
"Kau yakin bisa menang?" tanyaku untuk kesekian kalinya saat kami telah berada di markas pasukan khusus Shi Rong yang berada di dalam gua bukit timur. Awalnya baik aku ataupun Bo Qing berpikir jika di dalam gua hanya akan ada ruangan besar yang gelap dan terasa pengap. Namun semua bayangan yang kami bayangkan musnah saat kami melewati gua yang lumayan dalam dan panjang ketika melewati cahaya terang dan padang rumput adalah hal pertama kami lihat menyapa kedua bola mata kami.
Untuk sesaat aku merasa tabjuk dengan tempat persembuyian prajurit khusus Shi Rong, selain itu bangunan - bangunan markas pelatihan yang berdiri di hamparan rumput hijau yang di kelilingi pepohonan bambu hijau dan kuning memberiku kesan jika tempat ini nyaris sama dengan sebuah desa. Namun rasa tabjukku tak bertahan lama, saat mengingat tujuan kami di sini adalah menguji kemampuan Bo Qing. Rasa khawatir yang kurasakan tak pernah bisa lepas dari pikiranku, tak henti - hentinya pun aku selalu bertanya pada Bo Qing pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang baru ku ajukan.
"Yang mulia, pengawal ini mungkin tidak bisa menang. Namun yang perlu anda tahu, hamba tidak akan menyerah" tekad Bo Qing "Mungkin anda akan terkejut, tapi pengawal ini akan semakin kuat ketika seluruh tubuh pengawal ini merasa sakit ataupun terluka" tambahnya yang membuatku terbelalak
"Maksudmu tubuhmu butuh rangsangan terlebih dahulu sebelum melawan balik?" tanyaku
Jujur saja mendengar perkataan Bo Qing jelas sangat membuatku terkejut, bagaimana pun seseorang yang mendapat pukulan bahkan luka jelas akan kekurangan tenaga untuk melawan balik. Namun mengapa Bo Qing berkata ia butuh merasakan sakit terlebih dahulu sebelum percikan api untuk membalas dan melawan membara. Aku tidak tahu fakta itu, dalam ingatanku ia merupakan prajurit yang hebat dengan segudang prestasi kemenang kala ia turut terjun dalam peperangan yang terjadi. Selain itu ia merupakan orang yang setia. Kesetiaannya terbukti saat Ayahanda kaisar meminta pasukannya mundur dan menyerah, padahal saat itu Bo Qing begitu keras ingin melawan pihak jendral muda Wu Cheng yang melakukan pemberontakan dengan bantuan dukungan dari keluarga perdana mentri Wu dan keluarga perdana mentri Ma, serta keluarga mentri dan pejabat lainnya yang tidak seberapa. Hanya karna aku menjadi sandra, maka pondasi pertahanan dan kekuatan kerajaan Zhang menjadi goyah dan lemah.
"Bisa di bilang seperti itu yang mulia putri" jawab Bo Qing yang menyentakku dari lamunan.
Aku lantas mengerjap beberapa saat sebelum merespon perkataan Bo Qing yang kini tengah bersiap dengan mengangguk - anggukan kepala sebagai tanda bahwa aku paham dengan perkataannya.
"Kekuatanku baru akan keluar ketika otakku memberi peringatan jika aku terancam dalam bahaya, dan dengan begitu pengawal ini baru akan bangkit dan membalas serangan dengan sekuat tenaga" tambah Bo Qing
__ADS_1
Walaupun Bo Qing menjelaskan semua fakta yang belum ku ketahui, tetap saja perasaan cemas, khawatir dan takut yang kurasakan tak kunjung hilang. Mungkin karna penjelasan Bo Qing belum meyakinkanku terlebih sejak terbangunku dari mimpi buruk atau sejak terbangunku dari kematian dan kembali ke usiaku yang ke 14 tahun yang hingga kini menjadi pertanyaan besar, atau karna sosok Ah Ke yang memiliki kekuatan, kemampuan, keahlian, bakat dan keterampilan yang hebat sehingga aku mencemaskan Bo Qing yang baru saja hari ini resmi menjadi pengawal pribadiku.
