Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 76


__ADS_3

Aku begitu terkejut dengan keberadaan putra mahkota Han Zi Xin di ruang kerja Ayahanda kaisar yang berada di istana Han. Butuh cukup lama untukku memulihkan kesadaran dan ekspresiku sebelum aku akhirnya berkata "Nampaknya aku datang di saat yang tidak tepat" kataku merasa tidak enak "Ayahanda bisa melanjutkan obrolannya dengan putra mahkota Han Zi Xin, aku lebih baik kembali ke kediamanku dan akan mengunjungi Ayahanda lagi nanti" tambahku lantas segera pamit undur diri.


Aku lantas segera berbalik dan pergi meninggalkan ruang kerja Ayahanda kaisar Wei, karna terlalu terburu - buru, keningku tak sengaja menabrak sesuatu yang keras dan berhasil membuatku mengaduh.


"Aw!" Aku lantas menarik diri dan mengusap keningku yang terasa sakit. Dan dengan kesal aku mendongak menatap dengan kesal apa yang baru saja ku tabrak.


"Gege!"


"Mei mei bisakah kau menggunakan kedua matamu untuk berjalan, terlebih mengapa kau nampak begitu terburu - buru?" tanyanya


Aku lantas berpikir sejenak, mungkin putra mahkota Liang tahu alasan dari kedatangan putra mahkota Xin kemari. Bukankah ini aneh, ia baru saja menghadiri perayaan ulang tahun Ibunda permaisuri, dan saat perayaan selesai ia pun pulang ke kerajaannya. Tapi hanya dalam jangka waktu yang singkat, ia datang kembali ke kerajaan Zhang tanpa pemberitahuan atau kabar mengenai kedatangannya terlebih dahulu.


Tak ingin berpikir lama, aku lantas menarik putra mahkota Liang yang nampak terkejut dengan sikapku. Disaat aku menyeretnya menuju ke pojokan, putra mahkota Liang tak berhenti protes dan bertanya mengapa aku terus menariknya paksa hingga kami tiba dipojokan.


"Mei mei ada apa denganmu, mengapa kau menarik ku kemari?" protes putra mahkota Liang untuk kesekian kalinya


"Aku hanya ingin bertanya, mengapa gege tiba - tiba terdengar sangat kesal padaku?" tanyaku dengan raut wajah memelas yang lantas membuat putra mahkota Liang sedikit panik karna ekspresiku.


"Mei mei, mei mei kau jangan menangis. Baiklah, baiklah aku yang salah" kata putra mahkota Liang mengalah.


Dibanding membuat adiknya menangis dan mendapat kemurkaan dari Ayahandanya, akan lebih baik jika ia mengalah dan tetap sabar demi hidupnya. Putra mahkota Liang tidak akan tahu bagaimana kaisar Wei akan menghukumnya, sebab untuk ingin membayangkannya saja sudah membuatnya tak berani dan ketakutan.


Mendengar perkataan putra mahkota Liang, senyum miringku pun terbit. Sangat mudah bagiku untuk memanfaatkan diri sendiri demi memperdaya putra mahkota Liang. Biarlah orang beranggapan aku sangat licik dan kejam memperlakukan putra mahkota Liang seperti ini, tapi aku melakukannya hanya karna aku terlalu penasaran akan alasan dan tujuan kedatangan putra mahkota Han Zi Xin kemari.


"Apa yang ingin mei mei tanyakan?" tanya putra mahkota Liang dengan nada suara yang terdengar begitu kasihan. Ku tebak mungkin saudaraku itu mulai memikirkan hukuman yang akan Ayahanda kaisar berikan padanya karnaku.


"Tidak banyak" kataku menjeda "Aku hanya ingin tahu, apakah gege tahu alasan kenapa putra mahkota Xin datang kemari lagi?" tanyaku menatapnya dengan tatapan dalam dan menyelidik.

__ADS_1


Putra mahkota Liang yang mendapat tatapan seperti itu lantas meneguk salivanya dengan susah payah, ia tak tahu harus menjawab apa meskipun ia tahu alasan dan tujuan putra mahkota Xin sebenarnya kedatangan tentu saja untuk melamar adiknya. Sayang ia telah berjanji untuk tetap menyembunyikannya sebelum Ayahanda kaisar mengumumkan pertunangan mereka secara resmi.


"Aku tidak tahu, mengapa mei mei tak menanyakan langsung pada putra mahkota Han Xi Zin?" tanya putra mahkota Liang "Sudahlah aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang aku harus pergi, ada banyak pekerjaan yang menungguku" tambah putra mahkota Liang bergegas pergi sebelum adiknya menemukan keanehan dari sikapnya.


