Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 7


__ADS_3

"Huwaaamm"


Ngantuk sedari tadi telah menyerangku, mataku mulai terasa memberat dan hendak terpejam. Namun saat ini aku baru saja kembali memulai menyalin dalam buku salinan yang baru setelah aku berhasil menyelesaikan satu buku dalam waktu dua hari satu malam. Itu terhitung saat aku pertama kali menulis namun berakhir harus mengulang kembali karna kecerobohanku, dan sejak beberapa menit yang lalu aku baru menyelesaikan satu buku dan kini melanjutkan dengan buku salinan baru lagi.


Ku hentikan tanganku untuk menorehkan coretan tinta di setiap permukaan kertas, aku takut usahaku dalam menulis setiap peraturan kerajaan dalam beberapa lembar harus kembali ku ulang karna kecerobohanku. Aku meletakan kuasku dalam wadah tinta, kubaringkan kepalaku diatas permukaan meja. Aku akan memejamkan mataku sesaat, lalu kembali melanjutkan salinanku.


Saat kedua mataku hendak tertutup, suara pintu terbuka mengejutkanku. Kesadaranku yang hampir memasuki alam bawa sadarku kini di paksa untuk berkumpul hingga nyawaku kembali sepenuhnya dalam keadaan sadar total.


Dengan cepat aku berdiri dan menoleh menuju pintu ruang kerja Ayahanda kaisar yang kini terbuka, amarah yang menguasaiku seketika menguap saat kedua mataku tak menemukan siapa pun di ambang pintu. Emosi yang hendak ku tumpahkan dalam makian tertahan di tenggorokanku, wajahku mulai memucat seiring pikiran buruk mulai menyerangku hingga membuat bulu kuduk ku meremang.


"Si -- siapa disana?"


Ku beranikan diriku bertanya, walaupun aku tahu jika saat ini aku sepenuhnya tengah ketakutan terlebih tak ada balasan dari pertanyaanku. Hanya ada hembusan angin malam yang terasa begitu dingin menyapu permukaan kulitku


"Jangan bercanda, aku akan menghukummu jika kau mempermainkanku" kataku lagi dengan nada mulai bergetar.


Rasa takut yang kurasakan membuatku nyaris menangis, terlebih saat kusadari tak ada prajurit ataupun penjaga yang menjagaku di depan pintu ruang kerja Ayahanda kaisar. Suasana diluar sangat sepi dan juga gelap, nampak sangat menakutkan dari tempatku saat ini berada.


"Huwaaa... Ibunda, Ayahanda, Gege Liang, Aku takuttt... hiks .. hiks"


Akhirnya raunganku mulai menggema di seluruh ruangan, tangisku pecah dengan suara keras dan nyaring. Baik di kehidupanku yang dulu ataupun di masa kehidupanku dua tahun yang akan datang sebelum kejadian mengerikan itu menimpa semua keluarga dan abdi setia kerajaan, dalam ingatanku aku masihlah aku yang penakut. Aku takut sendirian, terlebih aku sangat benci kegelapan. Pikiranku selalu buruk mengenai hal - hal apa saja yang berada di balik kegelapan. Aku tahu setan ataupun roh gentayangan hanyalah cerita tahayul, aku bahkan tidak takut saat dayang yang membawaku makanan mengatakan aku dimasuki roh gentayangan karna perubahanku yang begitu besar.


Namun saat ini berbeda. Hari sudah sangat larut, malam sudah sangat begitu gelap dan bahkan saat ini aku tengah sendiri. Bohong jika aku sama sekali tidak merasa takut, karna nyatanya kini tubuhku mulai bergetar ketakutan walaupun suasana dalam ruangan kerja Ayahanda kaisar masih sangat terang.


Tangisku masih belum reda, mataku mungkin kini sudah memerah. Hidung mancung dan mungilku mulai memerah dan mengeluarkan ingus. Tidak banyak yang ku minta, aku hanya berharap ada seseorang yang datang menolongku karna jujur saja aku terlalu takut untuk beranjak dan mencari seseorang untuk menemaniku disini. Sebuah tepukan di pundakku berhasil membuat tangisku reda, seketika pikiran buruk mulai memenuhi kepalaku.


Apakah yang menepuk bahuku adalah hantu?


Tepukan kembali terasa di pundakku, bahkan tangan itu kini memaksaku untuk berbalik. Ku pejamkan kedua mataku saat tubuhku berhasil di putar secara paksa, aku lalu dengan spontan memukul apa saja yang ada di hadapanku dengan brutal.


**Bukk

__ADS_1


Bukk


Bukkk**!


