Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 10


__ADS_3

Langit gelap perlahan mulai menghilang, goresan cahaya matahari di bukit bagian timur kerajaan Zhang semakin terang seiring sang surya perlahan beranjak naik. Hawa dingin yang dirasakan perlahan memudar di gantikan rasa hangat. Aku menatap matahari terbit dari pavilium Shan, walaupun tertutup banyak bangunan, aku menikmati proses serbitnya sang surya yang begitu indah.


"Ah, seharusnya aku ke kediaman putra mahkota Liang untuk menikmati pemandangan ini" sesalku


Berhubung kediaman putra mahkota Liang berada di istana timur, hal ini akan membuat pemandangan terbitnya matahari akan semakin indah. Sayangnya pagi ini ia akan bergegas keluar istana bersama Ayahanda kaisar Wei tanpa sepengetahuan siapapun. Maka dari itu aku menekan keinginanku menyaksikan pemandangan indah itu di kediaman putra mahkota Liang.


"Putri kecil, mari kita pergi" seorang pria paruh baya menghampiriku, kedatangannya sedikit membuatku terkejut.


Lama aku mengamati hingga aku sadar jika pria paruh baya di hadapannku adalah kaisar Wei. Penampilannya sangat berbeda jauh jika Ayahanda kaisar hanya mengenakan hanfu biasa yang kerap kali di pakai para bangsawan, entah hanya perasaanku saja, pemanampilan Ayahanda kaisar nampak lebih muda dan nampak lebih bebas dan leluasa. Walaupun apa yang Ayahanda pakai tak menutupi aura keagunan dan kepeminpinannya, tapi penyamaran yang dilakukan Ayahanda kaisar cukup sempurna hingga para kasim dan dayang yang berlalu lalang disekitar mereka tak menyadarinya.


"Apakah Ayahanda terlihat begitu tampan hingga putrinya sendiripun terkesima?" tanya kaisar Wei menyentakku dari lamunan


Aku mengerjap beberapa saat sebelum menggeleng menyetujui perkataan Ayahanda kaisar, aku termenung bukan karna terkesima, tetapi ia hanya terkejut dengan perubahan penampilan Ayahandanya yang membuatnya nyaris tidak bisa mengenalnya.


"Aku bukannya terkesima, hanya saja aku terlalu terkejut dengan penampilan Ayahnda" jawabku dengan jujur


"Ahh, Ayahanda kecewa. Kupikir putri kecil kerajaan Zhang terkejut dengan ketampanan Ayahandanya" kata kaisar Wei pura - pura kecewa.


Aku hanya teekekeh lalu menggandeng tangan Ayahanda kaisar Wei dan berkata "Dimata ibunda permaisuri, Ayahanda hanya menjadi satu - satunya pria tampan di kerajaan Zhang" kataku berusaha menghibur kaisar Wei.


"Apakah hanya dimata Ibundamu? bagaimana dalam pandangan putri kecil kami?" tanya Kaisar Wei sedikit merajuk.


"Gege Liang lebih tampan dari Ayahanda, lagian Ayahanda sudah tua" jawabku yang langsung mendapat cubitan ringan di hidung mungil nan mancungku


"Kau tidak tahu saja, Ayahanda juga pernah muda dan tampan saat seusia gegemu" kata kaisar Wei

__ADS_1


"Ayahanda, jangan mulai. Kisah muda Ayahanda sudah ku hafal di luar kepala saking tidak pernah bosannya ibunda permaisuri menceritakan bagaimana perjuangannya mendapat cinta Ayahanda disaat pesaing cintanya ada begitu banyak nona muda" kataku "Jika Ayahanda turut menceritakannya, kapan kita akan pergi? Apakah menunggu hari sampai siang? ataukah sampai ada seseorang yang menyadari rencana kita?" tanyaku yang berhasil menyadarkan kaisar Wei.


"Terlalu asik bermain dengan putrinya, pria tua ini sampai lupa dengan rencana keluar dari istana tanpa sepengetahuan siapapun" gumam kaisar Wei "Mari segera pergi sebelum ada yang menyadari ketidak beradaan kita di istana" tambah kaisar Wei yang langsung ku angguki.


.


.


.


Pagi ini ibukota kerajaan Zhang nampak ramai dengan segala aktivitas penduduk yang kini tengah berlalu lalang di hadapanku. Saat ini aku bersama Ayahanda kaisar tengah memantau kegiatan para penduduk kerajaan Zhang, selain mencari sosok Bo Qing di tengah keramaian, Ayahanda kaisar Wei memanfaatkan keluarnya kami untuk memantau dan mengamati aktivitas para penduduk.


