
'Setelah berencana memusnahkan keturunan keluarga Wu dan menghancurkannya, lantas setelahnya apa yang ia lakukan?'
Pertanyaan itu terus tergiang - ngiang dalam kepala Ma Mei Rong, ia terus memikirkan rencana kedepannya setelah ia menghancurkan keluarga Wu hingga tak tersisa, apa yang akan ia lakukan setelahnya? Membalaskan dendamnya pada keluarga Ma? tapi bagaimana caranya? bukankah tumpuan yang membuatknya kuat saat ini dikarnakan ia adalah menantu keluarga Wu meskipun statusnya masih seorang selir. Lalu bagaimana jika ia menghancurkan keluarga Ma jika ia lebih dulu menghancurkan keluarga Wu lebih cepat? Darimana ia mendapat dukungan dan kekuatan? ia tak mungkin menjual dirinya dan di gulir para pria hidung belang di luar sana hanya untuk mencari dukungan, sudah cukup dirinya dikotori oleh pria seperti jendral muda Wu Cheng dan Dong Jui. Meskipun nasibnya dan kehidupannya begitu malang serta di injak - injak, setidaknya ia masih memiliki harga diri yang tinggi yang membuatnya mampu bertahan.
Namun sampai kapan ia akan tetap seperti ini? Sampai kapan ia harus di perlakukan buruk dan dingin oleh perdana mentri Wu Ge Ming, sampai kapan ia akan di siksa oleh jendral muda Wu Cheng dengan sikapnya yang dingin serta perbuatannya mengganti - ganti wanita setiap hari dan memperdengarkannya suara - suara menjijikan yang kerap kali membuat darahnya mendidih.
Ia butuh sebuah cara bagaimana ia bisa menghancurkan dua keluarga sekaligus tanpa harus menjual dirinya hanya untuk mencari dukungan dan kekuasan, tapi dengan hal apa? Ia telah memiliki sebuah rencana yang bisa menghancurkan kelurga Wu, tapi hal apa yang ia miliki untuk mampu menghancurkan keluarga Ma? Seketika kedua mata Ma Mei Rong membulat, ia baru saja mendapatkan sebuah hadiah besar yang dapat menghacurkan keluarga Ma tanpa harus di tiduri para pria hidung belang di luar sana.
"Ma Mei Rong.. katakan selamat tinggal sebentar lagi untuk keluarga Ma yang telah membuangmu, keluarga Wu yang telah memperlakukanmu lebih rendah dari para pelayan dan untuk Dong Jui yang telah memperdayamu di atas peraduan, karna sebentar lagi kau akan menghancurkan mereka dengan satu pukulan telak" kata Ma Mei Rong dengan senyum keji menghiasi wajahnya yang kini nampak membulat karna pengaruh kehamilannya.
"Ma Xiao Qing, akhirnya aku memiliki satu rencana yang bisa menghancurkanmu dan juga keluarga Ma sekaligus" kata Ma Mei Rong "Setelah ini, kau akan menyesal telah mencari masalah denganku" tambah Ma Mei Rong
"Tapi dari mana aku memulainya? Keluarga Ma atau keluarga Wu terlebih dahulu?" tanya Ma Mei Rong pada dirinya sendirinya.
"Ah sudahlah, siapa yang pertama ku hancurkan itu tidak perlu di masalahkan, yang terpenting rencana ini harus berhasil" tukas Ma Mei Rong
.
.
__ADS_1
.
3 hari berlalu begitu cepat, selama itu pula Ma Mei Rong lebih banyak diam di kamarnya, hal itu tentu saja membuat jendral muda Wu Cheng merasa aneh dan curiga. Karna perasaan yang tak biasa ia rasakan, ia lantas bertanya pada salah satu pelayan yang kini menajawab pertanyaannya mengenai segala kegiatan Ma Mei Rong 3 hari terakhir.
