
'Bukankah kau sedang berusaha mencariku?' Sosok pemuda berusia dengan wajah cukup tampan dan postur tubuh kekar seketika mencul dihadapanku.
Aku yang terkejut dengan kehadirannya yang begitu tiba - tiba lantas mundur beberapa langkah sebelum mengelus dadaku perlahan. Setelah berhasil menetralkan detak jantungku yang berdetak tak beraturan, aku lalu menatap pemuda di hadapanku. Seketika mataku membulat dengan mulut terbuka karna tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang.
"Bo-bo Qing?" gumamku dengan suara terdengar ragu juga tidak percaya
'Yah, ini aku!' balasnya
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku
'Membangunkanmu' jawabnya
"Membangunkanku?" Beoku
'Yah, aku datang untuk membangunkanmu dari tidurmu. Bukankah saat ini kau sedang tidur dan jiwamu tengah berkelana di alam bawah sadarmu?' tanyanya yang berhasil membuatku mengerjap
"Aku tidur, dan sekarang aku tengah bermimpi?" kuulang kata tersebut berulang kali hingga otakku seketika mencerna maksud dari perkataan pemuda yang begitu ingin kutarik dan berdiri disisiku sebagai pengawal
Daya tanggapku dengan cepat memproses, kesadaranku perlahan pulih dan akhirnya akupun terbangun dan mendudukan diriku di atas peraduan dengan deru nafas yang tidak beraturan.
"Astaga bagaimana aku bisa tidur?" keluhku beranjak turun dari peraduan setelah menyibakan selimut tebal yang menyelimutiku
Aku lantas bergegas lari keluar dari kediamanku menuju ruang kerja Ayahanda kaisar, beruntungnya hari masih petang dan aku masih memiliki banyak waktu luang untuk melanjutkan salinanku yang tertunda.
Saat aku telah tiba di istana Han, tanpa membuang waktu aku segera berjalan menuju ruang kerja Ayahanda dengan tergesah. Pengawal yang menjaga pintu memberi hormat padaku yang ku balas dengan anggukan, aku lalu membuka pintu lebar sebelum kembali menutupnya ketika tubuh mungilku telah berhasil memasuki ruang kerja Ayahanda yang nampak sepi.
Aku bergegas duduk dikursi yang ku tempati kemarin, mengambil wadah tinta dan kuasku, lalu buku peraturan kerajaan dan dua buku salinanku. Sebelum melanjutkan menulis, aku terlebih dahulu menghaluskan tinta sebelum mengambil kuas dan mencelupkannya pada tinta. Aku mengangkat lengan baju bagian kananku sebelum melanjutkan menggores setiap kata yang ada di buku peraturan kerajaan kedalam buku yang tengah kusalin.
__ADS_1
Tak terasa waktu dengan cepat berlalu, para kasim dan dayang memasuki ruang kerja Ayahanda dan menyalakan lampu minyak dan lilin sebagai penerang. Terlalu fokus dengan pekerjaanku, aku bahkan tak menyadari jika hari telah menyambut malam, bahkan para kasim dan dayang yang menyalakan penerang di dalam ruang kerja Ayahanda telah pergi beberapa menit yang lalu.
Aku berhenti menyalin untuk beberapa saat, leherku terasa kaku dan juga pergelangan tanganku terasa sedikit sakit. Aku menaruh kuasku di wadah tinta, lalu merebahkan kepalaku di atas meja.
"Aku lapar!" keluhku
Rasa lapar seketika melandaku. Sedari tadi perutku terus meronta meminta untuk di isi. Sayangnya aku terlalu malas untuk beranjak bangun, dan sekarang hanya berharap para dayang membawakan makanan untukku yang terlalu malas untuk beranjak dari tempatku sekarang.
Lama aku menunggu, namun tak kunjung datang makanan yang kunanti. Aku mengangkat kepalaku dari permukaan meja, menegakkan tubuhku dan menatap pintu rungan kerja Ayahanda dengan penuh harapan. Namun sayang, aku kembali harus kecewa.
