Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 70


__ADS_3

Entah hanya perasaanku saja, putra mahkota Xin seakan terus saja memperhatikanku dan menatapku dengan tatapan dalam. Entah sedang menilai atau mengamati, yang ku tahu saat ini aku masih saja merasa risih namun penasaran secara bersamaan meskipun saat itu telah berlalu 3 hari yang lalu.


Hal yang ku khawatirkan ternyata tidak ada, hal penting yang Ayahanda kaisar Wei maksudkan 3 hari yang lalu adalah jamuan makan siang bersama keluarga kerajaan Han yang akan melakukan perjalanan pulang ke kerajaan mereka beserta rombongan. Meskipun aku beranggapan jika hal itu sangat berlebihan karna Ayahanda kaisar sampai mengatakan itu hal yang penting, tapi entah mengapa aku merasa ada hal lain di balik makan siang bersama itu yang mungkin mereka sembunyikan dariku.


Sudah 3 hari berlalu sejak hari itu, mungkin sebentar lagi putra mahkota Han Zi Xin, dan pangeran Han Ze Min beserta rombongan kerajaan Han akan segera sampai di istana mereka. Meskipun telah 3 hari berlalu, instingku masih saja tetap kuat, rasa penasaranku masih tetap saja sama. Aku terus menduga jika akan ada hal yang baik Ayahanda kaisar, Ibunda permaisuri dan putra mahkota Liang sembunyikan dariku, dan firasatku mengatakan jika itu ada hubungannya dengan putra mahkota Xin atau pangeran Min.


Suara panggilan yang begitu femiliar beberapa bulan terakhir menyapa pendengaranku, aku lantas terbangun dari lamunanku saat tahu sosok yang memanggilku. Aku mendongak dan menatap pemuda seusia saudaraku, wajahnya lumayan tampan, garis rahangnya terlihat tegas, kulitnya mulai sedikit kecoklatan karna terlalu banyak latihan dibawah paparan matahari, tubuhnya nampak mulai berbentuk dengan otot - otot yang perlahan mulai menonjol, dan pemuda itu adalah pengawal pribadiku, Bo Qing, pemuda yang selalu menjadi pusat perhatian para dayang dan pelayan yang menyukai dan mengagumi Bo Qing tanpa pemuda itu sadari.


"Kakak Bo Qing, kau sudah pulang" kataku berusaha menguasai diri sebab aku takut pengawal pribadi yang bahkan sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri menangkapku baru saja termenung memikirkan kejadian tempo hari yang masih mrmbuatku resah.


"Apakah kakak Bo Qing menemukan sesuatu?" tanyaku padanya


Bo Qing mengangguk sebelum menjawab "Pengawal ini menemukan pergerakan aneh yang dilakukan nyonya muda keluarga Wu, setelah hamba selidiki, nampaknya Ma Mei Rong akhir - akhir ini mencari pendukung tanpa sepengetahuan jendral muda Wu Cheng yang selama 4 hari berturut - tutut membawa gadis muda untuk menghangatkan peraduannya," jeda Bo Qing berdehem sesaat karna malu menjelaskan hal yang berbau intim itu.


"Hamba terus mengikuti Ma Mei Rong dan akhirnya mengetahui bahwa ia kerap kali mengunjungi rumah pelacuran seraya mencari target pria hidung belang yang mampu ia manfaatkan. Dan semalam ia menjerat putra Di (anak sah dari istri pertama atau furen) keluarga Dong, Dong Jui" tambah Bo Qing sedikit membuatku terkejut namun dengan cepat aku menggeleng dan berkata, "Apakah ia seputus asa itu hingga melempar dirinya pada kandang buaya?" tanyaku dengan nada miris.


"Ma Mei Rong, kau berusaha keluar dari kandang singa, dan kini kau memasukan dirimu pada kandang buaya. Aku tahu kau begitu malang dan menderita hingga kau putus asa dan membawa dirimu pada Dong Jui. Apakah ia kini menjadi bodoh hanya karna penderitaan yang diberikan jendral muda Wu Cheng secara berturut - turut?" tanyaku lagi "Semua orang tahu siapa Dong Jui, dia adalah pemuda yang memiliki penyakit maniak dalam berhubungan badan. Semua selirnya tak terhitung banyaknya telah meninggal dan sekarang Ma Mei Rong ingin menjadi salah satu dari mereka, tak bisa ku percaya jika ia sudah gila meskipun kekuatan keluarga Dong dapat membantunya membalaskan dendamnya pada keluarga Wu" tambahku yang akhirnya membuat Bo Qing paham.


