
Pemuda yang berada di sampingku tentu saja sangat terkejut dengan perkataanku, ia lalu menoleh kepadaku setelah berteriak nyaring karna penuturanku pada Ayahanda mengenai dirinya merupakan sosok pemuda yang selama ini ku cari hanya karna ingin ku jadikan pengawal pribadiku.
"Mengapa? Apakah kau ingin menolak?" tanyaku dengan nada memelas.
Bo Qing seketika dilanda kebingungan, sungguh harinya saat ini terasa sangat kebetulan. Apakah langit kini memberinya sebuah kesempatan besar? Tapi ia masih sangat sulit percaya. Membayangkan bagaimana harinya seketika mendapat kekerasan lalu di tolong oleh sang penguasa kerajaan Zhang dan seluruh wilayah di bawa kekuasaannya, lalu putri kerajaan Zhang yang sejak lama mencarinya hanya untuk menjadikannya pengawal pribadinya.
Terlalu bingung dan terkejut dalam menghadapi situasinya sekarang, Bo Qing dilanda kebungkaman. Ia tak tahu harus berkata apa - apa, terlebih ia tahu ada menolak permintaan seseorang yang pangkat dan kekuasaannya yang lebih tinggi sama dengan mendapat hukuman.
Aku menatap raut wajah Bo Qing yang seketika menegang, yang ku tangkap dari pancaran matanya adalah ketakutan. Seketika aku tahu kemana arah pemikiran pemuda tersebut.
"Aku tidak akan memaksa jika kau tak mau. Aku datang ingin merekrutmu, mengenai kau menerima atau tidaknya itu adalah hakmu" tambahku yang membuat semua orang yang berada di sana terkejut.
Aku tahu jika semua orang akan terkejut dengan penuturanku, bagaimana pun watakku yang buruk telah tersebar di seluruh penjuru kerajaan Zhang. Rumor yang beredar tidak sepenuhnya salah, dulu aku terkenal sangat angkuh dan kejam. Semua sifat burukku masih melekat sebelum mimpi buruk ataupun ingatan di kehidupan sebelumnya menghantuiku dengan rasa bersalah yang membelengguku.
"Putriku" Ayahanda kaisar Wei memperingatiku
"Ayahanda kaisar, tak apa" balasku tak lupa memberi senyum menenangkan "Aku ingin ia menjadi pengawal pribadiku karna keinginannya, bukan karna sebuah paksaan" tambahku yang membuat kaisar Wei mengangguk mengerti.
"Kau boleh memikirkannya terlebih dahulu, dan jika kau setuju, kau boleh datang ke istana dan mencariku" kataku sebelum menggandeng Ayahanda kaisar Wei pergi meninggalkan semua orang yang masih tertengun.
Sepeninggalan putri Mu Lan dan kaisar Wei, Bo Qing akhirnya tersentak dari lamunannya. ia lalu berkata "Nampaknya rumor mengenai yang mulia putri Mu Lan adalah kesalahan. Nyatanya ia tak seperti yang rumor katakan" gumamnya.
.
.
.
"Lan'er mengapa memberikannya kebebasan memilih? Bukankah dengan posisimu sekarang ia tak punya pilihan selain ikut denganmu?" Tanya kaisar Wei saat kami telah tiba di istana.
Aku tahu sejak tadi Ayahanda menekan rasa penasarannya menanyakan hal ini, walaupun sebenarnya aku tidak akan keberatan jika Ayahanda kaisar bertanya lebih awal tanpa menunggu kami hingga samapi di istana.
"Ayahanda, setiap orang berhak memilih. Begitupun dengan Bo Qing. Aku tak ingin hanya karna aku memiliki segalanya, aku bisa merebut kebebasannya dengan paksa. Bukankah jika aku memaksanya untuk menuruti permintaanku, aku termasuk orang yang kejam menindasnya dengan merebut hak suara dan kebebasannya?" tanyaku balik yang membuat kaisar Wei menatapku dalam
__ADS_1
"Putri kecilku, sejak kapan bermurah hati seperti ini? Bukankah dulu temperamenmu begitu buruk?" tanya kaisar Wei yang hanya ku balas dengan senyum
"Tidak mungkin bukan kau berubah hanya dalam semalam karna kejadian yang menimpamu beberapa hari yang lalu?" tebak kaisar Wei
"Apakah Ayahanda akan percaya seseorang yang melihat masa depan melalui mimpi atau seseorang yang kembali dilahirkan untuk menebus kesalahan dan dosanya?" tanyaku yang langsung mengundang tawa kaisar Wei
"Apa yang putri kecilku katakan, untuk orang yang mampu melihat masa depan hanya mereka yang di beri keberuntungan spiritual. Sedangkan orang yang dilahirkan kembali untuk menebus kesalahan dan dosanya, Ayahandamu ini tidak percaya dengan hal itu" balas kaisar Wei.
