Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 15


__ADS_3

Aku tentu saja senang dengan kedatangan Bo Qing yang dengan sukarela menerima tawarannya, aku bersyukur bahkan tanpa bujukan dari Ayahanda kaisar yang ku tahu adalah sebuah perintah seperti janjinya kemarin, pemuda itu datang dengan sendiri menemuinya. Tapi yang menjadi masalah adalah putra mahkota Liang, sejak tadi ia banyak diam dan menikmati makan siangnya yang merupakan jamuan untuk para buruh bangunan dalam proyek pembangunan dermaga di pantai selatan kerajaan Zhang.


Sejak tadi raut wajah putra mahkota Liang sangat datar, namun pancaran matanya menampakan keseriusan. Aku tak tahu hal apa yang membuatnya nampak sangat serius, sehingga bahkan panggilan kaisar Wei pun tak mampu menyentaknya dari lamunan.


Aku mendesah, ku letakan sumpit dan mangkuk nasiku yang baru tersisa setengah. Aku lalu menyenggol putra mahkota Liang dengan siku sehingga saudaraku itu tersentak dari lamunannya. Saat ia melototiku aku hanya membalasnya dengan memutar bola mataku jengah sebelum berkata "Ayahanda kaisar sedari tadi memanggil gege" ucapku yang seketika membuat raut wajahnya berubah.


Putra mahkota Liang meringis sebelum menatap kaisar Wei yang kini menatapnya dengan tatapan dalam. Aku ataupun putra mahkota Liang tahu jika tatapan Ayahanda kaisar yang ia berikan sekarang adalah tatapan menilai dan menyelidik. Putra mahkota Liang yang tak tahu harus menjawab pertanyaan kaisar Wei lewat tatapannya menoleh menatapku seraya meminta bantuan. Aku hanya mampu mendesah seraya berkata "Ayahanda, maafkan gege yang bersikap lancang. Saat ini gege sedang tidak enak badan, mohon Ayahanda, ibunda dan semua orang memaklumi jika saat ini kefokusannya tak berada disini sepenuhnya" kataku berbohong.


Kaisar Wei hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia percaya pada ucapanku, sedangkan ibunda permaisuri mulai nampak khawatir dengan putranya.


"Liang'er apakah ibu perlu memanggilkan dokter kerajaan untuk memeriksamu?" tanya permaisuri Yin Yin


Putra mahkota Liang lantas menggeleng dan menjawab "Tidak perlu Ibunda permaisuri, aku hanya butuh istirahat sebentar"


Permaisuri Yin Yin mengangguk dan berkata "Jika kau merasa belum baikan, mintalah kasim atau dayang untuk memanggilkan dokter kerajaan untukmu segera" pesan permaisuri Yin Yin yang di balas anggukan oleh putra mahkota Liang.


.


.


.


Aku hanya menatap malas putra mahkota Liang yang tidur di atas pangkuanku. Selepas makan siang bersama para tamu undangan yang merupakan buruh bangunan dermaga pantai selatan, saudaraku lantas mengikutiku pulang ke pavilium Shan di banding pulang ke kediamannya di istana bagian timur. Sejak tadi wajahnya memang datar, namun pancaran semangat di kedua netranya nampak redup. Ada kesedihan dan ketakutan yang tergambar dengan celas di balik kedua netranya yang kini terpejam.


Seharusnya putra mahkota Liang masih mendiamiku karna marah telah ku permainkan, namun pemikiranku ternyata melenceng jauh setelah ia pulang menghadiri rapat pagi tadi. Suasana hati putra mahkota Liang nampaknya buruk, aku tak berani menebak hal apa yang mengganggu dan mengusiknya sehingga keceriaan dan semangatnya pagi tadi nampak lenyap seketika.


Aku hanya mampu mendesah, saat ini hanya ada kami berdua di peraduanku. Semua kasim dan dayang menunggu intruksi diluar pintu kamarku, sedangkan Bo Qing kembali pulang ke kediamannya sebelum besok ia mulai kembali keistana dan mulai menetap serta bekerja secara aktif menjadi pengawal pribadiku.

__ADS_1


"Mei mei"


Suara lirih putra mahkota Liang menyentakku dari lamunan, aku lantas dengan cepat menunduk dan mendapati putra mahkota Liang kini tengah menatapku dengan kedua netranya yang nampak redup.


"Gege.. apakah aku perlu memanggilkanmu dokter kerajaan?" tanyaku mulai nampak khawatir dengan kondisi putra mahkota Liang saat ini.


Kepala putra mahkola Liang menggeleng diatas pangkuanku, saudaraku itu lantas berkata "Aku tidak perlu dokter memeriksaku, mei mei tidak usah khawatir" jawabnya.


