
Ma Mei Rong baru saja berhasil keluar dari kediaman Ma setelah memastikan jika ayahnya, perdana mentri Ma Ze Dong telah pergi bersama ibunya, Cai Ning untuk menyelesaikan masalah sikap lancangnya terhadap putri Zhang Mu Lan. Kepergian kedua orang tuannya tentu saja tidak hanya berdua, mereka turut pergi bersama dengan saudaranya Ma Xiao Qing dan sarjanawan Lao Yu Zhu yang menunggu mereka di gerbang masuk istana.
Kepergian kedua orang tuanya jelas semakin mempermudah Ma Mei Rong menyelinap keluar dari kediaman keluarga Ma-nya. Para pelayan dan penjaga akan menurunkan penjagaan mereka ketika kedua orang tuanya pergi sehingga mereka semua lengah dan tak menyadari kepergiannya.
Malam ini Ma Mei Rong telah membuat janji dengan jendral muda Wu Cheng saat terakhir kali mereka bertemu, jika Ma Mei Rong tidak salah ingat, pertemuan terakhir mereka saat ia memukul wanita yang menggoda kekasihnya dan setelah itu ia kembali berakhir di atas peraduan bersama jendral muda Wu Cheng. Sebelum mereka berpisah keesokan harinya, mereka berjanji akan bertemu hari ini, dan beruntungnya namapknya langit berpihak padanya sebab ia akan memanfaatkan pertemuan mereka dengan meminta pertolongan jendral muda Wu Cheng untuk membujuk putri Zhang Mu Lan agar mau membujuk yang mulia kaisar dan yang mulia permaisuri agar masalah Ma Mei Rong kemarin tidak berlanjut dan semakin besar.
Putri Zhang Mu Lan jelas akan mendengar perkataan jendral muda Wu Cheng, memgingat gadis satu tahun di bawahnya itu menyukai kekasihnya. Memikirkan hal itu membuat Ma Mei Rong menggeram dalam hati, jika saja putri Zhang Mu Lan tidak mempermainkannya, ia tidak akan menyuruh kekasihnya untuk membujuk gadis itu. Tapi apa boleh buat? ia tak ingin keluar dari keluarga Ma sebelum ia menghancurkan Ma Xiao Qing dan juga Ayahnya.
Tak perlu bertanya mengapa ia begitu kejam dan dingin terhadap keluarganya, semua itu karna kejadian pagi tadi di mana Ma Xiao Qing mengeluarkan semua kebencian dan amarahnya, juga Ayahnya yang berniat memutuskan darah dengannya. Semua yang Ma Xiao Qing dan Ayahnya katakan membuat Ma Mei Rong geram, ia jelas muak dan tidak akan pernah ingin menghirup udara yang sama dengan mereka.
Suara keramaian menyapa indra pendengaran Ma Mei Rong, seketika Ma Mei Rong mendongak dan menatap pemandangan di hadapannya. Suasana penduduk ibukota kerajaan Zhang menyapa indra penglihatan Ma Mei Rong, aktivitas para penduduk yang nampaknya tidak pernah berhenti bahkan saat malam telah menyapanya. Ma Mei Rong mengerjap, nampaknya ia terlalu berlarut - larut dalam pikirannya hingga ia tak sadar langkah kakinya telah membawanya pada jalan raya dan pusat ibukota kerajaan Zhang.
Ma Mei Rong menurunkan tudung kepala yang ia kenakan untuk menyamarkan wajahnya, saat ini ia tak boleh ketahuan siapapun jika ia menyelinap keluar dari kediaman Ma bagaimanapun Ayahnya telah memberinya hukuman tidak keluar dari kediaman Ma selama sebulan. Selain itu, saat ini ia tengah panas di perbincangkan oleh para penduduk ibukota kerajaan Zhang karna masalah yang ia buat. Akan semakin panas rumor dan gosip yang beredar jika ia ketahuan, selain itu pihak keluarga kerajaan akan merasa curiga jika permohonan maaf dan penyelesaian masalah yang dilakukan keluarga Ma sebenarnya tidaklah tulus atau boleh dikatakan mereka mempermainkan keluarga kerajaan sehingga persinggungan antara keluarga kerajaan Zhang dan keluarga Ma semakin membesar.
Ma Mei Rong melangkah tergesa menerobos orang - orang yang masih saja berlalu lalang di jalan setapak ibukota kerajaan Zhang, tak ayal karna ingin segera menjauh dari penduduk ibukota kerajaan Zhang yang masih melakukan aktivitas mereka di malam hari membuat Ma Mei Rong tak sengaja menabrak orang - orang karna terlalu terburu - buru ingin segera pergi dari kerumunan orang dan segera sampai pada restoran yang akan ia tuju.
Lontaran kemarahan dan makian yang di ucapkan dari orang - orang yang di tabraknya lantas membuat Ma Mei Rong banyak kali harus menunduk dan memohon maaf, ia bahkan harus menekan kedua hidungnya dengan menjepitnya dengan kedua jarinya agar suaranya berubah.
