Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 72


__ADS_3

Seperti yang rumor katakan, Dong Jui sangatlah buas diatas peraduan. Terbukti bagaimana pemuda itu membuat Ma Mei Rong sampai saat ini belum beranjak dari atas peraduan, ia terlalu lelah dan lemah hanya untuk bangun dan mendudukan dirinya.


"Dong Jui brengsek, ia sungguh tak menahan dirinya memperdayaku seperti ini" kata Ma Mei Rong kesal berusaha sekuat tenaga bangun dari kamar penginapan yang juga berada di restoran yang mereka tempati semalam.


Setelah berhasil bangun dan memasang kembali pakaiannya yang berserakan dibawa peraduan, Ma Mei Rong melangkah keluar penginapan dengan kedua kaki gemetaran. Dengan susah payah Ma Mei Rong melangkah keluar dari kamar penginapan sedini mungkin dengan menahan rasa sakit di bawah selangkangannya, ia harus segera kembali sebelum jendral muda Wu Cheng ataupun perdana mentri Wu Ge Ming menyadari jika dirinya tak ada di kediaman Wu semalaman.


"Ma Mei Rong, hanya untuk malam ini, setelah kau membalaskan dendammu, Dong Jui tak ada gunanya lagi untukmu. Bertahanlah dan setelah itu pergilah sejauh mungkin" kata Ma Mei Rong menguatkan diri.


Ma Mei Rong keluar dari restoran tersebut dengan penyamaran yang lengkap, ia mengenakan pakaian yang memang berwarna gelap. Tudung kepala dengan kain satin hitam yang menjuntai hingga dada menyamarkan wajahnya, ia melangkah membelah dinginnya angin dini hari yang menusuk hingga tulang.


Meskipun Ma Mei Rong kedinginan, ia tetap melangkah tergesah dengan susah payah. Ia harus tiba segera di kediaman Wu tanpa sepengetahuan orang - orang kediaman Wu, terlebih ia tahu jika jendral muda Wu Cheng sama sekali tak peduli padanya hingga tak menempatkan seorang prajurit untuk mengawasinya, sehingga Ma Mei Rong bisa berkeliaran bebas seperti ini.


Terlaru berlarut - larut dalam pikirannya, Ma Mei Rong tak menyadari jika ia telah tiba di pintu gerbang bagian belakang kediaman Wu. Suasana masih sangat gelap, udara yang dingin sudah pasti membuat sebagian orang masih memilih bergelun dalam selimut tebal mereka.


Ma Mei Rong lantas memasuki pintu gerbang bagian belakang yang memang sangat jarang di pakai itu dengan hati - hati, engsel pintu yang telah berkarat bisa saja menghasilkan bunyi keras yang menganggu. Dengan hati - hati, Ma Mei Rong berhasil masuk, dan sesuai perkiraan dan perhitungannya kediaman Wu masih sangat sepi seperti 3 hari yang lalu.


Ma Mei Rong berhasil kembali kekediamannya tanpa di curigai siapapun, saat ia tiba di kediamannya, ia langsung mengganti pakaiannya dan menyembunyikan pakaian penyamarannya sebelum ia berpura - pura memejamkan matanya, namun akhirnya kebablasan tertidur karna kelelahan melayani Dong Jui hanya karna sebuah ramuan mandul.


Namun baru saja Ma Mei Rong terlelap beberapa saat, suara desahan dan lenguhan seorang wanita di sebelah kamarnnya mengganggu tidur Ma Mei Rong. Dengan kesal Ma Mei Rong bangun dan mendudukan dirinya di atas peraduan, ia lantas menoleh dan menatap dinding kayu yang menjadi pembatas kamarnya dengan kamar milik jendral muda Wu Cheng.


Harusnya Ma Mei Rong sudah terbiasa mendengar suara yang entah mengapa terdengar menjijikan di telinganya selama 3 hari terakhir, namun semakin hari Ma Mei Rong mulai merasa muak dan tak tahan dengan perlakuan jendral muda Wu Cheng yang memperdengarkannya suara - suara menjijikan yang kerap kali membuatnya geram.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tinggal diam seperti ini," tegas Ma Mei Rong pada dirinya "Kurasa aku harus menjalankan rencanaku segera!"


