Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 37


__ADS_3

Aku tidak akan terkejut jika putra mahkota Liang kembali datang ke pavilium Shan untuk kesekian kalinya. Hanya saja aura yang ia keluarkan persis sama seperti saat rapat mengenai masalah keputusan Ayahanda kaisar memilih menyelidiki kasus penggelapan dana upah buruh. Aku tak tahu hal apa lagi yang merubah suasana hatinya, sejak tadi ia hanya mengamatiku dalam diam mengerjakan sulamanan dengan pola dan teknik lain yang di ajarkan oleh wanita penjahit itu padaku. Padahal biasanya ia akan langsung menuju ruang rahasia yang ada di pavilium Shan dan melanjutkan lukisannya.


Aku mendesah lelah lantas menyimpan kain yang baru selesai setengah. Konsentrasiku pecah hanya karna tatapan putra mahkota Liang yang entah mengapa begitu mengganggu dan mengusikku. Aku lalu menatap putra mahkota Liang dengan kedua tangan kulipat di depan dada, aku bukannya tidak sadar jika sedari tadi ia hanya menahan dirinya untuk tidak menyuarakan pertanyaannya karna aku sibuk menyulam.


"Katakan apa yang ingin gege tanyakan?" tanyaku yang seketika membuat putra mahkota Liang sedikit menggeser kursinya dekat denganku


"Mei mei .. aku ingin tahu, apakah kau memberitahu Ayahanda masalah dalang dari penggelapan dana upah buruh seperti yang kau katakan padaku?" tanyanya yang lantas ku angguki


Tentu saja aku memberitahu Ayahanda hal itu, bahkan aku memberitahu semuanya padanya bagaimanapun aku butuh pendukung yang kuat seperti Ayahanda kaisar. Hanya saja hal ini tak akan ku beritahukan pada putra mahkota Liang, sebab aku tahu jika perasaannya masih condong pada putri sulung keluarga Ma sedangkan musuh terbesar keluarga kerajaan adalah putri sulung keluarga Ma yang mengendalikan perdana mentri Ma Ze Dong dan para pengikutnya di balik layar.


"Jika Ayahanda tau, lantas mengapa ia menangkap orang yang salah jika ia telah tahu dalangnya?" tanya putra mahkota Liang yang akhirnya menyuarakan pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan pada kaisar Wei.


"Hanya ada dua alasan, pertama Ayahanda sedang berpura - pura untuk menjebak penjahat yang sebenarnya, dan yang kedua Ayahanda sedang mengikuti permainan mereka sebelum menemukan cela dan memusnahkan mereka dengan sekali serangan" jawabku yang lantas membuat putra mahkota Liang berpikir sesaat.


"Gege ayahanda bukanlah orang yang mudah untuk di bodohi ataupun dimanipulasi, jikapun sekarang ia sedang berpura - pura ataupun mengikuti permainan mereka, gege hanya perlu yakin jika Ayahanda telah menyiapkan rencana yang matang sebelum mengambil pilihan seperti ini" tambahku yang entah mengapa di setujui putra mahkota Liang


"Mungkin aku hanya terlalu resah, hingga keresahanku membuatku kehilangan rasa percaya untuk ayahanda" katanya yang hanya ku balas dengan kata 'mungkin' dengan kedua bahu terangkat.


"Sehubung karna gege sudah berada disini, jadi kapan gege membawaku bertemu dengan Bo Qing? Aku sungguh ingin melihat perkembangannya" akuku


Putra mahkota Liang lantas berpikir sejenak, ia lalu berkata "Kita pergi sekarang saja, bagaimanapun suasanaku sedang buruk jika ingin melanjutkan lukisanku, ada baiknya jika aku menghirup udara segar di markas prajurit Shi Rong" balasnya yang langsung membuatku beranjak bangung dan melompat karna terlalu senang.


.


.

__ADS_1


.


Malam telah menyapa, aku baru saja pulang bersama putra mahkota Liang yang kini suasana hatinya telah membaik. Aku juga kini merasa sedikit lega karna baru saja menyaksikan latihan Bo Qing bersama prajurit Shi Rong lainnya di lantai dua bangunan Guang Bai.


Selama ia latihan aku tak boleh datang menjenguknya, putra mahkota Liang takut jika aku akan mengganggu konsentrasinya dalam latihan jika aku datang. Akhirnya siang tadi aku hanya mengamatinya dari jauh. Aku bersyukur ia baik - baik saja, bahkan dari penglihatanku, Bo Qing sudah nyaman berada di antara para prajurit Shi Rong.