Beberapa menit setelah kejadian itu, akhirnya Ma Mei Rong dapat bernafas lega, ia telah tiba di sebuah restoran mewah yang juga menyediakan penginapan. Ma Mei Rong lantas masuk dan pelayan yang sudah sangat mengenalnya lantas membawanya ketempat yang telah di pesan jendral muda Wu Cheng.
Disaat Ma Mei Rong menuju ruangan jendral muda Wu Cheng yang tepat berada di sebelah dan depan ruangan yang telah di pesan putra mahkota Liang, disisi lain tepatnya di samping ruangan jendral muda Wu Cheng, seorang gadis berumur 14 tahun tengah menikmati makanan pesanan putra mahkota Liang yang memenuhi meja.
__ADS_1
"Mei mei makanlah yang banyak, restoran ini selain harganya yang mahal, tapi kualitas makanan dan pelayanannya sepadan dengan harganya" kata putra mahkota yang berhasil membuatku menyumpit daging sapi pedas dan memakannya.
Seperti yang dikatakan putra mahkota Liang, makanan yang mereka jual di restoran ini sangat enak. Aku yang awalnya tidak nafsu makan lantas mulai makan karna makanan yang berada di hadapanku sangat enak.
"Makanlah yang banyak, memikirkan rencana sebesar ini di umurmu yang masih muda jelas membutuhkan banyak tenaga" tambah putra mahkota Liang yang ku angguki.
Terlalu asik makan makanan yang ada di hadapanku bersama dengan Gui Feng, seketika aku tersedak karna terkejut saat sosok berpakaian hitam yang entah datang dari mana telah berdiri tepat di tengah - tengah antara aku dan putra mahkota Liang. Dengan cepat Bo Qing yang berdiri tepat di belakangku mengambilkan air untukku, saat Bo Qing menyodorkannya, aku lantas langsung menyambarnya dan meneguknya hingga tandas.
"Maafkan hamba yang mulia putri" kata Ah Ke yang merupakan seorang berpakaian hitam yang berhasil mengagetkanku.
"Apakah kau akan selalu datang seperti itu?" tanyaku setelah batukku reda.
"Mei mei.. kau jangan marah, sudah biasa bagi kami, prajurit Shi Rong melakukan hal seperti ini" kata putra mahkota Liang menengahi dan berusaha meredakan kemarahanku.
"Jika begitu, anda harus mulai belajar terbiasa dari sekarang. Sebab putra mahkota Liang juga akan meletakan beberapa prajurit Shi Rong untuk anda" kata Gui Feng
"Mengapa gege harus menaruh prajuritnya bersamaku? Aku sudah punya Bo Qing" tegasku
"Kau yakin Bo Qing bisa menangani sekumpulan orang yang ingin mencelaimu suatu hari nanti?" tanya putra mahkota Liang.
Aku tahu hal itu tentu saja mustahil, hanya saja aku tahu Ayahanda kaisar tidak akan mungkin untuk tidak menempatkan prajurit khusus kerajaannya bersamaku. Ayahanda yang di kenal kejam, berdarah dingin, dermawan dan yang begitu menyayangiku terlalu banyak menyembunyikan rahasia. Aku tahu saat ini Ayahanda tengah mengumpulkan banyak bukti, terlebih setelah aku memberitahu Ayahanda semuanya. Dan sekarang prajurit yang melindungi dan menjagaku di balik kegelapan akan bertambah. Bukannya tak bersyukur dengan kepedulian dan kasih sayang Ayahanda dan putra mahkota Liang yang sampai menempatkan orang - orangnya. Hanya saja aku merasa pergerakanku akan semakin terbatas terlebih aku akan terus bersugesti jika ada banyak orang yang mengamatiku jika aku melakukan sesuatu. Aku lantas menghela nafas lelah dengan kasar, hal itu tentu saja mencuri perhatian empat pemuda yang masih bersamaku.
__ADS_1
"Mei mei.. kau kenapa?" tanya putra mahkota Liang yang berhasil menyentakku dari lamunan.
Aku lantas menggeleng dan berkata "aku tidak apa - apa gege" jawabku
Saat tahu putra mahkota Liang ingin kembali bertanya, aku dengan cepat memotongnya dengan mengalihkan pembahasa "Omong - omong, mengapa Ah Ke ada disini?" tanyaku
Seketika semua orang yang berada di ruangan yang sama denganku tersadar, Ah Ke yang melupakan tujuan kedatangannya lantas memohon maaf dan berkata "kedatangan hamba kemari ingin melaporkan jika nona muda Ma Mei Rong telah datang, dan para tuan muda bangsawan yang telah di undang Gui Fei sebentar lagi akan sampai" lapor Ah Ke yang membuatku lantas tersenyum miring.
"Pertunjukan akan segera dimulai!"
.
.
.
.
.
**TBC
__ADS_1
Kamis, 25 Juni 2020**