"Bagaimana aku tidak khawatir? Penampilan gege sangat mengkhawatirkan, terlebih aura yang gege keluarkan tak mampu untuk tidak membuatku cemas" balasku yang membuat putra mahkota Liang tersenyum tipis


"Aku tidak apa - apa, hanya sedikit kepikiran sesuatu" sahutnya


"Awalnya aku tak ingin menebak, namun melihat gege yang menjadi seperti ini, aku mengambil kesimpulan jika itu ada hubungannya dengan rapat pagi ini" tebakku yang berhasil membuat putra mahkota Liang mengembuskan nafas lelah.


"Tebakanmu mengenai sasaran" balasnya


"Lalu apa yang membuat gege begitu kepikiran, bukankah rapat kali ini hanya membahas masalah kelalaian para mentri dan pejabat dalam bertugas?" tanyaku


"Apakah gege berpikir ada hal lain?" tanyaku yang langsung di angguki putra mahkota Liang sebelum melempar pandangannya kedepan.


"Aku berpikir jika masalah ini ada hubungannya dengan perdana mentri Ma Ze Dong" kata putra mahkota Liang mengeluarkan keresahannya mengenai insting dan penalarannya selama mengikuti perdebatan dalam persidangan.


"Aku tahu gege mungkin tidak khawatir dengan perdana mentri Ma Ze Dong, tapi khawatir jika masalah ini akan berimbas dan menyeret nona Ma Xiao Qing, bukan?" tebakku yang membuat putra mahkota Liang menegang karna terkejut akan tebakanku yang mengenai sasaran.


"Aku tahu gege masih sangat menyukai nona sulung dari keluarga Ma, tapi apakah gege tahu mengapa Ibunda menggugurkan nona Ma Xiao Qing dalam kandidat putri mahkota?" tanyaku yang langsung di balas gelengan putra mahkota Liang.


"Aku tak tahu hal apa yang membuat Ibunda mengugurkannya, padahal setauku semua ujian yang di berikan ia jalankan dengan sangat lancar" aku putra mahkota Liang.

__ADS_1


"Sampai sekarang pandangan gege tentang nona Ma Xiao Qing tidak berubah" kataku yang membuat putra mahkota Liang menoleh menatapku dengan salah satu alis terangkat "Apa maksud mei mei?"


"Di pertanyaan terakhir yang di berikan ibunda permaisuri, nona Ma Xiao Qing menunjukan sisi serakah dan ambisinya yang besar. Ibunda yang menyadari perubahan dalam diri nona Ma Xiai Qing saat ibunda mengangkat topik mengenai bagaimana nanti ia mengelolah keuangan dan memimpin istana bagian dalam. Nona sulung keluarga Ma dengan sangat berambisi menjawab pertanyaan tersebut, ibunda menangkap dari perkataan nona Ma Xiao Qing jika ia ingin mendominasi dalam memimpin pemerintahan. Bukankah wanita yang sangat berambisi sepertinya tak pantas bersanding dengan gege? Dengan ambisi dan temperamennya yang seperti ini, ibunda tak yakin jika gege dapat menyeimbangi ambisinya yang besar" jelasku yang berhasil membuat putra mahkota Liang terkejut


"Aku berpikir ia di gugurkan karna mei mei tidak menyukainya" aku putra mahkota Liang.


"Apakah pemikiran gege sedangkal itu? Ibunda tidak akan mendengarkan ucapan kekanakanku hanya karna aku tidak menyukai nona Ma Xiao Qing. Ibunda punya alasan tersendiri mengapa ia mengugurkannya dulu, dan aku sudah memberitahu gege alasan itu" balasku.


"Ada satu hal yang sangat ingin ku tanyakan," kata putra mahkota Liang menjeda " Apa alasan mei mei begitu membenci Xiao Qing?" tanya putra mahkota Liang yang pada akhirnya mampu menyuarakan pertanyaan yang sedari dulu ia pendam.


"Aku tidak tahu. Saat melihatnya, perasaan tidak suka itu muncul. Mungkin karna dimana semua orang dia memiliki temperamen yang baik, namun berbanding terbalik dalam pandanganku, bagiku dia hanyalah wanita yang licik dan jahat" jawabku


"Mengapa mei mei beranggapan seperti itu?" tanya putra mahkota Liang masih menatapku dengan tatapan tajam. Mungkin karna ia tidak suka dengan jawabanku yang menjelek - jelekan wanita pujaannya bahkan setelah wanita itu telah menikah.


"Apakah gege akan percaya jika aku mengatakan aku bermimpi bahwa keluarga kerajaan Zhang tak memiliki masa depan yang baik?" tanyaku yang membuat putra mahkota Liang melotot dan mengertaknya "mei mei jaga ucapanmu!"


"Tak peduli gege akan percaya atau tidak, tapi dalam ingataku, kita semua musnah di bawah boneka - boneka yang di gerakan wanita pujaan gege" tambahku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


**TBC


Jumat, 22 Mei 2020**


__ADS_2