Putra mahkota Liang lantas bergegas memasuki ruang kerja kaisar Wei, ia menutupnya rapat dan berbalik sambil menyandarkan punggungnya pada pintu kokoh tersebut. Nafasnya naik turun dengan bulir - bulir keringat membasahi tubuhnya. Ternyata ia sangat bodoh dalam hal melarikan diri dari situasi seperti tadi, terlebih di hadapannya adalah adiknya yang begitu peka atas intuisinya.


"Liang'er kau kenapa? Apakah kau baru saja melihat hantu?" tanya kaisar Wei yang baru saja menyadari kehadiran putra sulungnya.


"Yang kulihat barusan bahkan lebih mengerikan dari hantu" jawab putra mahkota Liang dengan nafas masih terengah - engah.


"Apa yang lebih mengerikan dari hantu?" tanya kaisar Wei penasaran


"Mei mei!" jawabnya yang berhasil membuat kaisar Wei meneguk salivanya kasar. "Aku baru saja bertemu dengan mei mei diluar dan nyaris saja membocorkan masalah kedatangan putra mahkota Han Zi Xin kemari-- jeda putra mahkota Liang menetralkan nafasnya -- untungnya aku segera melarikan diri dengan beralasan memiliki banyak pekerjaan" tambahnya yang membuat putra mahkota Xin yang mendengarnya sedikit bernafas lega karna rencananya belum terbongkar.


"Yang mulia kaisar Wei, jika boleh memberi saran, mungkin ada baiknya anda menjalankan rencana yang putri Zhang Mu Lan katakan pada anda. Mungkin itu akan mengalihkannya sejenak dari pikirannya mengenai kedatangan hamba" usul putra mahkota Xin yang langsung di setujui putra mahkota Liang.


"Baiklah" putusnya "tapi kau pasti akan terkejut melihat sisi kejam Lan'er kami" tambah kaisar Wei mengingatkan putra mahkota Xin akan kemungkinan - kemungkinan mengejutkan yang akan di tunjukan putri Zhang Mu Lan.


"Hamba akan selalu siap menyaksikan segala kejutan yang akan di tunjukan putri Zhang Mu Lan, bukankah itu adalah sisi memukaunya?" kata putra mahkota Xin Lirih


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya putra mahkota Liang saat menyaksikan putra mahkota Xin seakan menggumamkan sesuatu


"Tidak ada" kilah putra mahkota Xin yang berpikir mungkin kalimatnya sebelumnya akan lebih baik jika ia menyimpannya sendiri.


"Aku hanya tidak sabar menunggu kejuatan yang akan diberikan putri Zhang Mu Lan" tambahnya


.

__ADS_1


.


.


"Seharusnya kau membuang wanita cacat itu sejak lama!" geram Lao Fu Pei pada putranya


"Bagaimana aku ingin membuangnya di saat Ayah terus memujinya dab membangga - banggakannya hampir setiap hari. Aku hanya tak ingin Ayah kecewa" jawab sarjanawan Yu Zhu yang malah semakin membuat Lao Fu Pei geram


"Kau mementingkan perasaanku sedangkan perasaanmu sendiri kau tak pedulikan, ******** kecil yang brengsek, jika kau seperti ini semua orang akan memanfaatkan kebaikanmu!"


"Ayah sudahlah, setidaknya kita telah memutuskan hubungan dengan keluarga Ma dengan mengembalikan Ma Xiao Qing. Ini akan sangat membantu dan menyelamatkan kita dalam mara bahaya" lerai sarjanawan Yu Zhu


"Apa maksudmu?" tanya Lao Fu Pei


"Khasus kelancangan Ma Mei Rong beberapa bulan lalu telah membuat pihak kerajaan Zhang mulai memperketat pengawasan terhadap keluarga Ma, terlebih nampaknya yang mulia kaisar Wei telah mencium kebusukan yang telah direncanakan perdana mentri Ma Ze Dong dari saksi para pejabat rendah balai gubernur yang di kambing hitamkan sebagai tersangka penggelapan dana upah buruh pembangunan dermaga selatan" jeda sarjanawan Yu Zhu "Hanya menunggu waktu penyerangan dilakukan pihak kerajaan Zhang saja, mereka akan musnah. Lihatlah bukankah tindakanku kali telah ini menyelamatkan kita?"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Minggu 23 Agustus 2020**


__ADS_2