
Langit senja telah berganti gelap, baru saja wanita penjahit yang beberapa waktu lalu mulai mengajariku menggambar pola bunga dan mengajariku dasar awal menyulam telah berpamitan pulang. Saat ini aku tengah berusaha menyelesaikan sulaman pertamaku yang merupakan contoh awal sebelum aku mulai menggambar burung phoenix dan beberapa macam bunga pada sebuah kain yang akan ku berikan sebagai kain pakaian jahit atau saputangan sebagai hadiah untuk ibunda permaisuri.
Aku dengan sabar melanjutkan menyulamku, walaupun contoh sulaman awalku hanyalah pola bunga kecil yang akan ku buat nampak timbul dengan benang - benar berbeda - beda warna, namun hal yang awalnya ku anggap remeh dan mudah jelas begitu sulit dan cukup lama ku kerjakan. Aku kerap kali tertusuk ujung jarung sehingga ujung jariku mengeluarkan darah, dan seperti saat ini aku kembali tertusuk untuk kesekian kalinya.
"Aw!" pekikku kesakitan.
Aku meletakan jarung dan benang di atas meja, lalu kembali menekan jariku yang kini mengeluarkan darah. Walaupun hanya luka tusukan kecil, tetap saja terasa sangat sakit. Aku lalu memasukan jari telunjukku yang berdarah kedalam mulut untuk menghentikan pendarahan dengan menghisap darah itu sebelum melangkah menuju jendal dan meludahkan darah yang baru ku isap.
Suara pintu yang di geser mengalihkan tatapanku, kutatap pemuda 20 tahun yang baru saja keluar dari ruang pakaianku dengan raut wajah lelah, sesekali ia menguap lebar pertanda ia telah mengantuk padahal malam baru saja menyapa, pemuda 20 tahun yang merupakan saudaraku itu bahkan belum makan malam sama sepertiku.
Putra mahkota Liang melangkah menuju peraduanku dan membaringkan tubuhnya di atas kasurku yang empuk. Aku lantas menghampirinya dan duduk di sisi peraduan, dan menggoyang - goyangkan tubuhnya.
"Gege..."
"Mei mei, biarkan aku tidur sebentar" erangnya terusik dengan apa yang kulakukan.
Aku hanya mendesah dan membiarkannya tidur di atas peraduanku. Aku lantas beranjak bangun dari dudukku, melangkah menuju meja dan melanjutkan sulamanku. Namun sebelum itu, aku lantas berteriak "Siapapun yang di luar, pinta juru masak kerajaan membawakanku makan malam dengan yang mulia putra mahkota Liang"
Aku lantas bernafas lega saat tak terasa 1 jam berlalu dan sulamanku pun selesai. Wanita penjahit mengatakan, jika aku telah berhasil menyelesaikan contoh sulaman pertamaku ini, itu berarti aku sudah bisa melanjutkan sulamanku untuk hadiah ibunda permaisuri.
Awalnya aku berpikir akan memakan waktu menyelesaikannya, namun seperti kata wanita penjahit itu, menyulam hanya butuk kesabara dan ketekunan, jika kita telah memiliki keduanya, maka sulaman yang kita kerjakan tidak akan terasa lama apalagi membosankan, dan nampaknya aku akan menyetujui hal itu sebab aku sama sekali tak merasa menyulam itu membosankan.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya, aula utama istana luar kerajaan Zhang mulai di datangi para petinggi kerajaan mulai dari para perdana mentri hingga para pejabat kalangan rendah. Pagi ini seluruh pejabat di landa kegugupan pasalnya kabar mengenai penyelesaian penyelidikan masalah penggelapan dana upah puruh kerja pembangunan dermaga pantai selatan telah di ketahui. Hari ini keputusan akan di jatuhkan pada pihak yang bersalah melalui putusan kaisar Wei yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di dataran wilayah kerajaan Zhang.
Para mentri dan pejabat mulai mengambil posisi mereka masing - masing sesuai dengan depertemen tempat mereka bekerja dan berbaris sesuai pangkat sembari menunggu kedatangan kaisar Wei beserta putra mahkota Liang.
"Yang mulia kaisar dan yang mulia putra mahkota telah tiba ~~" teriakan pengumuman kedatangan sang penguasa kerjaan Zhang dan wilayah kekuasaannya seketika membuat para perdana mentri dan pejabat seketika dilanda rasa takut. Aura membunuh tak segan - segan di keluarkan oleh kaisar Wei, serta tatapannya tajam dan juga menghantarkan dingin sudah cukup membuat kedua kaki mereka gemetar ketakutan. Atmosfir dalam aula utama pun terasa sangat dingin hingga membuat mereka menggigil, tekanan yang di berikan baik oleh kaisar Wei ataupun putra mahkota Liang membuat mereka merasa kesulitan bernafas.
Meskipun demikian, mereka tak melupakan kewajiban memberi salam hormat ketika kaisar Wei dan putra mahkota Liang melangkah menuju singgasana mereka. Bagaimanapun, apabila mereka mengabaikan kewajiban tersebut, nyawa mereka bisa terancam.