Aku memang belum pernah melihat sosok Ah Ke, juga bagaimana kuatnya sosok pemuda itu. Namun dalam ingatanku putra mahkota Liang kerap kali menyebut namanya bahkan memuji perkembangan dari setiap latihannya. Aku tahu putra mahkota Liang adalah orang yang cukup serius, ia hanya akan memuji seseorang jika memang orang tersebut pantas di puji, ia akan menyukai seseorang jika orang itu menarik baginya, dan ia selalu sulit melupakan hal penting. Salah satu contohnya adalah ia masih belum melupakan putri sulung keluarga Ma, Ma Xiao Qing.
"Mei mei, perkenalkan ini adalah Ah Ke. Dia yang akan melawan Bo Qing dan di samping Ah Ke adalah Gui Feng tangan kananku" kata putra mahkota Liang yang menyentakku dari lamunan
Aku kembali mengerjap untuk kedua kalinya, lalu menatap putra mahkota Liang dengan tatapan bertanya. Sebab bagaimanapun aku terlalu larut dengan pikiranku, hingga tak mendengar perkataan putra mahkota Liang dengan jelas. Putra mahkota Liang yang menyadari perkataanku lantas mendesah sebelum kembali memperkenalkan dua pemuda yang datang bersamanya entah dari mana.
"Ini Ah Ke -- kata putra mahkota Liang memperkenalkan pemuda di samping kirinya yang akan bertarung dengan Bo Qing sebentar lagi. Pemuda yang bernama Ah Ke nampak berumur 20 tahun, awalnya ia sempat membuatku terkejut tak percaya jika ia adalah seorang prajurit khusus Shi Rong. Pasalnya kulitnya terlalu putih di antara para prajurit Shi Rong lain yang rata berkulit coklat -- Mei mei tak usah terkejut, dari dulu warna kulitnya seperti ini walaupun ia terpapar ataupun berjemur di bawah matahari sekalipun" tambah putra mahkota Liang yang seakan membaca pikiranku
"Suatu kehormatan bisa berkenalan dan bersalaman dengan yang mulia putri Mu Lan" kata Ah Ke yang ku balas dengan senyum dan berkata "suatu kehormatan juga untukku bisa bertemu secara langsung dengan ptajurit terbaik Shi Rong"
Setelah berjabat tangan dengan Ah Ke yang kini beralih pada Bo Qing yang baru saja selesai di perkenalkan putra mahkota padanya, aku lalu berjabat tangan dengan tangan kanan putra mahkota Liang yang seingatku juga adalah sahabatnya "Anda sudah tumbuh semakin cantik" katanya yang membuatku lantas menaikan satu alis bingung dengan perkataannya "hamba selalu melihat dan mengamati anda dari kejauhan, itupun karna perintah putra mahkota Liang. Hamba sudah lama mengenal anda, walaupun anda baru mengenal hamba yang rendah ini" jelasnya yang membuat ku mengangguk lalu berkata "terima kasih atas kemurahan hati kakak Feng yang selalu melindungi dan mengamati gadis lemah ini" balasku
"Feng adalah orang yang menyelamatkanmu sebelum aku datang menolongmu saat kau jatuh" tambah putra mahkota Liang yang membuatku terkejut.
__ADS_1
Aku lantas melepas tautan tangan kami yang masih berjabat tangan, aku lantas membungkuk 90 derajat dan mengucapkan terima kasih atas pertolongannya tempo hari dengan tulus. Gui Feng memintaku bangun, ia lalu terkekeh dan menoleh menatap putra mahkota Liang sesaat sebelum mengalihkan tatapannya kembali tertuju padaku dan berkata "Terakhir kali aku mengamati dan memantau yang mulia putri Mu Lan saat menyelamatkan anda saat jatuh, karna akhir - akhir ini aku sibuk, tak ku sangka anda sudah banyak berubah sejak kejadian itu. Perkataan putra mahkota Liang ternyata benar, anda sudah banyaj berubah" katanya yang entah mengapa membuat jantungku berdebar
Deg!
.
.
.
.
.
**TBC
__ADS_1
Senin, 1 Juni 2020**