
Aku tak menyangka hari ini akan tiba, hari dimana Mei Rong datang dan ku sambut dengan sangat antusias mengingat kedatangannya akan memberiku saran dan masukan mengenai pakaian apa yang cocok ku kenakan ketika pesta perayaan ulang tahun Ibunda permaisuri. Saat itu ia menyarankanku mengenakan hanfu atasan kuning terang, ia bahkan menyarankanku memakai perhiasan yang terbuat dari emas. Hal itu tentu saja ku lakukan, di tambah dengan riasan tebal seperti sarannya demi menarik perhatian jendral muda Wu Cheng pun tak ketinggalan ku poleskan pada wajahku. Pada malam puncak pesta, aku bukannya mendapat pujian, tapi mendapat olok - olokan para tamu undangan yang berakhir membuatku marah, kesal dan juga merasa malu karna mendengar saran Mei Rong.
Hari ini ia datang dan ingin memberi saran yang sama seperti dalam mimpi ataupun dalam kehidupanku sebelumnya, tentu saja aku tak akan mendengar sarannya. Terlebih aku sudah tahu semua kebusukan dan perbuatan tak senonohnya dengan jendral muda Wu Cheng.
"Aku tak ingin bertemu dengannya" kataku dengan tegas
Bo Qing mengangguk mengerti lalu lantas melangkah meninggalkanku, namun sebelum ia mencapai pintu, sebuah ide terlintas dalam kepala. Aku dengan cepat menahan Bo Qing dengan bekata dengan suara sedikit berteriak "Tunggu!"
Mendengar teriakanku Bo Qing lantas menghentikan langkahnya, ia lantas memutar tubuhnya dan berkata "Yang mulai putri memanggil hamba?" tanya Bo Qing yang ku angguki.
"Aku akan menemuinya!" kataku yang lantas membuat Bo Qing mengernyit bingung dengan perkataanku. Wajar saja Bo Qing bingung karna sebelumnya aku mengatakan tidak akan menemui Mei Rong, tapi sekarang aku lantas berubah pikiran dan berkata akan menemuinya.
"Panggilkan dayang untukku, aku ingin bersiap - siap terlebih dahulu" tambahku yang membuat Bo Qing termenung sesaat sebelum berkata "Yang mulia, penampilan anda hari ini sudah sangat cantik" aku Bo Qing dengan kedua pipi memerah.
"Benarkah?" tanyaku yang lantas di angguki Bo Qing dengan malu - malu.
"Terima kasih atas pujianmu Bo Qing, tapi aku perlu merubah penampilanku di hadapan nona muda Mu" kataku yang lantas di angguki oleh Bo Qing walaupun sepenuhnya ia sama sekali tidak mengerti mengapa junjungannya ingin merubah penampilannya di hadapan putri bungsu keluarga Ma.
Bo Qing lantas keluar dan memanggil dua orang dayang sebelum memerintahkan seorang kasim memberitahukan nona muda Ma Mei Rong untuk menunggu sesaat. "--- Jangan lupa beri jamuan selama nona muda Ma Mei Rong menunggu" perintah Bo Qing.
Setelah memberi perintah, Bo Qing kembali masuk ke kamar putri Zhang Mu Lan. Ia baru saja masuk dan kembali menutup pintu, saat ia berbalik, ia cukup terkejut dengan perubahan penampilan junjungannya yang berubah drastis. Bo Qing mengucek kedua matanya seraya memastikan penglihatannya saat ini salah, sayangnya, berulang kali pun Bo Qing mengucek matanya, pemandangan di hadapannya tetap saja sama.
Gadis dengan riasan tebal yang membuat usianya nampak lebih tua, pakaian berwarna terang dengan perhiasan yang ia kenakan dengan sangat berlebihan membuat Bo Qing sulit percaya jika ini adalah persiapan yang dibutuhkan junjungannya.
"Yang mulia, mengapa anda berpenampilan dan berpakaian seperti ini?" tanya Bo Qing terang - terangan karna bagaimanapun ia merasa tidak nyaman dengan penampilan putri Zhang Mu Lan saat ini.