Lamunanku lantas buyar saat seorang kasim datang menghampiriku "Yang mulia putri..." panggilnya yang lantas mengagetkanku


Aku yang sejak tadi duduk di salah satu kursi yang ada di tengah ruangan kamarku lantas mengerjap beberapa saat sebelum menoleh kesamping menatap kasim yang baru saja memanggilku.


"Ada apa?" tanyaku


"Menjawab yang mulia, yang mulia kaisar ingin anda menemuinya di ruangan kerjanya" jawab kasim itu yang lantas segera membuatku beranjak.


Mungkin karna terlalu larut dengan pikiranku, tak terasa aku telah sampai di depan pintu kerja Ayahanda kaisar yang berada di istana Han. Para penjaga yang menyadari kehadiranku lantas segera mengumumkan kedatanganku, suara teriakannya yang nyaring menyetakku dari lamunan, dan seketika aku memfokuskan tatapanku menatap pintu ruangan kerja Ayahanda yang perlahan terbuka setelah mendapat perintah membuka pintu untukku.


Aku lantas memasuki ruang kerja Ayahanda kaisar tanpa perlu menunggu waktu yang lama, saat aku telah berada di dalam, seketika aku di kagetkan dengan kemunculan dua prajurit khusus kerajaan yang berdiri di belakangku. Mereka dengan cepat menutup pintu ruang kerja Ayahanda dengan sangat rapat dan tak lupa mereka pun menjaga pintu itu.


Seketika aku sadar jika apa yang akan di bahas ataupun didiskusikan Ayahanda kaisar adalah hal yang sangat penting dan rahasia, hal ini dapat dilihat dari pengamanan ruang kerja Ayahanda yang sangat ketat. Baik dari luar ataupun dalam ruangan, nyaris semua sisi bangunan di jaga oleh prajurit khusus kerajaan. Tak ingin membuang waktu yang cukup lama, aku lantas menghampiri Ayahanda kaisar yang nampak masih berkutat dengan gulungan - gulungan yang dibacanya.


"Salam hormat untuk Ayahanda kaisar, semoga Ayahanda panjang umur seribu tahun" kataku mengucap salam dan membungkuk hormat ketika telah tiba tepat di depan mejanya.


Kaisar Wei yang menyadari kehadiranku lantas mendongak, ia lalu menyimpan gulungan yang hanya belum sempat di bacanya hingga selesai. Kaisar Wei lantas beranjak dari duduknya, ia tanpa memintaku bangun terlebih dulu dengan cepat menyeretku pergi dari ruang kerjanya.


Tentu saja perbuatan Ayahanda kaisar Wei sangat mengejutkan, aku bahkan bingung dengan sikap Ayahanda kaisar Wei yang begitu tiba - tiba membawaku pergi keluar dari ruangan kerjanya menuju halaman samping istana Han yang mengejutkannya kini telah berkumpul sebagaian dari prajurit khusus kerajaan.

__ADS_1


"Ayahanda mengapa anda mencariku, dan bahkan menarikku seperti ini?" tanyaku ketika kaisar Wei melepas cekalannya pada lenganku ketika kami kini berdiri di halaman samping istana Han.


Kaisar Wei lantas menatapku dengan tatapan khawatir, ia lalu berkata "Apakah cekalan Ayahandamu ini menyakitimu?" tanya kaisar Wei cemas.


Tentu saja pertanyaannya lantas ku balas dengan gelengan, bagaimanapun Ayahanda kaisar memang tidak menyakitiku dengan cekalan dan tarikannya, ia hanya sedang membuatku bingung dan juga penasaran dengan sikapnya.


"Syukurlah, Ayahanda pikir telah melukaimu tidak sengaja. Jika kau mengeluh terluka karna sikap Ayahanda yang menarik dan menyeretmu, Lan'er kesayangan kami bisa menghukum ataupun memukul Ayahandamu ini" kata kaisar Wei


"Dibanding menyuruhku membalaskan dendam karna sikap dan perbuatan Ayahanda yang membingungkanku yang baru saja datang, mengapa tidak Ayahanda jelaskan saja padaku mengenai sikap dan perbuatan Ayahanda yang demikian?" tanyaku "jujur saja aku sangat bingung, terlebih melihat para prajurit khusus kerajaan" tambahku


Kaisar Wei mendesah, ia lantas berkata "Lan'er akan tahu, bukankah Lan'er kesayangan keluarga kerajaan Zhang ingin belajar menjadi gadis yang kejam dan tangguh?" tanya kaisar Wei yang lantas ku angguki "Malam ini adalah hari pertamamu memulai menjadi gadis yang kejam, kita akan ke menara penyiksaan" tambah kaisar Wei.


.


.


.


.


.


**TBC


Selasa, 16 Juni 2020**

__ADS_1


__ADS_2