Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 17


__ADS_3

"Apakah putri sulungmu tidak bisa bermain kesini lagi?" tanya Ma Xiao Qing balik yang langsung di balas gelengan oleh perdana mentri Dong


"Ayah tidak beemaksud seperti itu," jawab perdana mentri Dong "Hanya saja Qing'er kita sudah bersuami, apakah patut seorang istri pulang kerumah orang tuanya tanpa membawa suaminya ikut serta. Apa tanggapan orang - orang nanti tentangmu" tambah perdana mentri Dong mengkhawatirkan rumor buruk mengenai putrinya


"Ayah.. kau tak perlu khawatir. Aku kemari bersama suamiku, hanya saja sekarang ia berada di gasebo belakang menemani Ma Mei Rong belajar" jawab Ma Xiao Qing yang membuat perdana mentri Dong lega.


Perdana mentri Dong lantas mengambil duduk tepat di samping istrinya, ia lalu mengambil cangkir berisi teh yang di sodorkan oleh wanita yang melahirkan dua putri cantik dalam kediaman Ma. Walaupun perdana mentri Ma memiliki rumah tangga yang bersih, namun kediamannya masih belum memiliki seorang penerus. Dua orang putri tak bisa meneruskan marga mereka, perdana mentri Ma memerlukan seorang putra jika tak ingin semua aset dan harta kekayaan kediaman Ma jatuh pada saudara - saudaranya yang memiliki putra sebagau penerus. Sayang perdana mentri Ma terlalu mencintai istrinya sehingga ia tak mengambil seorang selir, padahal saat ini nyonya Cai Ning sudah tak mampu memberi keturunan lagi karna rahimnya yang terlalu lemah.


"Dimana Ma Mei Rong?" tanya perdana mentri Dong setelah menyesap tehnya dan menyadari jika putri bungsu dan manjanya tidak ada bersama mereka.


"Suamiku, apakah kau lupa jika putri sulungmu telah memberitahumu sebelumnya?," tanya Cai Ning "Rong'er saat ini tengah belajar bersama dengan kakak iparnya di gasebo belakang" tambah Cai Ning menjawab pertanyaan perdana mentri Dong


Perdana mentri Dong mendesah berat, terlalu banyak masalah dan pikiran yang ia pikirkan sehingga kefokusannya terpecah belah. Ma Xiao Qing yang sangat peka menyadari keanehan perdana mentri Dong lantas bertanya "Ayah apakah kau punya masalah?"


Perdana mentri Dong mendesah, nampaknya ia tak mampu menyembunyikannya dari putri sulungnya yang memiliki isting dan kepekaan yang tajam. Sebenarnya ia akan meminta solusi pada putrinya dengan meminta Ma Xiao Qing keruangan kerjanya dan membahasnya berdua saja, namun nampaknya ia tak bisa mewujudkan inginnya saat ia menoleh dan menpadati istrinya yang menatapnya dengan tatapan penasaran.


Tak ingin membuat Cai Ning kecewa dan terluka, pada akhirnya perdana mentri Dong menceritakan masalah rapat pagi di aula utama istana Zhang " -- Yang mulia kaisar Wei berjanji akan menyelidiki hal ini. Jika para pejabat pemerintahan ketahuan terlibat, mereka akan di eksekusi di penjara bawah tanah kerajaan Zhang beserta seluruh keluarganya" jelas perdana mentri Dong


"Astaga ini terdengar sangat mengerikan" aku Cai Ning "tapi suamiku mengapa anda begitu risau, apakah anda termasuk salah satu dari mereka yang menggelapkan dana upah buruh itu?" tanya Cai Ning yang langsung dibalas anggukan oleh perdana mentri Dong


"Bisa dibilang jika suamimu ini adalah ketua dari penggelapan dana upah buruh tersebut" akunya yang berhasil membuat Cai Ning terkejut dan dengan marah memukul bahu perdana mentri Ma.


"Apakah anda ingin membunuh kami semua karna penyiksaan yang akan kami terima di dalam penjara bawah tanah kerajaan Zhang?" tanya Cai Ning "Mengapa anda bersikap gegabah sekali? Pihak kerajaan bukan orang yang bodoh untuk tidak dapat menemukan bukti dengan cepat" tambah Cai Ning berang.


"Berhentilah memarahiku. Nasi telah menjadi bubur!" kata perdana mentri Dong pasrah

__ADS_1


"Mengapa Ayah dan Ibu harus bertengkar seperti ini?" tanya Ma Xiao Qing menyesap tehnya dengan anggun dan sikap tenang "Ayah tidak perlu khawatir, putrimu ini memiliki solusi untuk menyelamatkan keluarga kita dari masalah ini" tambah Ma Xiao Qing yang seketika membuat perdana mentri Ma memuji putrinya tak lupa memberi ucapan terima kasih dengan begitu tulus, begitupun dengan Cai Ning yang langsung memeluk putrinya penuh rasa suka cita dan haru.


