Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 52


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, pagi ini kiriman dari penjahit terkenal ibukota Zhang mendatangi kediaman keluarga Wu setelah pesanan baju yang mereka jahit telah selesai. Pagi ini tentu saja Ma Mei Rong menyambut kiriman pakaian - pakaiannya dengan sangat senang, pasalnya kapan lagi ia merasakan menjadi wanita berkuasa dan di manja berkat bayi dalam kandungannya.


Ma Mei Rong membuka bungkusan pakaiannya dengan semangat, saat bungkusan tersebut terlepas, ia lantas segera membuka kotak di hadapannya. Saat kotak terbuka sepenuhnya, potongan potongan pakaian berwarna terang menyapa indra penglihatan Ma Mei Rong. Warna - warna pakaian yang berada dalam kotak tersebut merupakan kain - kain yang Ma Mei Rong sendiri pilih dalam gudang penyimpanan keluarga Wu. Sehubung dalam keluarga Wu tidak memiliki wanita lain dalam kediaman mereka selain dirinya, terlebih baik perdana mentri Ming dan jendral muda Wu Cheng tidak terlalu mementingkan gulungan - gulungan kain yang ada banyak di gudang, akhirnya Ma Mei Rong menjahitnya beberapa potong pakaian untuk dirinya.


"Aku akan menggunakan pakaian ini nanti!" seru Ma Mei Rong mengangkat sepotong pakaian berwarna emas yang begitu terang dan mencolok.


Beberapa pelayan yang berada dalam ruangan yang sama dengannya saat ini hanya melihat sekilas sebelum menunduk dan memggelengkan kepala saat melihat pilihan Ma Mei Rong jatuh pada pakaian berwarna sangat terang dan sangat tidak cocok dengan kulitnya yang kuning langsat.


"Aku tidak tahu bagaimana bisa nyonya muda menjatuhkan pilihannya pada pakaian berwarna emas di bandingkan potongan pakaian lain yang berwarna cerah dan kalem" bisik seorang pelayan pada rekannya


"Setahuku ia adalah gadis yang pandai dalam berpenampilan selain karna rupanya yang cantik, tapi mengapa sekarang selera pakaiannya nampaknya berubah?" tanya pelayan lainnya


"Entah mungkin karna hormon kehamilannya atau karna ia ingin memamerkan pakaian yang merupakan salah satu dari gulungan kain langka yang di berikan yang mulia kaisar pada tuan muda saat memenangkan peperangan" jawab dayang yang bertubuh lebih berisi dari yang lainnya.


Apa yang di katakan para pelayan tentu saja tidak sepenuhnya salah. Ma Mei Rong ingin memakai pakaian tersebut untuk di pamerkan pada semua orang yang pernah menghinanya hanya karna keburukannya beberapa hari yang lalu karna telah berhubungan dengan jendral muda Wu Cheng tanpa adanya ikatan pernikahan. Selain itu ia ingin membuat keluarga Ma menyesal karna telah membuangnya dan ia ingin menunjukan pada perdana mentri Ma Ze Dong, Ma Xiao Qing dan putri Zhang Mu Lan bahwa ia hidup dilimpahi oleh kekayaan, kemakmur dan kasih sayang lewat pakaian yang ia kenakan. Walaupun semua yang akan ia tunjukan nanti hanyalah kepalsuan sebab keluarga Wu hanya memperlakukannya dengan baik hanya karna bayi yang di kandungnya.


"Pokoknya aku akan tampil beda dan mencuri perhatian banyak orang nanti!"


.

__ADS_1


.


.


"Haccuhh!"


Aku mengusap hidungku yang terasa gatal, sejak kemarin hingga hari ini aku tak berhenti untuk terus bersin. Aku tak tahu apakah aku mungkin akan flu atau hanya karna ada yang menyebut - nyebut namaku dari belakang. Dari kedua praduga itu, aku malah memilih yang kedua. Semua orang tak akan pernah berhenti membicarakan keburukanku, dan mungkin cerita yang mereka bahas kali ini tentangku adalah karna ketidak inginanku menjemput dan menyambut rombongan kerajaan Han kemarin siang.