"Tentu saja untuk bersandiwara dan berpura - pura menjadi gadis dugu dan bodoh seperti yang nona muda Ma kenal"
.
__ADS_1
.
.
Ma Mei Rong tengah menikmati jamuan yang di berikan para kasim dan dayang yang bekerja di pavilium Shan saat ini, ia menyeruput teh melati dengan begitu anggun hingga para kasim dan penjaga yang berada di area belakang pavilium Shan menatap Ma Mei Rong tanpa berkedip. Ma Mei Rong tentu saja tersenyum dalam hati dengan perasaan yang sangat bangga, kecantikannya akan selalu membuatnya terbang dengan perasaan angkuhnya yang juga ikut bertambah bersamaan dengan rasa percaya dirinya ketika ia menjadi pusat perhatian.
Hari ini Ma Mei Rong dengan khusus datang ke istana menemui putri Zhang Mu Lan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, harusnya perbuatannya terbilang sangat lancang, namun karna Ma Mei Rong adalah teman dekat putri Zhang Mu Lan, akhirnya para penghuni pavilium Shan memaklumi perbuatan buruk dan lancang Ma Mei Rong.
"Mei Rong!"
Suara teriakan yang begitu femiliar memanggil namanya menyapa indra pendengaran Mei Rong, dengan cepat tatapannya beralih kedepan menatap gadis yang berbeda 1 tahun dengannya. Melihat penampilanya seperti sebelumnya saat terakhir kali ia kemari entah mengapa membuat Mei Rong lega, mungkin kelegaan yang ia rasakan karna disebabkan ia sempat terusik dengan rumor yang telah berlalu satu bulan yang lalu mengenai kecantikan putri Zhang Mu Lan yang di banding - bandingkan dengannya.
Namun saat melihat gadis dugu dan bodoh yang berlari menghampirinya masih dengan berpenampilan menor dengan riasan tebal, pakaian yang terang dan perhiasan berlebih, seketika membuat Mei Rong paham jika mungkin rumor yang pernah beredar hanyalah bentuk dari rasa takut para penduduk ibukota kerajaan Zhang apabila dengan terang - terangan mengatakan putri Zhang Mu Lan jelek, sebab jika mereka mengatakannya dengan terang - terangan, itu sama saja dengan menyinggung keluarga kerajaan.
"Kakak Mei Rong akhirnya kau datang, aku sudaj menunggumu cukup lama" kataku ketika telah tiba dihadapan Ma Mei Rong yang masih nampak termenung di gasebo belakang pavilium Shan.
Mei Rong seketika tersadar dari lamunannya, ia dengan cepat beranjak bangun dari duduknya dan memberi salam hormat. Jika biasanya saat Mei Rong melakukan hal itu aku selalu mencegahnya, namun kali ini aku akan membiarkannya. Anggap saja sebagai sindiran halus kepada Mei Rong jika derajat dan posisi kami sangat berbeda jauh.
Awalnya Mei Rong berharap mendapat cegahan dari putri Zhang Mu Lan, nyatanya ia tak mendapat cegahan yang seperti biasa ia dapatkan dari putri Zhang Mu Lan yang begitu semangat dan berbinar ketika tahu ia akan datang mengunjunginya.
"Salam hormat pada yang mulia putri, semoga yang mulia putri panjang umur seribu tahun" kata Ma Mei Rong dengan berat hati.
Tatapanku seketika berubah dingin menatap punggung Ma Mei Rong. Segala kenangan buruk dan perbuatannya yang telah banyak merugikanku seketika berputar. Amarah dan dendam terhadap gadis yang berusia 1 tahun lebih tua di hadapanku seketika naik ke permukaan. Jika saja hari ini aku tak bersandiwara, mungkin aku sudah mempermalukannya dengan menolak kedatangannya. Namun sebuah ide dan rencana jahat tiba - tiba muncul dalam kepalaku, hari ini aku akan bercengkrama dengannya, mendengar semua sarannya dan pada akhirnya aku sama sekali tak akan mendengar satu pun saran yang akan ia berikan ketika pesta perayaan ulang tahun ibunda permaisuri.
