
"Apakah mei mei begitu membencinya hingga menuduh Xiao Qing akan menjadi malapetaka untuk kita di masa depan?" tanya putra mahkota Liang menahan emosinya yang ingin meledak karna tidak terima dengan perkataan adiknya dengan mengepal kedua tangannya hingga buku - bukunya memutih.
Aku mendesah, pengaruh nona sulung Ma ternyata masih sedasyat itu. Perasaan putra mahkota Liang belum berubah sedikit pun tentangnya, walaupun telah bertahun - tahun berlalu. Aku menoleh menatap putra mahkota Liang sesaat sebelum melempar pandanganku kedepan dan berkata "Gege bisa saja tidak percaya padaku, aku tahu itu. Ayahanda juga bahkan mengatakan jika melihat masa depan memalui mimpi adalah fenomena yang hanya di miliki para ahli spiritual. Tapi aku mengalami hal itu, aku melihat kita semua musnah di bawah kaki tangannya" kataku
"Jika gege tidak percaya, maka dengan masalah ini gege bisa mencari tahu. Aku yakin, jika perdana mentri Ma terlibat dalam penggelapan dana pembangunan dermaga di pantai selatan. Untuk mengindari penyelidikan dan hukuman, nona sulung Ma akan memberi solusi perdana mentri Ma untuk menjatuhkan semua kesalahan pada satu orang. Mungkin kepada salah satu mentri yang juga terlibat, atau pada para pejabat kecil lainnya di pemerintahan yang juga mendapat sebagian dana. -- aku menghela nafas sesaat dan melanjutkan -- jika hal ini benar terjadi, lantas apakah gege akan mempercayaiku?" tanyaku yang sama sekali tak di jawab putra mahkota Liang
"Tak apa jika gege masih tak percaya, jika hal ini terjadi dan mentri atau para pejabat yang menanggung semua kesalahan. Aku ingin gege secara langsung turun bersama prajurit Shi Rong menyaksikan perayaan kemenangan yang akan perdana mentri Ma Ze Dong lakukan nanti" tambahku
Putra mahkota Liang nampak berpikir sejenak, nampaknya ia tengah menimbang - nimbang pertimbanganku. Aku menghela nafas berat, aku tahu jika sampai saat ini putra mahkota Liang belum menempatkan orang - orangnya mengawasi kediaman Ma. Mungkin karna wanita pujaannya dulu pernah tinggal disana, atau ia sepercaya itu dengan Ma Xiao Qing sehingga ia pun turut percaya bahwa keluarga putri sulung keluarga Ma tidak akan terlibat kejahatan apapun.
Padahal seharusnya sebagai calon pewaris takhta, ia tak boleh mencampurkan masalah pekerjaannya dan perasaannya. Sebab hal ini selalu tidak akan berakhir baik. Ku tatap saudaraku sesaat, ia sudah begitu lama menipu semua orang dan juga dirinya dengan menampilkan wajah datar dan dingin. Namun hatinya masih saja selunak itu dengan keluarga Ma.
Aku tahu putra mahkota bukanlah sosok yang akan mudah percaya begitu saja. Buktinya ia menaruh prajurit Shi Rongnya untuk memantau para mentri dan pejabat lainnya yang ada di pemerintahan. Hanya keluarga Ma yang mendapat pengecualian dan hal itu bukankah menggambarkan jika tidak kompeten, dan membeda - bedakan? Akan bagaimana jadinya kerajaan Zhang di pimpin olehnya jika ia nampak condong dan memihak satu sisi.
Aku menatap pintu kamarku yang tertutup rapat. Pandanganku tak pernah lepas memandang pintu kayu dengan ukiran rumit tersebut, bahkan setelah berjam - jam berlalu.
