Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 53


__ADS_3

Putra mahkota Liang menatap dengan lesuh semua makanan dan cemilan khusus yang buatkan para juru masak kerajaan untuk adiknya yang semuanya kembali ke kediamannya. Putra mahkota Liang lantas mendesah, ia lalu mentap Bo Qing yang meringis tidak enak hati saat mendapat tatapan penuh keputus asaan yang ia berikan.


"Bo Qing, tolong ulangi apa yang kau katakan" pinta putra mahkota Liang memastikan pendengarannya tidaklah salah.


"Mendengarkan perintah anda, yang mulia tuan putri Mu Lan meminta hamba membawa kembali semua makanan dan cemilan yang anda kirim sebagai tanda permintaan maaf. Yang mulia tuan putri juga berkata, ia tidak butuh semua makanan dan cemilan ini, karna yang ia butuhkan hanyalah ketulusan anda, yang mulia putra mahkota Liang" kata Bo Qing mengulang kembali kalimat yang di perintahkan junjungannya untuk di sampaikan pada putra mahkota Liang untuk kedua kalinya.


"Ketulusan apa lagi yang mei mei inginkan?" tanya putra mahkota Liang putus asa. "Aku sudah meminta bahkan mengemis pada Ayahanda kaisar agar membantuku memerintahkan para juru masak kerajaan membuatkan semua makanan kesukaannya, apakah tindakanku ini tidak terlihat tulus di matanya?" tanya putra mahkota Liang.


"Maafkan hamba yang mulia, hamba sudah membantu menjelaskan, namun yang mulia putri masih bersikukuh dengan kekeras kepalaannya" jelas Bo Qing "Tapi, dibanding anda terus memikirkan masalah ini. Mengapa anda tidak menemui yang mulia putri Mu Lan, mungkin ketulusan yang yang mulia putri maksud adalah keinginan dan usaha anda meminta maaf secara langsung padanya" tambah Bo Qing.


"Bagaimana aku bisa bertemu dengannya, jika ia tak ingin bertemu denganku?" keluh putra mahkota Liang


"Anda harus berusaha, mungkin dengan melihat usaha dan ketulusan anda yang pantang menyerah dan terus datang, yang mulia putri Mu Lan akan luluh" balas Bo Qing dengan sabar


Putra mahkota Liang mencerna perkataan Bo Qing dengan seksama, hingga pada akhirnya ia menjentikan jarinya dan berkatan "Saranmu benar Bo Qing, mei mei hanya ingin melihat usaha dan ketulusanku meminta maaf padanya!"


.


.


.


Suara ketukan pintu tertangkap oleh indra pendengaranku. Aku yang terusik oleh suara itu lantas terbangun dan mendudukan diri dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih. Aku menguap sambil memgucek kedua mataku yang terasa gatal, rasanya aku masih ingin melanjutkan tidurku dan menyiapkan banyak pasokan tenaga untuk menghadapi pesta perayaan ulang tahun Ibunda permaisuri besok. Namun karna suara ketukan yang mengusik tidurku, ku urungkan niatku untuk melanjutkan tidur siangku.


"Di mana semua orang? Mengapa mereka membiarkan ada orang yang mengusik tidurku?" tanyaku setelah memperhatikan sekeliling kamarku yang sangat sepi.


"Bo Qing...?"

__ADS_1


"...."


"Bo Qing? Apakah kau sudah pulang?" panggilku lagi namun tetap saja tak mendapat jawaban apapun dari Bo Qing yang biasanya berdiri di sudut ruangan atau berbaring di kursi malas yang ada dalam kamarku.


"Apakah ia belum pulang?" gumamku lantas beranjak turun dari peraduan setelah menyibakan selimut tebal yang sempat membungkus tubuhku hingga dada saatku terlelap tidur.


"Dimana semua orang? mengapa kediaman Shanku begitu sepi?" tanyaku melangkah menuju pintu.


Saat aku tiba di pintu kamarku, ku buka sedikit pintu tersebut hingga menciptakan sedikit cela kecil untukku mengintip. Aku mengintip dari balik cela pintu yang terbuka, namun sayangnya aku tak menemukan apa - apa dari ruangan tengah pavilium Shan.


