Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 68


__ADS_3

Ma Mei Rong mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya begitu erat hingga kuku - kukunya yang tajam menusuk dan mengoyak kulitnya. Amarahnya yang mendominasi setelah di permalukan oleh perdamana mentri Ming di hadapan para pelayan yang bekerja di kediamannya membuatnya tak merasakan rasa sakit dan perih dari tancapan kuku - kuku tajamnya pada telapak tangannya yang perlahan meneteskan darah di atas lantai.


Tak ada yang lebih memalukan selain di permalukan seperti ini terlebih dihadapan para pelayang yang statusnya jelas berada di kalangan raykat jelata. Harga dirinya serasa di injak - injak oleh perdana mentri Ming, dan dari sudut matanya ia melihat ada banyak para pelayan yang memberinya tatapan kasihan bahkan mengejeknya secara terang - terangan setelah ia kehilangan hak, kekuasaan dan kedudukan di kediaman Wu.


Apakah di mata perdana mentri Ming ia begitu rendah di banding para pelayan berstatus rendah di kediaman Wu, sehina dan semenjijikan itukah ia di mata perdana mentri Ming? Apakah ia lupa kalau ia putri Di keluarga kediaman Ma. Penghinaan yang ia terima saat ini akan ia balaskan, ia akan menghancurkan keluarga Wu.


"Akan ada hari dimana penghinaanmu ini akan aku balaskan, aku akan membuat kediaman Wu hancur!" gumam Ma Mei Rong dengan tatapan mata penuh dendam dan amarah.


Suara pekikan seorang pelayan yang menyadari darah segar menetes dari kepalan tangan Ma Mei Rong menarik perhatian para pelayan lain, teriakan terkejutnya membuat Ma Mei Rong yang baru saja terbangun dari pikirannya lantas menatapnya dengan sinis. Pelayan itu dengan takut - takut menunjuk kepalan tangannya seraya berkata ..


"N-nyonya mu-muda .. ta-tangan anda berdarah"


Mendengar perkataan pelayan itu, Ma Mei Rong lantas melepas kepalan tangannya, ia lalu mengangkat dan menadah tangannya keatas, ia sama sekali tidak terkejut saat melihat tangannya yang memiliki empat luka tusuk di kedua telapak tangannya, ia tak merasakan sakit ataupun nyeri dari luka yang ia terima, ia juga tak merasa pusing setiap kali menghirup aroma anyir darah. Saat ini amarah dan kebenciannya lebih mendominasi, suasana hatinya yang buruk membuatnya kebal terhadap rasa sakit dari luka - lukannya.


"Nyonya anda harus segera mengobatinya" kata pelayan lain


"Apakah pelayan ini perlu memanggilkan tabib atau dokter kerajaan?" tanya pelayan yang lebih dulu menyadari luka Ma Mei Rong.


"Tidak perlu, aku tidak butuh belas kasihan dari kalian" tukas Ma Mei Rong meninggalkan mereka.


"Cihh, disaat nyonya muda sudah tidak memiliki apa - apa, ia masih saja angkuh dan sombong" kata pelayan yang bertubuh lebih tua dari pelayan lainnya.


"Wajar saja, ia terlahir dari keluarga terpandang, namun setelah di usir dan tak di anggap, ia tidak lebih seperti apa yang tuan besar katakan namun ia masih saja bersikeras mempertahankan harga dirinya yang telah jatuh" timpal pelayan yang dengan penampilan biasa saja, namun bersikap arogan dari yang lainnya.


"Meskipun ia tak memiliki apa - apa, ia masih di aliri darah bangsawan. Kalian yang hanya dari kalangan biasa sepertiku ada baiknya untuk tidak menyinggung atau melukai siapapun terutama nyonya muda, dari tatapan dan aura yang aku tangkap, ia menyimpan dendam untuk hari ini" kata pelayan yang sebelumnya meminta Ma Mei Rong mengobati lukanya.


"Tidak usah mengajari kami, urus saja urusanmu" balas pelayan yang lebih tua dengan nada terdengar kesal.

__ADS_1


"Aku hanya memberitahumu untuk tetap waspada, siapa yang mengajarimu" balas pelayan itu tidak kalah kesal.


"Apa yang kalian lakukan? Kembali bekerja atau kalian ku beri hukuman!" teriak kepala pelayan kediaman Wu.


.


.


.


Disisi lain, tepatnya di pavilum Shan bagian barat istana dalam kerajaan Zhang. Bo Qing tengah membawakan alat - alat melukis untuk tuan putrinya yang tengah menunggu di gasebo samping. Baru saja putri Zhang Mu Lan menyelesaikan pelajarannya, sarjanawan Liu Yu Zhu pun baru saja pulang dan saat ini putri Zhang Mu Lan mulai merasa bosan dan ingin melakukan sesuatu hal untuk menghilangkan kebosanan dan mengisi waktu luangnya.