"Ayahanda lupa kapan terakhir kali keluar istana sebagai orang biasa, bukan sebagai seorang kaisar kerajaan Zhang. Mungkin sudah sangat lama, Ayahanda tidak menikmati kenangan seperti ini," jeda kaisar Wei "dulu Ayahanda selalu keluar istana untuk memantau pekerjaan para mentri di pemerinta dan peradilan. Ayahanda melakukan hal itu untuk membandingkan laporan para mentri dan pejabat dengan kinerja mereka melalui aktivitas para penduduk kerajaan Zhang" tambahnya.


"Belum ada, tapi mungkin sebentar Ayahanda akan mendapatkan sesuatu--" kalimat kaisar Wei terpotong saat pria paruh baya itu kini memincingkan matanya menatap seuatu yang berada dibelakangku, penasaran dengan apa yang Ayahanda lihat, aku pun menoleh kebelakang dan mendapati sekumpulan penduduk jelata yang nampak tengah mengajukan protes di depan kantor gubernur ibukota Zhang "baru saja Ayahanda mengatakan akan mendapatkan sesuatu, sekarang Ayahanda sudah mendapatkannya di depan mata" kataku mengalihkan kembali pandanganku menghadap kedepan dan menatap kaisar Wei yang kini mulai beranjak dari duduknya.


Kaisar Wei menaruh seikat koin di atas meja, lalu beranjak berjalan menghampiri kerumunan orang yang mengajukan protes di depan balai gubernur ibukota Zhang. Melihat Ayahanda yang kini berjalan semakin dekat, aku pun mulai beranjak bangun dari dudukku dan menyusul Ayahanda yang nampaknya mencium bau kecurangan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pejabat balai gubernur ibukota.


"Berikan hak kami!"


"Kami sudah bekerja begitu keras membangun dermaga di pantai selatan untuk kelancaran proses pengangkutan barang ataupun proses transaksi kerja sama dengan kerajaan tetangga. Kami sudah berbulan - bulan bekerja tanpa upah. Kami kesini menuntut keadilan atas hak kami!"


"Berikan hak kami!"


"Berikan hak kami!"

__ADS_1


Suara teriakan mereka begitu terdengar nyaring saat aku mulai semakin dekat pada sekumpulan buruh dari golongan rakyat jelat yang meminta keadilan dan hak mereka.


Seorang pemuda yang menjadi provokasi dan berdiri di barisan depan para buruh itu nampak sangat femiliar bagiku. Saat aku mulai mengingat - ingat, bayangan sosok Bo Qing pun akhirnya muncul. Aku cukup terkejut saat menyadari hal itu, saking terkejutnya aku pun mengerjap beberapa saat untuk memastikan penglihatanku sedang tidak bermasalah.


"Apa yang terjadi?" Suara berat Ayahanda kaisar yang kini bertanya pada penduduk di dekatnya menyentakku dari lamunan.


Penduduk itu sekilas menatap Ayahanda, aku menahan nafas saat penduduk itu menatap sosok Ayahanda yang kini menunduk menyamarkan wajahnya dengan tudung kepala yang ia kenakan. Beruntungnya penduduk itu kembali melempar pandangannya kedepan dan menjawab "para buruh bangunan itu mengajukan protes kepada pejabat di balai gubernur. Yang aku dengar, mereka belum mendapat upah. Padahal proyek pembuatan dermaga di pantai selatan cukup besar, tapi sampai saat ini pihak pejabat hanya menyalurkan dana pembangunan dan belum menurunkan dana upah sepeserpun untuk para buruh" jelas penduduk itu yang berhasil membuat kaisar Wei mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya yang hendak meledak.


Tak berselang berapa lama, para prajurit pun berhamburan keluar dan memukul para buruh dengan tongkat kayu. Keributan yang mereka buat nampaknya membuat para pejabat geram hingga mereka mulai menurunkan para prajurit di balai gubernur ibukota untuk membersihkan keributan.


Saat aku hendak maju menghentikan karna kesal dengan tindakan mereka yang begitu tak adil, kaisar Wei menahanku dengan satu tangannya dan berkata "seorang putri kerajaan harus bersikap lemah lembut dan bermartabat, untuk masalah kekerasan seperti ini, biarkan Ayahanda yang turun tangan"


.


.


.


.


.


**TBC


Minggu, 17 Mei 2020**

__ADS_1


__ADS_2