disaat Emely hendak mencium pipinya, pria itu malah mengubah posisi wajahnya. Ciuman Emely mendarat dibibirnya. Emely yang menyadarinya langsung menjauhkan wajahnya. Namun terlambat. Pria itu menahan tengkuknya. Mengecup dengan lembut bibir gadis yang berusaha mendorongnya itu. Melepaskannya saat dia sudah memprediksikan dimana posisi ibu Emely saat ini.
"Kamu... " Disaat Emely hendak mengatakan sesuatu. Davino kembali menciumnya.
"Bicara satu kata lagi. Maka aku akan kembali menciummu. " Bisiknya saat melepaskan ciumannya. Kalimat itu membuat Emely menutup rapat bibirnya.
" Masuklah. Aku pergi dulu. " Berlalu meninggalkan Emely yang masih berdiri, seperti memastikan dirinya pergi. Setelah pria itu pergi, saat bersamaan ibunya membuka pintu.
"Mel, kamu kok ada disini nak? " Tanya sang ibu, membuat Emely menjawab gugup.
"Emely niat mau lari pagi bu. " Ibunya menatap tidak percaya. Putrinya itu jarang sekali lari pagi, kalaupun dia lari pagi itu karena sang ayah yang mengajaknya bersama Eduar untuk lari keliling komplek.
"Lalu mobil siapa yang baru saja pergi? " Emely menelan salivanya gugup.
"Nggak tahu bu. Emely nggak lihat orangnya. " Semenjak kenal Davino, Emely sudah banyak kali membohongi ibunya. Pria itu seperti membawa aura negatif padanya. Padahal dia sendiri yang berbohong. Hahaha
__ADS_1
"Oh. Yah sudah, ayo masuk. " Bergerak gugup Emely mengikuti ibunya kembali masuk kedalam rumah.