Sudahlah, dibanding memikirkan alasan mengapa aku bersin. Ada baiknya jika aku membaringkan tubuhku sambil memikirkan dan mempersiapkan rencana - rencana selanjutnya. Karna tindakanku yang mengubah garis takdirku begitu awal dengan mempersatukan Ma Mei Rong dan jendral muda Wu Cheng lebih awal, semua masalah yang akan menghampiriku dan juga keluarga kerajaan Zhang pun akan turut berubah. Meskipun demikian, aku harus tetap waspada jika suatu saat ada satu atau lebih masalah dan bencana yang sama dalam ingatanku akan datang menghampiri kami.


Aku mendesah setelah berhasil membaringkan tubuhku di atas kasur peraduanku yang empuk. Rasa nyaman yang kurasakan berhasil mengusir rasa khawatir yang menyerangku. Otakku sedari tadi ku paksa untuk berpikir, menduga - duga hal apa saja yang akan terjadi padaku di masa mendatang. Namun karna terlalu banyak praduga buruk yang ku pikirkan, aku sama sekali tak menemukan titik terang mana dari semua masalah dan praduga yang mungkin akan terjadi padaku.


Baru saja aku berkata demikian, tiba - tiba saja Bo Qing datang dan berdiri di sisi peraduan seraya memanggilku. Aku yang baru saja ingin memejamkan mataku, lantas menoleh sekilas dan berkata dengan masal "Apa lagi yang gege suruhkan padamu kali ini?" ketusku.


Sejak kemarin siang hingga hari ini aku masih mengibarkan bendera permusuhan pada putra mahkota Liang. Perkataannya tentu saja sangat menyakitkan, bahkan berhasil membuatku marah dan mendiaminya seperti ini. Namun hal yang membuatku marah dari perkataannya walaupun semua itu adalah benar, karna saudaraku itu selama ini memyimpan teguran itu selama bertahun - tahun.


Andai saja putra mahkota Liang mengatakannya lebih awal, dan terus mengingatkan dan menegurnya secara perlahan, aku mungkin bisa menerimanya dan juga aku tidak akan semalu dan semarah ini karna berhasil di bodohi oleh wanita sialan itu. Meskipun aku tahu jika apa yang putra mahkota Liang lakukan hanya semata - mata untuk menjaga perasaanku.


"Yang mulia putra mahkota Liang meminta juru masak dapur memasakan makanan dan cemilan kesukaan anda, yang mulia putra mahkota Liang berharap anda ingin menerimanya dan bisa memaafkannya" jawab Bo Qing yang menyentakku dari lamunan.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Katakan pada para pelayan untuk membawa kembali semua makan dan cemilan itu ke kediaman putra mahkota Liang" putusku


"Tapi yang mulia... putra mahkota Liang telah meminta juru masak kerajaan memasakan untuk anda secara khusus. Yang mulia putra mahkota bahkan memohon bantuan yang mulia kaisar hanya untuk masakan tersebut demi anda di tengah - tengah sibuknya para juru masak istana mempersiapkan makanan untuk di bagikan kepada para rakyat jelata di depan pintu gerbang utama istana" jelas Bo Qing panjang lebar.


Aku yang mendengarnya cukup tersentuh, namun tetap saja egoku menolak menerima permintaan maaf putra mahkota Liang. Saudaraku itu begitu pandai membujukku dengan makanan yang merupakan kelemahanku. Tapi aku bertekad jika kali ini aku akan tetap bertahan dan mengikuti egoku. Aku ingin menguji dan melihat ketulusan sudaraku itu dalam meminta maaf padaku atas perkataannya kemarin.


"Aku tidak peduli, Bo Qing!" tegasku "Kembalikan saja semua makanan dan cemilan itu sesuai perintahku, dan sampaikan pada gege jika aku akan memaafkannya jika ia menunjukan ketulusannya meminta maaf padaku!"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Kamis, 9 Juli 2020**


__ADS_2