Hembusan nafas berat ku keluarkan, pikiranku terus berputar mengenai sikap saudaraku. Putra mahkota Liang telah pergi sejak berjam - jam yang lalu, namun pikiranku mengenainya terus membuatku khawatir mengenai sikap dan sifatnya. Jika ia tetap seperti ini, apa jadinya kerajaan Zhang? Hatinya masih di penuhi putri sulung keluarga Ma, padahal Ma Xiao Qing telah menikah dua tahun yang lalu.
__ADS_1
Mungkin memang sulit bagi putra mahkota Liang melupakannya, bagaimana pun sosoknya begitu menawan hingga sulit untuk putra mahkota Liang ataupun para pemuda lain yang menganguminya melupakannya bahkan saat ia telah berganti status menjadi istri dan nyonya di kediaman Lao.
Apa yang aku hanya akan berdiam diri dan membiarkan saudaraku tetap seperti itu? Namun jika tak ku cegah, putra mahkota Liang akan merasakan rasa bersalah dan penyesalan atas dosa dan perbuatannya kelak jika keluarga kerajaan Zhang musnah di tangannya jika sikap dan sifatnya terhadap putri sulung keluarga Ma. Ia akan merasakan hal sama yang kurasakan, dan aku tak ingin putra mahkota Liang mengambil jalan yang salah dan merasakan penderitaan dan ketakutan akan bayangan - bayangan mengerikan yang menimpa seluruh keluarga kerajaan Zhang dan abdi setianya.
Aku memejamkan mata sesaat sebelum beranjak bangun dari sisi peraduan, aku lantas beranjak menuju meja yang berada di tengah ruangan dimana ada sebuah kertas dan kuas beserta dengan tintanya yang selalu tersedia. Aku mencelupkan kuas paa tinta dan mulai membuat goresan di atas permukaan kertas.
Saat ini yang dapat kulakukan adalah mencatat semua kejadian - kejadian yang akan menimpa kami kedepannya, setelah itu aku baru akan memikirkan rencana apa agar aku bisa menyelamatkan semua orang dari petakan dan kemalangan.
.
.
.
Pria paruh baya itu adalah perdana mentri Ma Ze Dong. Pria dengan wajah yang telah di penuhi keriput itu merasa marah saat melihat ke angkuhan kaisar Wei di atas singgasananya pagi tadi, rasa marahnya yang mendominasi membuatnya lupa konsekuensi dari perbuatannya menggelapkan sebagian besar dana jatah upah para buruh.
Mengingat ancaman kaisar Wei, seketika amarah mentri Ma Ze Dong atau biasa di panggil mentri Dong yang telah mencapai ubun- ubunnya perlahan lenyap. Bayangan penjara bawah tanah kerajaan Zhang yang dikabarkan sangat mengerikan dan buruk membuat pria paruh baya itu bergidik ngeri. Ia tak ingin berakhir di tempat mengerikan itu bersama keluarga Ma-nya, lalu apa yang harus ia lakukan agar kebusukannya tak tercium oleh pihak penyelidik ataupun pengadilan kerajaan Zhang?
__ADS_1
Perdana mentri Dong mendesah seraya memijit keningnya yang berdenyut. Namun perasaan lelah dan takut yang mulai mendominasi perlahan lenyap saat suara lembut yang begitu femiliar menyapa indra pendengarannya, dan dengan sekejap perasaan khawatir, dan takutnya pun lenyap saat ia mendongak dan menatap salah satu dari dua orang wanita cantik tengah bercengkrama sambil menikmati teh sore mereka.
Seakan mendapat jawaban dari kekhawatiran dan ketakutannya, perdana mentri Dong tanpa membuang waktu mendekati kedua wanita cantik yang berada di gasebo samping bangunan utama kediaman Ma. Kehadiran satu wanita muda yang kini bersama istrinya seakan membuat perdana mentri Dong tengah mendapat keajaiban dan harapan lepas dari masalah pengelapan dana yang menjeratnya.
"Ma Xiao Qing, mengapa kau ada disini?"
.
.
.
.
.
**TBC
__ADS_1
Senin, 25 Mei 2020**