.


.


.


Disisi lain tepatnya di istana Han, kaisar Wei baru saja pulang sehabis menyelesaikan rapat rutin dengan para pejabat pemerintahan. Sepanjang rapat ia hanya mendengarkan segala omong kosong yang katakan para perdana mentri kerajaan Zhang mengenai kinerja mereka selama satu bulan, mereka terus membual dan membangga - banggakan diri mereka dengan sebuah kebohongan dengan trik memalsukan data agar ia percaya. Sayangnya semua yang mereka katakan tidak berhasil memperdayanya dan itu semua berkat peringatan putri kecilnya dan kasus penggelapan dana upah buruh beberapa waktu yang lalu.


Bukti yang ia miliki sudah sangat cukup untuk menyeret semua pejabat yang diam - diam membentuk aliansi pemberontakan terhadap keluarga kerajaan, awalnya hanya sebuah praduga kaisar Wei, namun beberapa waktu yang lalu praduganya di perkuat dengan datangnya laporan dari para prajurit khusus kerajaan yang mengawasi kediaman perdana mentri Ma Ze Dong yang melakukan pertemuan dengan para pejabat dan sarjanawan yang berhasil di hasutnya.


"Ayahanda akhirnya kau kembali" katanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Lan'er mengapa kau tidur disini sayang, apakah lehermu tidak terasa sakit?" tanya kaisar Wei terdengar khawatir.


"Aku menunggu Ayahanda, ada hal yang ingin ku tanyakan" jawabku mengucek kedua mataku yang masih terasa berat.


"Hal penting apa yang membuat putri kecil pria tua ini datang hingga menunggu seperti ini?" tanya kaisar Wei melangkah menuju meja kerjanya dan duduk di kursi kerjanya dengan kedua tangan bertumpu di atas meja dan salin bertautan.


"Hanya tentang beberapa hal mengenai makan siang bersama keluarga kerajaan Han terakhir kali yang entah mengapa begitu menggangguku" jawabku tanpa menunda dan membuang - buang waktuku hanya untuk sekedar berbasa basih pada Ayahanda kaisar.

__ADS_1


Mendengar pertanyaanku, kaisar Wei nampak sedikit terkejut, namun ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya dan berkata "Apakah jika Ayahandamu ini berkata tidak ada, kau akan percaya?" tanyanya yang membuatku lantas menjawabnya dengan gelengan.


"Lihatlah, kau tidak akan percaya apa yang akan Ayahanda katakan jika mengatakan tidak ada perbincangan atau hal penting hari itu selain hanya makan siang bersama sebelum kepulangan putra mahkota Han Zi Xin dan pangeran Han Ze Min ke kerajaan Han" jelas kaisar Wei berusaha menutupi kejadian sebenarnya dengan cara berbohong.


Aku menatap Ayahanda kaisar dengan tatapan tajam dan dalam, aku menatap kedua mata Ayahanda bahkan membaca gerak geriknya seraya mencari cela untuk mencurigai dan menemukan kebohongan dari perkataan kaisar Wei, sayangnya aku sama sekali tak menemukan apapun yang membuatku yakin jika kaisar Wei tengah membohongiku.


Disaat aku menatap Ayahanda dengan berpikir cukup lama mengenai perkataannya yang masih membuatku ragu, di sisi lain kaisar Wei mulai merasa gugup. Kelemahan terbesarnya adalah putri kecilnya dan akan sangat mudah menemukan cela yang dapat membuat putrinya ataupun semua orang curiga jika saat ini ia tengah berbohong, terlebih kelemahannya saat ini ada di hadapannya. Tapi karna ia telah berjanji, ia akan berusaha untuk tetap bertahan seperti ini dan berharap jika putri kecilnya percaya dengan kebohongannya saat ini, sebab biarlah waktu yang menjawab pertanyaan putrinya dengan kedatangan putra mahkota Han Zi Xin secara resmi.


.


.


.


.


.


**TBC


Sabtu 15 Agustus 2020**

__ADS_1


__ADS_2