
Akhirnya mereka sampai di hotel dimana titik GPS ponsel Emely menunjukan keberadaan wanita itu.
Davino langsung turun dari mobil Haizel tanpa menunggu sahabatnya itu. Berjalan cepat memasuki hotel, mendekat kearah resepsionis yang paling tahu tentang daftar tamu yang menginap di hotel mereka.
Haizel cepat - cepat menyusul sahabatnya itu.
Dari jauh Haizel bisa melihat Davino sedang memaksa Resepsionis itu mengatakan keberadaan Emely di hotel itu.
"Tapi pak, kami tidak bisa memberitahu siapa saja tamu yang menginap di hotel kami. Itu sudah jadi peraturan hotel ini. " Tolak sang resepsionis yang berjenis kelamin pria itu.
" Kamu pasti berusaha menyembunyikan dia kan? beritahu aku, kalau tidak aku akan merusak satu persatu pintu kamar hotel ini." Ancamannya lagi.
"Itukan tuan Davino, apa yang sedang dilakukannya di hotel ini." Manager hotel yang mengenal Davino langsung mendekati Davino yang sementara ditahan Haizel.
"Tuan Davi? "
"Kamu mengenalku?" Tanyanya masih dengan nada kesal.
"Siapa yang tidak mengenal anda tuan, anda pemilik perusahaan properti terbesar di negeri ini. Kami bisa merasa terhormat dengan kehadiran anda di hotel kami." Kali ini Davino yakin bisa mendapat informasi dimana Emely menginap.
"Apa kau bisa membantuku?" Tanya Davino dan langsung diiyakan pria itu. Davino pun memberitahu apa yang dibutuhkannya. Hanya sebuah informasi tentang kekasihnya.
"Tapi tuan, tamu yang menginap semalam hingga pagi ini tidak ada yang bernama Emely Valery. " Kali ini Davino percaya, karena dia sendiri juga yang memeriksa langsung data para tamu yang menginap di hotel itu.
"Apa dia menggunakan nama lain?" Pikirnya seperti orang bodoh. Padahal dia sendiri tahu, butuh identitas seperti KTP untuk bisa menginap di hotel itu.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin tuan, karena kami menolak tamu yang tidak memiliki identitas asli." Davino meremas rambutnya frustasi.
"Pak ini data gadis tadi yang melamar kerja di hotel ini. " Seorang wanita memberi sebuah map coklat kepada manager hotel, yang masih berdiri bersama Davino dan Haizel. Soal map itu, manager hotel itu langsung ingat nama yang disebut Davino tadi. Membuka map itu lagi dan membaca identitas sang pelamar.
"Tuan, apakah gadis ini yang tuan cari?" Menunjukan foto sebagai salah satu syarat pelamar kerja. Davino melihatnya. Itu benar Emelynya.
"Iya, ini dia." Kemudian manager itu menjelaskan bahwa Emely baru saja pergi, beberapa menit setelah dia mendekati Davino tadi. Manager itu juga menjelaskan tujuan Emely datang ke hotel itu. Tak lain melamar pekerjaan. Entah mengapa Davino merasa lega, Emelynya tidak menghianatinya seperti pikiran kotor yang sempat bersarang di kepalanya.
Davino berlari keluar hotel sambil menghubungi Emely lagi, dia berharap masih bisa mengejar wanita itu. Haizel hanya bisa menyusul sahabatnya itu. Sungguh Haizel baru kali ini melihat Davino yang seperti ini. Davino yang menggilai seorang wanita.
Terus menghubungi Emely dan akhirnya gadis itu mengangkat panggilan telpon dari dirinya.
"Kamu dimana? " Tanyanya tanpa basa basi seperti biasa. Belum juga Emely menjawab, Davino sudah melihat sosok wanita itu. Dia diujung jalan, mungkin sedang menunggu angkutan umum bersama beberapa orang di sana. Memutuskan sambungan telpon Davino berlari kearah Emely. Emely yang tidak menyadari kedatangan Davino, nampak sangat terkejut saat pria itu datang dan langsung memeluknya.
Emely tidak mengerti untuk apa Davino berterima kasih padanya. Sedangkan Emely tidak memberi sesuatu yang membuat Davino berterima kasih padanya. Emely berusaha melepaskan pelukan Davino padanya. Pasalnya mereka sekarang sudah menjadi pusat perhatian orang - orang.
Davino melepaskan pelukan itu. "Kenapa sih kamu tidak memberitahu aku sebelumnya, kalau kamu sedang melamar pekerjaan di hotel. " Ucapnya dengan nada ketus.
"Kok kamu tahu aku sedang melamar pekerjaan di hotel." Emely bertanya bingung. Pasalnya dia belum mengatakan apapun pada Davino soal pekerjaan ini.
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang aku nggak mau kamu kerja di hotel." Emely yang mendengarnya hanya bisa memicingkan matanya. Dia butuh penjelasan kenapa Davino sampai melarangnya.
"Kenapa? Aku butuh pekerjaan ini. "
Haizel yang tadinya mengejar Davino, menghentikan langkahnya ketika dia melihat sahabatnya itu sudah bertemu Emely. Haizel memilih menunggu keduanya didalam mobil.
__ADS_1
"Pokoknya tidak boleh, ya tidak boleh." Davino bersikeras.
" Kenapa tidak boleh? Aku itu bukan kamu Davi yang punya banyak uang. Aku itu harus kerja keras, biar bisa mendapat uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan aku sama Eduar." Emely tidak suka Davino yang semaunya sendiri.
" Aku bisa memberikanmu uang. Berapa pun yang kamu minta Aku akan berusaha memberikannya." Emely tidak suka mendengar ucapan Davino.
" Apa balasan yang kamu minta jika aku menerima uang darimu? Apa aku harus tidur denganmu?"
"Emely." Davino membentak wanita itu dengan keras. Sungguh dia tidak suka Emely mengatakan itu. Bukan itu tujuannya. Mereka kini menjadi pusat perhatian karena suara keras Davino barusan.
Haizel yang sedari tadi menunggu di mobil, langsung mendekat kearah keduanya. Jika dibiarkan Davino mungkin bisa lepas kendali.
"Kalian bukan lagi anak remaja yang lagi jatuh cinta kan?" Melihat situasi. Akan sangat memalukan jika sampai ada yang mengenal Davino. Bisa - bisa pria itu akan jadi topik terhangat di seluruh media.
"Kalau ada masalah, selesaikan secara baik - baik. Jangan bertengkar ditempat umum seperti ini. " Tambah Haizel, mendengar itu Davino langsung meraih tangan Emely.
"Ikut aku." Walaupun nada suaranya sudah tidak setegas tadi, namun wajahnya masih terlihat menahan amarah.
"Haizel, antar kami ke apartemen." Ucapnya yang terus melangkah kedalam mobil.
"Aku tidak mau ke apartemen kamu." Emely berusaha menolak. Dia takut jika Davino sudah mulai marah seperti itu. Tapi kenapa dia harus marah?
Davino bungkam, setelah kalimat terakhir dia tidak lagi bersuara. Membuka pintu mobil belakang, Davino memasukan wanita itu. Dia juga ikut duduk di sana. Haizel hanya bisa pasrah, dia seperti seorang sopir jika seperti ini. Tapi sudahlah, daripada dia harus menjadi sasaran kemarahan sahabatnya.
Haizel sesekali mencuri pandang kearah spion yang mengarah kearah penumpang belakang. Davino menyilang kan kedua tangannya di dada, diam menatap lurus ke depan. Sedangkan Emely dia lebih memilih menatap keluar jendela.
__ADS_1