Aku tersenyum miring dalam hatiku saat melihat Ma Mei Rong nampaknya menahan kesal karna aku tak kunjung memintanya bangun, hal yang kulakukan saat ini nampaknya mencuri perhatian para penghuni pavilium Shan, mungkin mereka terkejut dengan sikapku yang entah mengapa sangat berbeda.
"Kakak Mei Rong bangunlah..." kataku "Kakak Mei Rong mengapa kau membungkuk terlalu lama padahal biasanya kakak Mei Rong akan bangun dengan sendirinya bahkan tanpa ku perintah" tambahku yang tentu saja kalimat yang ku ucapkan ini merupakan sebuah sindiran untuk perlakuan tidak sopan dan lancangnya selama ini padaku.
Ma Mei Rong yang mendengar perkataanku lantas mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya menahan gejolak amarah dari serangan telakku untuknya, ia lantas bangun dari sikap hormatnya setelah berhasil menguasai dirinya, dan setelah itu Ma Mei Rong kembali membungkuk dan berkat "Yang mulia putri jangan mengambil hati sikap nona muda ini, nona muda ini hanya menganggap kita berteman baik dan begitu akrab sampai lupa jika nona muda ini tak sebanding dengan anda" kata Mei Rong membungkuk memohon maaf dan yang ku tau tentu saja permohonannya tidaklah tulus.
__ADS_1
Ma Mei Rong menggeram dalam hatinya, ia jelas tidak tahu jika akan ada hari dimana dirinya di perlakukan seperti ini oleh putri Zhang Mu Lan. Ma Mei Rong berpikir putri Zhang Mu Lan begitu menyukainya, bahkan seingatnya putri Zhang Mu Lan lah yang pertama kali mengejarnya dan ingin menjalin hubungan pertemanan dengannya, Ma Mei Rong tentu menyambutnya dengan senang hati, selain karna derajatnya akan naik ketika menjalin hubungan akrab dengan putri Zhang Mu Lan, ia juga mulai di segani banyak nona muda di ibukota kerajaan Zhang yang jelas tak ingin bersinggungan dengan putri Zhang Mu Lan yang di kenal bar bar dan suka membelanya.
Namun hari ini, tak disangka perbuatan tidak sopan dan kelancangannya di permasalahkan oleh putri Zhang Mu Lan setelah sekian lama mereka berteman dan Ma Mei Rong memanfaatkan kekuasaan, kepolosan, keduguan dan kebodohan gadis dihadapannya. Tentu saja Ma Mei Rong sangatlah marah, kedatangannya kemari bukan untuk mendapat perlakuan seperti ini melainkan untuk menghasut dan memberi saran yang ia tahu akan kembali membuat putri Zhang Mu Lan mempermalukan dirinya lagi untuk kesekian kalinya.
Tujuan kedatangannya tentu saja bukan berniat baik, Ma Mei Rong tentu saja ingin membuat putri Zhang Mu Lan mempermalukan dirinya di pesta besar kerajaan Zhang untuk kesekian kalinya. Ia melakukan hal itu sebagai balasan karna putri Zhang Mu Lan mengangumi kekasihnya, dan ia jelas tidak akan pernah suka ada wanita atau gadis lain yang memuja kekasihnya.
"Kakak Mei Rong bangunlah, mengapa kau terlalu serius padahal aku hanya sedang bercanda" kataku yang menyentak Ma Mei Rong dari lamunannya.
Ma Mei Rong lantas mengerjap beberapa saat sebelum beranjak bangun dari bungkuknya. Ia berusaha mencerna perkataan yang baru saja ku lontarkan, dan seketika gadis yang berusia 1 tahun lebih tua dihadapanku itu tak mampu lagi mengontrol ekspresi dan emosinya..
"Bercanda?" tanyanya dengan mata melotot tajam.
Tanpa rasa takut, aku lantas membalasnya dengan berkata "Yah, aku hanya sedang bercanda"
Mendengar perkataanku membuat Ma Mei Rong meledak, ia lalu berteriak dengan marah "Yakkk berani - berinya kau mempermainkanku!"
.
.
.
.
.
**TBC
Kamis, 18 Juni 2020**
__ADS_1