
Amarah Ma Mei Rong yang telah mencapai ubun - ubunnya perlahan mereda saat tahu putri Zhang Mu Lan menggalih lubang kuburan untuk dirinya sendiri. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan saat menyaksikan garis yang pernah menggilai suami bedebahnya mempermalukan dirinya sendiri. Anggap saja ini sebagai bayaran atas acuhnya putri Zhang Mu Lan pada sarannya dan juga provokasinya, kini tak perlu membuat tenaga untuk menyeret gadis itu dalam masalah yang akan menjatuhkannya, karna nyatanya putri Zhang Mu Lan dengan sendirinya maju dengan suka rela mempermalukan dirinya sendiri dan menjadi tontonan banyak orang.
Ma Mei Rong begitu senang hingga amarahnya dalam sekejap menguap, ia lantas mengambil sepotong ku kering dan memakannya seraya menunggu pertunjukan yang kembali akan mencatat pencapaian putri Zhang Mu Lan dalam mempermalukan dirinya dan menjadi bahan bualan dan ejekan seluruh penduduk ibokota kerajaan Zhang dalam jangka waktu yang lama.
"Kau nampaknya begitu senang" sindiri jendral muda Wu Cheng.
Tanpa menoleh, Ma Mei Rong berkata "Tuan muda Wu benar, tidak ada hal yang lebih menyenangkan saat menyaksikan musuhmu menghancurkan dirinya sendiri" jawab Ma Mei Rong lalu menyesap tehnya dengan senyum lebar.
"Kau sungguh wanita yang licik" balas jendral muda Wu Cheng yang di akui Mei Rong karna ia tak membantah "Apakah mungkin saat rumor kecantikan putri Zhang Mu Lan tersebar di ibukota tiga bulan yang lalu, kau sudah tahu jika ia memang cantik seperti yang rumor katakan?" tanya jendral muda Wu Cheng memincing curiga.
"Kau baru sadar? Aku adalah pelaku dari semua kebodohan yang selama ini putri Zhang Mu Lan lakukan" aku Ma Mei Rong "Gadis itu terlalu menyukaimu hingga ia mau - mau saja mendengarkan saranku untuk berpenampilan lebih dewasa karna aku mengatakan jika jendral muda Wu Cheng menyukai gadis yang dewasa, pendiam, dan bodoh. Sebab jika seorang gadis cerdas dan berpendidikan tinggi dari pria, maka akan menyinggung harga diri pria tersebut. Siapa yang menyangka jika ia mendengarkan semua saran dan masukan yang ku berikan" tambah Ma Mei Rong tanpa rasa bersalah.
"Dan setelah apa yang kau lakukan, apakah kau sudah merasa menang setelah berlaku buruk seperti itu?" tanya jendral muda Wu Cheng.
"Tentu saja!" balas Ma Mei Rong tanpa berpikir dua kali "Aku telah mendapatkanmu dalam genggamanku, meskipun putri Zhang Mu Lan tak menunjukan reaksi apapun. Tapi aku tahu jika ia ataupun para nona ibukota kerajaan Zhang sangat iri dengan keberhasilanku" tambah Ma Mei Rong begitu bangga.
"Ma Mei Rong, kau begitu naif" dengus jendral muda Wu Cheng yang berhasil membuat Ma Mei Rong menoleh dan menatapnya tajam sambil berkata "Apa maksudmu!"
"Maksudku, meskipun kau menggengamku, aku tak akan membuatmu hidup dengan mudah setelah kau berhasil menangkapku dan menjeratku dalam ikatan pernikahan. Aku akan membuatmu menderita, dan kau harus bersiap menunggu waktu itu datang" jelas jendral muda Wu Cheng yang membuat Ma Mei Rong mengepal kedua tangannya erat.
__ADS_1
Jendral muda Wu Cheng kembali memberinya peringatan yang sama seperti beberapa jam yang lalu, dan Ma Mei Rong membencinya karna entah mengapa, itu berhasil menyentil keyakinan dan kepercayaan dirinya yang tinggi. Nyalinya yang besar perlahan terkikis hanya karna bayangan - bayangan buruk mengenai penderitaan yang jendral muda Wu Cheng maksud.
