Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 43


__ADS_3

Ma Mei Rong menyusuri koridor panjang restoran dimana semua ruangan privasi yang berada di restoran mewah tersebut berjajar rapi di lantai dua. Ma Mei Rong terus melangkah, tak peduli banyaknya suara obrolan dan suara - suara tak senonoh di tangkap oleh indra pendengarannya sepanjang ia berjalan di koridor sebelum mencapai ruangan privasi paling pojok yang ada di lantai dua restoran tersebut.


Pengumuman kedetangannya sekilas di umumkam, suara berat yang teramat femiliar dan ia rindukan menyapa pendengarannya. Perlahan pintu dibuka, dan sosok jendral muda Wu Cheng yang tersenyum menatapnya entah mengapa membuat hati Ma Mei Rong yang di liputi kegelisahan, amarah dan dendam seketika menghangat. Semua perasaan yang ia rasakan sepanjang menyusuri dinginnya angin malam sebelum mencapai restoran mewah tempat mereka saat ini seketika menguap dan lenyap hanya dalam sekejap.


Ma Mei Rong melepas tudung kepalanya saat pintu ruangan yang di pesan jendral muda Wu Cheng tertutup, setelah itu Ma Mei Rong berlari menubruk tubuh kekar jendral muda Wu Cheng yang baru saja bangun dari duduknya dan berniat menghampirinya. Beruntungnya jendral muda Wu Cheng bisa menyeimbangkan tubuhnya saat Ma Mei Rong menubruknya dan memeluknya sangat erat, jika tidak, maka keduanya akan terjatuh.


"Wu Cheng gege, aku sangat merindukanmu" aku Ma Mei Rong dengan nada manja.


Ma Mei Rong memeluk jendral muda Wu Cheng dengan sangat erat, ia bahkan membenamkan kepalanya pada dada bidang jendral muda Wu Cheng, dan tak pula menghirup aroma tubuh kekasihnya yang begitu memabukan.


Jendral muda Wu Cheng membalas pelukan Ma Mei Rong, ia menaru dagunya di atas kepala gadis dalam dekapannya itu, tak lupa menghirup dalam aroma rambut Ma Mei Rong. Hanya dengan mencium aroma tubuh Ma Mei Rong, perlahan tatapan jendral muda Wu Cheng berubah menjadi tatapan penuh hasrat. Ia memainkan jemarinya dengan nakal pada punggung Ma Mei Rong, perlahan belaiannya turun menapai pantat Ma Mei Rong, dan dengan pelan ia pun meremasnya seiring dengan desahan kecil yang keluar dari mulut Ma Mei Rong.


"Mei Rong, aku juga merindukanmu.. bah-kan merindukan menghangatkan per-peraduanmu!" bapas jendral muda Wu Cheng serak.


"Aku akan melayani anda, asalkan berjanjilah satu hal padaku" tawar Ma Mei Rong


"Apa yang kau inginkan?" tanya jendral muda Wu Cheng yang mulai tak mampu mengontrol dirinya.


"Aku membuat masalah besar dengan membentak putri Zhang Mu Lan". "Yah, aku mendengarnya. Lalu apa yang kau minta?" tanya jendral muda Wu Cheng mulai bermain dan menciumi setiap inci leher Ma Mei Rong yang jenjang.


"Aku ingin Wu Cheng gege membantuku membujuk putri Zhang Mu Lan" kata Ma Mei Rong yang langsung di balas jendral Wu Cheng dengan cepat "Tentu saja, asalkan kau memuaskanku malam ini"


Aku yang berada di sebelah ruangan dan mendengar percakapan mereka dengan jelas bersama dengan putra mahkota Liang, Gui Feng, Bo Qing dan Ah Ke lantas bergidik ngeri. Hingga Ah Ke berkata dengan suara pelan "Aku tak menyangka ada beberapa nona muda seperti nona muda Ma" kata Ah Ke sambil melirik keluar jendela.


"Mereka telah datang!" seru Ah Ke saat menangkap siluet para tuan muda bangsawan yang mereka undang sesuai rencana.


"Wah, mereka datang disaat yang tepat" kata Gui Feng bersemangat


.

__ADS_1


.


.


Empat pemuda baru saja memasuki restoran, pemuda - pemuda itu adalah tuan muda Wang Lei, putra dari perdana mentri Wang. Lalu ada tuan Liu Lu Han, putra pejabat tinggi pengadilan Liu. Serta tuan muda An Yi Chao, dan Fu Pei yang keduanya merupakan tuan muda dari keluarga bagsawan yang tersohor, keluarga An dan Fu. Malam ini mereka mendapat undangan makan Gui Fei, tuan muda kedua dari keluarga Gui yang merupakan keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh mengingat keluarga Gui yang di kepalai oleh Gui Feng memegang penuh kekuasaan atas depertemen balai pengobatan. Keahlian mereka dalam pengobatan tidak pernah di ragukan, terlalu banyak jasa yang mereka berikan pada keluarga kerajaan Zhang sehingga nama keluarga Gui begitu di hormati oleh keluarga kerajaan Zhang dan begitu di segani oleh seluruh penduduk ibukota kerajaan Zhang karna pengaruh mereka yang besar.