"Qing'er kau selalu bisa di andalkan" puji perdana mentri Dong untuk kesekian kalinya


.


.


.


Kutatap pintu besar ruangan kerja Ayahanda kaisar Wei yang ada di istana Han. Setelah menulis semua kejadian masa yang akan mendatang secara mendetail melalui ingatanku, aku memutuskan untuk datang kemarin dan mendiskusikan masalah penggelapan dana upah para buruh dengan Ayahana kaisar dengan banyak pertimbangan.


Aku sudah berpikir dengan keras mengenai rencana dan langkah apa yang akan aku ambil. Namun nampaknya aku masih butuh masukan dari orang ahli dan berpengalaman bagaimanapun aku masih terbilang sangat baru dalam hal kekerasan dan kekejaman. Selain ingin meminta masukan dan pendapat, kedatanganku kemari juga ingin memperingati Ayahanda kaisar walaupun aku tahu jika peringatanku sama sekali tak akan berguna sebab Ayahanda kaisar Wei bukan orang yang bodoh.


Seandainya bukan karna aku adalah kelemahan terbesar Ayahanda kaisar dan keluarga kerajaan Zhang. Aku tau kami bisa membalikan keadaan. Sayang saat itu jendral Wu Cheng menjadikanku sebagai sandra, alhasil Ayahanda kaisar dan keluarga kerajaan Zhang memilih menyerah dalam berjuang menegakan keadilan dan kemenangan, dan pada akhirnya mereka semua mati karna aku dan pilihan yang telah ku ambil.


Aku mendesah seraya menghalau perasaan bersalah dan sesak yang mulai datang menghampiriku. Aku mendongak menatap langit - langit teras seraya menghalau cairan bening yang ada di pelupuk mataku yang nyaris tumpah. Aku mengerjap sesaat sebelum menjatuhkan kepalaku dan menatap pintu ruang kerja Ayahanda dengan tatapan serius. Aku sudah menguatkan dan memantapkan hatiku, aku lantas meminta penjaga mulai mengumumkan kedatanganku.


"Kalian boleh mengumumkan kedatangaku sekarang" kataku setelah beberapa saat yang lalu meminta mereka menunggu hingga aku siap bertemu dengan Ayahanda kaisar Wei.


"Yang mulia, Yang mulia putri ingin menghadap..." teriak salah satu kasim yang ikut menjaga bersama dua orang prajurit dan para dayang yang berbaris bersamanya.


"Biarkan putriku masuk!" Perintah kaisar Wei yang berada di dalam ruangan.


Pintu yang tadinya tertutup rapat lantas terbuka lebar, aku melihat Ayahanda kaisar masih berkutat dengan dokumen yang ia baca dibalik meja kerjanya. Aku melangkah masuk tanpa keraguan, melihat Ayahanda kaisar Wei yang begitu giat bekerja membuat keraguan dan ketakutanku perlahan lenyap.

__ADS_1


"Salam hormat untuk ayahanda kaisar" kataku memberi salam tak lupa membungkuk 90 derajat setelah sampai di hadapan meja kerja kaisar Wei


Kaisar Wei menaruh dokumen yang ia baca di atas meja, ia lalu mendongak dan melempar senyum seraya berkata "Bangulah putri kecil kerajaan Zhang" katanya yang langsung ku patuhi "Ada apa putri kecil kaisar ini datang kemari? Apakah kau ingin menyampaikan atau meminta sesuatu?" tanya kaisar Wei yang sangat tahu jika putrinya menginginkan sesuatu, ia akan selalu datang memohon padanya. Jika permintaannya tak terpenuhi, ia akan marah dan mendiaminya.


Aku lantas menggeleng.


"Apakah mungkin putri kecil kaisar ini datang menagih janji? Tapi bukankah Bo Qing mulai menjadi pengawalmu tanpa perlu kaisar ini turunkan titah" gumam kaisar Wei


"Ayahanda, kedatanganku kemari bukan karna itu" balasku


"Lalu apa tujuan kedatangan putri kaisar ini?" tanya kaisar Wei dengan sabar.


"Ada hal penting yang ingin kusampaikan pada Ayahanda, dan hal ini mungkin akan mempengaruhi masa depan kerajaan Zhang"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Selasa, 26 Mei 2020**


__ADS_2