Aku terus mengayunkan pukulan dengan kedua tanganku secara asal, hingga pukulanku terhenti ketika suara ringisan yang begitu femiliar tertangkap indra pendengaranku.


"Aw!"


"Mei mei, berhenti. Aw"


"Sakit!"


"Zhang Mu Lan berhenti, ini aku, putra mahkota Zhang Yong Liang!"


Ku buka kedua mataku yang sempat terpejam, aku terkejut saat menemukan saudaraku yang kini mengelus pipinya kanannya.


"Gege!" ucapku terkejut "sungguh aku tidak sengaja, aku minta maaf. Tadi aku pikir gege adalah orang yang ingin berbuat jahat padaku" pintaku penuh sesal


"itu tidak sengaja, aku hanya refleks membela diriku. Lagian mengapa gege mengagetkan dan menakut - nakutiku, jangan katakan jika gege adalah dalang dari pintu kerja Ayahanda kaisar yang terbuka juga dengan para prajurit ataupun penjaga yang tiba - tiba hilang di depan pintu?" tanyaku memincing curiga


putra mahkota Liang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, suara kekehan keluar dari bibir tipisnya. Ia lalu berkata "Aku hanya bercanda, aku tidak tahu jika kau akan sebrutal ini" kata putra mahkota Liang tanpa rasa bersalah. Seketika amarah pun menguasaiku, aku dengan kesal menginjak kakinya dengan keras hingga ia pun menjerit kesakitan sambil melompat - lompat dengan salah satu kakinya.


Aku sama sekali tidak merasa bersalah melakukan hal itu. Malah bagiku itu bahkan belum cukup untuk putra mahkota Liang yang mempermainkanku. Tapi saat ini aku butuh tidur dan beristirahat, menangis dan meraung cukup menguras tenagaku. Dan nampaknya malam ini pun aku tak bisa melanjutkan tulisanku, suasana hatiku sedang buruk setelah putra mahkota Liang mengerjaiku.


.


.


.


Ke esokan harinya, aku datang keruang kerja Ayahandan kaisar lebih awal. Sosok Bo Qing yang kembali datang kedalam mimpiku membuatku terganggu dan terus kepikiran dengan hukumanku.

__ADS_1


Hari masih sangat pagi, langit bahkan masih masih gelap. Penerang seperti lampu lampion, obor dan lampu minyak yang menjadi penerang di seluruh penjuru istana dalam bahkan belum padam. Embun pagi belum sepenuhnya hilang, udara dingin pagi hari pun masih berhembus begitu kencang. Namun sosok pemuda yang begitu ingin kujadikan prajurit terus terbayang, hingga akhirnya aku memilih bangun dari tidurku dan mulai mengumpulkan niat dan semangat melanjutkan hukumanku agar aku segera bisa mencari pemuda itu.


Saat aku tiba di ruang kerja Ayahanda kaisar Wei, aku tidak terkejut saat mendapati sosok putra mahkota Liang yang tengah berkutat dengan hukumannya. Saudara kandungku itu sebelumnya mengatakan ketika tugasnya selesai di pemerintahan dan di peradilan ia akan kembali menjalankan hukumannya, walaupun keesokan harinya ia harus kembali menjalankan rutinitasnya sebagai putra mahkota kerajaan Zhang yang begitu padat.


"Gege apakah kau belum beristirahat?" tanyaku menghampirinya.


Aku memang belum sepenuhnya memaafkannya karna perbuatannya semalam, namun melihat raut wajah kusut dan lelahnya seketika membuatku khawatir akan keadaannya.


"Aku belum istirahat" jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya padaku


"Mengapa gege belum istirahat sebentar, bukankah akan ada rapat pagi ini?" tanyaku yang seketika membuatnya termenung.


Putra mahkota Liang lantas menaruh kuasnya kedalam wadah tinta, ia lantas beranjak dari duduknya dengan tergesa. Saat ia berbalik dan hendak pergi, ia mengatakan "Kau benar, hari ini akan ada rapat pembahasan pesta ulang tahun Ibunda permaisuri" balasnya yang seketika membuat tubuhku membatu.


"Pe-pesta ulang tahun Ibunda permaisuri?" Gumamku sedikit terbata.


Ada apa ini? mengapa waktu begitu cepat berlalu? Bukankah ulang tahun ibunda permaisuri masih ada beberapa bulan lagi? Apakah waktu berputar dengan cepat tanpa kusadari? Apakah semua kejadian yang masih terhitung lama dalam ingatanku di kehidupan mendatang akan datang begitu cepat sama seperti pesta ulang tahun ibunda permaisuri? Jika ia, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan belum melakukan persiapan apapun.


.


.


.


.


.


**TBC


Minggu, 10 Mei 2020**

__ADS_1


__ADS_2