Jika saja saat ini yang mengundang keempatnya kemari bukanlah tuan muda kedua kediaman keluarga Gui, mungkin saja keempatnya masih mengajukan protes di depan gerbang masuk istana dan menentang rumor mengenai bunga ibukota kerajaan Zhang yang membentak putri Zhang Mu Lan. Mereka berempat dengan tanpa bukti dan hanya percaya pada naluri mereka membantah dan menuduh jika putri Zhang Mu Lan menfitnah gadis pujaan semua pria ibukota lantaran iri dengan kecantikan dan pesona yang di miliki Ma Mei Rong bersama pemuda lain yang masih mengajukan keberatan atas rumor tersebut di depan gerbang masuk istana.


Sayangnya mereka berempat tak bisa menolak, pengaruh keluarga Gui cukup besar, terlebih sangat jarang tuan muda kedua keluarga Gui ingin mengundang mereka teman - teman sejawatnya. Tak ingin menyia - nyiakan kesempatan, mereka datang memenuhi undangan. Anggap saja kedatangan mereka sebagai mempererat pertemanan, siapa tahu kelak keluarga mereka akan turut di segani para penduduk ibukota kerajaan Zhang karna keakbaran keluarga mereka dengan keluarga Gui.


"Yi Chao apakah kau membaca dengan benar undangan Gui Fei?" tanya Wang Lei memastikan


"Tentu saja!" jawab An Yi Chao "Dalam undangannya, Gui Fei mengatakan ia akan menunggu kita di lantai dua restoran. Ruangan yang ia pesan ada di ujung lorong dimana ruangan itu menyajikan pemandangan paling indah" tambah An Yi Chao mengingat isi undangan yang mereka terima pagi tadi saat melakukan protes bersama dengan pemuda lain


"Karna kau menghafalnya sampai sedetail itu, tak perlu meminta pelayan mengantar kita" putus Liu Lu Han melangkah lebih dulu menaiki setiap anak tangga menuju lantai dua.


"Kau tak perlu khawatir, aku menghafal isi undangan dengan sangat baik saking semangatku" kata Yi Chao menyombongkan diri.


Fu Pei hanya mengangguk mengikuti ketiga sahabatnya yang berjalan di depannya menyusuri koridor restoran di sisi kanan dan kirinya berjajar ruangan - ruangan pribadi. Terlalu banyak suara obrolan, bahkan suara aneh lainnya yang entah mengapa membuat keempatnya merasakan kedua pipi mereka memanas. Darah panas jiwa mudanya bergejolak memaksanya ingin berhenti dan mendengar suara aneh itu lebih lama, namun hasrat untuk mendengar suara desahan dan lenguhan itu harus musnah ketika keempatnya mengingat tujuan keberadaan mereka kemari.


"Yi Chao, yang mana ruangan tuan muda kedua kediaman Gui?" tanya Wang Lei saat mereka telah berhenti di ujung lorong dan menatap kedua pintu ruangan yang berada di ujung lorong restoran mewah ibukota kerajaan Zhang dengan bergantian.


"Tuan muda kedua kediaman Gui tak mengatakan ruangan yang bagian mana dalam undangannya" jawab An Yi Chao


"Kau jangan bercanda Yi Chao!" tegur Wang Lei dengan nada suara yang mulai terdengar kesal.


"Aku tidak bercanda!" seru An Yi Chao nyaris berteriak namun suaranya teredam karna kedua tangan Liu Lu Han dengan sigap menutup mulut An Yi Chao.


An Yi Chao memberontak karna bungkaman Liu Lu Han yang membuatnya sulit bernafas, namun bentakan dari Liu Lu Han seketika membuat An Yi Chao seketika membeku di tempatnya "Sttt, diamlah Yi Chao!" bentak Liu Lu Han.

__ADS_1


'*Ahk, pelan.. pe--lan!'


'Ahk, ku mohon lakukan dengan cepat, ahkk*!'


"Apakah kalian tidak mendengar suara desahan yang entah mengapa terdengar sangat tidak asing itu?" tanya Liu Lu Han yang perlahan melepas kedua tangannya yang membungkam mulut An Yi Chao


"Yah, aku mendengarnya!" balas An Yi Chao


"Suaranya berasal dari ruangan bagian kanan" kata Fu Pei yang membuat ketiga temannya memfokuskan tatapan mereka pada pintu ruangan yang berada di sisi kanan mereka.


"Tidak mungkin, itu pasti bukan dia!" Seru Wang Lei melangkah menerobos ketiga sahabatnya dan dengan kasar membuka pintu di hadapannya, dan seketika keempatnya membeku menatap pemandangan dihadapan mereka.


"Ahk, Wu-- desahan Ma Mei Rong tertahan saat matanya membulat terkejut menatap tiga pemuda yang kini menatapanya dengan tatapan menjijikan.


Suara pintu di belakang keempatnya lantas terbuka, raut wajah kesal dan segala gerutuan panjang Gui Fei menyapa indra pendengaran keempat pemuda tersebut. Meskipun mereka mendengar setiap kalimat kekesalan Gui Fei, keempat pemuda itu masih sangat terkejut dengan pemandangan menjijikan dan tak senonoh di hadapan mereka. Kesadaran mereka berhasil pulih saat Gui Fei berteriak dengan kesal "ASTAGA, PEMANDANGAN MENJIJIKAN APA INI!"


.


.


.


.


.


**TBC


Sabtu, 27 Juni 2020**

__ADS_1


__ADS_2