
Menjadi pusat perhatian seharusnya menjadi hal biasa untuk Ma Mei Rong dan jendral muda Wu Cheng. Sikap pemalu yang dulu Ma Mei Rong kerap kali tunjukan ketika menjadi pusat perhatian meskipun dalam hati tersenyum penuh kesombongan saat ini dengan cepat berubah. Status sebagai nyonya muda Wu yang melekat padanya membuat Ma Mei Rong tak ingin menyembunyikan sikap angkuh dan sombongnya.
Salah satu tangannya melingkar di lengan kekar jendral muda Wu Cheng, wajah cantiknya menampakan senyum kemenangan dengan kepala yang di angkat tinggi. Dari ekor matanya sepanjang perjalanan menuju kursi yang telah di sediakan untuk jendral muda Wu Cheng, Ma Mei Rong melihat betapa banyaknya nona muda yang menatapnya dengan sinis dan memberinya tatapan benci. Ma Mei Rong sama sekali tidak mengambil hati tatapan mereka sebab baginya tatapan yang para nona muda berikan adalah tatapan iri atas kerja kerasnya mengait jendral muda Wu Cheng untuk menikahinya, dan dari pemikirannya itu Ma Mei Rong merasa bangga hati.
"Duduklah dengan pelan, anakku ada dalam rahimmu" perintah jendral muda Wu Cheng tegas kepada Ma Mei Rong ketika mereka tiba di kursi yang telah di siapkan pihak kerajaan.
Ma Mei Rong tentu saja menurut, ia tak ingin berdebat apalagi bertengkar. Sebab Ma Mei Rong takut sandiwara yang baru saja ia tunjukan akan membuat semua orang curiga jika hubungannya dengan jendral muda Wu Cheng tidak dalam keadaan baik. Ma Mei Rong tak ingin semua orang tahu kebohongannya, maka dari itu ia hanya patuh mengikuti perintah.
"Lihatlah siapa yang datang, bagaimana bisa gadis ******* sepertinya berhasil membuat jendral muda Wu Cheng yang berbakat terikat dengan wanita sepertinya" kata seorang nyonya berusia 30an dari barisan pejabat militer yang berada satu tenda dengan Ma Mei Rong
"Aku tidak tahu, yang ku dengar dari rumor yang sempat beredar, ia mengandung. Hanya saja kita tidak tahu jika anak yang dikandungnya adalah anak jendral muda Wu Cheng" balas nyonya muda yang masih di barisan sama dan tenda yang sama dengan Ma Mei Rong.
Ma Mei Rong yang mendengar hal itu tentu saja tidak terima. Perkataan para nyonya - nyonya pejabat meliter itu seakan - akan mengatakan jika ia di tiduri bukan hanya jendral muda Wu Cheng saja, tapi ada banyak laki - laki lain yang menghangatkan peraduannya. Ma Mei Rong hendak berdiri dan membela dirinya, namun pergerakannya tertahan saat jendral muda Wu Cheng dengan cepat menahan dan menarik lengannya sehingga Ma Mei Rong berakhir duduk kembali di tempatnya.
"Apa yang kau lakukan? Mereka mengfitnahku dan kau menahanku untuk membela diri, apa maksudmu dengan ini?" tanya Ma Mei Rong tidak terima dengan perlakuan jendral muda Wu Cheng yang begitu kasar.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang berkata begitu!" tegas jendral muda Wu Cheng "Apa yang hendak kau lakukan? Kau ingin mempermalukan keluarga Wu, hah?" tanya jendral muda Wu Cheng dengan nada sinis.
"Ingatlah posisimu sekarang Ma Mei Rong. Kau bukan lagi bagian dari keluarga Ma, karna anak yang ada dirahimmu, keluarga Wu menampungmu. Ingatlah bagaimana kami mempelakukanmu dengan sangat baik, jangan membuat kekacauan dan juga masalah yang akan menyeret sertakan keluarga Wu. Jika kau membuat masalah, akan ku pastikan hidupmu akan sengsara karna telah memasuki keluarga Wu!" ancam jendral muda Wu Cheng yang jujur saja berhasil membuat Ma Mei Rong merasa takut.
Ma Mei Rong berusaha mengusir rasa takutnya, setelah memgumpulkan keberanian, ia lantas berkata "Kau tidak akan berani melukaiku. Ingatlah aku mengandung penerus keluarga Wu!" balas Ma Mei Rong yang berhasil membuat jendral muda Wu Cheng menyeringai kejam.
"Kau yakin?" tanya jendral muda Wu Cheng yang entah mengapa malah membuat Ma Mei Rong bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah ia yakin dengan perkataannya barusan? Mengingat perawakan jendral muda Wu Cheng, ia bisa mati di tangannya saat ini juga. Jika bukan karna peraturan keluarga Wu juga bukan karna perdana mentri Ming yang begitu mengagumkan kedamaian dan kebersihan dari berbagai masalah untuk keluarga Wu, mungkin sejak dua minggu yang lalu ia telah di bunuh dan lenyap tanpa kabar oleh pria di sampingnya. Memikirkan hal itu, seketika Ma Mei Rong merasa nyalinya menciut. Semua angannya perlahan di kikis oleh kalimat tajam dan menusuk dari jendral muda Wu Cheng yang membunuh semua harapan dan semangatnya mencapai apa yang ia inginkan.
'Lantas apakah aku akan berdiam diri saja ketika ia akan menindasku?' batin Ma Mei Rong bertanya
Memikirkan masalah menjadi 'istri yang patuh', tiba - tiba saja Ma Mei Rong teringat dengan Ma Xiao Qing. Apa kabar dengan wanita itu? Apakah hidupnya masih saja sama, menderita menikahi pria yang menyimpang seperti sarjanawan Lao Yu Zhu? Ah, ia sangat begitu berharap jika wanita licik dan sangat ia benci masih menderita dan terkurung dalam sangkar keluarga Lao. Ngomong - ngomong masalah Ma Xiao Qing, sampai saat ini Ma Mei Rong tak kunjung jua menemukan keluarga Ma ataupun keluarga Lao. Mungkinkah mereka tidak datang? pikir Ma Mei Rong.
Baru saja Ma Mei Rong memikirkan keluarga Ma dan keluarga Lao, tiba - tiba pengumuman kedatangan keluarga Ma dan keluarga Lao oleh seorang penjaga gerbang berhasil menyentak Ma Mei Rong dari pikirannya. Ia lantas mempersiapkan dirinya untuk melihat pertunjukan pertama sekaligus pembuka untuknya malam ini.
__ADS_1
Ma Ze Dong berjalan masuk bersama dengan Cai Ning, disusul di belakangnya Lao Yu Zhu berjalan dengan Ma Xiao Qing yang saling bergandengan tangan menunjukan kemesraan yang tentu saja Ma Mei Rong ketahui hanyalah sebuah kepalsuan dan sandiwara yang keduanya bangun selama ini untuk menutupi kecacatan Lao Yu Zhu dan niat buruk Ma Xiao Qing yang memanfaatkan kekayaan keluarga Lao.
Setelah keempatnya duduk dikursi masing - masing, tatapan Ma Mei Rong tidak pernah lepas memperhatikan mereka. Merasa di tatap dengan tatapan tajam oleh seseorang, perdana mentri Ma Ze Dong lantas menatap para tamu dari segala penjuru hingga pada saat kedua matanya menemukan Ma Mei Rong, ia sangat terkejut hingga tak menyadari tindakannya saat ini mencuri perhatian banyak orang.
"Ma Mei Rong, mengapa kau ada disini, hah?!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
**TBC
Selasa 14 Juli 2020**