"Kakak Bo Qing, kurasa kau tak perlu lagi memata - matai Ma Mei Rong" perintahku "Kau tak perlu membuang - buang waktumu untuk mengintai sosok yang telah menggali kuburannya sendiri. Kurasa kakak Bo Qing hanya perlu mengintai dan mengawasi keluarga Ma saja, sebab sebentar lagi kita akan mendengar dan menyaksikan bagaimana Ma Mei Rong dan keluarga Wu akan berakhir"

__ADS_1


.


.


.


Hari sebentar lagi beranjak petang, suasana ibukota kerajaan Han masih nampak ramai akan aktivitas para penduduk. Suara keramaian begitu mendominasi dan terasa hidup, namun semua aktivitas yang mereka lakukan sesaat terhenti ketika suara gong dan gendang dipukul bertalu - talu dan berhasil menciptakan suara nyaring. Suara yang begitu keras dan nyaring itu berhasil membuat para penduduk ibukota kerajaan Han lantas berhamburan ke pinggir jalan dan mulai bersujud, suara gong dan gendang yang di pukul akan selalu memberi tanda jika keluarga kerajaan Han akan melewati jalan raya ibukota.


Mereka baru saja sadar jika hari ini rombongan putra mahkota Xin dan pangeran Min akan pulang setelah menghadiri acara perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin dari kerajaan Zhang. Beberapa hari terakhir mereka juga mendengar rumor mengenai kecantikan dan bakat yang putri Zhang Mu Lan yang ia tunjukan di pesta perayaan, banyaj dari mereka yang tidak percaya akan rumor tersebut sebab mereka tahu bagaimana jeleknya rumor dan kelakuan putri Zhang Mu Lan dulu. Tapi ketika para rombongan perwakilan kerajaan Han telah pulang, lambat laun mereka akan mengetahui kebenarannya dari mereka yang mendapat kesempatan hadir.


Rombongan putra mahkota Xin dan pangeran Min telah berlalu, suara gong dan gendang perlahan mengecil di gantikan suara gincingan koin - koin yang di lempar pihak rombongan keluarga kerajaan sebagai rasa syukur atas pulangnya mereka dengan selamat, para penduduk dengan cepat memungutnya saat rombongan putra mahkota Xin dan pangeran Min telah menjauh dan hilang di balik pintu gerbang istana.


"Akhirnya kita sampai juga, aku rasa punggungku berasa nyaris patah!" keluh pangeran Min yang baru saja turun dari kudanya dan melakukan perenggangan.


"Kalian semua boleh bubar dan beristirahatlah, biarkan para kasim, dayang dan pelayan yang membereskan sisanya" perintah putra mahkota Xin pada rombongan yang beberapa hari pergi bersamanya melakukan perajalanan yang panjang.


Semua orang lantas mendesah lega, akhirnya mereka pulang dan bisa tidur dengan nyenyak. Setelah melakukan perjalanan panjang tanpa tidur yang nyenyak karna selalu di landa ke khawatiran di kalau - kalau mereka diserang, tapi beruntungnya selama perjalanan mereka tetap lancar dan tanpa hambatan dan hal itu di karnakan prajurit YongLe lebih dulu mengatasinya tanpa sepengetahuan mereka.


"Sebelum kalian bubar, masih ada satu hal yang akan ku katakan" kata putra mahkota Xin menyentak mereka dari lamunan "Datanglah ke istana besok untuk mengambil jatah konpensasi selama perjalanan kalian dan juga cuti selama 2 hari kerja" tambah putra mahkota Xin yang berhasil membuat rombongannya bersorak senang dan terus mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Kau juga pulanglah ke kediamanmu dan beristirahat, bukannya kau tadi mengeluh kelelahan hingga pinggangmu berasa hampi patah" sindir putra mahkota Xin pada pangeran Min


"Tanpa gege suruh pun aku akan segera kembali ke kediamanku" balas pangeran Min terdengar sendikit kesal


"Baguslah kalau begitu!" kata putra mahkota Xin berbalik dan berlalu meninggalkan pangeran Xin yang kini menatap punggung putra mahkota Xin dengan raut wajah penasaran.


"Gege kau mau kemana?" teriak pangeran Min yang herhasil membuat putra mahkota Xin berhenti dan berbalik menatap pangeran Min


"Tentu saja menghadap Ayahanda kaisar dan meminta dikrit pernikahan!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


**TBC


Senin 10 Agustus 2020**


__ADS_2