"Bangunlah!" perintah kaisar Wei ketika telah duduk di singgasananya. Semua mentri dan pejabat lantas menuruti perintah dan mulai duduk di kursi mereka masing - masing.
"Zhen tahu jika kalian pasti sudah mendapat kabar mengenai hasil penyelidikan. Hari ini Zhen tak akan membuang waktu dan akan langsung menjatuhkan hukuman pada mereka yang terlibat" kata kaisar Wei membuka rapat mereka pagi ini.
"Pejabat Xu Hai, pejabat Bo Yang, dan pejabat Gu Xie Mo dinyatakan bersalah atas penggelapan dana upah buruh kerja dermaga pantai selatan, ketiganya di nyatakan bersalah dengan bukti - bukti yang ada. Yang mulia kaisar Zhang Wei menjatuhi hukuman pencabutan pangkat dan jabatan di pemerintahan, serta akan mendekam dalam menara penyiksaan satu keluarga" umum petinggi peradilan mengenai keputusan kaisar Wei terhadap para tersangka penggelapan dana upah para buruh.
Mendengar keputusan kaisar, ketiga pejabat itu lantas bangun dari duduknya dan berlutut memohon belas kasih dan pengampunan. Sayangnya kaisar Wei sama sekali tak merasa iba dengan permohonan ketiganya, ia dengan dingin berkata "Apa yang kalian tunggu? Bawa ketiganya ke menara penyiksaan beserta keluarga mereka!" perintah kaisar Wei yang lantas di patuhi para prajurit pengadilan kerajaan Zhang yang sejak tadi berbaris di ujung ruangan aula utama kerajaan Zhang seraya menunggu perintah.
Para prajurit dengan cepat lantas menyeret ketiganya yang terus meronta dan memohon ampunan dan belas kasih kaisar Wei. Namun kaisar Wei mengabaikannya begitupun putra mahkota Liang yang menatap kepergiannya denga tatapan datar.
Kejadian hari ini tentu saja kaisar Wei ataupun putra mahkota Liang sadari jika masalah penggelapan dana upah buruh akan dilimpahkan seluruhnya kepada pejabat kecil yang mungkin memang terjerat dalam masalah itu tapi mereka bukanlah dalang yang sebenarnya. Kejadian hari ini jelas tidaklah berbeda jauh dengan perkataan putri Zhang Mu Lan, walaupun keduanya ragu dan sulit percaya, namun saat mendapatkan hasil penyelidikan kemarin, mereka cukup terkejut saat menyadari tebakan ataupun prediksi putri Zhang Mu Lan.
Putra mahkota Liang lebih dulu membuyarkan lamunannya, ia lantas menatap kaisar Wei. Ada satu hal yang sangat ingin ia tanyakan, tentu saja mengenai masalah penjahat yang sebenarnya masalah ini. Bagaimanapun baik putra mahkota Liang ataupun kaisar Wei tahu jika ketiganya hanyalah korban yang di jadikan kambing hitam untuk menanggung semua kesalahan yang mungkin sepenuhnya tak mereka perbuat.
Putra mahkota Liang menatap kaisar Wei dalam, mungkinkah Ayahandanya saat ini hanya sedang berpura - pura seakan - akan tidak tahu kebenaran dari balik masalah ini hanya untuk menjebak penjahat sesungguhnya dalam permainan dan rencana yang telah di siapkan Ayahandanya? ataukah saat ini Ayahandanya benar - benar tidak tahu?
__ADS_1
"Apakah mei mei tidak memberi tahu Ayahanda mengenai prediksi dan tebakannya mengenai masalah ini?" batin putra mahkota Liang
.
.
.
.
.
**TBC
Minggu, 14 Juni 2020
Author note :
Bab ini putra mahkota Liang belum tahu jika putri Zhang Mu Lan juga telah memberitahu Ayahandanya mengenai masalah penggelapan dana, jadi ku harap kalian tidak perlu bertanya lagi karna aku sudah jelaskan disini dan akan ku jelaskan di bab selanjutnya.
Selain itu aku ucapkan terima kasih buat para pembaca yang masih dengan setia menunggu cerita ini. Maafkan apabila terlalu banyak Flashback yang mungkin membuat kalian bosan, namun karna pada dasarnya ini cerita TimeTravel atau TimeSlip, aku harus menceritakan Flashback agar ceritanya nyambung dan kalian merasakan feelnya.
Aku tidak memaksa kalian menyukai ceritaku ini. Toh suka atau tidak sukanya kalian pada cerita ini itu adalah hak kalian 🙏🏻, aku tidak akan down walaupun semisal kalian mulai kesal, bosan dan tidak suka dengan cerita ini. Aku sudah nulis 4 tahun lebih di lapak sebelah, dan aku pun sadar bahwa aku hanya manusia biasa yang kalaupun ada yang menghargai cerita aku, aku akan bersyukur, dan kalaupun ada yang tidak suka, itu masalah mereka. Aku hanya akan fokus pada pembaca yang menghargai karyaku, bagaimanapun mereka tahu caranya menghargai seseorang yang begitu sulit merangkai kata ataupun mencari ide ❤.
Finally, sampai jumpa di bab selanjutnya 😘**
__ADS_1