Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 34


__ADS_3

Aku kembali menguap untuk kesekian kalinya siang ini. Semalam aku terus membaca buku pelajaran dasar menjahit dan menyulam yang selalu saja berhasil membuatku merasa mengantuk. Entah karna setiap tulisan yang berada dalam buku yang ku baca memang sangatlah membosankan, atau karna aku memang yang memang tidak akan pernah bisa menyukai pelajaran seni kerajinan selain seni musik.


Aku mendesah seraya kembali meletakan buku yang ku baca. Ku baringkan kepalaku di atas permukaan meja dengan salah satu tanganku yang terlentang dan ku jadikan sebuah bantal. Setelah baru saja menyelesaikan pelajaran di dampingi sarjanawan Yu Zhu, aku lantas berbalik ke peraduanku dan kembali melanjutkan bacaanku semalam memgenai dasar - dasar menjahit dan menyulam.


Meskipun aku tahu aku cukup pintar, namun hanya dengan membacanya saja tanpa mempraktekannya bagiku akan sangat sulit untuk ku pahami. Aku butuh mempraktekannya agar aku bisa memahami setiap penjelasan yang ada dalam buku seni kerajinan yang ku baca tanpa harus membayangkannya dan pada akhirnya hanya akan memberi rasa sakit pada kepalaku karna tetap saja tidak paham walaupun sudah ku bayangkan setiap langkah dan cara - caranya.


"Huwaa... aku lapar, tapi aku mengantuk" keluhku


"Ya sudah ada baiknya jika mei mei makan terlebih dahulu sebelum tidur" kata putra mahkota Liang yang datang mengunjungi pavilium Shan yang terletak di istana dalam bangian barat kerajaan Zhang.


Aku lantas mendongak menatap putra mahkota Liang sesaat sebelum kembali menjatuhkan kepalaku pada lenganku yang tadi sempat menyangga kepalaku dan menjadi sebuah bantal untukku.


"Apakah aku perlu meminta para dayang membawakanmu makan siang?" tanya putra mahkota Liang yang kini telah berhasil duduk di kursi yang tepat berada di sampingku.


"Tapi gege, aku mengantuk" keluhku


"Akan lebih baik jika perut terisi terlebih dahulu sebelum kau tidur" kata putra mahkota Liang "Jika kau malas makan, biarkan aku yang menyuapmu" tawar putra mahkota Liang yang berhasil mataku yang sempat terpejam lantas terbuka.


Aku lantas bangun dan menegakkan tubuhku, aku menoleh menatap putra mahkota Liang dengan tatapan melotot sebelum berkata "Gege aku sudah bukan anak kecil lagi" protesku yang lantas berhasil membuat putra mahkota Liang terkekeh.


"Jika kau sadar bukan anak kecil lagi, maka jangan banyak mengeluh. Kamu hanya perlu tinggal makan dan setelah itu istirahat" balas putra mahkota Liang yang lantas beranjak dari duduknya "Aku ingin melanjutkan tulisanku, jadi kau harus mendengarkan perkataanku barusan" tambahnya lantas meninggalkanku.


.


.

__ADS_1


.


Setelah menyelesaikan makan siangku, rasa ngantuk yang sempat melandaku pada akhirnya lenyap. Aku yang tak bisa memejamkan mataku untuk beristirahat siang ini lantas bergegas menuju ruang pakaianku, saat tiba di sana, pintu ruangan rahasia nampak terbuka lebar. Aku bergegas melangkah memasuki ruangan rahasia yang berada di kediamanku, saat aku masuk pada ruangan yang masih kotor itu, sosok putra mahkota Liang yang tengah duduk dan melukis di meja yang berada di tengah ruangan rahasia lebih dulu menyapa penglihatanku.


Aku menghampiri putra mahkota Liang yang nampak begitu sibuk dengan lukisannya, saking fokusnya melukis dan mencurahkan semua inspirasinya dalam gambar kasar pada kertas. Ia bahkan tak menyadari kehadiranku yang mengamati setiap goresan yang ada pada kertas di atas permukaan meja. Aku lantas mengernyit bingung saat tak menemukan wujud mengenai setiap goresan pensil yang ada pada kertas tersebut. Merasa pusing memikirkan hasil gambar putra mahkota Liang, aku memilih meninggalkannya dan mengamati ruangan rahasia yang masih saja tetap sama dalam ingatanku.