'Sialan, berani - beraninya ia mempermainkanku!' rutuk Ma Mei Rong dalam hati.
Saat Ma Mei Rong hendak membalas perkataan jendral muda Wu Cheng, suara yang begitu femiliar dan akrab di tangkap oleh pendengarannya. Tatapan mata Ma Mei Rong lantas teralihkan pada sosok gadis berusia 14 tahun yang tengah berada di atas panggung dengan seorang pemuda yang entah siapa namanya membantu gadis itu membawakan Qin.
"Para tamu terhormat, maaf mengganggu waktu kalian semua. Keberadaanku di sini hanya ingin memberi hiburan, ku harap kalian menikmati nyanyian dan alunin Qin yang akan ku mainkan. Namun sehubung hari sudah beranjak larut, maka ada baiknya jika para tamu undangan mulai menikmati jamuan makan malam sambil ditemani dengan alunan musik dan nyanyianku" kataku sembari duduk di panggung yang telah dibentangi kasur berbulu untukku duduk, Bo Qing bahkan telah membantuku membawakan alat musik Qin dan menaruhnya di hadapanku. Setelah mengambil posisi siap bermain, para juru masak istana, kasim, dayang dan pelayan yang bekerja di bagian dapur umum kerajaan lantas membawakan jamuan makan malam di masing - masing meja. Sembari menunggu tugas mereka selesai, aku menyetel senar Qinku terlebih dahulu.
"Liang'er apakah ini akan baik - baik saja?" tanya kaisar Wei pada putra mahkota Liang yang duduk di sampingnya.
"Ayahanda, aku juga tidak tahu. Ku harap semuanya baik - baik saja" harap putra mahkota Liang
Kaisar Wei memincing matanya curiga, ia lalu berkata "Apa maksudmu?" tanyanya saat menemukan keraguan dan kekhawatiran dari putranya.
"Putra mahkota Liang!" gertak kaisar Wei yang berhasil mencuri perhatian banyak orang. Sadar akan tatapan semua orang yang berhasil menjadikannya pusat perhatian, kaisar Wei lantas menurunkan nada suaranya.
"Kau menjerat adikmu dalam masalah, sebenarnya dimana akal sehatmu. Apakah kau sengaja membuat Lan'er mempermalukan dirinya?" tuduh kaisar Wei yang lantas langsung di balas gelengan tegas putra mahkota Liang.
"Ayahanda aku bersalah," aku putra mahkota Liang "tapi jujur aku tidak bermaksud menjerat mei mei dalam masalah ini" tambahnya membela diri.
__ADS_1
Kiasar Wei hanya mampu mendesah. Tak ada jalan lain selain menerima kenyataan setelah ini, ia tak bisa membatalkan penampilan putrinya disaat putri kecilnya telah berada di panggung. Mereka akan banyak mendapat kritikan dan hujatan jika ia mengambil sikap egois hanya karna tak ingin menjadi bahan tertawaan banyak orang.
Aku sekilas menatap tatapan khawatir Ayahanda kaisar Wei, Ibunda permaisuri Yin Yin dan putra mahkota Liang. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecil sebelum menyelesaikan menyetel senar Qin ku. Ini kali pertamanya aku menunjukan bakat bermain musikku di depan umum, biasanya aku akan bermain Qin di dalam hutan di mana tidak ada seorang pun yang melihat dan mendengarku bermain. Namun setelah berusaha melepas semua keburukanku di mata semua orang, maka kurasa aku harus mulai menunjukan satu persatu bakat yang kusembunyikan.
Aku mulai memetik satu persatu senar Qin dengan pelahan. Hingga gerakan jemariku mulai bergerak lincah dan memetik senar Qin hingga menghasilkan suara merdu dan melodi indah dari sebuah lagu yang membuat semua orang terkejut.
"I-ini.." semua orang terkejut hingga kalimat yang mereka keluarkan terbata saat mendengar melodi yang di hasilakan dari gerakan lincah dan gemulai putri Zhang Mu Lan di atas panggung, hingga putra mahkota Xin berkata
"Ini adalah irama dan melodi dari lagu dibawah cahaya rembulan"
.
.
.
.
.
__ADS_1
**TBC
Sabtu 25 Juli 2020**