"Yang mulia, ini semua alat melukis anda" kata Bo Qing memaruh satu persatu alat melukis putri Zhang Mu Lan.


"Kak Bo Qing, terima kasih" kataku tulus.


Akhir - akhir ini panggilanku pada pengawalku Bo Qing telah berubah, hal itu dikarnakan putra mahkota Liang yang menegurnya karna tak bersikap sopan dan menghargai Bo Qing yang memang lebih tua dariku. Usia Bo Qing sama dengan usia putra mahkota Liang, maka dari itu 2 hari terakhir aku mulai memanggilnya dengan panggilan kakak.


"Apakah kak Bo Qing dan lainnya punya ide mengenai objek yang bagus untuk ku gambar?" tanyaku pada Bo Qing dan dayang yang membantuku.


"Bagaimana jika anda melukis pemandangan!" usul seorang yang membuatku mengangguk - angguk dan berkata


"Itu terlalu bias!"


Jawabanku jelas membuat mereka terkejut, pasalnya mereka berpikir melukis pemandangan adalah ide dan saran yang cocok untuk pemula sepertiku, sayangnya sejak dulu aku sudah terbiasa melukis pemandangan. Selain pandai bermain musik dan mulai pandai menyulam, setidaknya aku juga pandai melukis dan juga bermain catur. Meskipun aku tak pandai menari, menyair dan berpuisi seperti Ma Mei Rong, setidaknya masalah musik dan strategi catur aku jelas masih unggul dibanding para nona muda di ibukota Zhang. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, hanya saja aku terlalu berapi - api ingin mengeluarkan satu persatu bakat yang selama ini ku sembunyi.


"Apakah tidak ada saran dan ide lain?" tanyaku pada mereka yang langsung di balas gelengan oleh mereka.

__ADS_1


Aku lantas cemberut. Tadinya aku ingin melukis untuk mengisi waktu luangku dan mengusir kebosananku, namun saat semua peralatan melukisku telah lengkap, ide mengenai objek yang akan aku gambar sama sekali tidak ada. Aku mendesah berat sebelum memandan beberapa dayang yang mencuri pandang pada pengawalku, hal itu entah mengapa terasa sangat lucu terlebih Bo Qing sama sekali tak menyadari jika para dayang kerap kali mencuri pandang padanya secara sembunyi - sembunyi.


Melihat tingkah para dayang, seketika aku menemukan sebuah ide. Aku lantas memandang Bo Qing seraya berkata "Kak Bo Qing tipe gadis seperti apa yang kau suka, ataukah adakah sosok yang begitu kau kagumi?" Pertanyaanku jelas membuat semua orang terkejut, namun mereka dengan cepat mengontrol ekspresi mereka dengan cepat.


"Yang mulia.. mengapa anda bertanya seperti itu?" tanya Bo Qing dengan pipi merona merah.


"Apakah aku salah? Aku hanya ingin menggambar sosok gadis yang sesuai tipe kak Bo Qing atau sosok yang mungkin kak Bo Qing kagumi sebagai objekku" kata cemberut


Ternyata sandiwaraku berhasil membuat Bo Qing merasa tidak nyaman, ia lantas meminta maaf segera padaku sebelum mendesah dan pada akhirnya mengalah seraya berkata " Yang mulia putri sudah tahu siapa sosok gadis yang pengawal ini sukai, dan orang yang pengawal ini kagumi tentu saja adalah anda" jawabnya yang membuat para dayang yang mendengarnya kecewa sebab Bo Qing telah menyukai seorang gadis dan mereka nampaknya tak mempunyai peluang untuk mendekati Bo Qing.


Aku hanya mengangguk - angguk dan hendak mulai membuat sketsa gambar wajah gadis yang ku ingat jelas adalah gadis yang begitu Bo Qing sukai, aku mengetahuinya saat ia kerap kali memandang gadis itu dengan tatapan dalam dari kejauhan. Saat aku akan menggoreskan arang yang ku pegang di atas kertas, seorang kasim tiba - tiba datang dan menyampaikan..


"Hormat hamba pada yang mulia putri," kata kasim itu memberi hormat yang langsung kubalas dengan anggukan dan berkata "Bangunlah!" perintahku.


Kasim itu lantas menegakan tubuhnya setelah mendengarkan perintah, ia lalu kembali berkata "Yang mulia putri.. hamba datang untuk memberi tahukan jika yang mulia kaisar memanggil anda, ada hal penting yang ingin yang mulia katakan pada anda" kata kasim itu menyampai perintah kaisar Wei


Aku yang mendengar hal itu lantas termenung sesaat seraya bergumam "Apakah ada masalah?" gumamku


.


.


.


.


.

__ADS_1


**TBC


Kamis, 6 Agustus 2020**


__ADS_2