Aku tak tahu kapan Ayahanda kaisar bersama para prajurit khusus kerajaan Zhang membuat tempat rahasia tersebut, yang ku tahu nampaknya Ayahanda kaisar telah memperhitungkan dan mempersiapkan semuanya secara matang mengenai apa yang akan terjadi kedepannya. Sayangnya semua perhitungan dan prediksinya lantas harus hancur berantakan karna ke egoisanku.


Aku adalah kelemahan kerajaan Zhang, lebih tepatnya kelemahan keluarga kerajaan Zhang. Aku yang begitu lemah dan bodoh begitu mudah di tipu hingga tak menyadari ke egoisankulah yang membawa pekata untuk kerajaan Zhang.


Aku lantas memejamkan mataku yang mulai terasa panas, kenangan kenagan itu sangat menyakitkan. Dan mungkin saat ini Sang pencipta tengah menghukumku dengan mengingat semua kejadian mengerikan atas ke egoisan dan pilihanku. Aku menghirup udara sebanyak - banyaknya saat merasakan dadaku seketika merasakan sesak, aku lantas menghembuskannya perlahan dan mengulangnya beberapa kali hingga aku mulai merasa tenang.


Di kehidupanku kali ini aku hanya perlu menjadi lebih cerdas dan tangguh. Aku tak boleh lagi goyah terhadap perasaan semuku pada jendral muda Wu Cheng, terlebih semua keburukan dan kejahataannya telah ia perlihatkan padaku di kehidupanku yang lalu atau dalam mimpi buruk yang telah ku alami.


Aku telah menulis semua rencana - rencana mereka, bahkan aku telah memberi salinannya pada Ayahanda kaisar Wei. Meskipun aku telah memberi tahu Ayahanda kaisar dan memintanya untuk melakukan persiapan sebelum kejadian itu, aku juga harus memikirkan rencana lain jika sewaktu - waktu akan muncul kejadian lain di luar ingatanku.


"Mei mei?"


Suara berat yang memanggilku lantas berhasil menarik kesadaranku sepenuhnya dari lamunan, aku yang saat ini tengah membelakangi putra mahkota Liang lantas berbalik menghadap saudaraku.


"Kapan kau berada disini?" tanya putra mahkota Liang


"Mengapa gege bertanya seperti itu? Ruangan rahasia ini adalah milikku, aku tentu saja berhak berada disini karna ruangan rahasia ini bagian dari pavilium Shan" balasku sedikit ketus


Putra mahkota Liang lantas memutar bola matanya malas, ia lantas berkata "Aku hanya bertanya, lagian siapa yang melarangmu kemari?" tanya putra mahkota Liang yang lantas kembali melanjutkan lukisannya.

__ADS_1


Aku mengerjap beberapa saat sebelum mencerna pertanyaa putra mahkota barusan, aku berpikir jika saudaraku itu tak menyukai kehadiranku. Ternyata putra mahkota Liang hanya murni bertanya, aku saja yang mungkin menganggapnya berlebih.


"Gege maafkan aku" pintaku yang menyadari kesalahanku


Putra mahkota Liang lantas berhenti melukis dan menoleh menatapku yang masih berdiri di posisiku, ia lalu tersenyum dan berkata "Tidak masalah, lagian aku tahu kau jika kau nampaknya tengah banyak pikiran" balasnya yang berhasil membuatku terkejut sesaat, namun aku dengan cepat mengontrol ekspresiku.


Aku lantas tersenyum dan berkata "Aku hanya sedang memikirkan Bo Qing, apakah pelatihannya berjalan dengan lancar?" tanyaku yang tentu saja sebagai pengalihan. Aku takut jika putra mahkota Liang yang begitu peka dan memiliki penalaran dan insting yang kuat akan mencium kebohonganku.


"Dia adalah sebuah bakat, jika kau akan melepasnya, aku akan dengan senang hati menerima Bo Qing menjadi prajurit tetap Shi Rong" jawab putra mahkota Liang yang lantas membuatku melotot.


"Aku tidak akan memberikan Bo Qing untuk gege!" tegasku


.


.


.


.


.


**TBC


Jumat, 12 Juni 2020**

__ADS_1


__ADS_2