Aku lantas cemberut dan berkata "padahal aku mengalami keduanya mungkin, atau hanya salah satunya" gumamku lirih.
Saat aku masih kesal dengan Ayahanda kaisar, tiba - tiba saja suara femiliar di tangkap oleh pendengaran kami dan seketika tubuh kami berdua menegang.
"Dari mana saja yang mulia kaisar membawa putrinya? Apakah sampai berkeliling ibukota Zhang hingga baru ingat pulang saat hari sudah petang?" tanya permaisuri Zhu Yin Yin
Aku dan Ayahanda serentak memutar balikan badan kebelakang dimana permaisuri Yin Yin tengah berkacak pinggang dengan menampakan raut wajah yang tidak bersahabat. Aku menelan salivaku dengan susah payah, lalu lantas memikirkan cara bagaimana terhindar dari hukuman dan omelan ibunda permaisuri. Dengan cepat otakku berpikir hingga sebuah ide pun muncul dalam kepalaku.
"Ibunda permaisuri yang marah, kami hanya sedang keluar untuk mencarikan ibunda sebuah hadiah istimewa saat ulang tahun ibunda di gelar" kata dengan suara pelan. Setelah mengatakan hal itu aku tak lupa menyiku Ayahanda kaisar Wei untuk membantu meyakinkan permaisuri Yin Yin, dan nampaknya Ayahanda menangkap kode dariku
"A-apa yang Lan'er katakan benar, kami menyiapkan hadiah istimewa untuk permaisuri. Harap permaisuri tidak marah dengan kelalaian kami hari ini" tambah Ayahanda walaupun sedikit terbata namun berhasil membuat ibunda nampak berpikir.
"Karna kami begitu menyayangi ibunda, sehingga kami berniat mencarikan hadiah special seawal mungkin" tambahku yang nampaknya membuat ibunda permaisuri terharu
"Ibunda juga menyayangi Lan'er dan yang mulia kaisar" kata ibunda menghampiriku dan memelukku penuh sayang. Aku membalas pelukan ibunda dan menghirup aroma parfum ibunda permaisuri yang begitu menenangkan.
"Karna kalian sudah pulang, ada baiknya jika membersihkan diri terlebih dahulu sebelum kita makan malam bersama" kata ibunda permaisuri melepas pelukannya
"Makan malam bersama?" Sahut putra mahkota Liang yang entah datang dari mana
"Liang'er kau mengejutkan ibunda!" kata permaisuri Yin Yin kesal dan memukul bahu putra mahkota Liang pelan.
"Aw, ibunda sakit!" ringis putra mahkota Liang pura - pura kesakitan.
"Jangan berbohong, kalau Liang'er berbohong, ibunda akan pukul kamu lebih keras!" Ancam permaisuri Yin Yin yang berhasil membuat putra mahkota Liang menjauh dari jangkauan ibunda permaisuri
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Tadi hanya bercanda" aku putra mahkota Liang.
"Sudahlah kalian cepat membersihkan diri, ibunda permaisuri akan meminta juru masak istana membawakan makan malam yang banyak untuk kita di istana Han" tukas permaisuri Yin Yin
"Jika boleh, sekalian beritahu mereka untuk menyiapkan jamuan makan siang untuk para buruh yang akan datang besok" pesan kaisar Wei yang berhasil membuat permaisuri Yin Yin berhenti dan memutar tubuhnya menghadap kami
"Buruh?" tanya permaisuri Yin Yin memastikan pendengarannya.
"Anda tidak salah dengar permaisuri" balas kaisar Wei "Tadi ada beberapa masalah yang tidak mengenakan, sebagai permintaan maaf, Zhen mengundang mereka untuk makan siang bersama" jelas kaisar Wei yang di angguki permaisuri Yin Yin
"Baiklah, Ben Gong akan menyampaikan amanat yang mulia" kata permaisuri Yin Yin berbalik dan melanjutkan langkahnya
Selepas kepergian ibunda, putra mahkota Liang menghampirinya seraya berbisik "Masalah apa yang terjadi saat kalian keluar?" bisiknya
"Gege akan mengetahuinya besok" balasku
"Mengapa tidak kau katakan saja sekarang?" tanyanya yang lantas ku abaikan
"Mei mei.."
"Zhang Mu Lan!" teriaknya
"Pokoknya gege akan tau besok, jadi bersabarlah!" kataku sambil lalu
.
.
.
.
.
__ADS_1
**TBC
Selasa, 19 Mei 2020**