"Nyonya muda selama 3 hari terakhir lebih banyak istirahat dalam kamarnya tuan muda, nyonya selalu mengeluh kelelahan dan mungkin hal itu di sebabkan oleh kehamilanya" jawab pelayan yang ia tanyai
Jendral muda Wu Cheng mengangguk dan memerintahkan palayan itu pergi dengan mengibaskan tangannya. Setelah pelayan itu pergi, jendral muda Wu Cheng memikirkan jawaban pelayan itu berulang kali, namun tetap saja ia masih merasa curiga. Jendral muda Wu Cheng merasa aneh dan tak terbiasa dengan ketenangan Ma Mei Ron, rasa curiga yang ia rasakan pada wanita itu tak kunjung berkurang, meskipun demikian, jawaban pelayan kediamannya barusan tentu saja terdengar masuk akal, mungkin Ma Mei Rong kelelahan karna kehamilannya.
"Kurasa aku perlu memastikannya" putus jendral muda Wu Cheng yang tak bisa tenang dan menghilangkan kecurigaannya pada Ma Mei Rong.
Jendral muda Wu Cheng lantas beranjak bangun dari kursi kerjanya, ia melangkah keluar dari ruangan kerjanya dan menyusuri koridor yang ada di kediamannya sebelum ia sampai dihadapan pintu kamar Ma Mei Rong. Para pelayan yang menjaga di depan pintu lantas langsung membungkuk saat menyadari kehadirannya, namun dengan angkuhnya jendral muda Wu Cheng belalu di hadapan mereka dengan dingin dan membuka pintu kamar Ma Mei Rong dengan kasar hingga menghasilkan suara 'Buk!' yang cukup keras.
"Apa masalah apa hingga membuatmu datang kemari?" tanya Ma Mei Rong menyodorkan cangkir ramuan penguat janin yang telah ia minum pada pelayan "Kupikir kau tak akan mengunjungi selirmu ini karna terlalu asik bersenang - senang dengan para ****** - mu" tambah Ma Mei Rong sarkas.
Mendengar perkataan Ma Mei Rong, darah jendral muda Wu Cheng terasa mendidih. Harusnya ia tak perlu curiga pada aanita licik dihadapannya karna kondisinya saat ini terlihat sangat rapuh, harusnya ia tak datang kemarin sebab meskipun wanita sialan itu nampak sakit, mulutnya masih saja sehat mengeluarkan kata - kata sarkatis yang menusuk seperti ini.
Tanpa menjawab perkataan Ma Mei Rong, jendral muda Wu Cheng lantas berbalik dan pergi. Ma Mei Rong nampak baik - baik saja dilihat dari bagaimana ia memancingnya untuk saling berdebat dan adu urat untuk pagi ini, untungnya ia tak menjawab ataupun membalas, sebab ia perlu menyimpan tenaganya sebelum memuaskan diri bersenang - senang dengan para wanita bayaran yang akan menghangatkan peraduaannya.
Selepas kepergian jendral muda Wu Cheng, Ma Mei Rong lantas tersenyum menyeringai. Dalam hati ia berkata 'Hanya tinggal menunggu obat itu bereaksi, maka aku akan menjalankan rencana selanjutnya'
__ADS_1
Disaat Ma Mei Rong menanti hari kehancuran jendral muda Wu Cheng tiba, di sisi lain, tepatnya di perbatasan antara kerajaan Han dan kerajaan Zhang, nampak sebuah rombongan tengah memasuki wilayah kerajaan Zhang. Kereta - kereta berisi hadiah tengah di apit oleh para prajurit berseragam lengkap, hembusan angin kencang pagi ini meniup panji - panji berlambangkan kerajaan Han. Rombongan itu adalah rombongan putra mahkota Han Zi Xin, kedatangannya kembali bukan untuk menghadiri sebuah pesta yang di adakan kerajaan Zhang, bukan pula menghadiri rapat perpanjangan kerja sama antara kerajaan Han dan kerajaan Zhang, tapi kedatangannya kembali ke kerajaan Zhang untuk memenuhi janjinya 5 tahun terakhir.
"Yang mulia putra mahkota, sebentar lagi kita akan memasuki ibukota kerajaan Zhang" kata Zian mengingatkan
"Aku tahu, jadi berhentilah memberitahuku, sebab itu hanya akan membuatku semakin gugup!"
.
.
.
.
.
**TBC
Sabtu 15 Agustus 2020**
__ADS_1