"Apakah mereka sudah melupakanku?" gumamku
"Aku bahkan belum makan sejak siang, tapi tak ada yang peduli mengenai hal itu" desahku kecewa
Aku beranjak bangun dari dudukku, saat aku melangkah malas - malasan menuju pintu ruang kerja Ayahanda, bertepatan dengan itu, pintu seketika terbuka lebar. Dua dayang datang membawa masing - masing satu nampan berisi makanan, dan seorang kasim membawa sepoci air dan gelasnya.
Kedua dayang yang membawa makanan untukku mulai menata semua makanan yang mereka bawa di atas meja setelah membereskan tumpukan buku - buku peraturan kerajaan, buku salinanku dan wadah tintaku ke tempat lain.
"Yang mulia putri, maafkan kami yang datang terlambat" kata kasim paruh baya penuh penyesalan.
Aku tersentak dari lamuman saat ketiganya memohon pengampunan atas keterlambatan mereka, aku hanya mengangguk dan memerintahkan mereka untuk segera bangun.
"Tidak apa. Yang penting kalian datang, terima kasih yah" kataku yang membuat ketiganya cukup terkejut hingga mundur beberapa langkah, bahkan salah satu dayang membungkam mulutnya sakit tidak percayanya dengan pendengarannya.
"Yang mulia, mengapa anda berkata seperti itu?" tanya kasim paruh baya yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya
"Yang mulia putri, anda tidak sedang kerasukan roh gentayangan bukan?" tanya seorang dayang yang usianya lebih tua dariku.
__ADS_1
Aku mengernyit bingung mendengar perkataan mereka, seketika otakku bekerja dengan cepat dan menemukan jawaban atas respon kasim dan dua dayang dihadapanku. Aku lupa jika sejak dulu aku teramat dingin dan sombong, jangankan mengucap terima kasih, mengakui kesalahanku saja tidak pernah. Aku meringis saat bayangan sikap burukku pada semua orang terus berputar, rasa bersalah kini mulai melingkupi hatiku, dadaku terasa sesak sehingga dengan spontan tangan kananku kini meremas dada bagian kiriku.
Aku mengerjap seraya menggeleng. Aku berusaha menghilangkan bayangan - bayangan yang mengingatkanku dengan semua dosaku dimasa lalu ataupun masa mendatang. Tak peduli hidupnya kembali aku karna perputaran waktu yang membawaku kembali ke masa dua tahun sebelum kejadian megerikan menimpa keluarga dan para bawahan setiaku, atau memang sejak awal aku tak pernah mati dan hanya mengalami mimpi buruk yang memperlihatkanku dengan kejadian di masa depan, yang ku tahu keberadaanku saat ini untuk memperbaiki dan merubah takdirku dan semua orang.
"Apakah salah mengucap terima kasih atas kerja keras kalian?" tanyaku balik setelah tersadar dari lamunan "dan juga saat ini aku sadar sepenuhnya dan bukan dirasuki oleh roh gentayangan" tambahku tak lupa memberi sebuah senyum.
"Kalian boleh menunggu sambil beristirahat sejenak diluar, aku akan memanggil kalian ketika aku telah selesai" perintahku yang dipatuhi mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya dayang yang lebih kurus pada rekannya namun masih mampu di tangkap oleh pendengaranku
"Aku juga tidak tahu, mungkin yang mulia mendapat mukjizat setelah ia jatuh" balas dayang yang lebih tua dariku.
Selepas kepergian ketiganya, aku mulai menyantap makananku. Namun rasa lapar yang sangat kurasakan beberapa menit yang lalu seketika menguap saat memikirkan perkataan dayang yang lebih tua dariku. Insiden jatuhku di danau belakang istana masih menjadi misteri dan tanda tanya untukku, walaupun aku tahu jika saat ini Ayahanda ataupun putra mahkota Liang dan prajurit Shi Rong tengah mencari tahu masalah tersebut. Tapi aku rasa aku juga harus mencari tahu kebenaran tersebut, dan yang harus kulakukan sekarang adalah menyelesaikan makanku dan mengerjakan hukumanku dengan cepat hingga aku bisa kembali mencari Bo Qing, pemuda yang akan ku jadikan pengawal pribadiku.
.
.
.
.
.
**TBC
Kamis, 30 April 2020**
__ADS_1