"Jika tidak ada orang, lantas dari mana suara ketukan itu berasal?" tanyaku lalu lantas menutup pintu kamarku dengan cepat.


"Mu Lan, kau harus tenang. Mungkin apa yang kau dengar hanya perasaanmu saja" kataku berusaha menenangkan diri.


Baru saja detak jantungku berpacu dengan cepat mulai berdetak dengan normal, jantungku kembali berdetak cepat saat aku kembali mendengar suara ketukan dengan sangat jelas. Kedua mataku mulai manatap awas sekitarku dan saat aku berbalik menatap pintu, dengan keberanian yang ku kumpul, aku membuka pintu lebar dan hendak melayangkan pukulan kepada siapapun yang menakutiku dan memanfaatkan ketakutan dan kebencianku akan kesendirian. Namun tanganku yang melayang di udara nyatanya di tangkap oleh pemuda yang sangat tak ingin kulihat karna perkataannya kemarin.


"Apa yang gege lakukan kemari?" tanyaku dengan nada tidak bersahabat.


"Tentu saja untuk datang dan menunjukan ketulusan dan usahaku dalam meminta maaf padamu" jawabnya


"Dengan mempermaikan dan menakut - nakutiku seperti ini?" tanyaku dengan nada suara kesal.


"Ini juga termasuk usaha mei mei," bela putra mahkota Liang "Lagian aku tak tahu harus memakai cara apa lagi agar kau mau memaafkanku" tambahnya dengan nada yang terdengar putus asa.


Aku yang mendengar hal itu jelas merasa iba. Bagaimanapun hubungan kami bisa sedekat ini hanya karna insiden jatuhku beberapa bulan yang lalu. Jika saja aku bukan terlahir kembali di kehidupan ini atau jika saja saat aku tidak sadarkan diri kala itu dan mendapat mimpi buruk mengenai kemusnahan keluargaku, mungkin aku tak sedekat ini dengan putra mahkota Liang.


Dulu aku begitu dingin dengan keluargaku, padahal baik di kehidupanku yang dulu ataupun di kehidupanku yang sekarang mereka masih begitu menyayangiku setelah kesalahan dan dosa besar yang ku perbuat merenggut nyawa mereka dan para abdi setia kerajaan Zhang hanya karna begitu mengilai jendral muda Wu Cheng yang membawa petaka bagiku.

__ADS_1


Namun di kehidupanku yang sekarang. Aku telah terlahir menjadi orang yang baru. Aku akan menebus semua kesalahanku dan memperbaiki hubunganku dengan keluarga kerajaan Zhang bagaimana pun mereka menyadarkanku betapa berartinya aku bagi mereka, dan aku baru menyadari hal itu setelah menyaksikan mereka mati dan kehilangan nyawa di tangan pria brengsek yang dulu begitu ku puja.


"Baiklah, aku menerima usaha dan ketulusan gege dalam meminta maaf padaku," putusku "tapi ada satu syarat yang harus gege penuhi sebelum aku memaafkanmu sepenuhnya" tambahku yang membuat putra mahkota Liang mengernyit.


"Apakah memaafkan seseorang perlu syarat?" tanyanya dengan salah satu alisnya yang terangkat.


"Jika gege tidak mau memenuhi syaratku, maka aku tidak akan memaafkan gege sepenuhnya. Jadi silahkan pergi dari kediamanku!" tegasku yang membuat kedua bola mata putra mahkota Liang membulat.


"Mei mei.. berbaik hatilah padaku!" pintanya dengan nada memelas


"Aku sudah berbaik hati pada gege dengan memaafkan gege, meskipun sebenarnya aku masih sangat marah dan kesal padamu" akuku


Putra mahkota Liang lantas berpikir sesaat, jika ia membuat kesempatan yang mei meinya berikan, ia tak tahu akan sampai kapan adiknya akan mendiaminya. Dibanding dengan syarat yang ia berikan, hal yang paling putra mahkota Liang takutkan adalah hubungan keduanya yang baru saja membaik renggan hanya karna ia terlambat menyuarakan pendapatnya mengenai penampilan mei - meinya.


"Baiklah, apa syaratnya?"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Minggu 12 Juli 2020**


__ADS_2